Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 55


__ADS_3

***Membisikan sebuah janji dan terjaga semalaman...


Aku harap kau mengingat semua yang terjadi di hari itu...


Ku mohon jangan sampai kau lupa...


Jangan pula kau lupakan aku...


Dan semua tentang kita!!**


🍒🍒🍒🍒


Kembali menyusuri jalan sembari menghirup udara sore, Maira merentangkan kedua tangan menatap lepas sungai yang membelah kedua wilayah itu. Hari ini Bryan nampak lebih sibuk dari biasanya, sejak tadi siang dia sudah tak terlihat lagi di area kantor.


Ada sedikit rasa kehilangan di hatinya, yah...sejauh ini dirinya belum mengucapkan kata kata perdamaian dengan baik pada pria itu.


" Apa aku harus meminta maaf balik??"


" Atau seolah semuanya baik baik saja sedari awal??"


" Ayyyaa~~~ aku bingung harus memulai perdamaian ini dari mana!!"


Setelah menilai lebih dalam prilaku Bryan padanya, juga pada kedua orang tuan nya. Maira memutuskan akan berbaikan dan memaafkan kesalahannya. Maira tahu betul, Bryan hanyalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan salah, meskipun terkadang wajah rupawannya itu membuat Maira sangsi akan status manusia biasanya.


Sekedar di tatap dengan hangat oleh dua bola mata Bryan saja jantung Maira bisa berdebar tak karuan, bahkan terkadang dia tersenyum simpul di sela topeng cemberutnya menghadapi Bryan.


"Aku menyukai nya, dan itu tak bisa aku tolak bahkan setelah bertahun lamanya" Gadis itu kembali bergumam sendirian.


Pandangannya masih begitu betah menikmati suasana sore nan sejuk itu. Dia duduk pada anak tangga di bawah jembatan, sedikit memijat betisnya yang terasa lelah karena rutin berjalan kaki ketika pulang bekerja.


" Maira!"


Sebuah panggilan membuat Maira spontan menatap arah suara.


Maira tertegun.


Senyum manis seorang Angela membuat Maira benar benar iri dengan kecantikan yang di miliki gadis berambut pirang ini.


" Beneran Maira kan" Tanpa di minta Angela duduk di sebelah Maira. Dia bahkan tak canggung duduk sangat dekat pada Maira sampai tubuh mereka berdempetan.


" Kesambet jin apa ni cewek, aku jadi risih dengan sikap berlebihannya" Batin Maira sambil sedikit menggeser duduknya menjauhi Angela.


" Gimana kabar kamu??" Dia sangat ramah, sungguh di luar dugaan.


" Hai, aku baik baik aja kok" Sapa Maira canggung.


Mereka berbalas senyuman, Maira nampak terkejut ketika Angela semakin mendekatinya dan menyentuh rambut hitam tergerai Maira.


Jemari lentik itu bermain manja dengan helai helai rambut Maira" Wah, rambut kamu lembut banget. Sering nyalon ya??"


Maira semakin canggung, percakapan model apa ini?? Maira ragu akan ketulusan Angela menegur bahkan duduk bersama dengan nya. Biar bagaimana pun kehadirannya membuat Bryan jarang menemui Angela akhir akhir ini.


" Hei!! kok diem. Kamu sering nyalon di mana?? kamu lihat deh rambutku bercabang gini, aku sudah berusaha memperbaikinya tapi masih rusak aja nih rambut" Gadis ini benar benar bertingkah di luar dugaan Maira. Apa sekarang dia kedatangan teman perempuan?? akh malaikat bersayap putih dan setan betina berdebat hebat dalam hati Maira.


" Aku nggak sering nyalon kok Gel, ke salon juga cuman potong rambut doang. Itu pun sudah lama banget" Sahutnya coba mengimbangi semangat Angela ketika berbicara kepadanya.


" Beneran?? wah aku iri dengan rambut hitam lebat mu. Lembut banget!!" Sanjungan itu membuat Maira tersenyum kaku. Aneh!! super duper aneh!


" Udah mau gelap nih, aku pulang dulu ya" Suasana canggung ini sangat nggak nyaman bagi Maira. Dia berusaha pergi secepatnya dari hadapan Angela.


" Hap!" Angela menggapai lengan Maira.


" Aku tau kamu pasti merasa aneh karena sikap ku sekarang, tapi...selain Bryan aku nggak punya teman lain di sini. Aku hanya ingin menambah teman Maira, dan aku ingin berteman baik dengan kamu" Air muka nya terlihat sendu. Sorot matanya menatap penuh harap pada Maira.


" Kalian kan berteman baik sejak SMA, aku pikir akan sangat menyenangkan jika kita bertiga dapat bersahabat" Lanjut Angela lagi. Dia menggoyang goyang lengan Maira layaknya anak kecil yang sedang merengek.


Hati gadis itu tersentuh, Angela gadis baik. Hal itu lah yang terlintas di dalam otak nya. Dan Maira merasa nggak ada salahnya berteman dengan Angela, toh selama ini dia juga nggak punya banyak teman kan. Terlebih lagi Angela dan dirinya kan sama sama perempuan, mungkin akan sangat menyenangkan jika memiliki sahabat seperti Angela yang cantik jelita ini.


" Bukan gitu kok Gel, aku cuman takut kemalaman di jalan aja" Kilahnya tersenyum " Lagian siapa sih yang nggak mau temenan sama kamu yang cantik dan baik ini"


" Eiii, jangan ngomongin cantik, kamu jauh lebih cantik dariku" Wajahnya kembali ceria setelah apa yang Maira ucapkan padanya.

__ADS_1


" Hehe, kamu jangan merendah begitu. Ya sudah aku permisi pulang dulu ya, mungkin lain kali kita bisa ngobrol banyak" Perlahan dia coba menepis pegangan jemari lentik Angela di lengannya.


" Beneran sudah mau pulang ya?? aku niatnya mau ngajakin kamu makan malam di Cafe aku" Tunjuknya ke arah Cafe yang memang terletak di seberang pinggiran sungai itu.


" Lain kali aja ya, Ayah sama Ibu ku sedang datang berkunjung. Aku takut mereka khawatir karena aku belum pulang bekerja" Ucapnya melirik jam yang melingkar di tangan kiri.


" Aku anterin aja ya, sekalian aku mau tau tempat tinggal kamu, kadang kalo malam aku bingung mau kemana. Siapa tau nanti kita bisa nonton konser bareng, atau kita bakal nongkrong bareng. Aku kan bisa langsung jemput kamu" Manis... senyum Angela terlihat sangat manis di mata Maira.


" Hm...oke deh, sebenarnya aku juga sedikit lelah jika harus lanjut jalan kaki pulang ke kontrakan" Gadis itu akhirnya melangkah bersama Angela.


Angela kembali menautkan lengan mereka.


Di perjalanan Angela banyak berbincang bersama Maira. mereka nampak akrab. Seperti tlah lama menjalin persahabatan.


Tak perlu waktu lama mereka tlah sampai di depan minimarket Kong Mansur, Angela keluar dan membuka kan pintu untuk Maira. Sungguh sikap nya membuat Maira sangat tersentuh.


" Nomor Wa kamu berapa??"


" Ponselku sedang di perbaiki Gel, nanti kalo sudah selesai kita bisa bertukar nomor Wa"


Angela menatap Maira lekat lekat" Apa kamu nggak mau membagi nomor ponselnya kepadaku??" Todongnya dengan wajah cemberut namun menggemaskan. Nampaknya dia jago dalam memainkan mimik wajah. Bagaimana bisa dia menekan Maira dengan kata kata sedangkan wajahnya begitu imut.


" Aku serius Angela, bukan hanya kamu yang ingin memiliki teman. Aku juga sangat ingin berteman dengan gadis manis seperti kamu"


Kedua mata Angela berbinar senang" Benarkah!!!??"


Maira mengangguk.


"Oke!! mulai sekarang kita sahabat ya"


Maira kembali mengangguk tanda setuju dengan perkataan Angela.


" Yess!!, sekarang aku punya sahabat lain selain Bryan. Kyaaa!! aku nggak sabar akan menghabiskan banyak waktu bersamamu Maira" Pekiknya senang.


Hanya tawa yang mampu Maira hadirkan sebagai respon atas sikap Angela.


Hari itu meski hatinya bertanya tanya Maira melihat kesungguhan dalam sikap dan prilaku Angela. Senyum gadis itu bahkan masih mengembang mengiringi langkah Maira hingga menghilang di tangga menuju kontrakannya.


Malam nan kelam perlahan semakin larut, jam menunjukan pukul 10 malam ketika Bryan sampai di kamar nya. Pria itu merebahkan diri dengan pakaian kantor yang masih melekat lengkap di tubuhnya.


Ada rasa rindu ketika dia memejamkan mata, tentu saja rindu pada gadis sang pemilik hati.


Penuh harap dia menekan nomor yang dia aktifkan di ponsel pemberiannya kepada Maira. Namun sayang, bukan Maira yang menyahut. Mbak operator bersuara merdua menyatakan bahwa nomor yang dia tuju sedang tidak aktif.


" Huh, ternyata dia nggak tertarik memakai ponsel yang ku berikan. Apa jangan jangan dia beneran memperbaiki ponsel rusak nya itu?? ya elah, ngambeknya awet banget sih tu cewek" Lenguh Bryan berguling dalam gelisah.


Di saat pikirannya sedang berkelana tentang Maira, Tuan Odet mengetuk pintu kamarnya.


" Lho...Papah kira kamu sudah mandi Bry" Ujarnya yang langsung masuk ke dalam kamar anak lelakinya. Pintu kamar Bryan tak tetutup rapat hingga mengundang perhatian Tuan Odet ketika melewati kamarnya setelah selesai menghabiskan waktu di ruang kerjanya.


" Ini baru mau mandi Pah" Sahutnya melepaskan dasi di kerah bajunya.


" Gimana?? bertukar pikiran dengan para pewaris trifam terasa menyenangkan atau membosankan?? Tanya Pria tua yang memiliki rambut tak lagi hitam itu.


" Ya gitu deh Pah, mereka terlihat selengean. Tapi kalo urusan pekerjaan mereka cukup serius kok, cuman kali ini Bryan gak ketemu sama Lian"


" Ya jelas dong Bry, orang dia kan lagi bulan madu" Tegas sang Papah.


" Kamu tau arti bulan madu kan Bry??"


Bryan merasa ternistakan Papah sendiri" Gitu amat nanyain Bryan Pah"


" Hahaha Papah pikir kamu nggak ngerti bulan madu, kelamaan jomblo sih yak" Canda Tuan Odet.


Jomblo?? iya sih dia emang jomblo. Dan dia nggak punya kata kata untuk mengelak dari sindiran sang Papah.


Gak ada cara lain, Bryan pasrah di katain sang Papah" Iya iya, gak usah di bahas lagi. Bryan cuman mau nanya, Papah yakin join sama trifam??"


Tuan Odet bersandar di muara pintu" Iya doang, memang nya kenapa??" Kening nya semakin mengkerut. Mengingat Bryan baru saja bertemu dengan Fathur dan Vino, apakah ada yang nggak beres dengan Trifam Company??


" Nggak sih Pah, Tuan Baskoro ingin Bryan memegang kendali cabang mereka di Jepang. Selama ini Lian yang memegang kendali penuh atas cabang di sana, tapi mengingat dia sudah menikah dan tak ingin memboyong Kaila tinggal di sana maka Bryan di tunjuk sebagai gantinya"

__ADS_1


" Tapi Papah belum mendapat kabar dari Tuan Baskoro, kamu salah informasi mungkin"


" Fatur kok yang bilang"


" Tapi seandainya itu memang benar, kamu mau kan?? sama seperti Lian dulu, kamu nggak akan tinggal di sana. Hanya rutin memeriksa keadaan di sana 2 kali dalam sebulan" Jelasnya.


Bryan diam. Pikirannya terfokus kepada Maira, dia harus gimana dong?? kalo dia rutin ninggalin tu cewek keluar negeri bisa bisa doi di sabet orang. Ngedeketin sampe tahap ini aja perlu perjuangan banget, jangan sampe usahanya sia sia dan kembali kehilangan Maira dong.


" Bryan......"


" Bryan!" Panggil Tuan Odet untuk kesekian kalinya.


Sedikit terkejut akhirnya dia merespon kata kata sang Papah " Semoga aja nggak benar benar terjadi Pah, Bryan masih betah kok ngurusin bisnis kosmetik kita. Bryan nggak tertarik dengan bisnis mutiara milik mereka"


" Sekarang itu juga milik kita??"


" Ya.... boleh kan kalo Bryan ingin tetap di perusahaan kita saja?? Bryan lebih suka berada di Brander Pah dari pada di Trifam"


" Ck, apa sih yang bikin kamu nggak mau lebih maju dalam berbisnis?? masa Papah yang harus terjun langsung bersama mereka?? kamu liat dong Lian, Fatur sama Vino. Sudah beberapa tahun ini mereka yang memegang kendali atas segala urusan di Trifam. Orang tua mereka hanya sesekali datang ke kantor, itu pun sekedar menampakan diri saja. Papah juga mau kaya Tuan Hermanto dan Tuan Baskoro. Mereka banyak menghabiskan waktu bermain catur saja jika datang ke kantor" Begitu banyak uneg uneg yang keluar dari perkataan Tuan Odet. Usia tua membuatnya merasa iri dengan rekan bisnisnya yang lebih banyak bersantai ketimbang bekerja seperti dirinya.


" Ingat Nak, keluarga kita di kota ini hanya kita bertiga. Kalo bukan kamu siapa lagi yang bisa Papah andalkan??!"


" Gini deh, Kaila kan masih nganggur tuh gimana kalo dia aja yang gabung bersama Trifam??"


" Satu kantor sama suaminya??"


Bryan mengangguk.


" Ngaak!!"


" Lho...katanya cuman kita bertiga, nggak ada salahnya kan kalo kita berbagi tugas Pah"


" Kalo Kaila kerja lagi, yang ada cucu Papah nggak jadi jadi Bry, sudah lah, jika kamu memang di tunjuk menggantikan Lian Papah akan setuju dengan keputusan mereka"


" Pah..." Merengek bak anak kecil sembari menghentakan kedua kaki nya.


" Kaya bocah!"


" Biarin, jangan ya Pah. Pleaseeeeee!" Menangkupkan kedua tangan berharap belas kasih sang Papah.


Namun Tuan Odet tak luluh melihat wajah memelas Bryan" Sudahlah, Papah mau istirahat"


" Kok gitu sih Pah?"


Berjalan meninggalkan kamar Bryan, Tuan Odet hanya melambaykan tangan ke belakang tanpa menatap balik sang anak.


Bryan menatap punggung Tuan Odet yang kian menjauh dengan tatapan hampa. Di satu sisi dia ingin mewujudkan keinginan sang Papah yang tlah lelah bekerja di usia yang tak lagi muda. Memang benar, dia harusnya menghabiskan masa tua nya bersantai seperti Tuan Baskoro dan Tuan Hermanto.


Namun di sisi lain dia juga nggak mau terlalu fokus bekerja keras sedangkan gadis pujaanya belum dapat dia takhlukan. Mungkin...jika Maira tlah berada dalam genggamannya barulah dia dapat tenang dan fokus memimpin perusahaan Brander yang di bangun susah payah oleh sang Papah.


Di sudut kamar Tuan Odet masih berpikir keras, jika benar Bryan belum mau memimpin berusahaannya maka dengan terpaksa dia harus meminta Adiknya untuk kembali ke kota ini.


" Apa si bujang lapuk itu bisa ku andalkan??" Gumamnya sebelum akhirnya benar benar menyerah pada kantuk dan perlahan hanyut dalam tidurnya.


. . . .


" Hatchu!!!"


" Haish!!, siapa lagi yang ngomongin aku??!"


Seorang pria dewasa tiba tiba bersin ketika baru saja masuk ke dalam mobilnya.


Malam yang dingin, harusnya dia masuk ke dalam club dan bergabung bersama para sahabatnya. Namun malam ini terasa membosankan, sebab gadis yang biasa menemaninya menghabiskan malam di tempat hiburan itu nampak sibuk dengan pelanggan lainnya.


Tak ada pilihan lain, dia yang cukup cerewet dalam urusan pasangan tak berniat kembali ke dalam jika bukan gadis itu yang menuangkan minuman dan ikut mabuk mabukan bersamanya.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen


31 Desember 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2