Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 45


__ADS_3

***Aku hanya ingin mendapatkan sedikit waktu untuk selalu berdua bersamamu.


Jika aku ini egois tolong maafkan aku...


Sebab...


Aku merindukanmu.***


❣❣❣❣


Tanpa berpamitan pada siapa pun Angela yang tertangkap basah berbincang dengan orang suruhannya untuk menjebak Maira merasa tak kuasa berdiam lebih lama di kediaman Brander. Lagi pula...tak ada seorang pun yang menginginkannya di sini, sebut saja Tuan Odet yang tlah pergi beristirahat di kamarnya. Juga Kaila yang terang terangan menunjukan rasa tidak suka terhadapnya.


Bagaimana dengan para penghuni panti yang menginap di sana??keterangan Nazmi perihal pelayan abal abal itu jelas menimbulkan keraguan di hati mereka terhadap Angela.


Bi Mun memilih menghindar mendapati Angela menuruni tangga dengan wajah tertekuk sedih.


"Hanya Bryan yang menerimaku di sini, tapi setelah kejadian ini apa sikap nya masih akan sama seperti sebelumnya??"Gumam hatinya.


Di kamar pengantin....


"Hop!!"Lian kembali menghentak kartu di atas selimut.


Di tatapnya dengan seringai tawa pemandangan yang begitu indah di depan mata. Gunung kembar yang masih terbungkus dedaunan hijau, rawa rawa yang masih bersembunyi dari segitiga bermuda nya. Ayyaaa~~~iman oh iman, kalo halal begini apa masih bisa di tahan??


"Manis...jangan lupa aturan mainnya. Buruan di lepas atasan merah jambu mu itu"Goda Lian menunjuk tanktop berhiaskan renda berwarna senada.


"Ugh, langsung ada yok Yank!! buruan kamu juga buka baju"


"Aw aw aw ...istriku nggak sabaran banget. Kamu aja yang buka duluan. Lagian...kamu masih harus memenangkan permainan ini beberapa ronde lagi, lihat dong pakaian aku nggak ada yang di tanggalkan sehelai benang pun.


"Jahat!"


"Ayyaaa~~aku nggak jahat kok sayang. Aku cuman nggak mau membuat kamu tersinggung aja kok, katanya kamu pengen ke korea, bukan kah lebih menyenangkan kalo tiket bulan madu kita itu di dapatkan dari hasil jerih payah kamu sendiri sayang"


Sepertinya Kaila termakan kata kata Lian"Oke oke! nih aku lepas"Kaila berdiri dengan kedua lututnya di atas tempat tidur.


Kini tubuhnya hanya mengenakan 2 lembar kain terakhir yang menutupi area atas bawah sensitif nya.


"Kekekekekke, kamu nggak kedinginan??kalo mau pinjem selimut boleh kok"


"Nggak usah, buruan lanjut lagi mainnya"Desak Maira.


"Wokeh!! istriku memang wanita tangguh. Kalo gini kan aku nggak akan kasih kendor, iya kan mbak istri??"


"Hmmm...buruan lanjutin mas suami"


Pasangan suami istri itu kembali bermain kartu dengan hukuman yang hanya menguntungkan mas suami. Lian menang banyak malam ini, sedari tadi dia bertahan menolak tawaran Kaila untuk langsung bercinta saja. Namun kali ini dia masih ingin bermain main dengan mbak istri.


Deg!!


Deg!!


Deg!!


Maira bergetar di balik semak semak. Si preman yang tak punya sopan santun itu nyaris saja mengenai dirinya ketika buang air kecil.


"Ng!"Si preman tersenyum tipis.


"Kemana perginya gadis manis itu"Ucapnya lebih nyaring.


"Guys tungguin!! kita cari ke tempat lain aja!!"Teriaknya.


Maira bernafas lega. Dari kata katanya si preman akan mencari dirinya ke tempat lain.


Beberapa waktu Maira masih berdiam di tempat persembunyiannya. Duduk menekuk kedua lututnya di dada sembari menenangkan ritme jantungnya.


Setelah merasa aman gadis itu sedikit mengintip dari balik semak semak"Akh..sepertinya sudah aman"Ucapnya seraya bangun dari duduknya.


Dia menyapukan pandangan ke segala penjuru, tempat temaram itu nampak aman sekarang.


Meski masih berdebar dia memberanikan diri melangkah keluar dari persembunyiannya. Sembari berjingkat Maira coba mencari ponsel yang tadi terjatuh ketika dia berusaha kabur dari kejaran para preman.


"Duh...ponselku jatuh di mana??"


Ada bayangan melintas di belakangnya, Maira berbalik namun tak ada seorang pun di sana.


"Ya salam...jan main main dong. Abis preman masa tetangga dari dunia lain juga pengen gangguin Maira"Cicitnya sendirian.


"Bim salabim alimama, siapa saja itu tolong jangan gangguin Maira yak, kalo bisa Maira nya di tolongin biar cepet balik ke kontrakan"Racaunya dalam ketakutan.


"Tuk tuk tuk..."Suara langkah kaki memecah kesunyian.


"Nyariin ini neng??"


Ya tuhan!!!abang preman dan kawan kawan ternyata belum menyerah. Sekarang ponsel yang belum lunas kreditnya itu malah berada dalam genggamannya.


"Hihihi, mau ini??"


Maira mengangguk.


"Sini"


Maira menggeleng.


"Akh lama!"Preman pemarah itu langsung menarik Maira.


Sekuat tenaga gadis itu berontak namun apalah daya dia hanya gadis lemah.


Tubuhnya di hempaskan ke sudut jalan"Akh!!!"Pekiknya merasakan sakit di punggungnya.


"Aku duluan yak"Ujar si preman pemarah sembari melepaskan ikat pinggangnya.


Maira terkejut bukan kepalang. Tak pernah sekalipun hal gila ini terbayang di pikirannya.


"Jangan bang, ambil aja ponselnya. Saya mohon lepasin saya"Isaknya mulai menangis. Kedua tangannya menangkup memohon belas kasih dari para preman.


"Bentar doang kok neng, abang janji bakal pelan pelan"Bujuknya berjongkok di hadapan Maira yang tersungkur di atas rerumputan. Wajah itu begitu menjijikan untuk di pandangi.


"TOLONGGGGG!!,SIAPA SAJA TOLONG AKU!!"Teriak Maira.


"Heiii, jangan berisik dong"Rambut hitamnya di jamah dan di tarik sang preman.


Gadis itu kembali berontak. Menubruk tubuh si preman dengan tiba tiba dan kembali berusaha melarikan diri.


Tangan si preman berhasil meraih gaun yang dia kenakan.


"SRAAKKKK!!"Gaun itu robek di bagian belakang. Punggung mulus Maira kini terbuka lebar.


Tangisnya kembali pecah. Inikah akhir dari segalanya. Dia menekuk kedua lutut di dada. Ingin rasanya dia terjun bebas ke dasar bumi, bersembunyi di sana meski untuk selamanya.


"Oh kamu maunya bermain kasar"Geram si preman.


Maira kembali berada dalam tangkapan para preman. Tangan kotor itu menarik kaki Maira, menyeret gadis itu untuk menyamankan dirinya melancarkan aksinya.


"Plak!!"Pipinya mendapat tamparan karena terus berontak.


"Udah lah, kita gasak rame rame aja"


"Jangan!! saya mohon jangan!"Maira merintih dalam tangisnya. Ujung bibirnya nampak berdarah akibat tamparan si preman. Dengan sisa tenanga dia coba kembali bangkit.


Namun tubuhnya kembali terjungkal ke sudut jalan, kakinya masih di pegang dan di tarik brutal oleh si preman.


Di sana dia berada dalam kungkungan si preman pemarah.


"Akkh!!!"Rambutnya di jambak.


"Aku sudah bilang ini nggak akan lama, kamu gadis pembangkang ternyata" Desisnya kesal. Nafas beraroma alkohol itu tercium begitu dekat pada diri Maira.

__ADS_1


Dia mengerang terus berontak. Tangisnya semakin menjadi ketika gaunnya semakin di robek oleh si preman.


"Buruan dong. Aku juga ingin mencicipi gadis manis ini" Ujar si preman mabok.


"Hahahah bersabarlah, malam masih panjang"


"TOLOONNNNGGGGG!!!"Jeritnya lagi.


"Plakkkk!!"


Pipinya kembali mendapar tamparan. Tubuhnya semakin bergetar ketika si preman hendak menanggalkan celananya.


Dunia seakan runtuh dan menimpa Maira. Dia akan mati!! dia bertekad akan mati jika hal menjijikan itu benar terjadi.


Cahaya...sebuah cahaya mendekat ke arah mereka.


Nampak seorang pria berlari dan langsung menghantam si preman.


"Hei!!cari mati kamu. Jangan ikut campur"


"Buk!!"Sebuah pukulan mendarat di tubuh preman mabuk.


Dua preman lain menyerang pria itu bersamaan. Meski nampak kewalahan pria itu masih dapat mengatasi serangan 3 preman itu.


"Maira!"


Gadis itu tak mampu membalas panggilanya.


Sempat lengah menatap Maira yang tak berdaya membuat Bryan kecolongan sebuah pukulan di wajahnya.


Yah....meski sedikit terlambat tapi Bryan sempat menyelamatkan gadis itu.


"Eishhh!! Aku bisa mencari identitas kalian. Bahkan sampai ke 7 keturunan kalian!"


"Hahahahha memangnya kamu siapa??"Gelak tawa para preman terdengar renyah.


Bryan bangkit kembali hendak menyerang.


"Set!" Sebilah pisau keluar dari saku preman pemarah.


"Pengecut!"Bryan menatap lekat lekat wajah para preman.


"Kalian....oh, jadi kalian para pemabuk di ujung sana"


"Cih, jangan mengalihkan. Serahkan gadis itu maka kami nggak akan menyerangmu lagi"


"Yakin??"Tantang Bryan.


"Kwkwkkwkw kamu siapa sih? ya sudah kalo nggak mau menyerah. Sini kita berduel 1vs 1"


"Bryan!!, aku Bryan Brander"


"Hah"Preman pemarah mengeluarkan sentar kecil dari sakunya. Menyorot wajah Bryan lebih jelas.


"Mati kita!!"Umpatnya melempar ponsel Maira.


"Ayok pergi"


"Beneran Bryan Brander??"


"Iya, ayok buruan pergi. Aku nggak mau hidup menderita sampai 7 keturunan"


Para preman bergegas meninggalkan Maira dan Bryan.


"Ra!!" Di rengkuhnya sang gadis yang tergeletak di rerumputan itu.


"Maira!"Ujarnya coba menyadarkannya.


"Bry____"Gadis itu terkulai lemas.


Bryan buru buru melarikan Maira kerumah sakit. Luka lebam di bagian punggung, sudut bibitnya pecah dan berdarah. Setelah di periksa dokter kaki gadis itu juga terkilir parah.


Di tatapnya wajah gadis itu dengan penuh rasa penyesalan"Maaf Maira, aku datang terlambat"Jemarinya menggenggam erat jemari gadis itu. Kedua matanya masih nampak terpejam"Maira"Ucapnya lirih.


Berjam jam Bryan masih terjaga menunggui Maira. Berharap sang gadis tersadar agar dia dapat meminta maaf secara langsung kepadanya.


Denting jam terus berjalan, meninggalkan Bryan yang masih setia menunggu kesadaran Maira di ranjang pesakitanya.


.


.


.


Lian menjatuhkan tubuh di samping Kaila, merasakan manisnya bercinta dengan kekasih halal memang berbeda rasanya. Kali ini mereka bebas melakukannya tanpa pengaman sekalipun, Lian sebagai pria jelas merasakan sensasi yang berbeda dari biasanya.


"Yank"Kaila menyeruak dari balik selimut putih yang menutupi tubuh polosnya.


"Kenapa sayang??mau lagi??"


"Ck!, aku haus. Otak kamu isinya ngeTeh mulu deh"


"Dih, gitu gitu kamu menikmati banget kan"


"Huuummm"Kaira menenggelamkan wajah di balik selimut.


"Jan di bahas lagi dong, aku haus nih"Cicitnya dengan wajah bersemu.


"Iya deh mbak istri"Lian bangkit dari tempat tidur meraih botol air mineral di meja rias setelah sebelumnya mengenakan kembali celana yang sempat di tanggalkan habis oleh Kaila.


"Glek glek glek"Tiga tegukan cukup menyegarkan di tenggorokan Kaila.


"Gadis manis, udah lega tenggorokannya??"Lian membelai lembut pucuk kepala Kaila.


"Makasih mas suami"Kaila tersenyum manis mencuit ujung hidung Lian.


"Kalo gitu...lanjut ronde ke tiga?"


"Lagi??"


Lian mengangguk semangat.


"Yank___kamu___"Bibir Maira mengerucut.


Lian menyentil hidung Kaila"Di enakin malah manyun"


"Istirahat bentar ya"


Lian melirik jam di ponselnya.


"Udah dini hari, sini tidur di pelukan aku"


Kaila merebahkan diri dalam pelukan Lian.


"Cup"Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.


"Dua ronde udah cukup kok, sekarang bobo ya sayang"Ujarnya lembut menggetarkan hati Kaila.


"Hm...selamat bobo sayang"Kaila mengeratkan diri dalam pelukan Lian. Tak berapa lama nafas mereka perlahan terdengar teratur, lelah berolah raga malam akhirnya mereka terlelap dalam buaian mimpi.


❣❣❣❣


Sang mentari mengintip dari balik tirai putih rumah sakit. Bryan menekan pangkal hidung coba menepis rasa pusing akibat kurang tidur. Demi memastikan keadaan Maira, Bryan baru bisa tertidur ketika subuh menjelang.


Di usapnya pelan pucuk kepala gadis yang masih memejamkan mata itu.


Di sematkannya helai rambut yang nampak bergerai menutup pipi gadis itu pada daun telinganya.

__ADS_1


Maira perlahan terbangun membuka mata.


"Ra!"


Mata yang baru terbuka itu nampak memerah, perlahan genangan air mata menetes membentuk anakan sungai menggenangi pipinya.


"Aku___udah___"Ucapnya terbata bata.


Bryan menggeleng cepat.


"Kamu baik baik aja Ra!jika hal itu sempat terjadi aku akan menghukum diriku seumur hidup"Ucapnya paham dengan maksud berkataan Maira.


"Terimakasih"Ucapnya lirih menatap Bryan.


"Sudahlah, aku yang salah. Harusnya aku tetap mengurungmu di dalam kamarku"


Ujung Maira melirik sendu pada Bryan. Dia tak punya tenaga ekstra untuk kembali berargumen dengan Bryan.


Dan juga___"Ash...punggungku"


"Makanya kamu diem. Jan banyak gerak dulu. Punggung kamu memar, sekedar mengingatkan kaki kamu juga terkilir"


"Jadi kerjaanku___"


"Jan mikirin kerjaan dulu. Kamu nggak akan keluar dari rumah sakit ini jika belum benar benar pulih"


Oke, kali ini Maira memikih berdamai dengan Bryan.


"Tapi biaya rumah sakit__"


"Nanti bisa kita hitung"


Maira mendelik.


Sudut bibir Bryan menukik naik"Bercanda, kamu nggak akan terlibat hutang piutang lagi sama aku"


Gadis itu nampak menghela nafas lega.


Tiba tiba Bryan meraih jemari Maira"Maaf Ra, aku benar benar minta maaf"


"Minta maaf?? emang pak Bryan salah apa??"


Bryan diam.


"Aku terlalu fokus mengurusi Angela"Sambungnya akhirnya.


"Itu sudah kewajiban seorang pacar kan"


"Hm..Maira...ada kesalah pahaman di sini"


"Iya saya tau, terimaksih sudah menjaga saya selama ini. Kedepannya saya nggak akan mengganggu Pak Bryan lagi. Semoga hubungan kalian langgeng"


"Bukan, maksud ku kesalahan pahaman itu__"


"Cerkek~~"Pintu ruang inap Maira kedatangan seorang perawat.


Bryan menyaksikan lebam di bagian punggung Maira, hatinya bagai tercabik cabik membayangkan seperti apa beringasnya para preman menghempas dan memukul tubuhnya.


Kilasan ketakutan gadis itu berlari dalam gelap malam. Hingga berakhir tak sadarkan diri, tak terbayang jika dia terlambat sedikit saja maka masa depan gadis itu akan hancur berantakan.


Timbul rasa takut kehilangan, rasa ingin memiliki itu semakin dalam. Dalam lubuk hati yang paling dalam Bryan berjanji setelah menyelesaikan urusannya dengan Angela, dia akan segera mengabulkan keinginan kedua orang tua Maira. Menikahi gadis itu.


❣❣❣❣


Tanpa Bryan, Kaila dan Lian pamit dari kediaman Brander. Meski sedih akan berpisah dengan sang putri tapi Tuan Odet juga tak berhak menahan sang putri agar tetap berada di sisi nya. Toh sekarang dia sudah sah menjadi seorang istri yang harus ikut dan tinggal bersama suaminya.


Sofa biru....akhirnya sang tuan rumah yang asli kembali bersandar di sofa biru itu. Suasana sepi di apartement itu mendadak sirna dalam sekejap. Perasaan dingin yang selama ini memeluk hati Lian dalam kesendirian tlah hilang bersama sang sepi. Sebab....gadis manis sang pemilik hati tlah kembali ke kediamannya, dan hari hari manis pengantin baru sedang menunggu moment kebersamaan mereka di apatement ini.


"Wuahhh...akhirnya aku kembali ke sini"Kaila merebahkan diri di atas tempat tidur. Aroma mint khas Lian tercium kuat dari sana.


"Minggir dulu deh, ganti dulu seprai nya"


"Nggak!!, biar gini aja sayang"Rengek Kaila bak anak kecil.


"Lho...ini udah lama nggak di ganti, bau apek lho"


"Nggak! wangi gini kok"


Lian mendekatkan diri mencium aroma yang kata Kaila wangi itu.


"Wah idung mbak istri bermasalah nih. Udah deh kamu diem di pojokan, biar aku yang gantiin"


Mau nggak mau Kaila akhirnya mengalah dengan keputusan Lian. Selama Lian mengganti seprai dia benar benar berdiam diri di pojokan. Menatap pria berlesung pipi itu menyelesaikan pekerjaannya.


"Lho...kok diem di situ?"


"Katanya diem aja di pojokan"


Lian terkekeh, tak menyangka Kaila sang pemberontak dulu kini berubah menjadi wanita yang patuh dengan perkataanya.


Bantal yang tlah selesai dia ganti sarungnya pun dia lemparkan ke tempat tidur. Dia menghampiri Kaila yang senderan di sudut kamar, meraih jemari wanita itu dan mengecupnya pelan.


"Manis banget sih sayang, kalo anteng gini jadi makin manis kan"


Wajah Kaila kembali bersemu. Ini bukan kali pertama Lian menatap begitu dalam ke dalam matanya, tapi entah kenapa kali ini setiap tatapannya mampu membuat wajah Kaila terasa panas dan daun telinganya menjadi merah.


"Cup"Lian mencuri ciuman pagi nya.


"Hei!!!"Pekik Kaila terkejut.


"Aku cuman mengambil jatah ku kok, mulai sekarang setiap pagi siang dan malam aku harus mendapat ciuman manis dari istriku yang manis ini"Ujarnya menyentil hidung Kaila.


"Kamu kan kerja, mana bisa siang siang dapat ciuman"


"Aku kan bisa makan siang di sini, sama kamu. Sekalian ambil jatahku"Ujarnya sembari memainkan alis naik turun.


Kaila tertawa"Sudah sayang aku mau beres beres pakaian"Dengan pelan Kaila mendorong tubuh Lian yang menghimpit dirinya ke tembok kamar.


"Modus...bilang aja pengen pegang dada bidang ku"


"Astaga~~~`"Ucap Kaila melirik seringai tawa Lian.


Lian mendekat hendak berbisik ke daun telinganya"Tadi malam cuman 2 ronde sayang, kamu masih hutang 1 ronde untuk hari ini"Bisiknya mulai memainkan daun telinga Kaila dengan ujung lidahnya.


Tubuh Kaila spontan bereaksi.


"Ayyaaa~~`baru nyampe sayang"


"Biar baru nyampe tapi seprai kita kan baru di ganti. Butuh tenaga ekstra lho buat aku gantiin seprai itu tadi"


Kaila tertawa mendapati sikap manja Lian yang tlah lama tak dia tunjukan.


"Beneran 1 ronde doang???"


"Huum"Sahut Lian pelan membuka kancing baju Kaila.


"Janji??"


"Gak bisa janji, takutnya ntar kamu yang nagih minta lagi. Aku harus gimana dong sayang"Ucap Lian dengan tatapan menggoda.


Astaga...Kaila kalah lagi. Tak kuasa menolak pesona seorang Lian akhirnya Kaila kembali jatuh dalam pelukan dan belaian Lian. Pakaian mereka nampak berserakan di karpet kamar, derit tempat tidur menjadi saksi bagaimana Lian kembali menunjukan kejantanannya kepada Kaila.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.


10 Desember 2020

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2