
****Aku di sini merindukanmu,
Sekarang, di luar jendela sang hujan kembali turun lagi.
Mataku kembali terasa ingin menangis lagi,
Tak tau dimana kini kau berada.
Rindu, masih terus memelukku,
Terlalu banyak perasaan namun tak ada espresi yang bisa mewakilinya.
Hal yang ingin ku katakan,
Aku tak tahu harus memulainya dari mana***
πΎπΎπΎπΎ
"Aku akan menyulap tempat ini menjadi surganya bunga bunga Odet"Nyonya Sook sang pemilik Toko bunga tempat Kaila bekerja dulu di tunjuk Tuan Odet menjadi Wo di pernikahan putrinya. Dekorasi pernikahan yang kerap di tangani Nyonya Sook bukan main main, apalagi kali ini tema Garden party menjadi pilihan Kaila dan Lian. Menilik begitu luas halaman belakang yang di miliki keluarga Brander, kedua mata Nyonya Sook nampak berbinar tak sabar menuangkan ide ide cemerlangnya di hamparan rumput hijau nan luas itu.
"Aku serahkan semuanya padamu Sook"Ujar Tuan Odet menyunggingkan senyuman.
"Oke!!,masalah MUA juga udah oke kan??"Jempolnya terangkat naik menunggu balasan jempol pula dari Tuan Odet.
"Hmmm"Tuan Odet mengangguk.
Raut pria paruh baya itu tak mudah di artikan"Nampaknya aku akan berhutang budi sekali terhadap keluarga Charllote, bakat menantumu dalam menghias pengantin juga sudah tak di ragukan lagi. Aku salut dengan kekompakan kalian, seandainya istriku masih ada____"
Nyonya Sook mulai paham ketika gurat kerinduan tersirat di wajah suami mendiang sahabatnya"Ayolah Odet, dia sudah tenang di sana. Mendekati hari yang berbahagia ini kau jangan mengenang sesuatu yang membuat jatuh air mata!"Tukasnya coba menghibur hati yang lara.
"Aku hanya terkenang saja Sook, jika dia masih hidup aku berharap dia dan Kaila juga menjalin hubungan harmonis seperti kau dan Ghina"Tuan Odet tersenyum pahit. Mencintai seseorang dengan sepenuh hati, berharap hari tua akan mereka lewati bersama. Akh...manusia hanya bisa berencana namun hasil akhirnya hanya Tuhan yang maha kuasa.
"Sayangnya takdir berkata lain kan. Aku yakin dia di sana tersenyum manis menyaksikan kebahagiaan kalian Odet"Hibur Nyonya Sook lagi.
Tuan Odet membalas senyum dari Nyonya Sook. Dia salah satu sahabat mendiang istrinya, dia orang yang baik dan sangat ramah. Sikap nya tak berbeda jauh dengan mendiang istrinya yang juga ramah dan murah senyum.
Pria ini mengatur nafas demi menetralkan kembali suasana hatinya"Ya sudah, aku tinggal ke kantor sebentar"Ucapnya pula.
"Baiklah, sampai jumpa Odet"Nyonya besar keluarga Charllote itu melambaykan tangan pada Tuan Odet yang perlahan mulai menjauh.
Meninggalkan Nyonya Sook dengan para pekerjanya di area belakang, Tuan Odet segera meninggalkan kediamannya menuju kantor.
Di tengah persiapan pernikahan sang putri dia masih harus menangani beberapa urusan di kantor. Namun usia tua tak menghalangi semangatnya dalam bekerja.
"Selamat siang Tuan,saya mendapat kabar Calon investor incaran kita juga mendapat tawaran dari Braham Company"Rivan sang asisten dengan sigap langsung memberikan kabar terbaru kepada Tuan Odet.
"Braham____, Nyonya Daniza??"Gumamnya dengan nada bertanya.
"Iya Tuan"Sahut Rivan.
"Nampaknya Bryan harus kembali menampakkan taringnya"Ucapnya sembari tersenyum pada Rivan.
"Setau saya Tuan muda dari keluarga Abraham juga bukan kaleng kaleng Tuan"Jelas sang asisten.
"Memang, mereka dua Tuan muda bermental baja. Sanggup melakukan apa saja demi mencapai tujuannya"
"Menurut jadwal, minggu depan kita akan ada pertemuan dengan calon investor" Rivan terlihat memeriksa jadwal di ipad pro yang dia pegang.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Bryan. Lusa adalah pernikahan putriku, kirimkan undangan pada keluarga Abraham. Aku ingin dua Tuan muda itu bertemu baik sengaja atau pun tak di sengaja dengan Bryan ku" Titahnya pada Rivan.
"Siap Tuan"
πΎπΎπΎπΎ
Calon pengantin Pria yang sudah menginap di kediaman kedua orang tuanya tengah kedatangan tamu tak di undang. Awalnya Lian sumringah mendapat kabar bahwa dia kedatangan tamu, dia pikir itu Kaila. Yah siapa tau aja ada keajaiban calon istri yang lagi di pingit tiba tiba nongol menemuinya kan.
Namun___"Ck!"Decihnya mendapati senyum lebar seorang Vino. Pria tinggi dengan kulit putih itu menebar senyum yang mampu membuat wanita terpesona padanya, tapi tidak pada Lian.
"SyuuSyuuu~"Usir Lian"Acaranya besok lusa, nggak usah bertamu sekarang. Lagian acaranya di gelar di kediaman Brander, bukan di sini. Pulang dah pulang!"Tubuh Vino terhuyung karena dorongan tangan Lian.
"Kurang asem!, kita sepupuan panci,aku ke sini mau bantu bantu"
"Nggak ada yang perlu kamu bantu. Palingan kamu ke sini pen jilat Mamah aku, minta di puji puji sama Mamah aku kan"Todong Lian, tatapnya sangsi pada Vino sang jelmaan rubah.
"Kalian dari jaman bahula sampai jaman milenia masih aja nggak bisa akur"Fatur nongol dengan seabrek belanjaan di tangan kiri dan kanannya.
"Nih!"Dia menyerahkan kantong plastik besar kepada Lian. Lumayan berat, Lian sempat terhuyung mendapat lemparan belanjaan itu.
"Ini lagi si mantan duda, ngapain ke sini??"Ketusnya.
"Kangen kamu lah"
"Huwwekkk!!!"Cibir Lian berlagak pen muntah. Demi apa kok orang orang di sekitarnya pada kambuh lebay nya sih. Dari Vino sang penjilat yang berkilah pen bantuin persiapan pernikahan, dan sekarang si mantan duda pake bilang kangen pula. Sudah di pastikan, pasti ada yang nggak beres nih!
Vino merapikan kemeja yang dia kenakan selepas mendapat dorongan dari Lian.
"Yang tadi aku beli udah kamu bawa??"Tanya nya pada Fatur.
Fatur tepok jidat"Lupa!!, Joeeeee, plastik item di kursi belakang sekalian bawain ya"
"Siaaapppp!!"Terdengar suara Joe mengalun nyata dari pekarangan kediaman kedua orang tua Lian.
"Kalian janjian ke sini??"Nah..personil somplak yang lama tenggelam kini nongol lagi, ada apa kah gerangan??
"Menurut kamu??"Ujung bibir Fatur menukik naik.
"Hoel!ada acara apa nih??"Selidik Lian. Roman roman ketidak warasan mulai tercium.
"Diem dah, ayok masuk"Perintah Fatur.
"Oi Tuan rumahnya aku apa kamu?"Gerutu Lian mengekor langkah Fatur yang telah masuk ke kediamannya. Sementara Vino udah duduk manis di samping Mamah nya sembari kupasin buah apel buat Mamah nya Lian.
"Kan...ke sini pen cari muka doang ni anak"cibir Lian.
"Muka aku yang tampan paripurna ini nggak kemana mana kok, apanya yang mau aku cari?"Sahutan Vino menambah kesal pada diri Lian.
"Ughhhh, pen aku acak acak muka paripurna mu ini"Siap berancang ancang.
"Lian!!, galak bener sama saudara"Bela Vivi.
Vino memasang wajah teraniaya di hadapan Vivi"Nggak apa apa kok tan, Vino ngerti kok emosi Lian lagi nggak stabil karena grogi pen nikah" Sang rubah beraksi.
"Grogi pala kau, ih pen ku kupas juga kepala kamu Vin"
"Eh!! berani??"Tantang Vivi.
"Lian anak siapa sih??"Kesal Lian.
__ADS_1
"Anak monyet"Seloro Vivi asal.
"Buakakakakkaka"Fatur tertawa lepas. Joe terkekeh memegangi perutnya.
"His! awas kamu Vin"Sembari menghentakan kaki Lian masuk ke dalam kamar meninggalkan mereka para makhluk durjana.
"Cieee calon mantu ngambek"Ledek Vino.
"Kalian demen banget yak kalo Lian ngambek"Vivi ikutan tertawa dengan tingkah mereka.
"Hahahha, dia gemesin kalo ngambek Tan"Tukas Fatur"Pen Fatur belai belai deh muka keselnya"
"Hati hati Mey nya cemburu lho"
Fatur kembali terkekeh mendengar komentar Vivi.
"Permisi ke dalam boleh Tan??"Tanya Joe kalem.
"Uluh uluh si Joe, kamu masih aja kalem kaya dulu. Silahkan masuk deh kalian"Ujar Vivi. Dari jaman dulu Joe emang terkenal paling kalem di antara mereka. Jika yang lain suka menganiaya Lian dengan menistakan tu anak, Joe kena bagian bujukin Lian supaya nggak ngambek sama kelakuan mereka. Ibaran sambel, Joe sebagai gulanya deh. Bikin sambel yang pedes itu ada manis manisnya gitu. π kok jadi ngomongin sambel yak.
"Vino juga nimbrung bareng mereka ya Tan"
"Iya iya"Tukas Vivi menikmati apel yang sudah di kupas Vino.
Lian berada di balkon ketika 3 sahabatnya itu sudah berkumpul di dalam kamarnya.
"Srakkk!!"Fatur mengeluarkan belanjaan mereka dari 2 kantong plastik yang mereka bawa.
"Kejuuuu"Vino memulai kebisingan. Kaya anak TK dia menyabet jajan dengan rasa keju kesukaannya, jemarinya sibuk memilah setiap jajan dengan rasa keju.
Fatur menghela nafas"Ya elah, siapa juga yang mau ngambil"
"Au nih, kek bocah deh"Cibir Joe.
Lian nongol dengan tangan berkacak di pinggang.
"Jadi misi kedatangan kalian ke sini mau bikin kamar aku berantakan??"
"Nonono βοΈ"Tukas Vino mulai ngemil jajan pertamanya.
"Nggak liat kita udah bawa banyak cemilan??"Tanya Joe"Berarti kita mau ngapain dong??"
"Yah...mau ngemil lah, emang mau ngapain lagi??"
"Ckckckck, Tur, sahabat kamu emang perlu di buka lebar lebar biji matanya nih"
Fatur mengangguk.
"Kita ke sini mau ngajakin kamu nonton"Sahutnya.
"Sambil ngemil"Sambung Joe.
"Nggak bisa, aku nggak ada stok film di sini..Semua udah ku angkut ke apartemen"
"Puk puk"Vino menepuk pundak Lian.
"Tenang, ini film bukan sembarang film"Seringainya menatap Lian nakal.
"π film apa sih??"
Lian terperangah"Gila!"Pekiknya
Buru buru Fatur membungkam mulut Lian"Jan teriak dong, kaya anak gadis mo di perawanin aja"
"Itu buat apaan??"Lian berontak dari cengkeraman Fatur dan Vino.
"Di tiup bisa jadi balon"Joe ngakak.
"Setres kamu Joe"Vino ikut tertawa"Ya buat nampung benih benih Lian junior lah"Jelasnya lagi.
"Gila kamu Vin"
"Kaga ada yang gila di sini"Sahutnya cuek.
"Kalian lah yang gila. Mentang mentang aku lusa nikah kalian nawarin aku pake pengaman gituan buat nanti malam pertama??"
"Iya dong, nih aku udah beliin yang bermacam rasa lho Li"Dengan nyeleneh Vino menyusun hampir selusin pengaman yang dia belikan di minimarket tadi.
"Astaga!!!, terus film yang kalian maksud??"
"Hahahha, ya film itu lah. Yok kita mulai aja nobar nya"Ucap Fatur mengatur posisi duduk di tepian tempat tidur Lian.
"Hupffhh!, otak kalian pada ***** nih, datang datang ngajakin nobar film biru, pake di kasih pengaman ginian pula"Lenguh Lian kesal.
"Niat kita baik lho Li, biar kamu banyak jurusnya"
"Biar nggak nonton gituan aku juga udah banyak jurus kali Tur"
"Wuuu kaya udah pro aja masalah nge teh, emang udah berapa kali sih nge teh sama Kaila??"
"Cih kepo, itu rahasia pribadi. Nggak ada faedahnya berbagi rahasia sama kalian"
"Kalo berbagi film biru gimana??"Fatur nyengir menyalakan layar datar di dinding kamar Lian. Mengambil flashdisck dari sakunya dan memasukan benda itu ke sisi kebelah kiri Tv Lian.
Kepalang tanggung, film siap putar sudah di depan mana. Kalo nggak di tonton sayang juga sih.
"Aw aw aw, pen pipis dulu nih"Pekik Joe malu malu ke kamar mandi.
"Anjayani, belom apa apa udah ngilu aja tu Joni"
"Kwkkwkwk apa nggak bahaya kalo dia ikutan nonton??"Ucap Lian akhirnya masuk dalam jerat kegesrekan mereka.
"Yah...itu urusan dia Li"Vino nyengir"Kalo pengen kan dia tinggal pinjem kamar mandi kamu doang"
"Kwkwkkwkwkwkw "
Mereka terpingkal pingkal membayangkan kelakuan Joe yang baper gegara nonton film biru.
"Pintu udah aman belom?"Lian menunjuk pintu kamar sembari memandang Fatur.
"Aman aman, dari awal masuk udah aku periksa kok" Fatur emang gercep kalo urusan beginian.
Setelah selesai dengan urusannya di kamar kecil Joe pun ikut nimbrung bareng mereka.
"Kok deg deg an yak"
"Waduh, jan ampe pingsan kau Joe"
__ADS_1
"Kaga kaga, di jamin kuat mental kok aku"Ucapnya tertawa.
Fatur menekan tombol star pada video yang sudah terpampang di layar televisi. 4 cecunguk itu mulai mengajak otak mereka traveling hingga kelangit nan biru, sebiru film yang membuat mereka deg deg an, panas dingin, bahkan mungkin jantungan bagi yang ada riwayat penyakit jantung.
πΎπΎπΎπΎ
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam ketika Kaila mendapati Bryan tengah bersiap meninggalkan kediaman mereka.
"Mo kemana kak??"
"Jalan jalan lah, cari angin segar"
"Jan kebanyakan makan angin lho Kak, ntar masuk angin gendut dah perutnya"
"Jan ngada ngada deh Dek, kamu mau di bawain apa nih??"
"Emang Kakak mau kemana??"
"Dih, bawel nih. Kalo nggak ada pesanan Kakak minggat yak"
"Ada lah Kak, makanya Kaila tanya mau kemana dulu?? kalo ke taman beliin somay, kalo ke tepian kota beliin tahu gejrot, kalo keeeeee___"
"Kakak mau ke cafe Angela"Ujarnya menstop celotehan Kaila.
"Gak usah"Sahut Kaila judes. Entahlah, kalo denger nama Angela, Kaila jadi badmood. Tu cewek baik sih tapi hati Kaila berasa nggak tenang aja kalo Bryan deket deket sama dia.
"Lho kok nggak usah, beneran nggak mau di bawain makanan??"
"Nggak usah! makasih"
"Lagi PMS Dek?judes amat"
"Au ah gelap!"Sembari menekuk wajah dengan boneka beruang Kaila mendadak bersikap jutek terhadap Bryan.
Ponsel di tangan Bryan berdering~~~
π±:"Iya ini mau otw Gel"
π²:"Buruan Bry, sakit banget ini"
Samar samar Kaila mencuri dengar suara si penelpon yang Kaila tebak 100% adalah Angela.
"Kakak pergi ya Dek, Angela lagi sakit"
"Bidi imit"Sahut Kaila kesal.
"Bi Atuuuunnnn~~jam 11 pintu udah harus di kunci yaaaaa"Teriakan Kaila bergema di kediaman Brander.
"Deeekkk~~~"
"Pergi deh sono, ntar keburu jiun tu cewek"
"Kaila, jangan gitu dong. Angela tu cuman punya Kakak di sini"
"Dih, emang dia kera sakti??lahir dari batu?? hellooooooo~~dia masih punya orang tua kan Kaaaakkk"
"Orang tuanya di luar kota Dek"
"Oh gitu, ya sudah. Pokoknya kalo jam 11 Kakak nggak balik_____, Bye!!"Kaila pergi gitu aja dari hadapan Bryan.
"Papa juga belum balik kan dari rumahnya Tuan Charllote??"Ucap Bryan setengah berseru.
"Udah balik bambank!"Sentak Kaila benar benar kesal.
Pergilah Bryan dengan perasaan ketar ketir. Kalo dia nggak pergi gimana dengan keadaan Angela??? dia terbilang baru di kota ini. Selain para karyawannya dia hanya mengenal Bryan. Ini sudah jam tutup cafenya sedangkan dia dalam keadaan sakit dan pasti sendrian di sana.
"Bi, nanti Bryan telpon buat bukain pintu ya"Bryan berbisik pada Bi Atun.
"Oke Den, Bibi tungguin yak"
"Sippp, makasih Bi. Muach!"Bryan melempar ciuman lebay nya pada Bi Atun.
Si Bibi tertawa malu mendapat perlakuan usil dari Bryan.
Secepat mungkin Bryan melaju ke Cafe milik Angela. Lampu di ruangan utama sudah padam ketika Bryan berada di sana.
"Angela~~"Panggilnya dari depan pintu. Eh, pintunya nggak terkunci.
"Bry~~"
"Kamu di mana??"
"Ruangan ku Bry"Sahut Angela terdengar menahan sakit.
Di sama Bryan mendapati gadis itu tertekuk di sofa dengan keringat membasahi keningnya.
"Kita ke dokter ya"
Angela menggeleng"Beliin aku obat pereda nyeri aja, sama___"
"Sama apa?"
"Sama pembalut"Wajahnya menahan malu. Dia memang langganan merasakan ngilu teramat sakit jika datang bulan.
"Pembalut???"Bryan bingung. Kemana dia harus membeli pembalut??
Menatap Bryan terlihat kebingungan Angela mengerti dengan apa yang ada di pikiran pria itu"Kamu malu beliin aku pembalut??"
"Hehehe, obatnya beli di mana??pembalutnya juga??"Mau nggak mau Bryan harus menekan rasa malunya demi Angela.
Di sela menahan sakit Angela di buat terkekeh menatap wajah serba salah Bryan.
"Di apotik lah Bryan, pembalutnya kamu beli di minimarket aja"Terang Angela.
Setelah mengetahui nama obat yang di perlukan Angela berangkatlah Bryan mencari cari apotik yang buka 24 jam.
Setelah berkeliling beberapa waktu akhirnya obat yang dia cari pun dia dapatkan"Tinggal pembalut nih"Gumamnya menyisir tepian jalan berharap ada market yang masih buka.
Saat itu dia teringat minimarket Kong Mansur yang memang buka 24 jam. Meluncurlah Pria itu membelah jalanan malam menuju minimarket Kong Mansur.
To be continued.
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
30 November 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1