Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 64.


__ADS_3

***Ketika sebuah pernikahan memerlukan sebuah alasan...


Kau dan aku duduk bersama di sebuah taman,


Menghabiskan banyak waktu bersama menyusun hari tua kita,


Menyaksikan bunga bunga bermekaran dan berguguran,


Mendengarkan suara rintik hujan yang terdengar syahdu,


Menyaksikan para bintang bertaburan,


Dan bulan bersinar terang menghiasi langit,


Ketika para awan saling berkumpul,


Ketika angin selatan bertiup dengan lembut,


Kau akan bercerita tentang masa lalumu,


Aku pun kan bercerita tentang kisah di masa laluku,


Semua tentang kau dan aku,


Tlah menjadi satu tentang kisah kita berdua.


Membentuk semua cerita kita menjadi kenangan,


Melangkah bersama untuk mengukir cerita baru kita,


Dalam sebuah pernikahan***


🍒🍒🍒🍒


Daniza menatap nanar kedua putranya. Bisa bisanya karena seorang wanita mereka berani melakukan hal tercela. Apa lagi setelah mengetahui sang korban adalah calon menantu dari Tuan Odet, sang presiden di perusahaan Brander. Seketika hati dan pikiran Daniza terbebani.


Perlahan Daniza mulai bicara" Mamah akan meminta Tuan Odet mencabut tuntutannya"


Alex melihat sudut mata sang Mamah mulai basah" Maaf Mah" Ujarnya dengan suara tertahan.


Berbeda dengan Alex, Aron tak bisa berkata apa apa kepada Daniza. Dia teramat malu pada sang Mamah.


" Jika dia berkenan memaafkan kalian_____ mungkin sebaiknya kita pindah dari kota ini" Tutur Daniza lirih.


" Mah!!"


Ucapan Alex tak membuat Daniza goyah atas keputusannya.


" Sejak Baba( Nenek Aron dan Alex)meninggal Mamah sudah tak punya alasan untuk bertahan di kota ini. Mamah rindu suasana tenang dan damai di kampung halaman Papah kalian" Jemarinya menyeka anakan sungai yang sempat jatuh dari pelupuk matanya. Kini kedua matanya seakan menerawang jauh ke perkampungan yang menjadi saksi masa masa bahagianya hidup bersama mendiang suaminya.


" Maaf Mah, kami salah. Tapi nggak sampai harus pindah dari kota ini juga kan" Akhirnya Aron memeberanikan diri angkat bicara. Dia merasa benar benar bersalah, apalagi melihat betapa terpuruknya sang Mamah.


Daniza menggeleng" Masing masing dari kita perlu menenangkan hati dan pikiran, perkampungan nan sejuk dan asri akan membuat hati kita damai" Sahutnya menatap kedua putranya bergantian.


" Mamah marah banget ya sama kita??"


" Enggak, jika kalian membuat kesalahan itu pasti karena Mamah yang nggak betul mendidik kalian"


Jawaban Daniza membuat hati Alex semakin terenyuh. Seandainya Angela memiliki hati dan pemikiran seperti Mamah tersayangnya, mungkin nasib mereka gak akan berakhir di balik jeruji seperti saat ini.


Ketika kedua putranya melakukan kesalahan besar Daniza bukannya marah dan melampiaskan segala kekesalannya kepada mereka, dia malah menyalahkan dirinya sendiri dan menganggap tlah gagal dalam mendidik mereka. Sikapnya membuat Alex dan Aron semakin sadar akan kesalahan mereka.


Di sudut lain dari balik jeruji nan dingin. Angela diam seribu bahasa. Sampai saat ini tak satu pun tamu yang datang menjenguknya. Kedua orang tuanya tengah berada di luar negeri. Lantas.....bagaimana nasibnya??


🍒🍒🍒🍒


Jejeran sawah nan hijau menjadi pemandangan terakhir bagi Kaila dan Lian di perkampungan kecil itu. Meski masih ingin menghabiskan waktu bersama namun telpon dari Tuan Odet tadi malam membuat mereka mau tidak mau harus segera kembali ke kota. Seperti rencana Bryan dan Maira, pernikahan mereka akan di laksanakan lebih cepat dari rencana awal.


Beberapa saat sebelum mereka meninggalkan perkampungan itu. . .


" Nih, sebagai sahabat yang baik aku kasih bebek 2 ekor buat Bryan sama calon istrinya" Dengan bangganya Wahab memamerkan sepasang bebek berukuran cukup besar di hadapan Lian dan Kaila.


Bola mata Lian berlarian kesana kemari. Kemaren Ayam, sekarang bebek. Wahab suka banget sama usaha ternaknya, pake di kasih bekal tu bebek pula.


" Bebek____" Kaila bergumam dengan bibir tersenyum geli. Hampir saja dia tertawa lepas karena ulah Wahab yang tak terduga.


Seketika wajah Lian berubah masam" Bisa nggak bebeknya di uangkan aja, atau di ganti yang lain aja deh"


" Kenapa?? Bryan gak suka Bebek?? aku ganti ayam aja gimana?" Betapa polosnya wajah pak Ustadz ini, dia tak menyadari bahwa Lian menolak membawa hewan berbulu itu ikut naik ke mobilnya.


" Ayam lagi~~~~, ganti yang lain deh!"


Wita terkekeh" Maaf Li, dia ngebet pengen ngasih pasangan bebek itu buat hadiah pernikahan Bryan"


" Kok bebek sih 😑, kalian datang kan. Gak usah ngasih binatang unggas deh!!" Terang terangan Lian menolak penumpang lain di mobilnya.


" Insa Allah datang kok, tapi bebeknya titip sama kalian aja" Wita nyengir menatap wajah masam Lian.


" Ck, kalo gak mau bebek sama ayam aku ganti sayuran deh. Tapi masa di kota kaga ada sayuran, lagian perjalanan kalian kan lumayan lama tuh. Bakal layu dong sayurannya ntar" Terang Wahab.


" Tumben mikirnya pinter, kalo di kota jelas jelas ada sayuran berarti di kota juga ada ayam sama bebek. Jadi kamu gak usah nitip nitip hewan berbulu plus berisik ini. Akh!!! mana kamu bawanya polosan pula, masukin kotak kek, kalo dia BAB di mobil aku gimana???"


" Ya elah Lian____ segala bebek polosan, masa iya mentang mentang ke kota bebeknya harus bawa koper kaya kalian gitu?? iya sih ni bebek bedua emang laki sama bini tapi mereka ke sana kan buat di santap, bukan liburan kaya kalian"


" Kotak oi!! bukan koper!!"


" Iya tau kok! ini mah bukan si bebek yang berisik, tapi kamu!!" Gerutu Wahab menyerahkan tali yang mengikat di leher para bebek kepada Lian.


" Lah..kamu mau kemana??" Lian memegangi tali kekang dua ekor bebek dengan terpaksa. Bakal berabe kalo kaga di pegangin, bisa kabur si bebek bedua.

__ADS_1


" Katanya gak mau bawa bebek polosan, takut BAB. Aku ambil kotak buat mereka dulu lah"


" Jangan lama! lagian kenapa gak di iket kaya ayam aja sih, pake di kalungin di leher pula talinya. Emang si bebek mau di ajak jalan jalan kaya gukguk"


Ingin rasanya Wahab berbalik dan menoyor jidat Lian, punya sahabat badan L-men tapi nyali menciut sama bebek.


Setelah melewati perdebatan yang panjang akhirnya dua ekor bebek itu berhasil Wahab kirimkan kepada Bryan. Yah...meski mereka berdua harus rela angin anginan di atas mobil Lian dengan seribu ikatan tali rapia sebagai jaminan keamanan mereka.


" Yank, anginnya lumayan sejuk lho. Yakin bebek di atas aman aman aja??" Tukas Kaila sedikit khawatir dengan pasangan bebek di atas mobil.


" Gak bakal kabur kok. Kan mereka dalam kandang, di iket seribu pula sama Ustadz sinting itu" Lian kembali manyun mengingat kegilaan Wahab.


" Iya tau di iket erat banget. Maksud aku mereka bakal mabok nggak?? atau masuk angin gitu? aku lupa tadi ngasih kain penutup di kandang mereka"


" Biarin!! justru begitu lebih bagus mereka jadi bisa liat pemandangan di atas sana. Menikmati angin sepoy sepoy, lagian kalo mereka masuk angin kan tinggal kasih tolak angin cap badak, beh...bebek oh bebek" Kepalanya menggeleng mengingat para bebek. Udah kaya raja sama ratu aja di arak di atas mobil sambil menikmati pemandangan.


" Hahahahha, santai dong. Jangan cemberut begitu"


" Demi apa sih si Wahab itu, gak di sana gak pas kita mau balik paling suka deh bikin aku kesal. Ugh!! pengen aku bejek bejek muka tu orang!!"


Melihat betapa geramnya Lian dengan ulah Wahab, Kaila jadi teringat beberapa insiden nyeleneh yang terjadi antara Lian dan Wahab di perkampungan itu. Dia jadi semakin terkekeh geli ketika teringat kejadian menangkap ayam yang di lakukan Lian dan Wahab kala itu.


Hari mulai gelap ketika mobil yang membawa pasangan itu memasuki pekarangan kediaman Brander. kedatangan mereka di sambut suka cita oleh Tuan Odet. Hal pertama yang dia tanyakan nya adalah____


" Gimana?? udah ada tanda tanda belum?" Garis senyum membuat kedua mata pria tua itu menyipit.


" Tanda apaan Pah??" Lelah berjam jam di perjalanan membuat otak dan pikiran Lian macet dan lengket kek permen karet. Dia nggak ngeh dengan maksud dari pertanyaan sang Papah mertua.


" Ini" Tuan Odet menggoyang kedua tangannya seolah sedang memangku seorang bayi.


Lian tertawa kecil" Belum cek dan ricek Pah" Sahutnya malu malu.


" Haduh~~~ kalian kurang usaha nih. Ayo dong!! Papah udah nggak sabar pengen menimang cucu" Tuan Odet merengek bak anak kecil pada Lian dan Kaila.


" Sabar Pah!! di kira bikin cucu kaya bikin mie gelas, 3 menit jadi. Ngomong ngomong Kak Bryan nya mana??" Ucapannya mengundang tawa di wajah Lian. Namun mengukir raut cemberut di wajah sang Papah.


Kaila menyisir pandangan ke segala arah. Sosok sang Kakak tak nampak sedikit pun di matanya. Kemana perginya sang calon pengantin pria itu.


.


.


.


.


" Sinting!!! sok baik hati!! kalian terlalu berjiwa besar, ntar kalo dia ngelakuin kejahatan sama Maira lagi gimana??"


" kalo dia diam diam menculik Mbak Bidadari lagi gimana??"


" Kalo dia tiba tiba datang di pesta pernikahan kalian terus bikin onar gimana?"


" Sttttt!!! Om bawel banget sih!!"


Langkah Tunder berhenti dan menghadang Maira dan Bryan yang sedari tadi berjalan beriringan bersamanya.


" Minggir dong Om"


Lengan Bryan tak membuat Tunder mempersilahkan mereka untuk maju melangkah ke kantor polisi.


" Maira!! kamu nggak dendam sama cewek itu??"


" Enggak Om, dia khilaf"


" Khilaf dari mana?? berkali kali dia berniat mencelakai kamu. Itu namanya bukan khilaf tapi doyan!" Geram Tunder.


" Kita pulang aja yok, aku kangen sama ponakan ku yang cewek" Ujar Tunder coba menarik Maira dan Bryan agar menjauh dari kantor polisi.


Alis Bryan menukik naik" Keponakan cewek??"


" Huum, mungkin dia sama suaminya udah sampai di kediaman kita" Ujarnya lagi cuek meski wajah Bryan masih menyiratkan pertanyaan kepadanya.


" Maksud Om___"


" Kaila" Tunder menyabar perkataan Bryan.


Seingat Bryan, si Om durjana ini nggak mengetahui keberadaan Kaila di keluarga Brander apa lagi bertemu. Sekarang dia bilang kangen sama Kaila?? wah otak si Om harus di benerin dikit nih.


" Biasa aja deh mukanya. Yok balik"


" Bryan, Angela gimana??" Cicit Maira yang tak kuasa melepaskan cengkeraman Tunder di lengannya.


" Kamu serius pengen bebasin dia??" Tanyanya lembut.


" Kok kamu nanya lagi?? bukannya kita udah sepakat tadi sore" Wajah manis Maira terlihat sewot.


" Nggak usah!!" Tukas Tunder. Ujung matanya menatap Bryan lekat lekat. Dia menggeleng pelan ketika pandangan mereka bertemu.


" Perkataan Om tadi ada benarnya Ra, gimana kalo suatu hari nanti dia berniat mencelakai kamu lagi??"


Napas yang Maira hembuskan dengan kasar terdengar berat. Bryan tau bahwa Maira sedang kesal sekarang. Tapi perkataan Tunder tadi memang benar, nggak seharusnya dia setuju dengan keinginan Maira untuk membebaskan Angela dari kantor polisi.


" Bryan, kamu kan tau dia nggak punya siapa siapa di sini. Sebagai sahabat___"


" Mantan sahabat" Lagi lagi Tunder menyambar kerkataan Maira atau pun Bryan.


" Ish!!, Om kesetrum Yak!! dari tadi suka banget motong pembicaraan orang sambil menyambar nyambar" Maira menepis lengan Tunder dan bersilang kedua tangan di dada.


" Om?? kamu panggil aku Om??" Wajah Tuder terlihat nggak rela di panggil Om oleh Maira. Sejak pertama bertemu Maira dia sudah menekankan agar tidak memanggilnya Om, Tunder tak ingin terkesan tua di hadapan Maira yang cantik jelita.

__ADS_1


" Iya Om, emang mau di panggil apa??" Bola mata Maira berputar putar menatap Tunder.


" Tunder, nggak pake Om. Kaya biasa kamu panggil aku" Jelas Tunder.


" Malah bahas panggilan. Inget umur Om!!" Tegas Bryan.


" Huum, inget umur" Sambung Maira.


" Lagian sebentar lagi kan Maira bakal nikah sama Bryan, nggak sopan dong kalo manggilnya Tunder doang"


Ucapan Maira membuat Tunder memiliki ide baru untuk nama panggilannya untuk Maira.


" Nah!!" Ujarnya sembari menjentikan jemari" Tunder doang, boleh juga tu nama"


Bryan tersenyum smirk" Tunder doang"


" Iya" Anggukan Tunder udah kaya gukguk minta di kasih jajan.


" Enak aja" Bryan senang membuyarkan kebahagiaan Tunder" Dah lah!!, Om Tunder lebih oke"


" Nggak!!"


" Malah debat. Ayok ke kantor polisi"


" Nggak usah!!" Tunder tetap menahan keinginan Maira. Lengannya menyikut tubuh Bryan yang berdiri di sampingnya.


" Iya!" Ucap Bryan spontan. Dia paham dengan kode yang di berikan Tunder" Kita pulang aja Ra, ntar orang tuanya di kasih kabar kok"


" Hupffhh!!"


" Udah~~~ ayolah Maira sayang" Canda Bryan.


Dan sikap Bryan memicu tingkah berlebihan pada diri Tunder" Oh no!! telingaku!!"


" Bryan~~~" Rengek Maira.


" Aku salah, aku nggak jadi setuju buat bebasin Angela" Ujarnya tegas.


Akhirnya dengan terpaksa Maira harus melupakan niatnya untuk membebaskan Angela. Suasana pun menjadi hening di dalam mobil sebab Maira merasa kesal dengan sikap Bryan yang plin plan.


" Ehem!" Tunder coba memecah kesunyian.


" Mengenai Kaila" Ujarnya pelan.


" Nah!!" Bryan sontak berseru.


" Bujubuset!! suasana udah kek di kuburan kamu mendadak teriak kaya anak perawan kejepit pintu" Kaget ala ala Tunder.


" Lebay" Maira bersuara.


Dua pria di dalam mobil itu tersenyum kecil. Sepertinya Maira sudah sedikit berkurang kekesalannya.


" Gimana ceritanya Om bisa tau sama Kaila"


" Hari pertama dia masuk kekediaman Brander aku sudah tau kok"


" Papah yang cerita??"


" Siapa lagi?? angin yang bercerita? ugh jangan sok pujangga"


" Lah Om sendiri yang bawa bawa angin"


Tunder tertawa.


" Terus??" Maira jadi penasaran.


" Awalnya Kaila mau di jodohin sama aku"


" Whatt!!!!" Pekik Bryan dan Maira bersamaan. Untung Bryan jago nyetirnya kalo kaga amit amit jabang kebo dah bakal salto mobil yang mereka tumpangin.


" Ih Om halu" Ledeh Maira.


" Dih ngeledek, serius. Orang fotonya ada sama aku kok" Akhirnya Tunder pasrah di panggil Om oleh Maira, sembari mengeluarkan ponsel dia mencari cari foto Kaila yang Odet kirimkan padanya kurang lebih setahun yang lalu.


Kaila sedang duduk di kuris roda, kepalnya masih berbalut perban sedang menatap lepas ke luar jendela kamar inapnya.


" Jadi Papah beneran sempat pengen jadiin Kaila istri Om??"


" Iya lah" Sahutnya bangga" Tapi sayang_____" Kata katanya tercekat.


Senyum Bryan mengembang" Bryan meminta Papah menjadikannya anak angkat! Kwkwkkwwkw"


Maira dan Bryan tertawa lepas menari nari di atas derita Tunder.


" Asem kamu Bry!!"


" Hahahaha, yang sabar ya Om" Tepukan menenangkan dari jemari Maira mendarat di pundak Tunder.


" Untung Kaila selamat" Tukas Bryan lagi.


" Sialann" Gerutu Tunder.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.


7 Februari 2021.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2