
Jauh di dalam sana...
Aku ingin menghapus engkau dari setiap kenanganku.
Namun ternyata...
Aku tak bisa menyerah dan melepaskanmu yang tercipta hanya untukku.
Aku terengah engah di setiap pagi,
Aku tak bisa tidur di malam hari,
Hatiku tak bisa berpaling sedikitpun darimu.
Aku kesepian, bahkan sangat kesepian,
Apa kau tau itu?? Aku benar benar tak bisa keluar dari tempat sepi ini.
Aku terjatuh, hanya sekedar ingin kau kenang di penghujung harimu.
Dingin seperti salju, aku tak biasa dengan diriku yang seperti ini.
Cahaya bulan di langit malam terasa menggigit dan mencabik hatiku,
Aku sangat kesepian di sini, apa kau tau itu??
Tolong ulurkan tangan kepadaku, bawa aku atau kembalilah ke sini bersamaku.
💝💝💝💝
Sore yang sangat indah bagi Lian, Kaila yang polos berhasil dia bujuk untuk makan bersamanya di dalam apartemen yang sebenarnya memang milik Kaila.
Menurut informasi yang dia dapat selain stay di toko bunga Kaila juga bisa pergi mengantarkan pesanan bunga kepada pelanggan. Dan beruntungnya Lian, kali ini benar Kaila yang mengantar bunga, biasanya Ghina juga bisa pergi mengantarkan bunga pada pelanggan.
Cukup menggelikan ketika Lian menyaksikan kepolosan Kaila di depan bel tadi. Amnesia itu mengubahnya menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan Kaila yang dulu. Dia sengaja terlambat membukakan pintu untuk Kaila, melihat tingkah polosnya menambah rasa gemas Lian terhadap gadis itu.
Namun sebesar apapun rasa merindunya dia harus bisa menahan diri agar tak mengulangi kesalahannya tadi pagi, dengan gamblang dia merengkuh Kaila dalam pelukannya.
Karena telah sepakat dengan Bryan untuk memulai semuanya dari awal maka sebelum kedatangan Kaila dirinya sudah lebih dahulu menyembunyikan semua foto Kaila dari setiap sudut apartemen, terkecuali di dalam kamar. Nggak mungkin kan Kaila akan memasuki kamar pribadinya.
Ada perasaan aneh ketika Kaila melangkah lebih masuk ke dalam apartemen itu, suasananya terasa akrab baginya.
Sembari melangkah Kaila bertanya kepada pria itu "Lian...kamu sendirian tinggal di sini?".
" Hm.." sahut Lian dengan gumaman. Dia terlihat tenang di depan Kaila, padahal hatinya sedang berloncatan kesana kemari karena senang bisa membawa Kaila kembali memasuki kediamannya. Yah walaupun saat ini ingatannya belum kembali namun Lian yakin gadis itu akan segera mendapatkan ingatannya kembali.
"Silahkan duduk". Lian mempersilahkan Kaila duduk di sofa biru muda, seandainya sofa itu bisa berbicara...
Kaila duduk di sofa tersebut dengan tangan masih memegangi bunga milik Lian. Pandangannya masih menyusuri setiap sudut ruangan.
"Akh...maaf Lian, ini bunga pesanan kamu". Tangannya terjulur ke arah Lian yang kini berdiri di hadapannya.
"Buat kamu aja". Lian berujar.
"Lho..apa aku terlambat membawakan bunga ini?".
"Iya". Sahutnya singkat.
Mendengar ucapan Lian gadis itu sontak kembali berdiri. Sepenuh hati dia meminta maaf kepada pria itu, dia terus membungkukan badan berulang kali sembari terus meminta maaf kepada Lian.
"Sruk" Lian memegang pucuk kepala Kaila, menghentikan gerak gerik Kaila meminta maaf.
"Blush!!" Wajah Kaila kembali terasa panas. Kaila memegangi pipinya "Apa aku demam??" Gumam batinnya.
"Nggak usah terus membungkuk begitu, nanti pinggangnya encok". Lian tertawa kepadanya.
Dengan wajah polosnya Kaila masih menanyakan perihal bunga itu "Tapi bunganya??"
"Udahlah, itu buat Mamah aku tapi hari ini dia bawel banget. Aku jadi nggak niat lagi buat ngasih dia bunga" Ujarnya berkelit.
Ucapan Lian mengukir senyum di wajah Kaila, kedua matanya berbinar senang entah kenapa hal begitu saja terasa menggelitik humornya. Kaila menarik nafas lega "Hmmm aroma ini lagi". Bisik hatinya, ruangan itu memiliki aroma khas Lian, aroma yang sering melintas di indra penciumannya selama ini.
"Kamu mau makan apa nih ". Lian menahan diri dengan senyuman itu, seandainya Kaila nggak amnesia mereka pasti akan bersuka cita melepas rindu saat ini.
"Apa aja, setan lewatpun kalo aku lagi laper banget bisa aku lahap kok". Canda Kaila.
"Hihihi bisa lawak juga kamu".
"Aku punya penyakit aneh, perasaan kesepian dan kesedihan tiba tiba datang dan membuatku kadang kadang menangis tanpa alasan, ketika aku tersadar maka aku akan menghibur diriku sendiri dengan candaan candaan receh yang sering aku dengar dari anak anak panti". Jelasnya panjang lebar.
"Dan jadilah Kaila yang doyan candaan receh seperti sekarang ini". Tutur Lian.
"Kaila??" Kedua alisnya bertaur naik,"Aku Syila" Helatnya seakan nggak rela di panggil Kaila.
Lian merasa nggak enak hati "Ups maaf, bicara sama kamu serasa sedang berhadapan dengan Kailaku".
Gadis itu menatapnya dengan dua bola mata berbinar, pandangan yang sangat Lian rindukan "Apa aku sangat mirip dengannya?" Dia kembali bertanya.
Pria itu mengangguk pelan.
" Hmm..jadi begitu. Tapi Lian, semirip apapun dua orang yang beda pasti ada sedikit perbedaan di antara mereka kan?"
"Akan lain ceritanya jika aku meyakini dua orang itu adalah orang yang sama". Sahutnya.
"Orang yang sama??" Syila garuk garuk kepala.
" Tapi kan beda". Lanjutnya.
Lian bersikeras "Sama sih sebenarnya".
"Beda lho" Sanggah Kaila lagi.
__ADS_1
"Samain aja deh". Lian ngotot dengan anggapannya.
Kaila mengetuk ngetuk kening berkerutnya, perdebatan ringan ini membuat otaknya berhenti berpikir hingga akhirnya kebingungan.
Melihat tingkah Kaila kedua lesung pipit Lian kembali menampakan pesonanya, dia tersenyum lebar menatap Kaila.
"Udah deh nggak usah di pikirin, aku tinggal ke dapur dulu ya".
"Mau masak??". Entah berapa kali sudah gadis ini mengajukan pertanyaan kepada Lian, dan Lian selalu menjawabnya dengan senyuman. Teruslah bersikap ingin tau, banyak berbincang denganmu saja aku sudah sangat senang. Ujar batin Lian.
Ujung bibirnya menukik naik "Nggak, mau maen monopoli". Lian berkelakar.
"Hehe, kedapur main monopoli ya". Kaila cengengesan.
Lian kembali memegang pucuk kepala Kaila
"Kamu tunggu di sini ya, bentar doang kok".
Kaila menerima perlakuan hangat Lian kepadanya tanpa bertanya, Kaila juga merasa sudah terbiasa berbicara dan bercengkrama dengan Lian padahal belum lewat sehari sejak pertemuan pertama mereka.
"Cowok masak??nggak kebalik nih, emang kamu bisa masak?".
"Eits...jangan ngeremehin cowok ya, aku jago bikin mie rebus lho". Tuturnya membanggakan diri.
Kaila bersemangat mendengar mie rebus. Kedua tangannya bertepuk riang membayangkan semangkuk makanan kesukaannya itu.
"Mau mie rebus aja deh"
Lian tau itu makanan kesukaan Kaila "Pedes ya".
"hu_um". Kaila mengangguk senang. Hahaha sikap Kaila udah kaya anak kucing yang bakal di kasih makan, matanya berbinar terang ngalahin lampu neon di apartemen itu. Lebay dikit lah ya 😅
Lagi...seperti sudah terbiasa Kaila nggak merasa heran dengan Lian yang sudah tau akan selera makanan pedasnya.
Lian melenggang ke arah dapur, Kaila mengekor dengan spontan.
"Lho kok ngikutin??". Tubuh tegap Lian hampir saja menabrak Kaila ketika dia berbalik.
"pengen bantuin". Dengan kedua bola mata membulat Kaila begitu antusias ingin ikut memasak bersama Lian. Tubuhnya yang kecil membuatnya sedikit mendongak ketika berbicara menatap Lian.
"Nggak usah".
Dia bersikeras "Nggak enak diam aja di meja makan".
Akhirnya Lian mengalah terhadap Kaila, dirinya dan Kaila mulai menyibukan diri mencuci dan memotong sayuran untuk memasak mie rebus ala Lian.
Mereka hening beberapa menit, hingga akhirnya Kaila buka suara.
" Lian....apa yang bakal kamu lakuin kalo Kaila benar benar menemanimu seperti sekarang ini". Dia meletakan sayuran yang sudah dia cuci di samping Lian.
Lian meletakan pisau di tangannya..dia diam sejenak dan...
Jelas Kaila terkejut bukan main, wajahnya seketika panik mendapati prilaku Lian.
"Li...". Dia tergagap.
"Bukannya tadi kamu menanyakan hal apa yang akan aku lakukan jika kamu benar benar Kaila".
"Ma___af Lian, maafkan kelancanganku". Wajah gadis itu tertekuk sedih.
Lian memandanginya dalam dalam.
Perlahan dia berucap lembut dengan tatapan sendu tepat kedalam mata Kaila "Kemana saja kamu selama ini? aku hampir menyerah dan mengakhiri hidupku sendiri".
"Li_Lian___"
"Aku sendirian, aku kesakitan sendirian, aku bahkan sudah menggantung sebuah tali di balkon untuk menggantung diriku"
Lian melepaskan genggaman tangannya dan beralih ke kedua pipi Kaila.
"Aku bersyukur kamu kembali meskipun___" Lian memutus kata katanya. Kedua mata Kaila berbinar merah. Gadis itu hampir menangis.
" Maaf Syila, hal itulah yang akan ku lakukan jika kamu adalah Kaila". Lian mengelus pergelangan tangan Syila.
" Maaf, apakah aku terlalu keras memegang lenganmu? Maaf Syila aku terbawa perasaan".
Kaila menepis tangan Lian pelan "Hick hick...aku nggak papa Lian". Tangis gadis itu pecah. Dia mencoba melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tapi kok nangis". Lian kebingungan. Dia terus mengusap kepala Syila mencoba menenangkan nya. Dia juga berusaha membuka tangan Syila yang menutupi wajah gadis itu.
"Kamu pasti menderita selama ini, hick hick...apa kamu kesepian??" Tanpa di sangka tangis Kaila semakin menjadi. Ada rasa kesedihan yang mendalam mendengar ucapan Lian tadi.
Lian terkekeh geli, ternyata Kailanya berubah menjadi gadis bahlul yang kelewat polos. "Hemmm aku sangat kesepian". Sahutnya mencoba menahan tawa.
"Hick hick hick 😢, ya sudah kamu panggil aku Kaila saja".
"Hah kok tiba tiba begini". Tangan Lian terus menepis air mata yang mengalir di kedua pipi gadisnya.
"Anggap saja aku sedang menghiburmu, juga sebagai ucapan terimakasih sudah memasak mie rebus untukku".
"Gkgkgkgkkgk" Lian tertawa terpingkal pingkal.
"Kamu kocak Syila, kamu gadis yang lucu".
"Kak Bryan mengatakan bahwa nggak ada yang gratis di dunia ini, maka aku akan membayar mie rebus itu dengan panggilan Kaila, tapi 1 hari ini aja". Celotehnya menyeka sisa sisa air mata.
Cih Bryan lagi, mood ceria Lian tiba tiba anjlok mendengar nama itu. Seandainya dia punya pintu doraemon, Bryan akan dia kirim ke ujung dunia biar nggak jadi pengganggu dalam hubungan dirinya dan Kaila sekarang.
Dia kembali mendekati Kaila dan mendekati wajahnya "Gimana kalo aku nggak mau di bayar dengan memanggilmu Kaila??".
__ADS_1
"Terus...kamu mau aku membayar dengan apa??" Dengan polosnya dia kembali mengajukan pertanyaan.
"Yakin nih??,bukan aku yang duluan membahas masalah pembayaran semangkuk mie rebus itu ya".
Syila yang polos dan patuh dengan nasihat sang Kakak bersikeras ingin membayar mie rebus yang akan disediakan Lian untuknya.
" Hu_um, aku harus membayar apa yang akan aku makan bersamamu".
"Oke , kita makan dulu deh. Nanti mie nya dingin". Tepat saat itu mie rebus tlah siap di hidangkan. Milik Lian dengan level pedas standar sedangkan milik Kaila dengan level pedas nampol. Duileh jadi ngebayangin seblak yang lagi naik daun di kota Author deh 🤤🤤🤤🤤🤣.
Syila pun menuruti perkataan Lian. Kini mereka berdua makan bersama sembari lanjut bercerita tentang percintaan Lian dan Kaila.
"Kamu nggak papa nih aku banyak bertanya tentang Kaila?"
"Its okay" Pria itu menyahut sembari meletakan sumpit couple miliknya dan Kaila yang tlah lama tak terpakai.
"Hm...kamu baik banget Li, wuaaahh aku sangat kekenyangan. Mie buatan kamu memang mantep 👍". Sebuah jempol terangkat naik di hadapan Lian. Kaila menghentakan sumpit sebelum menggunakannya untuk melahap mie rebus itu. Sebuah kebiasaan Kaila yang kembali Lian saksikan di hadapannya.
"Pelanggan senang sayapun senang".
"Pelanggan??kaya kedai mie aja". Mie tersebut telah sampai di lidah Kaila, dia kembali merasakan sebuah keakraban. Rasa yang masakan Lian terasa sudah sering sampai di indra pengecapnya.
"Lho..anggap saja kamu sedang di kedai mie, kan kamu berniat membayar mie rebus ini". Lian memberikan kuning telurnya ke mangkuk Kaila, dan mengambil putih di mangkuk Kaila untuknya.
" Ni orang dukun??kok tau aku nggak bisa makan putih telur??" Kaila di buat terdiam dengan prilaku Lian.
Dia mencoba menyadarka diri"Iya dong, jadi...aku harus membayarnya dengan apa??" Sekarang rasa penasaran terhadap Lian perlahan muncul dalam dirinya. Siapa pria ini sebenarnya??
Lian beranjak dari duduknya. Dia melihat Kaila masih berdesis menahan pedas meskipun sudah banyak meminum air putih.
Dia membuka kulkas, meraih sebotol susu dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Nih...biar rasa pedasnya ilang".
"Makasih Lian, tau aja susu bisa menawar rasa pedas".
"Kan kamu yang ngajarin La". Gumam batinnya.
"Kaila yang ngajarin, dia pecinta makanan pedas". Dia kembali mempertontonkan kedua lesung pipitnya.
"Oh ya??aku juga gitu, aku sangat suka makanan pedas".
"Kebetulan banget ya, kalian berwajah sangat mirip dengan kebiasaan yang mirip juga". Sindir Lian.
Kaila yang masih nggak tau apa apa menenggak susu itu hingga habis.
"Terimakasih Lian".
"Aku nggak mau di bayar dengan terimakasih doang lho".
"Oh iya yah, jadi aku harus ngelakuin apa nih". Tanya Kaila lagi sembari hendak meletakan gelas di meja.
Lian menyambut gelas itu dan perlahan menarik diri mendakti Kaila.
Dia masih berdiri kala itu sedangkan Kaila duduk menyamping di kursi menghadap dirinya.
Dengan sedikit membungkukan tubuh tingginya Lian perlahan mendekati wajah Kaila...kini jarak mereka semakin dekat.
"Buset!!! ni cowok pen tipok aku??" Pekik batin Kaila.
"Eh gila!!,tapi kok aku diem ya??"
"Oh lord!! aku harus gimana nih??"
"Akh ini ciuman pertamaku 😣😣😣😣". Kedua mata Kaila mengerjap gugup. Sementara wajah Lian semakin mendekat.
"Set".
"Minum susu aja belepotan kaya gini Syila". Jemari Lian menepis noda susu di bibir Syila.
!!Blushhh!! Wajahnya seketika merah menahan malu. Gadis itu berdebar dan semakin gugup, jemari Lian dengan leluasa mengusap bibirnya membersihkan noda susu yang tadi dia berikan.
"Li___Lian, aku sudah terlambat. Bolehkan aku segera pulang?".
"Hehe..bayar dulu". Pinta Lian mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Kaila.
"Hm___a_aku harus membayarnya de_dengan apa". Ujarnya terbata bata. Akh lelaki di hadapannya ini membuatnya sangat terpesona.
"Nanti aja deh,kamu harus buru buru pulang kan". Hidung mungil Kaila mendapat jentikan dari jemari Lian.
"O_oke, terimakasih makanannya, aku permisi".
"Syila!!" Seru Lian.
Kaila menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lian.
Lagi..Lian tersenyum dengan kedua lesung pipitnya "Bunganya". Dia menunjuk bunga yang dia berikan untuk Kaila.
Gadis itu buru buru menyabet bunga itu dan secepatnya berlalu dari hadapan Lian.
"Brak!!" Pintu apartemen tertutup. Lian kembali merasakan kesepian. Senyum yang sedari tadi dia pamerkan di hadapan Kaila kini kembali sirna.
Dia tertunduk memandangi jemari yang menyentuh bibir Kaila "Asem!!, harusnya aku menyeka susu itu dengan bibirku". Gerutunya seolah marah dengan jemarinya sendiri.
To be continued..
Happy reading. Jangan lupa like vote dan komennya 😉😉
12 September 2020.
Salam anak Borneo .
__ADS_1