Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 15


__ADS_3

****Aku bilang"Aku menyukaimu"


Aku bilang"Selamat malam"Seolah olah aku baik baik saja.


Namun...


Air mata yang sudah kutahan akhirnya mengalir...


Karena aku teramat mencintaimu.


Dan kau hanya diam saja,


Mungkin itulah sebabnya ini sangat menyakitkan bagiku.


Meski bukan yang terbaik,


Aku akan memberikanmu kebahagiaan,


Itulah yang aku pikirkan.


Seperti angin yang mengalir..Kamulah selamanya.


Aku mencoba menangkapmu kembali tapi masih tak bisa.


Di antara kelima jariku kau melarikan diri,


Mengalir di suatu tempat nan jauh...


Jauh dan sangat jauh.


Alih alih mengatakan"Aku juga menyukaimu"


Kau hanya kembali melempar seulas senyum tanpa arti kepadaku.


Dan malah bertanya tentang dia yang tak lain adalah kamu.


Aku terus mencoba yang terbaik,


Meski terasa melelahkan,


Dan aku tau ini tak kan mudah,


Aku tak kan merelakanmu kembali menghilang dari kehidupanku***


⚘⚘⚘⚘


Suasana hening setelah Lian selesai bercerita beberapa detik yang lalu. Syila yang awalnya sangat penasaran dengan Kaila kini malah bungkan seribu bahasa. Bukan karena takjub dengan jalan cerita Lian dan Kaila yang penuh liku, bukan pula karena ikut terbawa perasaan sedih karena kehilangan sosok tunangan tercinta seperti apa yang di alami Lian. Hati kecilnya merasakan bahwa pria di ujung telepon ini masih sangat mencintai Kailanya. Dan apa arti dirinya bagi seorang Lian??


Lantas pertanyaan itu Syila lontarkan kepada Lian"Kamu...sayang banget ya sama Kaila??"


"Ya dong" Jawaban Lian seperti menabur garam di atas luka. Terasa perih...


"Cinta banget ya Li??" Kembali Syila mengulik perasaan Lian terhadap Kaila.


"Ya iyalah La, Kaila tu segalanya buat aku"Terasa semangat yang menggebu dalam setiap ucapan Lian. Tanpa Lian sadari setiap jawabannya bagaikan kipas kecil yang perlahan meniup bara cemburu di hati Syila, bara yang perlahan membakar perasaan Syila hingga menumbuhkan rasa emosi karena tersaingi oleh Kaila.


"Seberapa mirip wajahku dengan dirinya??"


"100% mirip banget"Lian kembali menjawab dengan pasti dan sangat yakin. Orang Syila adalah Kaila kan, jelas saja pria ini sangat bersemangat. Sayangnya dia lupa kalo Syila belum menemukan ingatan masa lalunya.


"Tut..tut...tut" Tanpa di sangka dan di duga Syila yang memiliki emosi turun naik tiba tiba memutus panggilan, emosinya benar benar memuncak.


"Jadi aku di tembak gegara berwajah mirip sama Kailanya??, igh!! punya mata kok butek banget sih, semirip apa pun aku dan Kaila pasti ada sedikit perbedaan" Sentaknya melempar ponsel ke tempat tidur.


Dia beranjak dari sofa dan menghempaskan tubuh ke tempat tidur menyusul sang ponsel.


Lian bingung dong dengan prilaku Syila, dia nggak peka sih.


"Yah...kenapa di matiin??apa ponselnya kehabisan daya??" Gumamnya menekan nomor Syila lagi.


Terdengar nada tunggu di seberang telpon namun sang empu tak berniat menerimanya.


Kening Lian berkerut pertanda sedang bingung"Apa yang salah??"


πŸ“¨:"Kok di matiin??kamu kenapa La??"


Beberapa menit Lian menunggu balasan hingga tangannya bergerak untuk mengetik pesan dan mengirimkannya lagi.


πŸ“¨:"Syila...are u okay??"


Masih seperti pesan pertama, Syila hanya membaca namun tak membalas.


Lian kembali menelpon Syila...


Percobaan pertama gagal.


Lagi...dia tak kan menyerah semudah itu.


Berkali kali dia menelpon Syila malam itu, hingga gadis yang sedang ngambek itu menyerah dan menerima telponnya.


πŸ“²"Aku ngantuk Li,ini udah hampir subuh kan"


Suaranya terdengar baik baik saja, tak seperti orang yang sedang menahan rasa kantuk. Meski terlambat menyadari, Lian akhirnya paham bahwa Syila sedang merajuk.


Sebelum melontarkan kata kata bujukan kepada Syila, Lian menarik nafas dalam dalam.


πŸ“±"Kamu marah ya??tentang Kaila ya??"

__ADS_1


Hening...Syila tak menjawab.


πŸ“±"Kamu jangan salah paham dong La, kamu adalah kamu dan Kaila adalah Kaila"


πŸ“²"Kamu masih sangat mencintainya Li,Kamu nggak bakal mendekatiku jika tak berwajah mirip dengannya kan??" Serang Syila.


Tak bisa di pungkiri, Lian mendekatinya memang karena wajah itu


Otak kecilnya di paksa berpikir keras lagi...


πŸ“²"Nah..nggak bisa jawab kan! awalnya aku bingung kenapa aku begitu penasaran dengan Kaila dan memintamu bercerita tentangnya, ternyata Tuhan menuntunku agar tahu bahwa dia tak kan terganti di hatimu Lian".


πŸ“±"Nggak gitu La___"


πŸ“²"Udahlah Li, sebelum aku terlanjur mencintaimu...tinggalkan aku jika kamu mencintaiku karena wajah Kaila ini"


Runtuh...dunia Lian seakan runtuh, bukan ini yang dia inginkan. Manik matanya mengerjap mencoba menahan kesadaran, dia harus tenang menghadapi Syila kali ini.


πŸ“±"Aku tulus mencintaimu La"


πŸ“²"Karena mirip Kaila kan!" Sambarnya


πŸ“±"Bukan Syila!!" Lian sedikit meninggikan nada bicaranya, berharap Syila mengerti akan kesungguhannya.


πŸ“²"Aku benar benar mengantuk Li, aku tidur duluan ya"


πŸ“±"Syila___"


Tanpa perduli, gadis itu kembali memutus panggilan


"Tut tut tut"


πŸ“±"La___"Lian terdiam. Bahkan sekarang mulutnya terasa kaku. Apakah dia akan kehilangan Kaila lagi??


Sejenak dia terhanyut dalam dunia nan gelap gulita baginya, cahaya temaram di ruang tamu mengundangnya untuk merebahkan diri di sana, di sofa biru milik Kailanya.


Jemarinya mengetik pesan singkat.πŸ“¨:"Selamat malam Syila, semoga mimpi indah"


Pesan terkirim dan sepinya dunia kembali merengkuh tubuh Lian. Kegelapan seakan menelan Lian lagi...dia kembali di titik terendah dalam hidupnya. Sekeras apa pun usahanya untuk memejamkan mata, bayang Kaila terus mengusik di pelupuk mata.


"Aku mohon bantu aku Syila" Gumamnya sembari menghela nafas.


Di tempat lain Syila merasakan kekosongan di dalam hatinya, rasa cinta yang mulai berkecambah di hati kecilnya kini terpangkas habis dengan menyiram kebencian di atasnya.


"Buka mata kamu Syila, dia terlalu tampan untuk mencintaimu" Ucapnya lirih sebelum akhirnya terlelap dalam buayan tidur.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Pagi yang cerah terasa gersang dan suram bagi seorang Dion. Pesan singkat dari Lian membuyarkan segala semangatnya ketika hendak bekerja.


πŸ“©:"Terima semua berkas yang akan di berikan kepadaku, limpahkan tugasku kepada Pak Vino atau Pak Fatur"


πŸ“¨:"Pak Lian nggak ngantor??"


Beberapa detik kemudian jawaban Lian membuat jantungnya berdetak abnormal.


πŸ“©:"Nggak"


"Oh lord!!!, mimpi apa aku semalam!!!, kalo Pak Lian nggak ngantor dan semua kerjaan dia di limpahi ke Pak Fatur sama Pak Vino otomatis aku harus jadi asisten dadakan mereka bedua hari ini 😭.


πŸ“¨:"Boleh tau alasannya Pak??" Sedikit memberanikan diri dia mengetik pesan dan mengirimkannya kembali kepada Lian.


Dan Tring! Pesan balasan Lian pun di terima.


πŸ“¨:"Sejak kapan aku libur kerja harus ngasih alasan ke kamu??emang pangkat kamu apaan??"


"Krik πŸ•·...krikπŸ•· ...krik πŸ•·..." Suara jangkring tiba tiba bergema di dalam otak Dion, udah tau si bos mood nya angin anginan, pake acara nanyain alasan dia nggak masuk kerja pula.


Jangankan untuk melangkah, sekedar menelan saliva pun terasa berat bagi Dion"Hick hick...abis gajihan aku berhenti aja deh, bisa beku kalo lama lama kerja sama kulkas"Pekiknya terpaksa keluar dari kediamannya untuk segera berangkat ke kantor. Motor bebek kebanggannya dengan terpaksa dia nyalakan dan melenggang dengan setengah hati, seandainya dia bisa memilih bos....dia sangat iri dengan Kai yang memiliki atasan seperti Pak Hermanto.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan ke TRYFAM motor bebek milik Dion kini terparkir di halaman parkir. Sebelum benar benar masuk ke kantor dia menarik nafas dan menghembuskannya"Ya allah...berilah hamba kesabaran ekstra hari ini" Pintanya pada sang maha kuasa.


⚘⚘⚘⚘


Suasana di kedai Arin masih nampak lengang, ya jelas saja ini kan masih pagi banget. Lian yang memang langganan pertama di kedai itu duduk di tempat biasa dengan sarapan yang tlah tersedia di hadapannya. Kali ini perhatiannya tak sepenuhnya tercurah pada Toko Charllote di seberang sana, dia tau hari ini Syila pasti belum bisa bekerja. Lantas dia menikmati sarapannya dan tak lupa memesan secangkir kopi kegemarannya, kurang lebih 20 menit berada di sana Lian akhirnya beranjak pergi. Kemana??ya ke panti asuhan milik Bryan lah...dia masih punya banyak hal yang perlu di sampaikan kepada Syila.


Beberapa penghuni panti sudah mulai meninggalkan kediaman mereka, kini tinggal Amel dan Nazmi yang belum berangkat ke sekolah.


"Kemaren di tembak lagi??" Tanya Amel setelah meletakan gelas susu yang baru saja dia minum.


Nazmi nggak menjawab.


"Heran...budek begini kok banyak yang suka"


Nazmi masih cuek, sepiring nasi goreng bikinan Bi Mun lebih menarik baginya ketimbang berbincang bersama Amel.


Kesal tak mendapat respon Amel menarik piring milik Nazmi dan melahap nasi yang masih tersisa di dalamnya


"Rakus, punya kamu udah abis kok ngambil punya aku sih!!, pantesan gendut makannya nggak di kontrol nih" Kata kata Nazmi membuat kedua bola mata Amel membulat.


Sendok di tangan menjadi senjata andalan Amel pagi ini, dengan santainya dia menggeplak kepala Nazmi dengan sendok makan.


"Ish!!!, kamu cewek jadi jadian yah!! kalem dong kalo jadi cewek, maen geplak aja"


"Bodo amat!!" Amel pergi dari meja makan dan segera naik ke atas untuk berpamitan pada Bryan dan syila. Dua kakak tertua di panti itu masih sibuk bersiap di kamar masing masing, tanpa mereka tau kedua remaja ini kembali bertikai sepeti biasanya.


"Amel gila!!" Seru Nazmi tersungut sungut. Kepalanya terasa perih setelah di tampol dengan sebilah sendok makan.

__ADS_1


"Bwekkkk 😝😝😝" Balas Amel semakin menyebalkan.


"Apa lagi sih Mel, Mi" Bryan yang berada di muara tangga hampir saja bertabrakan dengan Amel.


Remaja putri itu segera mengulurkan tangan dan menyalimi tangan Bryan, tanpa berkata kata dia menerobos ke belakang Bryan untuk segera menemui Syila.


"Eh...kok buru buru Mel" Syila terkejut ketika membuka pintu, Amel hampir saja menabraknya juga.


"Amel berangkat sendiri aja!!, ogah sepedaan sama orang budek kaya Nazmi"Sahutnya meraih lengan Syila dan segera pamit diri.


"Kak...Plesterin mulutnya dong!!, kejam banget kata katanya" Nazmi mulai kesal dengan celotehan Amel.


"Ya elah...berantem mulu!!, nggak bosen kalian??"


Ucapan Bryan tak di gubris Amel. Dia langsung bergegas ke halaman luar dan mengayuh sepedanya. Tentu saja setelah berpamitan dengan Bi Mun yang lagi jemur pakaian.


Nazmi nampak buru buru, dia menyabet lengan Bi Mun untuk bersaliman dan segera menyusul Amel.


"Lah bocah!!, berantem mulu tapi nggak mau pisah. Aneh " Gumam Bi Mun.


"Hahahaha biasa lah masih labil Bi..."Ucap Bryan menyerahkan segelas susu kepada Syila.


"Iya tuh Nak Bryan, kalo Amel sakit Nazmi tuh yang paling repot ngurusin dia, gitu juga sebaliknya"


"Dari kecil kan emang sama sama mereka Bi" Lanjut Bryan sembari duduk di meja makan.


Mendapati segelas susu dari Bryan, Syila hanya melempar senyum padanya. Sembari menenggak susu itu Syila memikirkan tentang ucapan Bryan barusan.


"Amel dan Nazmi udah sama sama sejak kecil, aku sama Kak Bryan juga gitu kan..tapi kok aku nggak ingat sedikit pun tentang masa kecil kami??"


Di sela kebingungan Syila, Bi Mun masuk ke dalam membawa berita kedatangan Lian. Syila lekas lekas meletakan gelasnya dan sedikit tertatih kembali ke kamar.


"Lho...nggak berniat menemui dia La??" Selidik Bryan, dia pikir Syila bakal langsung nyamperin Lian.


"Bilang Syila nggak mau di ganggu" Lenguhnya terlihat kesal.


"Persilahkan Lian masuk Bi, sini duduk sama saya di sini"Ucap Bryan, melihat gelagat Syila pasti ada yang nggak beres di antara mereka.


Dengan sopan Lian masuk ke kediaman mereka dan duduk bersama di meja makan.


"Udah makan??" Tanya Bryan datar, terpaksa sih dia mengajak Lian masuk. Kan mereka sahabatan di mata Syila.


"Udah, Syila mana??" Tanpa basa basi Lian langsung pada maksud kedatangannya.


"Dia nggak mau di ganggu, kamu apain Adek aku??" Tatap Bryan tajam.


"Jangan main main sama hati Li" Tambahnya sembari sibuk melanjutkan sarapan.


"Hati siapa??, kamu tau betul hati siapa yang paling tersakiti di sini"


"Ku mohon Bryan...kembalikan Syila padaku" Pinta Lian tiba tiba. Bryan hampir tersedak karena ucapannya.


Dengan tatapan tajam Bryan setengah berbisik"Jaga omongan kamu!!, Bi Mun ada di sini"


"Aku nggak perduli" Lian masih dengan volume biasanya.


"Kita bicara di tempat lain saja Lian".


"Nggak!!,aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi Bryan!!, dia harus tau kebenaran ini!!"


"LIAN!!!"Hardik Bryan


"Kembalikan aku pada Lian??"Tanya hati Syila. Tak benar benar pergi ke kamarnya ternyata Syila sedari tadi berada di lorong depan pintu kamarnya.


Bryan membuang pandangan dari tatapan Lian, tak semudah itu Lian meminta dirinya mengembalikan Syila.


"Dia Syila ku Lian, buka mata kamu!!"


Seulas senyum mengembang di bibir Lian"Bukannya kamu yang harus membuka mata lebar lebar, dia milikku. Selamanya nggak akan berubah Bryan!!"


Seakan tak perduli dengan ucapan Lian, Bryan tetap pada pendiriannya. Syila adalah Adiknya dan selamanya akan menjadi adiknya.


"Sebaiknya kamu pulang saja Lian, aku harus ke kantor sekarang" Ujarnya mencoba menghindar dari perdebatan mereka.


"Nggak akan Bryan...kamu harus segera berterus terang kepada Syila"


"Atau...kamu mau aku yang bicara padanya??"


"Dia nggak akan percaya begitu saja kepadamu Li"


"Kamu___"


"Apa yang Kak Bryan sembunyikan dariku??"Syila berdiri di anak tangga, rasa penasaran mendorongnya untuk segera bertanya kepada sang Kakak.


Bryan tergagap.."Nggak ada Dek...Lian nih..."


"Aku kenapa??" Desak Lian.


"Nggak ada Dek, kami berangkat dulu ya...kamu hati hati di rumah ya" Lengannya menyeret paksa Lian agar ikut keluar bersamanya.


Syila menyaksikan ada hal yang mereka sembunyikan darinya. Ujung mata Lian seakan ingin mengungkapkan sebuah rahasia kepadanya namun tarikan Bryan membuatnya tak berdaya dan akhirnya dua pria itu perlahan menghilang dari pandangan Syila.


To be continued...


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.


1 Oktober 2020

__ADS_1


Salam anak Borneo


__ADS_2