
***Bahkan saat kamu jatuh dan terluka,
Kamu masih tersenyum dan aku menyukainya.
Tak mengapa satu kali ingkar janji,
Tapi aku bisa bertahan meski hanya melihatmu.
Aku sedang berjalan menuju cahaya terang,
Keluar dari labirin yang selama ini menjebakku.
Setiap kali aku mengingatmu,
Tolong jangan biarkan aku melupakan mimpiku.
Di tempat itu dengan bintang yang berjatuhan,
Pada akhirnya kita akan bersama.
Kamu adalah masa depanku sepanjang waktu.
Aku ingin melewati kesulitan ini...
Dan menggenggam tanganmu.
Kamu adalah sinar matahariku sepanjang hari,
Seperti matahari mengelilingi malam dan menciptakan pagi,
Bersinarlah hanya untuk ku***
🍉🍉🍉🍉
📱:"Bro...Kaila mabok"
Bryan di ujung telpon terperanjat. Ini kali pertama dia mengetahui bahwa Adik ketemu gedenya bisa menenggak minuman beralkohol.
📲:"Cari mati kamu Li!!, sengaja yak cekokin Kaila??"Sentak Bryan geram.
📱:"Buka mata kamu Bro!! beginilah Kaila yang sebenarnya. Dia bukan bocah yang kamu anggap sebagai Adek. Dia tuh wanita dewasa yang kesehariannya akrab dengan bermacam jenis anggur. Jelas saja dia juga terbiasa mencicipi nya. Bahkan sampai mabok seperti sekarang ini"Jelas Lian panjang lebar.
Tersadar dari kekurangannya mengetahui sifat asli sang Adik membuat Bryan menurunkan sedikit nada bicaranya. Ya! benar yang di kata Lian, Kaila bukan gadis kecil lagi. Sejatinya dia adalah wanita dewasa berusia 30 tahun an.
📲:"Ya tapi kan tetap aja kamu harus jagain dia biar gak sampe mabuk Lian!!"Tegas Bryan.
📱:"Malam ini dia ketemu sama sahabat sahabat kami di masa lalu, mereka hanya merayakan pertemuan kembali aja"
📲:"Tapi nggak___"
📱:"Iya iya. Bawel banget sih. Tau gini mending aku nggak bilang sama kamu kalo Kailanya mabuk"
📲:"Ya udah sekarang Kaila di mana??biar aku jemput!!"
📱:"Gak usah. Dia sama aku aja!,aku sekedar ngabarin kamu aja biar nggak nyariin kemana mana"Sanggah Lian. Gitu gitu Bryan tetaplah seorang Kakak bagi Kailanya. Meskipun nyebelin Lian nggak bisa mengabaikan Bryan sekarang ini.
Namun sikap songong Lian membuat Bryan gusar, Kaila belom sah menjadi istri Lian tapi pria itu sudah bertindak seenaknya.
📲:"LIAN!!!BILANG DI MANA KAILA SEKARANG!!"
📱:"Tenang Bro.Suer aku gak bakal ngapa ngapain dia kok. Dia udah tidur sekarang. Aku nggak tega bangunin dia"
Setelah perdebatan panjang akhirnya Bryan kalah lagi dari Lian.
"Dasar rubah ekor 10, liciknya ngalahin rubah ekor 9!!"Sentaknya kesal melempar ponsel tak berdosa ke sofa. Untung ke sofa, kalo ke ubin bakal hancur berkeping keping tu ponsel, sama kek hatinya sekarang yang hancur berantakan karena kalah debat dengan Lian.
Keningnya terasa kaku dalam kerutan. Lama lama dia bisa berubah jadi kakek kakek keriput kalo kelamaan larut dalam kekesalan karena Lian.
"Gludak gludak"Kakinya nampak cepat menuruni tangga. Sembari memutar mutar kunci mobil dia pamit diri pada Bi Mun yang masih betah menonton sinetron di chanel ikan terbang.
"Bryan mo jalan Bi, jagain rumah ya"
"Tumben jam segini masih mau keluar Den"Ujar Bi Mun melirik jam dinding yang menunjukan pukul 11 malam.
"Sumpek aja!! pen cari angin segar. Bi Mun juga tumben jam segini masih nonton sinetron"Sahutnya duduk di depan pintu memasang sepatu.
"Masih seru den, laki nya ketahuan punya wanita lain. Mana udah punya anak pula sama wanita lain itu"Si Bibi greget meninju ninju bantal sofa.
"Kwkwkkw lanjutin deh Bi, Bryan pamit yak"Ujarnya ogah berlama lama dengan si Bibi. Bisa bisa ampe subuh tu Bibi bakal nyeritain alur sinetron yang dia tonton itu. Secepatnya dia pen minggat dari hadapan wanita paruh baya itu.
"Eh Den..!!"Suara Bi Mun menghentikan langkah Bryan di halaman.
"Non Kaila kapan balik??"
"Nginap tempat camer nya Bi"Kilah Bryan.
__ADS_1
"Oh..okay deh Den"Ujarnya mengacungkan jempol.
Malam itu Bryan memacu mobil tak tentu arah. Dia berniat ke Bar atau Cafe sekedar menghilangkan lelah pikiran. Namun jika dia pulang dalam keadaan mabuk keadaan malah akan jadi kacau.
Di pinggiran jalan dia melihat beberapa pasangan bergandengan tangan keluar dari area taman kota. Hah...kok hati Bryan rasanya nyesek melihat kebersamaan pasangan yang terlihat lebih muda dari dirinya.
"Hoel!! para bocah jam segini masih kencan. Cih"Gerutunya membuang muka.
"Apa emaknya gak nyariin tu cewek??dih santuy banget sih jadi orang tua"Ujarnya terus berkomentar bagai netizen maha benar.
Melewati area taman Bryan membelokan mobilnya melaju pelan di area market 24 jam. Ada bayang yang tak asing di sana. Dia menghentikan mobil dan mempertajam penglihatannya.
"Mairaaaaa"Gumamnya tak percaya. Gadis yang pernah bertengger di hatinya tengah menyantap sesuatu di dalam mini market tersebut.
"Ngapain hampir tengah malam sendirian di sana??"Dia berniat hanya memandangi tingkah Maira dari dalam mobil saja.
Namun sepasang kaki yang seolah tak bertuan berjalan menghampiri gadis tersebut. Kaki tak bertuan??? jelas saja!langkah spontan sang kaki bertolak belakang dengan kedua alis mengkerut Bryan. Dia tak berniat menyapa gadis itu namun kini dia tlah berdiri tepat di samping gadis berambut panjang nan hitam lebat itu.
Maira begitu fokus pada nasi kepal dan mie instan di hadapannya,membuatnya terhipnotis hingga tak menyadari kehadiran Bryan. Akh..malam yang panjang dengan perut yang terus bernyanyi memaksa Maira keluar dari kediamannya dan bertandang ke sini.
"Makan malam nya ini doang"Ucap Bryan melirik menu tengah malam Maira.
"Yah...mau gimana lagi! Makan menu ginian aja aku udah bersyukur banget"Sahutnya tanpa memandang siapa yang tengah berbicara"Sruuuppfff, Hmmmmm"
Bryan diam. Dia menarik kursi kosong di samping Maira dan kini duduk bersama menghadap jalanan yang mulai terlihat lengang.
"Bukannya kamu kerja??masa nggak bisa pilih makanan yang lebih baik dari mie instan sama nasi kepal"Ujarnya lagi mengubah posisi duduknya menyamping menghadap Maira.
"Kamu mah enak, kerja di sini bosnya baek banget. Buat makan malam aja kamu di masakin istrinya, bahkan cemilan malam aja juga di sediain. Lah aku!! entah semesta lagi doyan bercanda atau gimana sekian lama nganggur eh sekali dapat kerjaan malah ketemu bos dzolim naudzubillah"Cerocosnya.
Maira mengeluarkan uneg uneg nya tanpa memandang Bryan. Dia pikir lawan bicaranya adalah Keano sang pegawai mini market itu. Suara berat mereka hampir tak bisa Maira bedakan. Terlebih perut lapar membuatnya kurang fokus mencerna suara yang tengah mengajaknya ngobrol sekarang.
"Oh...jadi Bos kamu orangnya nyebelin??"Tanya Bryan mulai kesal.
Maira meletakan nasi kepal di piring kemasan sembari menatap Bryan"Ya iyalah Keanoooo~~"Mulutnya membulat kaku dengan kedua bola mata hampir meloncat.
"Keanoooo!!!"Pekik Maira tak percaya.
Dia meletakan garpu plastik"Keano kan!!, kok mukanya jadi Bryan edan!!"Tangan berminyak nya memegangi wajah Bryan yang cemberut penuh kesal.
"Apaan sih Ra!!, jan berisik dong aku lagi telponan ama Yayank aku nih"Keano nongol dari bawah meja kasir.
"Hah!!!"Maira menjauhkan tangan dari wajah Bryan.
"Bebebebebbbebe!! Be apa!!"Sentak Bryan menyabet tisyu kemudian menyeka wajah"
"Maaf Bos!!, maaf banget. Duh gimana dong kean!!"
"Berisik Mairaaaa!!"Keano kesal.
"Jagain deh yak, aku duduk di luar deh. Kayaknya kalian saling kenal kan. Lanjut deh mau ngapain juga"Keano keluar sembari terus memuja muja sang kekasih di ujung telpon.
"Biasa sayang, Maira tuh. Gadis belia yang nggak laku laku"Ujarnya berseloro.
Maira bagai menelan biji kedondong, dasar Keano!!di depan Bryan dia ngata ngatain Maira seperti biasanya.
"Anu___Maaf Pak Bos,,,"Cicitnya meminta maaf.
"Jadi di belakang saya kamu ngata ngatain saya"Ucap Bryan memandang tajam ke arah Maira.
Gadis itu menggeleng cepat.
"Terus Bos yang mana kamu bilang edan dan dzolim??"Tanya Bryan bersilang tangan di dada. Tatapan membunuhnya menghujam jantung Maira.
"Bos yang dulu Pak!! yang dulu...duluuuuuu banget"Sahut Maira hampir tersedak. Nasi kepal bahkan belum habis dia telan, sekarang dia semakin terdesak dengan sikap dingin Bryan menuntut penjelasan darinya.
"Ehem..uhuk!!"
"Dug dug!"Maira memukul dada coba melancarkan Nasi yang dia telan.
Ada rasa kasihan melihat tingkah Maira. Ada apa dengan kehidupannya sekarang??Bukankah June banyak memberinya harta sebelum dia meninggal dunia. Meskipun mereka tak sempat menikah namun di masa hidupnya June yang sangat mencintai Maira menyerahkan semua aset kekayaannya atas nama gadis itu.
"Minum gih. Jangan sampai besok pagi ada berita seorang gadis meninggal karena tersedak"Ucap Bryan ketus.
"Uhuk uhuk!!"Batuk Maira semakin menjadi. "Kampret!! nyumpahin aku lekas mati yak??"Batin Maira.
Gadis itu benar benar kelabakan tengah malam ini. Bahkan untuk membuka botol minuman air mineral saja dia seakan tak berdaya.
"Uhuk uhuk!!Kean!!!"Pekinya pada Keano.
Yang di panggil tak bergeming sedikit pun.
"Astaga!!!sumpah aku salah apa sih Tuhan!!apes banget sih!!"Pekik batinnya lagi dengan tangan tergagap berusaha membuka botol air.
"Set"Bryan mengambil botol di tangan Maira kemudian membukakannya.
__ADS_1
"Glek glek glek!"Wuahhh tenggorokan Maira akhirnya lega.
"Hupffhh!!terimakasih Bos"Ucapnya pelan.
"Kamu tuh cewek apa bukan sih, minum aja berantakan kaya begini!!"Pria itu menyeka air di bibir Maira dengan tisyu bekas menyeka wajahnya.
"Blus!!"Wajah gadis itu terlihat memerah. Dia senang, Bryan nampak perhatian padanya.
"Dari tadi Bas Bos Bas Bos!!, kalo di luar kantor panggil Bryan aja!"Ujarnya mengambil lagi tisyu dan melemparnya ke wajah Maira.
"Tuh bersihin lagi. Butiran nasi berserakan di pinggir bibir kamu. Ntar jadi jerawat, jorok banget"
Maira mengerjap mendapat lemparan sehelai tisyu. Meskipun tak lembut seperti dahulu namun Bryan masih perduli terhadapnya. Hal itu cukup membuatnya senang malam ini.
"Makasih Bryan"Tukasnya menyeka wajah.
"Hmmm!!"Sahut Bryan."Aku nggak dzolim kan??"Sempat sempatnya menyindir Maira.
"Maaf, abisnya kamu ngeselin kalo di kantor"Ujarnya menundukan wajah.
Bryan tak terima dengan perkataan Maira"Lah...aku pikir sikap ku biasa aja kok, kamu aja yang baper an. Atau...kamu mau nya santai santai aja di kantor??"
"Nggak kok"
"Bagus deh kalo kamu nggak berpikiran kaya gitu. Mending aku pecat dari awal aja kalo mau niatnya pengen main main aja"Ujarnya tegas.
"Jangan dong Bryan!!, aku makan apa dong kalo nggak kerja!! rumah sewaan aja udah nunggak 2 bulan ini"Rengek Maira.
Kedua alis Bryan menyerngit kembali. Rumah sewaan??
"Jan ngibul!"Tukasnya tak percaya. Gadis ini bisa saja mencari muka di hadapannya. Mengingat begitu banyak aset dan harta milik June atas namanya.
"Terserah kalo nggak percaya, aku mohon jangan sampai aku di pecat yak"Rengeknya lagi.
"Aku nggak akan ngeluh lagi masalah kerjaan. Sumpah!!"Maira meletakan tangan di atas kepalanya.
"Suka suka kamu deh, pesenin kopi"Pintanya akhirnya.
"Siap Bos kuuu"Sentaknya riang gembira"Aku yang traktir deh, kopi di sini enak lho, murah pula"
"Hmm!!"Sahut Bryan. Melihat gelagat Maira yang nampak kekurangan uang membuat Bryan bertanya tanya. Tapi nggak mudah pertayaan itu lolos begitu saja dari mulutnya. Dia memilih mengurungkan niat dan diam diam menyelidiki apa yang tlah terjadi pada kehidupan Maira selepas kepergian June.
Di belahan bumi yang lain, Lian sang lelaki normal tengah bertarung dengan jiwa lelaki yang terus meronta karena ulah Kaila yang mabok. Berkali kali Lian di buatnya bolak balik keluar masuk kamar, mulai dari pekikan Kaila yang kehausan, kegerahan hingga melepas atasannya, juga kedinginan meminta Lian menyelimutinya. Bermacam alasan di luar logika membuat Lian menggaruk kepala tak gatalnya.
Kini setelah mengusap punggung Kaila yang merasakan gatal di punggungnya akhirnya Lian dapat bernafas lega. Perlahan terdengar nafas teratur Kaila pertanda wanita itu tlah terlelap dalam tidurnya.
"Kaila oh Kaila, kalo aja kamu nggak mabuk udah aku babat abis kamu Yank"Gumamnya merebahkan diri di sofa biru ruang tamu. Dia bukan tipe lelaki yang doyan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Meskipun hasratnya tengah naik turun karena tingkah Kaila yang menggeliat manja padanya di tempat tidur dia nggak berniat bercumbu dengannya yang dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Tidur...tidur..."Ucapnya pelan mensugesti diri sendiri.
"Li~aaaannn~~"Di tengah lelah yang tak ada habisnya Kaila kembali berulah. Dia berjalan sempoyongan menghampiri Lian.
"La!!, mau apa lagi sekarang"Ujar Lian menghela nafas lelah.
Kaila terhenyak di ujung sofa, tepat di atas kaki Lian.
Dia naik ke atas tubuh Lian dan "Tit!"Ujarnya menekan kening Lian.
"Mode seksi on"Ucapnya merebahkan diri di atas Lian.
"La!!balik ke kamar sana"Pinta Lian. Kaila tak bergeming.
Dia mengangkat wajah dan kembali menekan kening Lian"Tit!!!mode seksi on"
"Kailaaaaa aku bukan robot"Gumam Lian memegangi tubuh Kaila. Wanita itu tak menghiraukan tubuhnya yang hampir jatuh ke lantai karena oleng. Lian di buat kerepotan menahan tubuhnya agar tetap stabil di atasnya.
"Tuk!"Kening mereka bersatu. Nafas manis bercampur alkohol membuat jantung Lian jimpalitan di dalam sana. Kaila mencium lembut bibir Lian dan___
"Bruk"Kaila kembali terlelap. Dengan santainya melanjutkan tidur tengkurap di atas dada Lian.
"Bdbdkdhrbksdjfhjej"Dia meracau.
"Deg deg deg!"Detak jantung Lian semakin tak menentu. Dengan posisi sekarang apa yang akan terjadi pada si joni di bawah sana???😆😆😆
"Astaga!!!, ayolah joni. Bertahanlah untuk malam ini saja. Lawan mainmu sedang tak sadar diri. Bermain sendiri nggak asik banget kan!!"Desahnya meredam hasrat bercinta. Kedua tangannya memegangi kepala pusing yang hampir meledak.
Sementara Lian di buat pusing atas bawah oleh Kaila lain halnya dengan Fatur dan Mei. Bak menyelam minum air pasangan itu tlah memadu kasih sepuas puas nya malam ini. Mumpung si kembar dan si kakak menginap di tempat kakek dan nenek mereka, kapan lagi mereka bisa bermesraan dan bercinta sepuasnya seperti malam ini. Bahkan hingga subuh menjelang Fatur yang sempat terlelap kelelahan kembali melancarkan serangannya pada Mei hingga pagi yang dingin terasa begitu panas bagi keduanya.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen 😉
30 oktober 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1