Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 7


__ADS_3

Saat pertama kali kita bertemu..


Aku ingat bagaimana aku bernafas..


Mungkin kamu pernah mendengarnya...


Dan mungkin kamu sudah mengingatnya..


Aku sangat menyukai suaramu...


Tapi aku lebih suka kalau kita berjalan bersama,


Ya! semoga saja ketika aku yang mencintaimu ini kembali membuatmu mencintaiku.


Karena kamu adalah cinta pertamaku di setiap hari...


Dan aku akan menunggumu seperti salju musim semi datang.


💖💖💖💖


Sebuah restoran cepat saji yang terletak di seberang Cafe Ceria terlihat lengang siang ini. Beberapa pelanggan nampak selesai dari aktivitas makan siangnya dan perlahan meninggalkan restoran.


Nampak dua pria berbeda visual yang sempat berdebat tadi pagi kini kembali bertatap muka. Janji mereka untuk makan siang bareng telah terpenuhi tapi Bryan dengan tegas meminta kepada Lian untuk tak bertemu di kedai Arin lagi.


Lian memilih mengalah tentang kedai itu, sebagai gantinya dia mengajak Bryan ke restoran tersebut. Lian menuntun Bryan untuk duduk di meja pojok, tepat menghadap Cafe Ceria. Begitu banyak kenangan di sana, semua kisahnya dan Kaila banyak menyisakan kenangan di sana.


" Sengaja ngejauhin Kaila dari aku??" Lian memulai percakapan. Dia membuka kancing lengan kemejanya dan menaikannya hingga ke siku. Jemarinya meraih buku menu dan memilih sejenak.


" Iya, kamu nggak terima??". Tantang Bryan. Setelah menenangkan diri lepas berdebat dengan Lian tadi pagi kini semangat bertarungnya tlah kembali. Taring singanya tlah tumbuh kembali, siap mencincang habis Lian jika dia bersikeras berani mengganggu Syilanya.


Pria berlesung pipit itu mengalihkan padangannya kepada Bryan, kedua alis Lian bertaut naik " Oh...jadi mau misahin aku sama Kaila nih??".


" Ya!!". Jawab Bryan lagi.


" Sebelum kamu berniat memisahkan kami kamu nggak penasaran dengan hubungan kami sebelum bertemu kembali??". Lian memancing rasa penasaran pria di depannya itu. Dia menyodorkan buku menu kepada Bryan, namun pria itu tak berniat memesan makanan.


" Ya sudah!, jauh jauh ke sini kamu nggak berniat mencicipi makanannya??" Tanyanya seraya mengangkat tangan memanggil pelayan restoran.


Bryan tak mengindahkan ucapan Lian, dia benar benar nggak memiliki selera makan saat ini " Bukannya kamu nih yang harus mendengar penjelasannku dulu?? masa lalu dan masa depan lebih penting yang mana sih??". Nggak kalah dengan Lian, dia juga mengulurkan umpan kepada lawannya.


" 😊 Hehe, kamu bukan lawan sembarangan Bryan. Oke, jelaskan kepadaku bagaimana kamu mencuci otak gadis yang tinggal menghitung hari aku nikahi". Senyum Lian membuatnya bertambah tampan, bahkan bagi seorang lelaki seperti Bryan. dalam benaknya pun dia mengakui hal itu.


" Sialan!! lebih baik kamu berwajah datar dari pada memamerkan senyum itu". Gerutu batin Bryan.


Sesampainya pelayan di meja mereka Lian memesan makanan dan juga minuman " Eh bro, minum mau nggak nih??". Tanyanya.


" Nggak!". Sahut Bryan judes.


" Hahahha kocak kamu, ya sudah deh". Lian menyudahi pesanannya.


" Ngambek Bro di bilang kang cuci??" Ledek Lian, dia nampak meremehkan Bryan lagi. Hal itu jelas membuat Bryan semakin kesal kepadanya.


" Seenaknya mengatakan aku mencuci otak Syila! aku menemukannya bersimbah darah di tengah malah". Sentak Bryan.


" HAH!!!" Lian terkejut bukan kepalang.


" Jelaskan Bryan!!, kenapa dia bersimbah darah??!". Desak Lian begitu penasaran. Dia bahkan mengurungkan niatnya untuk menyeruput es dalgona yang dia pesan.


Demi membuktikan bahwan dirinya bukanlah sang pencuci otak, juga untuk membuktikan bahwa dia bukanlah seorang kang janji makanya Bryan pun bercerita tentang kejadian naas yang menimpa Syila.


Tanpa menutup nutupi dia menceritakan bagaimana dia membawa Kaila dari lokasi kecelakaan tunggal itu, bagaimana dia menunggui Kaila siuman dan mengunjunginya setiap hari di rumah sakit.


Sesekali Lian menyela, begitu perih dan pilu hatinya mengetahui kejadian itu. hingga berjalannya waktu tak terasa mereka tlah menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk saling berbincang.


" Jadi,,,karena dia nggak memiliki identitas apapun aku hanya bisa membawanya bersamaku, terlebih tubuhnya pulih namun kehilangan ingatan". Ucap Bryan terus bercerita.


" Dan kamu seenaknya menjadikan dia adikmu??". Lian menuduh Bryan yang bukan bukan, seharusnya dia mengucapkan terimakasih kan karena sudah menyelamatkan Kaila.


Bryan membela diri " Aku kehilangan adikku, dan tuhan mengirimkan dia sebagai gantinya. Apa itu salah??".


" Kamu nggak berniat mencari keluarganya?? atau siapun yang mungkin mengenalnya??". Tanya Lian lagi. Baginya Bryan telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Prasangka Lian begitu liar terhadap Bryan, tak sedikitpun penilaian baik yang dia berikan kepada pria itu.


" Aku sudah melaporkannya pada kepolisian setempat, dan di kota itu nggak ada warga yang hilang. Mau nggak mau aku membawanya kembali ke sini, ke kotaku". Jelas Bryan, dia berbicara sepenuh hati namun raut wajah Lian nampak tak mempercayai setiap ucapannya.


" Jelas saja, dia dari kota ini Bryan". Ucap Lian lirih.


" Cih payah sekali, usahamu hanya sebatas itu. Bilang saja kamu memang menginginkan dia untuk menggantikan adik perempuanmu itu kan??". Tuduhnya lagi.


" Iya, aku mengakuinya. Dan sekarang aku memang Kakak laki lakinya". Muak mendapat tuduhan tidak berdasar sekalian saja Bryan meng" Iya " kan segala tuduhannya.


" Nggak sadar kalo hidup dalam kepalsuan, halu Bryan!! kamu tu halu tingkat dewa!!". Cecar Lian geram.


" Buka mata kamu, buka pikiran kamu, dia bukan adik kamu!!". Lanjutnya.


" Nggak!!, dia tetaplah adik perempuanku!!, dan kuharap kamu menjaga jarak dengannya!!". Sahut Bryan berkeras hati.


Lian tertawa geli, betapa ceteknya otak seorang Bryan Brander. " Kamu lucu bro". Dia sontak bertepuk tangan.


Merasa di cemooh Lian emosi Bryan pun tersulut.


" Aku memintamu menjauhinya dengan cara baik baik ya Li". Sentaknya.


" Hahahhaha!!". Bibir Lian semakin tertawa lebar," Sorry Bryan, aku menolak mentah mentah permintaanmu".


" Maka ___aku akan bertindak kasar kepadamu". Tandasnya mengibarkan mendera permusuhan.


Kedua tangan Lian terbuka lebar dengan seringai tawa " Oke!! siapa takut".


Bryan diam dalam beribu kekesalan, apa yang harus dia lakukan pada pria ini.

__ADS_1


" Ya sudah, aku mau menemui Kaila". Dia bersiap meninggalkan Bryan.


" Eit". Bryan dengan sigap menarik lengan Lian " Nggak bisa!!, lagian___Syila kan nggak kenal kamu". Ujarnya bersikeras menahan Lian.


Wajah Lian maju mendekati Bryan" Maka aku akan memperkenalkan diriku kepadanya". Ujarnya setengah berbisik.


Bryan melepaskan lengan Lian dan kembali duduk. Dia terlihat begitu frustasi.


" Ayolah Lian biarkan semuanya berjalan seperti sedia kala". Pintanya melemah.


" Hal sedia kala itu dia adalah tunangan aku kan". Ucapnya lagi, dia bersikap tenang dan santai. Bryan begitu kesal dan muak dengan sikapnya itu.


" Ashhh!!, kamu nggak ngerti sakitnya kehilangan untuk selama lamanya!".


Kedua mata Lian melirik Bryan tajam. " Kamu mau tau bagaimana sakitnya aku kehilangan dia?? di saat hari pernikahan kami tinggal beberapa hari".


Bryan menatapnya sendu" Kamu pikir siapa yang lebih menyedihkan di antara kita??".


" Syilaku yang sebenarnya___udah nggak ada di dunia ini Lian". Ucapnya pelan, Lian dapat merasakan kesedihan di dalam kata kata Bryan.


" Dia pergi untuk selamanya bersama Mamahku". Lanjut Bryan tertunduk, dengan terpaksa dia menceritakan tragedi yang merenggut dua wanita tercintanya.


" Sore itu Mamah membawa Syila bersamanya ketika menjemputku dari tempat les".


" Biasanya om supir yang datang menjemputku, mungkin Mamah dan Syila memang mengejar takdir mereka". Dia terlihat sangat terpuruk, membuka luka lama demi mempertahankan Syila. Nggak di sangka dia harus melakukan hal ini di depan Lian.


Dia menghela nafas dan kembali bercerita "Di perjalanan pulang terjadilah kecelakaan naas itu, padahal tinggal beberapa menit kami akan sampai di rumah. Namun jalanan yang licin karena hujan membuat mobil kami oleng dan menghantam batu besar".


" Aku sudah sering meminta Papah untuk pindah rumah saja, jalan menuju kediaman kami menanjak cukup tajam. Aku merasa ngeri setiap melewati tempat kejadian naas itu, siapa sangka firasatku benar. Mereka meregang nyawa di sana, di bawah rintik hujan mereka bersimbah darah".


Kedua tangannya mengusap wajah, mencoba menahan air mata yang hampir menggenangi kedua pipinya " Masih teringat jelas di mataku bagaimana Syila memegang erat tanganku sebelum meninggalkanku untuk selamanya".


" Mamah sempat di larikan ke rumah sakit, namun dia nggak bertahan lama". Kenang Bryan lagi dengan mata berkaca kaca.


" Sejak saat itu aku nggak pernah kembali ke rumah, aku memilih tinggal di panti asuhan peninggakan Mamahku".


Bak seorang sahabat Lian masih terdiam menyimak cerita Bryan, di sela pertikaian mereka hari ini dia menjadi pendengar yang baik untuk Bryan.


" Kehadiran Syila membawa angin segar untukku dan Papah, kami merasa Syila kami benar benar kembali".


" Aku mohon Lian, biarkan dia menjadi Syila kami". Kedua tangannya menangkup penuh harap kepada Lian.


Rasa bersalah merasuki diri Lian " Apakah aku tlah bertindak terlalu kejam terhadap Bryan??". Bisik hatinya.


" Tapi aku juga terluka disini". Kata kata itu spontan lolos dari mulut seorang Lian.


" Aku juga nggak bisa menjauhi Kaila, dia adalah jantungku!, aku bisa mati jika harus kehilangan dia lagi".


Sejenak mereka kembali terdiam, terhanyut dalam pikiran masing masing.


" Aku akan bersikap adil di sini". Lian memecah kesunyian di antara mereka.


" Kamu jangan meminta aku menjauhi Kaila, jelas aku nggak akan menuruti permintaan itu. Karena kita sama sama terluka, aku akan memulai dari awal lagi bersama Kaila". Ucapnya panjang lebar.


Bryan menggeleng " Aku nggak ngeh".


" Kamu tetap sebagai Kakak laki lakinya, aku akan datang padanya dan memulai semuanya dari awal. Berkenalan dan PDKT seperti awal pertemuan kami dulu".


Akhirnya dua pria itu menemukan titik terang untuk hubungan mereka, mereka akan menjalani hari hari seperti biasa dan biarkan semuanya berjalan mengalir seperti air yang mengalir.


Terlepas dari keputusan itu, Bryan salut dengan kebesaran hati seorang Lian.


💖💖💖💖


" Syilaaaa". Seru Nyonya Sook.


Gadis yang di maksud tengah membuat buket mawar untuk pelanggan.


" Syila!". Tepukan Nyonya Sook pada pundaknya membuat dia terkejut dan tergoreslah duir mawar itu di jarinya.


" Aw!!". Pekiknya.


" Duh maaf Syil!!". Nyonya Sook panik.


" Ghina, ambilin hansaplas".


" Nggak papa Nyonya, nih darahnya udah berhenti kok". Dia memperlihatkan jarinya yang kini sudah tak berdarah lagi. Rupanya dia spontan memasukan jemarinya yang terluka ke dalam mulut.


Nyonya Sook menepuk dadanya" Hah!! untung saja, kali ini saya yang salah nak".


" Beneran nggak papa Syil??". Tanya Ghina.


" Cuman kegores doang!". Sahut Syila.


" Ada tugas untuk Syila??". Tanyanya mengingat awalnya Nyonya Sook mencari carinya.


" Anterin bunga ke alamat ini ya". Nyonya Sook menyerahkan sebuah alamat kepada Syila.


" Oke Nyonya". Tanpa ragu dia menyabet kertas itu " Kunci motornya Nyonya". Tangannya meminta kunci motor kepada Nyonya Sook.


" Nih, inget jangan ngebut ya. Cepat balik ya, sepulangnya kamu kita bakal tutup toko".


" Siap laksanakan". Ujar Syila penuh semangat. Jelas saja dia bersemangat, entah sejak kapan dia sangat suka mengendarai motor, apalagi sore sore begini. Angin sejuk di sore hari membuatnya senang luar biasa.


Seperginya Syila Nyonya Sook lah yang menyelesaikan rangkaian buket.


" Waw, buket yang sangat cantik". Puji pelanggan.


" Hehehe, terimakasih. Saya senang jika anda puas dengan hasilnya". Nyonya Sook berujar.

__ADS_1


Kembali kepada Syila yang tlah mengendarai motor pengantar bunga, dia melaju dengan santai di jalanan dan berakhir di depan gedung apartemen.


Dengan hati hati dia membawa bunga tersebut kepada pemiliknya.


" Ting tong". Bel di tekan.


" Ting tong!!". Lagi..Syila menekan tombol bel lagi.


lumayan lama dia menunggu seseorang membukakan pintu.


" Ada orang nggak sih??". Gumamnya masih di depan bel. Dia menatap tombol dengan seksama " Apa alat ini rusak??".


Jemarinya terus menekan tombol bel berulang ulang " kayanya baik baik aja kok". Gumamnya.


" Hey tombol bel, apa kamu baik baik saja??". Dia mulai berbicara dengan benda mati itu.


" Aku baik baik saja". Suara seseorang keluar dari bel itu.


" Duh, kaget aku". Dia terkejut sembari memegangi dadanya.


" Bisa ngomong??".


" Tuk tuk!!". Jari telunjuknya mengetuk alat tersebut.


" Iya dong, aku kan alat yang canggih". Suara itu keluar dari alat itu lagi.


" Oh begitukah??, eh emang dia bisa di ajak ngomong??". Ujarnya dalam bingung.


" Anu__apa ada orang di dalam??".


Pintu tersebut terbuka, nampak seorang pria yang tak asing tertawa kepadanya.


" Silahkan masuk Nona Syila".


" Blush!!". Syila merasakan wajahnya terasa panas.


" Anda__ yang tadi pagi??"


Teringat ketika dalam pelukannya membuat Syila berdebar.


" Syukur deh kalo masih inget, itu bunga pesanan saya??". Tunjuknya pada bunga yang sedari tadi Syila peluk.


" Oh iya Pak, eh Tuan, Mas?? duh saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?". Tingkah serba salahnya begitu menggemaskan bagi Lian.


" Lian". Ujarnya menyodorkan tangan.


Bak gayung bersambut tanpa ragu Syila menyambut jabat tangan Lian " Saya Syila".


" Iya udah tau kok, tadi pagi kamu berkali kali menyebutkan namamu kan, maaf kan sikap ku tadi pagi".


Syila mengibaskan kedua tangan di depan Lian" Enggak kok Lian, kemarin juga ada yang memanggilku Kaila, aku nggak begitu kaget ketika kamu juga memanggilku Kaila".


" Eh?? ada orang lain yang memanggilmu Kaila??".


Gadis itu mengangguk " Kemarin aku jalan jalan ke pinggiran sungai, ada sepasang suami istri yang memanggilku Kaila".


" Apa mereka membawa anak kembar??".


Syila menggeleng " Anaknya 1 doang, cewek. Cantik banget".


" Apa Fatur sama Mey??". Batin Lian.


" Istrinya pake poni?? matanya agak sipit dikit??"


" Iya".


" Yang cowok tinggi putih, pake topi kebalik??"


" Iya!! temennya??".


" Pasangan somplak mereka mah, di apain kamu sama mereka??"


" Enggak di apa apain sih, cuman ngotot bilang saya Kaila aja, untung Kak Bryan dateng jadi mereka percaya kalo saya bukan Kaila".


" Hmmm..". Gumam Lian " Btw kamu udah makan??".


" Belom sih".


" Saya juga belom makan, mau nggak temenin saya makan??".


" Nggak deh Lian, kata Kak Bryan jangan gampang di ajakin orang asing makan".


" Saya orang asing??". Tunjuk Lian pada dirinya sendiri.


Syila memegangi tengkuknya " Kan baru kenal Lian". Ucapnya nyengir.


" Astaga!, sikapnya berubah banget. Jadi gemesin gini sih, ya elah La makin greget aku sama kamu". Batin Lian. Dia gemes banget pengen meluk tu cewek. Tapi demi kebaikan bersama dia akan pelan pelan mendekati Kaila kembali. " Aku yakin kamu akan mengingatku secepatnya sayang".


💖💖💖💖



Nama: Bryan Brander.


To be continued...


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen 👌👌👌.


11 september 2020.

__ADS_1


Salam anak borneo.


__ADS_2