
****Kau yang cantik,
Temani hari indahku dengan senyum cantikmu,
Kau yang ku rindu,
Peluk hangat hatiku yang setiap waktu mendambamu.
Untuk ke sekian kalinya ku katakan kepadamu...
Aku tlah jatuh terlalu dalam pada cintamu****
🍒🍒🍒🍒
Dering ponsel memecah kesunyian di kamar temaram Lian dan Kaila. Dengan malas lengan Kaila menggapai gapai nakas mencari keberadaan ponselnya.
" Kak Bryan??" Suaranya terdengar parau khas bangun tidur.
📱:" Selamat___" Kaila melirik layar ponsel dengan kedua mata memicing.
📱:" Selamat dini hari Kak" Lanjutnya kembali pada panggilan Bryan di ujung telepon. Demi apa Bryan menelpon nya di waktu dini hari begini, nampaknya ada hal yang nggak beres nih.
📲:" Maaf, Kaka ganggu ya Dek"?
📱:" Nggak sih, ada bagus nya juga Kak Bryan nelponin di jam segini. Hari ini kami mau menghabiskan waktu memancing di tepi danau sembari berkemah, jadi Kaila harus bangun pagi pagi buat bersiap" Sahut Kaila panjang lebar, sembari berbincang dengan Bryan dia menarik bantal sebagai sandarannya di kepala ranjang.
Lian nampak bereaksi, meski masih terlelap dia nampak memeluk paha Kaila yang sejajar dengan wajahnya dengan pendengaran yang terjaga.
📱:" Mh...Lian nggak ikut Kaka ke Jepang??"
📲:" Emang dia harus ikut??" Kaila tak pernah mendengar kabar bahwa Lian akan ikut serta dengan sang Kakak ke Jepang. Seandainya itu terjadi dia berniat akan ikut bersama mereka. Itung itung lanjut berbulan madu.
📱:" Yaaa~~ kali aja ada serah terima jabatan gitu" Ucap Bryan. Suaranya terdengar setengah berbisik.
📲:" Oh, ntar deh Kaila tanyain ke Lian, tapi...Kaka Bryan nelponin Kaila dini hari begini cuman mau mastiin hal itu??"
Bryan sedikit berdehem.
📲:" Ada masalah ya Kak??" Selidik Kaila sebab suara Bryan nampak tercekat di ujung sana.
📱:" Nggak kok, Kakak cuman nggak bisa tidur" Bryan si jago ngeles kembali beraksi. Dia menjawab pertanyaan Kaila sembari mengusap tengkuknya. Hal itu menandakan Bryan sedang kikuk mencari alasan.
📲:" Serius??" Dan Kaila yang sangsi ingin lebih memastikan keadaan sang Kakak.
📱:" Heheheh, sebenarnya Kakak kangen sama kamu" Ujarnya coba menyempurnakan alasan menelpon sang Adik.
📲:" Kangen Kaila apa kangen Maira??" Goda Kaila terkekeh. Hal itu membuat Bryan salah tingkah.
📱:" Di bilangin kangen kamu kok, malah bawa bawa Maira. Ya udah, Kakak udah denger suara kamu, kangennya udah terobati. Kamu lanjut tidur deh, masih terlalu awal kalo kamu bersiap berkemahnya di jam segini" Ujarnya sembari melirik jam yang berdetak di dinding kamar hotel.
📲:" Wuuu~~~ aneh deh, yakin Kak Bryan gak kenapa kenapa??" Tanya Kaila yang merasa prilaku Bryan begitu aneh kali ini.
" Siapa sih Yank??" Ujar Lian yang akhirnya terbangun karena mendengar obrolan Kaila di telepon.
" Kak Bryan" Sahut Kaila sembari mengusap lembut pucuk kepala Lian.
Lian mencebik " kurang subuh nelponnya woiii" Dia sengaja menaikan volume berbicaranya biar Bryan mendengar apa yang dia katakan. Prilaku Lian membuat Kaila membungkam mulut sang suami dengan telapak tangan. Heran deh, Bryan dan Lian masih aja nggak bisa akur.
📱:" Tuh, suami somplak kamu jadi kebangun deh. Udah dulu ya, lanjutin bobo nya. Kalo nggak kalian bikin ponakan deh buat Kakak, siapa tau abis telponan sama Kakak ponakannya langsung jadi" Senyum mengembang di wajah Bryan ketika menggoda sang Adik.
Sontak Kaila menaikan alis turun naik karena perkataan sang Kakak.
📲:" Ya elah, pikiran Kak Bryan mesum deh. Ya sudah, Kaila tutup telepon nya ya"
Suara tawa Bryan terdengar renyah sebelum akhirnya Kaila benar benar menutup panggilan.
" Ngapain sih tu orang?? kaya nggak ada siang hari aja" Gerutu Lian setelah Kaila melepas bungkamannya.
" Kangen sama Adek cantiknya ini"
Bibir Lian manyun" Modus!!"
" Dih!! kenapa sih judes begitu sama Kak Bryan?? kalian bukan rival kan??"
" Nggak asik banget saingan sama tu orang" Sahutnya datar.
" Terus kenapa masih judes sama Kak Bryan??"
Lian malas membahas perihal Bryan lebih lanjut" Dah akh jangan bahas dia lagi, sini bobo lagi. Mau di peluk apa kamu yang meluk??" Lengannya terbuka lebar pada sang istri yang masih bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
Lantas Kaila masuk dalam pelukan Lian, membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Hangat, hal itulah yang selalu Kaila rasakan ketika berada di pelukan Lian.
Lian membelai pucuk kepala Kaila dengan lembut" Tidur sayang, kalo nggak aku jalan jalan nih"
Kaila mendongak mengangkat pandangannya" Jalan jalan kemana?? di jam segini??"
Jemari Lian membelai helai rambut yang menutupi daun telinga sang istri" Jalan jalan di tubuh kamu sayang" Bisiknya mesra.
Bulu kuduk Kaila seketika berdiri" Tidur aja sayang, aku masih lelah. Bukannya sebelum tidur kita sudah olah raga di sini??" Ujarnya membenamkan wajah kembali di dada bidang sang suami.
Teringat aktifitas mereka sebelum tidur kemarin malam membuat Lian tersenyum" Iya deh, kita tidur ya"
Kaila mengangguk.
Tak berapa lama tepukan pelan jemari Lian di pundak Kaila perlahan melambat dan akhirnya berhenti. Napas mereka perlahan terdengar teratur, pertanda mereka kembali terhanyut dalam tidur.
🍒🍒🍒🍒
Dinginnya udara dini hari sangat menusuk tulang, cukup lama Bryan menenangkan diri di balkon kamar. Meski kedua matanya terasa mengantuk namun dia tak bisa tidur dengan nyaman.
Bryan meninggalkan balkon dan duduk di tepian tempat tidur. Maira nampak tertidur pulas, jemari pria itu menarik selimut agar lebih menutupi tubuh Maira.
Di tatapnya lekat lekat wajah Maira, wanita yang begitu beringas menjelajahi tubuhnya dalam keadaan tak sadar diri.
Malam itu bagaikan sesi uji nyali bagi Bryan, dia berkendara dengan kecepatan di atas rata rata membelah jalanan demi mengejar Maira yang dalam bahaya.
Tersengal sengal mencari keberadaan Maira, dan ketika menemukan gadis kesayangannya itu keimannya mendadak di pertaruhkan. dia di suguhkan dengan tubuh hampir telanjang Maira dalam keadaan basah, oh tuhan!!! dia lelaki normal!!!
Beruntung ada Om durjana, Berkat bantuan Om Tunder dan Selena dia mendapatkan pakaian ganti untuk dirinya dan Maira. Sepasang baju tidur dengan karakter doraemon.
# Flashback beberapa jam yang lalu #
" Doraemon???" Ucap Bryan menatap aneh pada Tunder. Usianya sudah diatas kepala 3, dan dia di berikan pakaian bermotif karakter robot kucing dari negara matahari terbit itu?? Ck!!
Tunder mengibaskan tangan di depan Bryan" Udah, nggak usah terharu begitu. Buruan ganti baju sana" Ujarnya mendorong Bryan ke arah kamar mandi.
Namun lengan sang Om mendapat penolakan dari Bryan" Siapa yang terharu. Aneh tau!!! kenapa harus karakter doraemon sih??" Wajahnya nampak kesal karena pemilihan karakter di baju piyamanya.
Sudut bibit Tunder menukik naik, mengukir senyum manis sembari menatap hangat Bryan" Imut, cocok kok buat mbak bidadari" Dengan santai dia menjawab perkataan Bryan.
Oke, Bryan tau dia sedang berhadapan dengan mbah buaya darat yang super duper usil" Tapi___kok buat Bryan doraemon juga??"
" Bagus kok, ya kan Sel??" Dia meminta persetujuan dari gadis yang menggilainya. Dan jelas saja Selena setuju dengan perkataan Tunder. Dia kan budak cinta, apa pun yang menurut Tunder bagus maka akan bagus pula di mata Selena " Cakep kok, lagian di pake di dalam kamar aja kan"
Bryan tak menggubris perkataan Tunder dan Selena. Dengan wajah cemberut dia menatap kesal pada piyama itu.
" Buruan ganti baju, kamu kebasahan begitu emang habis ngapain sih sama Maira??? jangan bilang kamu beneran kasih servise sama mbak bidadari biar efek obatnya hilang??" Todong Tunder membuyarkan lamunan Bryan karena piyama itu.
Wajah Bryan memerah dan memanas" Nggak!!!, ih dasar otak mesum!!" Dia bergegas kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Mau nggak mau dia harus memakai piyama doraemon itu sementara pakaiannya sedang di laundry.
Terasa aneh, namun benar apa yang di katakan Selena. Toh hanya akan di pakai di dalam kamar saja, besok hari dia akan kembali mengenakan pakaiannya kok.
" Hahahhha, beneran nggak kau apa apain tu mbak bidadari??" Seru Tunder yang masih betah menggoda Bryan.
" Minggat sono!!" Teriak Bryan. Kesabarannya terhadap Tunder semakin menipis, dia lelah...pake di godain lagi. kesel kan jadinya!
" Ponakan kamu galak bener" Selena terkejut karena teriakan Bryan dari dalam kamar mandi.
" Bukan galak, tapi manis" Pria itu menyampirkan lengan di pundak Selena. Baginya Bryan tetaplah ponakan kecilnya, orang yang sangat menarik untuk di jahili. Dan bagi Bryan si Tunder adalah Om paling menyebalkan.
" Galak begitu, manis dari mana?? lagian siapa sih mbak bidadari??" Nadanya terdengar ketus.
" Cemburu??"
" Iya" Jawab Selena terus terang. Dia terlihat cemberut, namun Tunder biasa aja tuh. Mau cemburu atau tidak dia tak ingin ambil pusing.
" Mbak bidadari itu calon istrinya, tapi tenang. Kamu seksi kok, aku suka" Jawabnya asal.
Ucapan Tunder membuat Selena percaya diri. Nggak sia sia dia menahan diri berjalan kesakitan sembari berbelanja piyama beserta pakaian dalam buat Maira dan ponakan pria yang sangat dia cintai ini. Meski hal yang sangat berharganya tlah tiada, asalkan bersama Tunder maka dia akan kuat menghadapi hal apa pun.
" Jadi kamu suka sama aku??" Tanya nya begitu polos.
" Aku suka sama body kamu" Jawab Tunder santai.
" Kok??" Hati gadis itu terasa perih.
" Body kamu kan diri kamu juga" Sahutnya lagi.
Meski sempat mendengus dan tertunduk Selena kembali tersenyum pada Tunder" Jadi sekarang kita pasangan"
__ADS_1
Om durjana menatap Selena" Bisa di bilang begitu, semoga kamu bisa nyenengin aku terus"
Senyum manis menghiasi wajah cantik Selena" Aku akan memberikan yang terbaik untuk mu sayang"
" Hm..." Tunder bergumam.
Ketika hendak beranjak dari depan kamar 201 tiba tiba kepala Bryan nongol di depan pintu.
" Om, bisa pinjem mbak itu nggak??" Jari telunjuknya mengarah pada Selena.
" Mbak??" Selena tak menyangka dia di panggil mbak. Padahal dia yakin usia nya jauh di bawah Bryan.
" Buat apa??"
" Pasangin baju Maira" Cicit Bryan pelan.
" Lah..kamu aja deh. Udah liat semua kan"
Bryan memohon" Ayolah Om, tolongin!!"
" Iman kamu tebel banget sih Bry!! apa Maira nggak menggoda bagi kamu?? gantiin baju dia aja takut"
" Ck, jangan banyak nanya deh Om, ayolah!!"
" Aku aja deh yang bantu pasangin bajunya" Ujarnya melangkah maju.
" Plak!!!" Selena spontan menepuk lengan Tunder. Wajah Bryan seketika masam mendengar kata kata Om sinting ini. Ugh!!! malah lebih bahaya kalo dia yang pasangin underwear Maira!
" Aku aja" Selena bergegas membantu Bryan.
Namun...Selena sedikit terkejut ketika mendapati bagitu banyak tanda merah kebiruan di tubuh Maira.
" Njirrr, tanda cup*ng segini banyak tapi pakein bajunya kaga berani. Emang ni cewek dia apain aja??" Batin Selena bertanya tanya. Ujung matanya melirik Bryan di muara pintu.
Pria itu nampak tak nyaman mendapat tatapan penuh tanya dari Selena. Dia membuang muka ketika tatapan mereka sempat bertemu.
Paham akan situasi tak nyaman itu Selena memilih kembali melakukan aktifitasnya. Mengganti pakaian dalam Maira dan memasangkan piyama di tubuh gadis itu.
" Udah tuh, tapi seprainya jadi basah. Kamu mending minta ganti seprainya dulu sama pihak hotel"
Bryan mengangguk" Terimakasih" Ujarnya begitu kaku.
Rasa penasaran tak bisa menahan Selena untuk diam saja" Eh, kamu_____"
Bryan mendorong Selena keluar" Udah udah!!, makasih sekali lagi"
" Anak piyak!!! nggak sopan banget sih!!" Protes Tunder yang sedari tadi berada di luar kamar. Tak sedikit pun Bryan membiarkan Tunder sekedar mengintip ke dalam kamar apalagi masuk ketika Selena memasangkan pakaian dalam Maira.
" Bubar!!!" Ujar Byan cuek dan menutup pintu.
" Ponakan durhaka!!" Tunder mencebik kesal.
Selena tak banyak bicara, sedikit tertatih dia berjalan di depan Tunder untuk kembali ke kamar hotelnya. Dia berniat beristirahat sebentar sebelum kembali ke pesta di bawah. Area sensitif bagian bawahnya masih terasa sakit, ini kali pertamanya dan mati matian dia menahan rasa sakit itu sedari tadi.
Sadar akan keadaan Selena, Tunder menggendong gadis itu ala bridal.
" Hei!!! turunkan aku!!" Rengek Selena.
" Aku emang brengsek, tapi aku masih punya hati. Ini kali pertama kamu, pasti menyisakan sedikit rasa sakit"
Wajah Selena kembali merona hanya karena ucapan Tunder.
" Flashback Off #
Perlahan Bryan merebahkan diri di samping Maira. Teringat pertanyaan Tunder tentang imannya ketika berhadapan dengan Maira yang Horn*. Bryan menatap kosong kelangit langit kamar, karena tak tahu cara apalagi agar Maira tak terus merasa kesakitan dia terpaksa memberikan sedikit servise pada gadis itu. Membantunya melakukan pelepasan tanpa harus memasuki area bawahnya.
Akh!!! mengingat itu membuat Bryan tak bisa tidur dengan nyenyak. Teringat dengan jelas ketika dia menjelajahi bukit kembar Maira di dalam bak mandi. Memberikan sensasi berjuta warna pada gadis itu di iringi lenguhan dan des*ahan yang keluar dari bibir mereka berdua. Maira yang tiba tiba agresif di bawah pengaruh obat juga banyak meninggalkan tanda kebiruan di tubuh Bryan. Dan ketika gadis itu meminta sentuhan lebih dari Bryan dengan terpaksa dia menggunakan jemarinya.
Sungguh hal baru bagi seorang Bryan" Si kembar sialan!!" Umpatnya teringat Alex dan Aron.
Apalagi dia lelaki normal, untuk pertama kali dalam hidupnya dia harus melakukan pelepasan hasrat sendiri di kamar mandi setelah membantu Maira melakukan pelepasan. Perbuatan mesum yang tak pernah terlintas sekali pun di dalam otak seorang Bryan.
To be continued...
Happy reading, Jangan lupa like vote rate dan komen.
17 Januari 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1