
****Aku berharap kamu mencintaiku...
Jangan lepaskan tanganku seperti hari kemarin...
Dan setiap waktu jantungku berdetak...
Berjalanlah bersamaku maka aku tak kan tersesat****
🍨🍨🍨🍨
"Balik sono!, cewek kok jam segini masih di luar!"Keano udah kaya bapaknya Maira nih. Dari tadi dia terus aja meminta Maira pulang, tapi mengingat ini sudah larut malam Keano ada benernya juga sih.
"Aku bosen sendirian di kamar Kean"Cicit Maira coba bertahan di minimarker.
"Makanya cari temen, selain mengurangi biaya sewa kamunya jadi nggak kesepian di kontrakan"
"Ih, kontrakan mini begitu mana bisa buat bedua. Apalagi bertiga"
"Yang nyuruh ampe betiga juga siapa juminten"
"Bambank oh bambank, bisa nggak jangan pake ganti nama"
Keano nyolot"Lah kamu ganti nama aku jadi bambank, lagian bambank siapa sih??"
"Mana ku tau, kamu juga juminten siapa sih??"Gadis itu mengendikan pundak.
"Au"Keano dan Maira sama miringnya.
"Dah jangan banyak cingcong, pulang sono"
Maira berdiri dari meja luar minimarket"Iya iya, kamu tuh lebih bawel dari emak aku tau nggak"
"Enggak tau"Sahut Keano santai.
"Ugh, untung kamu temen aku satu satunya, kalo nggak udah aku kalengin dari tadi nih"
"Sarden kali di kalengin. Balik sono!!!"Keano sedikit mendorong tubuh Maira agar lekas pulang.
Meski terpaksa Maira akhirnya memang harus pulang. Jalanan di dalam gang sudah sangat sepi, tapi itu hal biasa bagi Maira.
Senandung riang Keano mengiringi pekerjaannya membersihkan meja bekas Maira barusan. Bungkus kuaci seharga 500 perak berserakan beberapa bungkus di atas meja.
"Dasar nyai ronggeng, coba tadi sebelum dia balik aku suruh beresin meja dulu, akh tu anak ngerepotin mulu"Gerutunya.
"Bang bisa pesen kopi anget nggak??"
Di pandangi Keano pria yang nampak asing baginya itu"Orang baru ya di sini??"Bukannya bikinin kopi dia malah menginterogasi tu pelanggan.
"Iya nih bang, baru beberapa hari datang ke kota ini"
"Oh, silahkan duduk deh. Mau kopi apa nih??"
"Pake es boleh bang??"
"Lah katanya mau yang anget, eh sekarang malah mau yang dingin. Gimana sih??"
"Hehehhe, sorry bang boleh ganti nggak nih??"Si pelanggan nyengir.
"Ntar deh aku cek es batunya dulu"
Keano masuk ke minimarket untuk memeriksa stok es batu di dalam sana.
Tak berapa lama sang pelanggan sudah mendapatkan pesanannya, dia nampak terhanyut memandangi ponselnya hingga ketika seorang teman menghampirinya pun dia tak menyadarinya.
"Oi!!!, tengah malam coy jan ngelamun"
Teman yang nampak terkejut itu spontan melirik wajah sang pelaku"Ash!jan ngagetin lah. Jantungku masih deg deh an ini"
"Kwkwkwkkw jangan jangan gegara nonton film begituan kamu jadi punya penyakit jantungan nih"
"Amit amit jabang pocong"Ujarnya menggetok jidat temannya.
"Jan jidatku juga kali, ayok balik"
"Nggak enak sama istri kamu, masa sejak datang ke sini aku masih numpang di Flat kalian"
"Ya elah kaga enakan banget sih, santuy lah"
"Besok temenin cari kontrakan aja deh ya"
"Nanti aja deh, balik yok. Bisa di sleding bini nih kalo kelamaan pulang"
Setelah membayar minuman dua sahabat itu pergi meninggalkan minimarker Kong Mansur.
"Orang kaya kali yak, minumannya di sedot beberapa senti doang"Komentar Keano.
"Yang penting bayar Kean"Komentar Burhan pula salah satu pelanggan malam di minimarket itu.
"Bener juga sih, dari pada mubazir aku embat ae lah"
"Suka suka kamu dah Kean"
Sedang asik menikmati kopi eks pelanggan Keano mendapat tamu yang tak asing lagi baginya. Siapa lagi kalo bukan Bryan yang sedang berpetualang mencari pembalut buat Angela.
"Selamat datang"Sambut Keano sopan.
"Hmmm"Bryan menanggapi, pria itu berjalan menyusuri rak rak berisi snack yang tersusun rapi.
Keano dan Burham kembali ngobrol sementara Bryan mulai bingung dengan apa yang dia cari.
"Sut"
Keano menoleh datangnya suara.
"Sini"Panggil Bryan malu malu.
"Ada yang bisa saya bantu Pak Bryan??"
Bryan nampak bingung mengungkapkan maksudnya.
Di pandanginya wajah merona itu lekat lekat"Pak??"
"Anu__itu yang buat cewek"
"Buat cewek?? ceweknya kenapa Pak??"
__ADS_1
"Itu...berdarah"
"Astagafirullah!!kecelakaan Pak??"
Bryan mengibaskan tangan di depan dada"Bukaaannn!!"Dia malah panik dan makin bingung.
Dia lirik kiri dan kanan sebelum akhirnya mulai bicara"Pembalut" Ucapnya setengah berbisik.
"Oooooohhhh"Keano berseru menepuk pundak Bryan.
"Ya elah Pak, bilang dong kalo lagi nyari pembalut. Sini Pak, mau yang pake sayap apa kaga nih??"
Wajah Bryan memerah menghadapi Keano yang ngomong dengan nada sedikit meninggi. Kayaknya ni orang lagi bersemangat banget deh, apa gegara minum kopi bekas pelanggan tadi yak?
"Pelan pelan dong"
"Santai Pak, udah biasa kalo cowok nyari pembalut mah"
"Tapi bagi saya ini bukan hal biasa"
"Makanya selowin aja Pak, sekarang mau yang mana nih??"
Keano menunjuk bermacam jenis dan merek pembalut kepada Bryan.
"Alamak!! macam ragamnya pula"Desis Bryan semakin tenggelam dalam kebingungan.
"Gimana Pak??mau yang tipis??yang tebal??yang adem??ato yang ada Ac nya nih Pak??"
"Emang ada yang pake Ac??"
"Heheeh ya___nggak ada sih Pak"Keano nyengir.
Dasar Keano"Terserah deh, mana yang nyaman di pake aja"
"Sebenarnya saya juga nggak tau sih Pak, hmmmm...saya tanya Maira aja kali yak"
"Jangaaannn!!!, udah tidur kali"
"Baru juga dia balik dari sini Pak"
"Hah??jam segini dia pulang sendirian??
"Itu hal biasa Pak, daerah ini ramah perawan kok. Di jamin kaga ada begal deh"
"Oh. Bagus deh"
Meski Keano begitu yakin dengan keamanan kampung sini, Bryan tetap merasa nggak tenang dengan keamanan Maira.
"Bungkus yang mana aja deh, buruan!"
"Oke oke"Dengan sigap Keano mengambil beberapa pak pembalut dan segera menghitungnya di kasir.
Secepatnya Bryan melesat dari minimarket dan memarkir mobilnya di depan gang kontrakan Maira.
Suasana sepi dan suram, tak terbayang Maira berjalan sendirian di lorong gang dan minim penerangan itu. Lampu lampu jalanan nampak banyak yang padam di sana.
Pria itu melangkah memasuki area itu, menyusuri jalan yang tadi juga di lalui Maira. Udara malam nan dingin mulai menusuk tulang, Bryan sedikit risih berjalam sendirian di sana.
Sesampainya di depan kontrakan Maira nampak lampu di dalam sana masih menyala.
📲:"Selamat malam Pak Bryan"
📱:"Eh, belum tidur??"
📲:"Ini mau tidur, ada perlu apa Pak??"
📱:"Enggak sih, tadi kepencet doang. Ya sudah selamat malam"
Bryan mematikan panggilan. Dia berbalik pulang setelah memastikan Maira dalam keadaan baik baik saja.
🍒🍒🍒🍒
Kedatangan Bryan di sambut suka cita oleh Angela, meski sedikit terlambat nyatanya pria itu sangat perduli padanya. Dan mengenai taruhan yang mereka lakukan....Angela harus menelan pil pahit. Usahanya demi mempertahankan posisi di sisi Bryan harus pupus karena ucapannya sendiri.
Bersandar pada bantalan sofa di ruang tengah dan di tengah malam pula, Bryan di kejutkan dengan hardikan seorang Kaila.
"Kak!!"
Bryan terkejut di tengah lamunannya.
Wajah kaget Bryan meredam kekesalan di hati Kaila.
"Hah~~~, masih ingat jalan pulang??kirain bakal nginep sama Angela"Sindirnya ikut duduk di sofa.
"Nggak lah Dek, ngapain sampe nginap di sana. Kakak cuman ngaterin dia pulang ke apartemennya kok"
"Oh...terus, Angela sakit apaan??kok kakak jadi ngelamun gini? malaikat maut udah pesen nyawa tu ciwik yak??"
"Deeekkk!!!"Bryan mengunyel unyel pipi Kaila dengan gemas.
"Arggghhhh"Pekik Kaila.
"Makanya kalo ngomong jangan sadis, lagian kenapa sih kamu kaya nggak suka sama dia"
"Dia tuh kang kibul, bertahun tahun mendustai semua orang dengan status pacarnya Kakak Bryan. Cih...Kaila yakin dia sangat menikmati peran sebagai kekasih Kakak tuh, akh nggak suka deh sama orang munafik kaya gitu"
"Itu Kakak yang minta Dek, Angela hanya___"
"Masa bodo, dah lah ayok tidur"Ajak Kaila memotong kata kata Bryan. Di tariknya lengan sang Kakak agar segera meninggalkan ruang tengah itu. Meski dalam kekesalan dia juga nggak tega membiarkan Bryan melamun sendirian di sana. Kaila paham betul, memang tak ada rasa spesial di hati pria itu untuk Angela, tapi apalah daya jiwa jiwa pahlawan selalu saja berdiri tegak jika seorang Angela berkata perlu pertolongan dari seorang Bryan.
Jam menunjukan pukul 2 dinihari. Baik Kaila atau pun Bryan masih terjaga di kamar masing masing.
Kaila yang grogi menghadapai hari hari pernikahannya.
Bryan yang bermuram durja menahan keinginan hati memiliki Maira.
menjelang subuh dua Kakak beradik itu tlah terhayut dalam lelap seiring bersama rintik sang hujan yang menyapa pagi.
Alarm pengingat berkali kali berteriak membangunkan Bryan, dan berkali kali pula pria itu kembali mematikan alarmnya dan kembali tenggelam dalam selimut nyamannya.
"Tok tok tok!!"
Bi Atun ikut membantu membangunkan sang majikan. Sesuai pesan Bryan tadi malam"Besok pagi kalo sampai jam 7 Bryan nggak nongol, Bibi bantu bangunin Bryan yak"
"Den~~, Den Bryan~"Suara Bi Atun terdengar seirama bersama hujan.
__ADS_1
"Tok tok tok!!!Den Bryan, udah jam 7 Den"Seru si Bibi lagi. Lama kelamaan Bryan pun terbangun, meski masih sangat mengantuk namun rasa kantuk itu harus kalah dengan ke istiqomahan sang Bibi mengetuk ngetuk pintu.
Rambut acak acakan dengan mata memicing, Bryan membuka pintu"Iya Bi, makasih udah di bangunin"Ucapnya pelan.
"Udah jam 7 lewat dikit Den"Timpal Bi Atun.
"Hm..oke oke, sarapan saya tolong di masukin kotak bekal aja ya Bi, masih ngantuk banget. Kayanya Bryan mau mandi sedikit lama biar seger ni mata"
"Nggak salah Den sarapannya minta di bikin bento??"
"Nggak di bento in juga kali Bi, masukin doang nggak usah di bikin unyu unyu"Pintanya bergelayut di pintu kamar.
"Sama aja kali Den, itu mah namanya tetap aja bento"
"Kita bukan di jepang ya Bi"Bryan melirik Bi Atun dengan dua mata pandanya.
"Hahahhaha, iya den Den. Buruan mandi dah. Ini Den Bryan apa kungfu panda sih"Ledek Bi Atun terkekeh.
"Ih jahat si Bibi, ntar deh kalo Bryan udah seger awas aja terpesona sama ketampanan saya ya"
Bi Atun semakin terkekeh menggoda anak majikan itu. Meninggalkan Bryan yang ingin berlama lama mengusir rasa kantuk dan lelahnya dengan mengguyur diri di kamar mandi, di tempat lain seorang Maira tengah berlomba dengan waktu.
Jam 07:20 Gadis itu masih berlarian ke sana kemari bersama handuk di tangan.
Mengikuti saran Keano tadi malam untuk mencari kontrakan yang bisa di tinggali dua orang maka sedari subuh buta Maira mulai mengemasi barang barangnya karena kata Kong Mansur kontrakan yang di deket minimarket udah kosong tuh.
Kontrakan di sana punya dua kamar dan 1 ruang tamu yang tentu saja dengan dapur yang berbeda tempat. Jelas kontrakan di sana cukup besar, dan uang sewanya juga jelas lebih mahal. Tapi...bukan Keano namanya jika diam saja ketika Maira berkeluh kesah tentang uang dan dia diam saja. Apalagi Maira mengadu padanya di subuh buta, dirinya yang masih ngantuk berat tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Maira agar membantunya membayar uang kontrakan dengan catatan, dia akan bantu bantu Keano di minimarket di malam hari.
Lepas dari masalah uang kontrakan, Semesta memang sedang ingin bercanda dengan gadis itu pagi ini. Kang ojek nggak ada 1 pun yang nongol di depan gang. Apa karena gerimis ya??
Sudah hampir jam 8, dan jika telat ngantor maka masalah baru sedang menantinya.
"Oh kakiku yang pendek, maaf...aku harus memakaimu berjalan untuk berangkat ke kantor"Gadis aneh, dia ngomong sama anggota tubuh yang jelas jelas bebas dia gunakan sesuka hati. Ckckckck.
Menyusuri jalan dalam gerimis di bawah payung hadiah detergen yang di berikan Keano padanya. Gadis itu nampak menikmati hidup apa adanya yang dia pilih sendiri, dari pada hidup berkecukupan tapi harus menikah dengan orang yang nggak dia cintai gadis itu cukup merasa nyaman kok dengan hidupnya sekarang. Meski tak selalu banyak uang tapi cukup menyenangkan baginya.
"Titt!!!"
Maira cuek. Dia berjalan riang gembira kaya akan Tk berangkat ke sekolah. Dia bahkan bersenandung dengan suara pas pas annya.
"Tiiittt!, jangan nyanyi oi, ntar ujannya makin deras"
Suara itu, akh...kenapa harus suara itu yang memergokinya sedang bersenandung dengan suara indahnya.
"Hehe, selamat pagi Pak Bryan"
"Cih, udah kelar konser di tengah hujannya??"
Bibir Maira manyun, oke suaranya memang nggak merdu. Nggak usah di cibir juga kan.
"Masuk"Perintah Bryan.
"Nggak usah Pak, tanggung udah mau nyampe kok"
"Oh jadi nyalahin saya??jadi saya telat datangnya?? kalo saya datang dari tadi kamu nggak usah jalan sejauh ini dari kontrakan kamu??"Bryan menodong gadis itu dengan kata kata random menusuknya.
"Bukan gitu Pak"
"Makanya ayok naik, lagian itu payung dapat dari mana??kamu ngendorse detergen??"Ledek Bryan tersenyum miring pada Maira.
"Ugh menghina aja teros. Iya tau kok situ kaya"Lenguh hati Maira. Dari pada dia terus di hina karena payung hadiah detergen dari Keano, nggak ada salahnya juga sih kalo dia nebeng Bos nyebelin ini.
"Nah kalo nggak bawel gini kan enak juga. Tapi kamu terlanjur harus ganti rugi lho sama aku"
Gadis di kursi belakang itu menatap sinis pada Bryan"Ganti rugi apa lagi???"Batinnya.
"Gitu amat ngelirik nya, bola mata kamu hampir meloncat keluar lho"Sindirnya lagi.
"Hah"Maira coba bersabas dan berbesar hati"Saya nggak minta tumpangan dari anda ya Pak Bryan, ini murni keinginan anda"
"Iya sih, tapi saya nggak ngijinin kamu duduk di belakang, kesannya saya kaya supir kamu lho"
"Salah lagi -_-"
"Terus beberapa menit yang lalu saya berbaik hati menawarkan kamu tumpangan tapi kamunya nolak, kalo saya nggak membujuk kamu maka kamu juga pasti nggak akan ada di dalam mobil ini kan?? nah kamu harus ganti rugi atas segala kata kata bujukan saya terhadap kamu tadi"Jelasnya panjang lebar. Bryan semakin aneh dan menyebalkan di mata Maira.
"Dan...."
"Ada lagi Pak??"Wajah Maira udah kaya kerupuk kemasukan angin. Melempem tak bergairah.
"Iya dong, segala sesuatu itu harus ada kesimpulannya"Pria itu mengambil secarik kertas memo di laci dashboardnya.
"Bayarin hutang kamu sama Brama 2juta, bayarin hutang kamu di Kong Mansur, bayarin Mie ayam kamu, di tambah ganti rugi tadi......"Bryan terlihat menulis sebuah nominal di atas secarik kertas itu.
Astaga!Maira terperangah mendapati Bryan menghitung semangkok mie ayam yang katanya dia traktir itu???akh Maira terlalu bodoh jatuh dalam perangkapnya.
"Nih, total semuanya"10 juta. Total semua hutang Maira tepat di angka 10 juta.
"Mie ayam seharga 5juta??Bapak gila??"Sentak Maira. Habis sudah stok kesabaran di dalam hatinya.
"Mau bayar nggak??"Alis pria itu turun naik seakan mengolok olok sang gadis.
"Nggak!"
"Yang namanya hutang harus di bayar Maira, ntar kalo mati kuburan kamu sempit terus ketiban lembaran duit segede karpet aladin. Ih amit amit dah"Ujarnya bergidik ngeri.
"Pak, otak Pak Bryan udang miring ya??"Desisnya tak mampu menahan amarah lagi.
"Peraturan nomor 1 di perusahaan Brander, tidak boleh menghina atasan"Tekan Bryan.
Maira bergumam"Hayaaahhh, oke saya minta maaf"
"Ini juga, yang mau nganterin saya kan Pak Bryan, kenapa saya harus bayar 2 juta lagi"Suara Maira terdengar pelan. Gadis itu memandangi kertas dari orang gila di hadapannya itu.
"Jadi...mau bayar nggak??, ingat ya kamu harus bayar denda kalo berniat kabur dari perusahaan. Kamu kan udah sah jadi karyawan kontrak"
"Sejak kapan Pak? saya belum menerima pemberitahuannya"
"Sejak barusan"Bryan tersenyum lebar"Sejak beberapa detik barusan"Lagi...pria menyebalkan itu memperlihatkan senyum ala ala iklan pasta gigi di hadapan Maira.
To be continued.
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
3 Desember 2020.
__ADS_1
Salam anak Borneo.