
***Jika kenangan dapat di simpan dalam sebuah kotak,
Maka harus sebesar apa kotak kenangan itu??
Tlah ku serahkan kunci kenangan kepada dirimu,
Namun kau melempar kembali kunci kenangan manis itu padaku.
Lantas...
Harus di mana aku menyimpannya??
Ketika manusia selalu tumbuh dalam pencarian,
Juga menghilang dalam pencarian,
Namun kamu...
Selalu ku temukan di dasar hatiku yang paling dalam.
Dalam kehidupan...
Perpisahan dan kematian sangat sulit terelakkan,
Merasakan asam garam kehidupan,
Tidak lepas dari suka dan duka,
Namun aku yakin kita akan bersama meski hanya di awal dan akhir saja.
Ada orang yang di takdirkan sekedar lewat saja,
Dan ada orang yang akan saling terikat seumur hidupnya.
Jika itu sebuah takdir,
Kenapa kau menjauh sedang sang kuasa membuat kita dekat???"***
ππππ
Bryan meninggalkan Kaila di pelataran parkiran. "Ingat ya Dek!!, jan macem macem sama Lian. Belom sah!!" Tandasnya dengan jari telunjuk menari nari di depan wajah Kaila. Gadis itu mendengarkan dengan seksama, sembari menyematkan helai rambutnya di daun telinga Kaila coba mempertahankan sikap santai di depan Bryan. Hahaha..siapa yang tau kalo mereka sudah pernah Nge Teh, hanya mereka dan Tuhan yang maha kuasa kan??
"Dek!!" Suara Bryan membuyarkan lamunan Kaila.
"Ada apaan sih di bawah, Kakak ngomong kok di kacangin"
"Siapa yang ngacangin Kakak, sensi amat. PMS yaaaa???!"Ujarnya bercanda.
Bryan manyun mendapat candaan garing dari sang Adik.
Seperginya Bryan, Kaila melangkahkan kaki dengan ceria ke gedung nan besar itu. Terdengar senandung kecil ketika dia perlahan memasuki Lift dan menekan nomor lantai apartemennya.
Sendirian di dalam Lift membuatnya leluasa mematut diri di depan dinding cermin.
"Hmmm πΆπΆπΆ~~"Kaila nampak ceria pagi ini. Tanpa dia tahu ada sesuatu yang sedang menunggunya di kediamannya.
Dengan langkah begitu ringan, kini dia tlah berada di depan pintu.Dia yang sudah hapal betul dengan kode pin apartemen dapat segera masuk tanpa menekan bel.
"Pagi Lian sayang" Ujarnya seraya meletakan sarapan mereka di meja makan. Dia berbelok ke ruang tamu dan_____
"Tante Vivi____"Kaila membatu.
"Lian ada yang data____"Vivi berucap sembari menoleh ke arah datangnya Kaila.
"Brak!!" Remot Tv di genggaman Vivi jatuh ke lantai. Membuat benda pengendali chanel televisi itu berserakan.
Tak di hiraukannya benda mati itu, toh dia nggak akan merasakan sakit kan."La!!!"Serunya menghampiri Kaila.
Dia serba salah, tangannya begitu ingin memeluk Kaila tapi tampang bengong Kaila membuatnya urung melakukannnya.
"Ka__kamu Kaila??" Vivi coba lebih memastikan.
"Iya tan"Sahut Kaila pelan.
Kedua mata Vivi mengerjap, segala rasa bercampur aduk. Senang karena Kaila kembali, namun ada rasa marah karena kepergiannya membuat sikap hangat Lian berubah dingin.
Bibirnya mengantup ke dalam, jantungnya berbedar terpicu emosi.
"Jadi...kamu kembali??"Dia yang awalnya terlihat senang kini berubah dingin dengan sepasang mata menatap tajam ke arah Kaila.
"Iya tante"Begitu pelan Kaila tak ingin membuat raut wajah Vivi semakin menakutkan. Dia tau Vivi menatapnya dalam dalam tapi sekedar membalas tatap mata sang calon mertua saja membuat nyalinya menciut hingga ke dasar bumi.
"Sejak kapan??"
"Baru baru ini tan"Bibir Kaila bergetar, entah karena takut atau karena hal lain. Yang jelas dia nyaris menggigit lidahnya ketika menjawab pertanyaan Vivi.
Lian keluar dari kamar dengan setelan nyaris lengkap. Dasi yang menjuntai di kerah bajunya seakan meminta Kaila untuk memasangkan agar penampilan Lian menjadi sempurna.
Tapi....Tatap mata Vivi bagaikan tembok besi penghalang. Ada amarah yang dapat Kaila rasakan di sana hingga membuatnya takut sekedar melangkah maju mendekati Lian. Suasana canggung itu membut Lian gerah"EHEM!!"Pecahlah sebuah kesunyian.
"La...pasangin dong"
Kaila menggeleng.
"Pasangin La!!"
__ADS_1
"Pasang sendiri Lian"Cicit Kaila pelan. Sangat pesan sampai sampai sang semut pun tak bisa mendengar bisikannya. Nah lho π suara jenis apa kah yang di miliki Kaila??
Lian cuek dengan pandangan Vivi yang seakan menenlanjangi calon istrinya. Di tariknya lengan sejajar Kaila ke hadapannya.
"P A S A N G I N !!" Ucapnya dengan penekanan.
Mau nggak mau Kaila dengan kaku memasang dasi untuk Lian.
"Santai"Gumamnya pelan.
"Nggak bilang Mamah kamu ada di sini"Kaila balas berbisik kembali.
"Bukan kejutan namanya kalo di kasih tau duluan Sayang"Senyum mengembang mendapati wajah tak berkutik Kaila. Sekilas dia teringat akan Syila yang polos dulu.
"Kemana aja kamu selama ini La"Vivi lanjut menginterogasi calon menantunya. Dia berkeliling di sekitar Lian dan Kaila dengan tampang kesal.
Dia bahkan memanggi Kaila dengan sebutan Kamu bukan Lagi Nak, dari nada bicara Vivi seakan membangun benteng di antara dirinya dan Kaila. Masih segar dalam ingatan bagaimana akrabnya Vivi dan Kaila dahulu. Tak ayal mereka sering membuat iri Mega karena keakraban mereka. Mengingat bagaimana kacaunya hubungan Mega Mamah nya Fatur sebelum akhirnya berdamai dengan Mei yang berakhir sebagai menantunya.
"Kaila_____"Sayang niat Kaila bercerita buru buru di potong Lian.
Lian menarik wanitanya untuk duduk bersama dengan sang Mamah. Panjang lebar Lian mengungkap apa yang tlah Kaila alami selama ini. Pandangan amarah Vivi berubah menjadi tatapan sendu. Malang nian nasib Kaila, setelah kehilangan Abangnya yang meninggal karena depresi akibat perselingkuhan sang istri, berujung pada perdebatannya dengan Lian karena perselingkuhan Riley dan nasib mempertaruhkan nyawanya hingga sempat merenggut segala kenangan di masa lalu nya.
"Jadi perpisahan kalian tempo hari karena Lian menyalahkan kamu??"
"Harusnya tante yang menyalahkan Lian, nggak seharusnya dia melimpahkan kekesalannya atas perselingkuhan Om Riley kepada kamu"
"Maaf tante, Kaila mencari waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Lian"
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Yang lalu biarlah berlalu"Vivi mengelus pucuk kepala Kaila yang tertunduk sedih.
"Udah, Maaf tante sempat menerka yang enggak enggak tadi"Dia merangkul pundak Kaila. Ah..sudah lama Kaila tak merasakan kehangatan tangan Vivi.
"Jadi...kalian akan menikah secepatnya kan??"
Lian menyentikan jari ke arah Vivi dan Kaila"Lian setuju!!" Ujarnya berseru.
Sebuah cubitan mendarat di perut Lian"Kesenangan kamu yaaaaa!!"
"Aw..!!aw..!! nikah kan ibadah Mah"
"Baru bilang sekarang!!, kenapa nggak dari kemaren kemaren pas awal awal ketemu Kaila!!" Serangan bertubi tubi terus Vivi lancarkan pada tubuh sang putra.
Begitu gesit Lian menghindari jemari Vivi, sempat sempatnya dia menarik Kaila agar ikut bersamanya"Sarapannya mana?"
"Eh..eh..main kabur aja!!"Sentak Vivi.
Kaila kelabakan di tengah pertikaian ibu dan anak itu"Anu...akh..di mana aku meletakan sarapan tadi"Keluhnya memegangi kepala.
Keributan pun terjadi. Vivi yang terus mengomeli Lian. Kaila yang lupa dengan sarapan. Dan Lian yang jejingkrakan menghindari serangan sang Mamah.
"Wuidih...tumben kediaman Nak Lian rame"Bibi petugas kebersihan bergumam di depan kediaman Lian.
ππππ
"Kenalin Ra, ini Pak Bryan. Pewaris tunggal perusahaan Brander.
Maira mengulurkan tangan"Selamat pagi Pak Bryan"Dia berlagak baru mengenal Bryan hari ini.
Tatapan Bryan kosong ke depan. Apa yang sedang semesta siapkan untuknya, luka tak berdarah kembali tersiram air garam.
"Ayolah Tuhan, aku tlah kehilangan sahabat terbaik ku June yang begitu mencintai Maira. Tolong jauhkan aku dari gadis ini, engkau yang maha tau atas segala rasa di dalam hatiku ini"
"Oi!!!, jan ngelamun. Kasian tangan anak gadis orang di anggurin begini!!"Tegur Brama. Pukulan di pundaknya menyadarkan lamunan Bryan. Seperti menerima ajakan sandiwara di kantor yang di tawarkan Maira, Bryan menyambut uluran tangan gadis itu dan juga berlagak baru saling kenal.
"Bekerjalah dengan giat"Ujarnya lantas berlalu dari hadapan Maira.
"Buru buru amat sih Yan, ikutan dong!!" Sejak kapan Brama jadi doyan ngikutin Bryan.
Bryan berucap sembari balik badan"Perasaan kita nggak___"
"Sedekat ini deh!!"Sambar Brama dengan memonyongkan bibirnya.
"Udah tau, masih aja sok akrab. Pergi sana aku masih banyak kerjaan"
"Aku juga sibuk kali Yan, nanti makan siang bareng ya" Kedua mata Brama berkelip kelip bak kunang kunang di malam hari.
"Najis!!!, nggak mau. Mending makan sendiri dari pada sama kamu"
"Terus kenangan makan siang kita yang kemaren kemaren itu nggak berarti apa apa buat kamu Bryan??"Sandiwara ala Brama di mulai.
"Jangan sampe aku muntah di sini Brama!!, pergi sana!!"Keluh Bryan begitu jengah.
"Oke deh. Ntar siang aku tungguin di kantin ya"Ujarnya ceria.
"Siapa peduli??"
"Jan telat ya, aku punya penyakit maag lho" Brama seakan tuli dengan penolakan Bryan.
"Bodo amat!!"Desisnya meninggalkan Brama dan Maira.
Brama tak menghiraukan ucapan Bryan. Yang dia tau mereka akan makan siang bareng.
"Kekekekek aku nggak mau kesepian di kantor ini"Bisik hatinya.
Di tatap Maira langkah menjauh Bryan, pria yang diam diam dia cintai itu masih saja bersikap cuek kepadanya.
__ADS_1
Sebagai pegawai magang tak jarang Maira mendapar tugas menyiapkan teh atau kopi untuk sesama karyawan, juga untuk Bryan dan pemimpin lainnya.
β‘β‘β‘β‘
Jam makan siang pun tiba.
"Bryan!! tungguin dong!!!"Seru Brama yang tertinggal di meja kantin.
"Jangan mentang mentang kamu nungguin aku dari tadi terus sekarang kamu minta aku nungguin kamu"Ketusnya memalingkan wajah.
"Ayolah Bryan, aku cuman mau lebih akrab sama kamu. Kita berdua sama sama kesepian di kantor ini"
"Aku nggak kesepian!, karyawan segini banyak kok merasa kesepian. Manusia aneh!"Tukasnya menunjuk para karyawan yang menatap lucu pada mereka. Mereka sudah terkenal dengan julukan Tom and Jerry di perusahaan ini. Tak jarang Brama merasa senang jika Bryan mendapat masalah begitu pula sebaliknya.
Dengan bibir mencibir diamelangkah menjauhi Brama.
"Ikh!! sombong amat, ingat ya sekarang kita sahabat!!" Teriaknya pada Bryan yang tak menoleh sedikitpun padanya. Dia terus melangkah dengan punggung semakin menjauhi Brama.
"Pak Brama...selamat siang"Maira hadir dengan seporsi makan siangnya.
"Eh Maira, baru makan siang??"
"Iya Pak. Boleh saya duduk di sini??"Tanya Maira.
"Silahkan manis, Ups keceplosan. Mulut aku sering berkata jujur sih, maaf ya"Brama nyengir.
Maira tertawa di hadapan Brama.
"Seandainya calon sahabat aku dapat tersenyum manis kaya kamu"
"Ah, calon sahabat??"
"Maksudku Pak Bryan, manusia berhati lembut sama karyawan tapi berhati baja kalo sama aku"Wajahnya tertunduk sedih.
"Lah..gimana ceritanya Pak Brama, boleh kok kalo mau curhat sama Maira"Ada rasa keingintahuan tentang Bryan di hati Maira. Dengan menjadi teman curhat Brama otomatis dia akan tau hubungan mereka, juga akan mendapat info terbaru tentang Bryan. Secara Brama kan menyimpan semua berita ter update nya Bryan.
Brama bercerita panjang lebar kepada Maira. Dirinya dan Bryan adalah teman sepermainan di waktu kecil. Dari Brama lah Maira tahu bahwa Bryan memiliki seorang adik perempuan bernama Syila, namun seiringnya waktu keberadaan Syila lepas dari pengetahuan Brama. Hingga ketika besar Syila hadir di hadapan Brama namun sayangnya dia nggak mengingat tentang dirinya sedikitpun.
"Padahal dulu aku sempat nyatain cinta lho sama Syila"
"Di terima??"
"Iya, tapi bentar doang. Syila cerita ke Bryan kalo kita jadian. Eh malah Bryan nggak setuju terus maksa Syila mutusin aku gitu"
"Hehehhe yang sabar ya Pak Brama. Kapan kejadian itu?"Tanya Maira sembari menepuk pundak Brama dengan jari telunjuk. Dia tak ingin ada kontak fisik berlebih di antara mereka, secara dia kan orang baru di perusahaan ini.
"Itu kejadian ketika kami masih SD"
Mulut Kaila mengembung menahan tawa. Cinta monyet ternyata.
"Sejak itu Bryan nggak mau lagi berteman dengan aku. Dan Syila jelas dia larang untuk berteman dengan ku"Lanjut Brama.
"Mungkin itulah alasan kenapa Syila sekarang nggak mengingatku"
"Saking lamanya di suruh Pak Bryan untuk menjauhi Pak Brama??"Maira coba memastikan.
Brama tertunduk sedih. Namun bukan Brama namanya jika berlama lama dalam kesedihan. Di habiskannya es jeruk yang masih tersisa kemudian berdiri dari duduknya sembari mengangkat kedua tangan.
"Aaaakkhhh!!!, masa lalu cepatlah memudar dari ingatanku" Serunya seakan membuang penat.
Lelaki di hadapan Maira ini benar benar unik. Beberapa menit yang lalu dia nampak sangat terpuruk tapi lihatlah sekarang. Dia sudah riang gembira seperti biasanya.
"Seandainya aku bisa seperti anda Pak Brama"Bisik hati Maira menatap kagum pada Brama.
Percakapan mereka berganti topik. kini berpindah pada hal hal lucu yang jelas membuat Maira tergelak tawa. Maira merasa terhibur oleh Brama meski awalnya dia yang hendak menghibur lelaki itu.
Senyuman dan tawa terus menghiasi wajah Maira juga Brama. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tajam ke arah mereka sedari tadi.
"Cih...manusia aneh ketemu manusia aneh. Jelas nyambung lah!!" Ujarnya berdecih kesal.
Di ambilnya botol air mineral dan segera menenggaknya sekaligus.
"Pak Bryan haus banget ya"Tanya petugas kantin.
"Iya nih. Gerah banget"Sahutnya melonggarkan dasinya.
"Perasaan adem kok"Gumam petugas kantin pelan.
"Bikinin kopi dong"Pinta Bryan akhirnya.
"Espresso"Sambungnya.
"Biasanya capucinno Pak"
"Bikinin aja deh"Desah Bryan mulai kesal dengan petugas kantin.
"Siap Pak Bos!!"Aura kelam di wajah Bryan membuatnya harus cepat menyiapkan pesanan. Kopi pahit sepahit wajah Bryan sekarang.
Bryan masih bersandar di counter kantin. Di buangnya pandangan ke arah berlawanan dari Maira dan Brama yang masih saja bercanda dan bergurau.
Niat awalnya yang hendak menyuruh Maira membuatkan kopi di urungkannya. Tiba tiba dia kesal dengan perempuan itu. Emang salah Maira apa??
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.
__ADS_1
17 Oktober 2020.
Salam anak Borneo.