
****Aku yang sempat mundur dan berpaling darimu,
Namun aku berakhir dengan membalik dunia untuk kembali bertemu denganmu.
Karena kau selalu hadir di dalam mimpi mimpiku,
Mengaduk rindu hingga semakin membuncak dan mendorongku untuk mencarimu.
Terus mencari di manakah kamu,
Apapun yang terjadi aku akan menemukanmu,
Aku pasti mengenalmu,
Di manapun kau berada.
Tak perduli siapa pun engkau nantinya,
Aku pasti mengenalmu.
Aku selalu mengingat dirimu,
Aku selalu melihat ke arahmu,
Meski kau tak berada di sini,
meski tlah banyak sunset berlalu,
Aku tak kan melupakanmu.
Hingga akhirnya aku kembali memegang jemarimu seperti saat ini,
Aku yang tak bisa sembunyikan bahagia ini,
Aku yang tak lagi mampu menahan rindu ini,
Aku yang tak juga mampu sembunyi dari mu.
Kini kau kembali memeluk hatiku,
Merajai hatiku,
Mengakusisi seluruh jiwaku.
Kaulah.... Segalanya bagiku****
ππππ
Rintik hujan perlahan berhenti, seakan memberi restu kepada Bryan agar lekas menjemput Maira dari rumah sakit. Setelah memastikan segalanya terkendali pria itu bergegas menuju ruangan Maira di rawat, membantu gadis itu sedikit berkemas dan segera meluncur menuju kediaman barunya.
Suasana hening di dalam mobil terasa sangat menyesakan dada seorang Bryan. Maira lebih banyak diam. Dia masih bertanya tanya dalam hati perihal perubahan sikap Bryan padanya, hingga tanpa di sadari kini mereka tlah sampai di depan minimarket Kong Mansur.
Di bantu Bryan kini Maira tlah kembali ke kediaman baru nya.
Bryan menyapukan pandangan ke setiap sudut bangunan sederhana itu"Jadi ini kontrakan barunya??"Tanyanya.
"Hu-um"Sahut Maira singkat. Dia berjalan memeriksa keadaan kontrakan itu"Oh, kayanya teman serumah ku udah pindah ke sini"Bisik batinnya.
Sembari membuntuti Maira Bryan berhenti di depan kulkas. Membaca pesan yang Joe tinggalkan di sana."Yakin temen serumah kamu ini cewek??"
"Iya lah Pak, ngemilnya yang manis manis semua"Ujarnya selepas mengintip isi dalam kulkas.
"Tuh...selimutnya aja hello kitty. Pinki gitu cowok mana yang mau pake??"Tunjuknya pada jemuran yang di sisihkan teman serumahnya demi menghindari hujan.
Bener juga apa yang di katakan Maira. Meyakini teman serumah Maira adalah cewek maka Bryan dapat bernafas dengan lega.
Dia nggak tau aja kalo sebenarnya Joe lah teman serumah Maira. Kong Mansur menerima Joe sebagai penghuni baru di kontrakannya sebab di sana memiliki 2 kamar. Itu hal biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi Maira. Di jamin dia akan terkejut setengah mati jika tau teman serumahnya adalah seorang pria.
"Kamu istirahat aja, nanti jam makan siang aku bakal balik ke sini"Ujarnya sembari menyediakan sarapan yang dia beli sebelum menjemput Maira dari rumah sakit.
"Abisin ya"Ujarnya lagi menarik kursi di meja makan. Meminta Maira duduk di sana agar segera menyantap sarapannya.
"Kalo ada apa apa langsung hubungin aku ya"Pintanya lagi. Kali ini dia begitu cerewet di mata Maira. Gadis itu sampai tak punya kesempatan untuk sekedar menyela setiap perkataanya.
"Lupa kalo hape saya rusak??"
"Iya ya, nanti siang aku bawakan ponsel baru"
"Jadi saya ngutang lagi??"
"Nggak, anggap aja hadiah dari aku"Sahut Bryan lagi.
"Kenapa??kenapa anda begitu perhatian??"
Bryan diam. Dia tak tau harus memberikan jawaban seperti apa kepada Maira. Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya??
"Pak Bryan, saya yakin ada sesuatu yang ingin anda jelaskan di sini"Tandasnya menatap Bryan lekat lekat.
Bryan menggigit bibir"Kamu___baik baik ya. Saya harus segera ke kantor"Ujarnya hendak menghindari pertanyaan Maira.
"Tolong Pak, perubahan sikap anda membuat saya bingung. Apa saya begitu menyedihkan sampai anda harus bersikap berlebihan seperti ini?? saya sudah baik baik saja. Kembalilah seperti anda yang biasanya"Ucapnya lirih. Dia tak ingin terbang terlalu tinggi. Dia tak ingin terlalu larut dalam kehangatan dan kelembutan Bryan yang di anggapnya sekedar kasihan kepadanya.
Maira takut hatinya yang terus bergejolak riang di dalam sana jatuh terpuruk jika Bryan kembali meninggalkannya seperti dulu. Di tinggal pergi saat hati tengah berbunga, bersikap asing ketika rindu selalu mengaduk aduk hatinya. Mengingat itu Maira begitu takut tersakiti lagi.
Beruntung dulu ada June yang selalu ada menggantikan Bryan, meski sebenarnya Bryan tak pernah terganti di dalam hatinya.
Dan sekarang, June tlah tiada. Kemana dia akan bersandar jika hati itu kembali berduka??"
"Ra, maaf kalo aku bersikap kasar padamu selama ini. Aku punya alasan"Ucapan Bryan membuyarkan lamunannya akan June.
__ADS_1
"Bilang, apa alasannya"Desaknya penuh harap.
"Maaf, aku nggak bisa bilang. Tapi...asal kamu tau, aku terpaksa begitu. Dan segala perhatian yang ku berikan padamu sekarang adalah tulus dari lubuh hati terdalamku"
Maira semakin menatapnya dalam. Bola mata indahnya menatap lekat sosok Bryan yang enggan bertatap mata dengannya.
"Maka pergilah, saya nggak akan sanggup hidup dalam ketidak pastian"Ucapnya lirih.
"Maira~~`"
"Aku menyukaimu"
"Klontang!!!"Sendok di tangan Maira terjatuh.
Bryan bergegas mengambilnya, Maira pun sama. Maka...
"Bruk!"
"Awsshh!"Maira dan Bryan mengaduh karena kepala mereka berbenturan.
"Kamu nggak apa apa??"Bryan mengusap lembut kening gadis itu.
"Akh___Sa__saya baik baik saja Pak"Ucap Maira tergagap. Buru buru dia memperbaiki posisi duduknya.
Bryan meletakan sendok yang terjatuh di tepi meja, mengambil sendok yang baru yang memang Maira letakan di meja makan itu pula.
"Sudahlah, kamu sarapan ya"Ujarnya tetap bersikap lembut meski Maira menghujaninya dengan tatapan penuh tanya.
Malas berdebat akhirnya Maira menyantap sarapannya.
"Ra, jangan lupa kunci pintunya"
Maira tak menyahut.
"Ra~~~"Panggilnya lagi.
"Iya Pak"Sahutnya berjalan ke arah pintu.
Meninggalkan Maira, Bryan merasa ada yang kurang saat ini. Bukan kah dia tadi menyatakan cinta kepada Maira, lantas apa jawaban Maira???
"Astaga!!! saking deg deg an nya aku sampai lupa hal penting itu!!"Bryan menepikan mobilnya. Mengacak rambutnya, menepuk tengkuknya.
Dug!
Dug!
Dia memegangi letak sang jantung, tak menyangka dengan menyatakan cinta dia jadi sangat gugup seperti ini.
"Ck!! bahlul banget sih Bry!!! Gubluk akh!"Umpatnya pada diri sendiri. Harusnya dia menunggu jawaban gadis itu, bukan buru buru pergi seperti yang dia lakukan tadi.
Dia meraih ponsel, bersiap menelpon Maira. Tapi.....
"Kamu payah banget Bry!!"Desisnya.
"Susah payah nyatain cinta, malah ngegantung diri sendiri"
"Apa aku putar balik saja??"Gumamnya lagi.
Bersiap putar balik namun ponselnya mendapat sebuah panggilan.
π΅πΆπ΅πΆπΆπ²"Kaila calling"
π±:"Iya Dek??"Sahutnya ketar ketir. Dia sadar tlah berbuat salah, pergi tanpa kabar jelas Kaila akan marah kepadanya.
π²:"Masih ingat punya Adek??" Kan. Dari nada bicaranya saja Bryan sudah tau kalo Kaila sedang kesal kepadanya.
π±:"Hihihi galak bener pengantin baru. Nggak di kasih jatah sama Lian somplak??ntar Kakak sleding tu orang" Niatnya sih pengen menghibur si Adek, tapi mulut sama hatinya sedang lost connection. Alhasil amarah Kaila bukan mereda tapi malah semakin menjadi.
π²:"Enak aja!!,mending Kaila yang sleding Kakak!"Pekik Kaila di ujung telepon. Sumpah Bryan emang nyebelin, segitu nggak sukanya sama Lian sampe berpikiran jahat terhadapnya.
π±:"Maaf deh. Kakak belain kamu lho Dek, malah mau di sleding. Maaf yak Dek, Kakak salah menilai Lian. Maaaaafff banget!" Ucapnya pelan.
Salah satu cara jitu menghadapi kemarahan Kaila, mengaku salah. Meski terbukti benar dengan mengaku salah maka Bryan akan selamat dari amukannya. Apalagi memang benar benar salah seperti sekarang ini, Bryan hanya bisa berpasrah diri dan mengakui kesalahannya.
π²:"Nggak usah sok perduli, kemana aja dari kemaren malam??sekedar ngasih tau aja, sekarang Kaila udah pindah ke apartemen" Ujarnya memberi kabar kepindahannya.
π±:"Tau kok. Panjang ceritanya Dek. Nanti balik kerja Kakak mampir ke sana ya"
π²:"Ajakin calon ipar Kaila yak"Pinta Kaila. Mengingat Maira berpasangan dengan Bryan di hari pernikahannya, Kaila berharap hubungan mereka mengalami kemajuan. Jadi...Angela yang tak dia sukai itu akan mundur dan menghilang dari kehidupan Bryan.
π±:"Nggak bisa Dek, nanti deh Kakak cerita. Dah yak, Kakak mau ke kantor"
π²:"Oke oke, kalo nggak datang Kaila lempar granat dari sini ke kantor Kak Bryan lho"
π±:"Hahahhha, nggak berani ingkar janji kok Dek"Bryan terkekeh geli. Setidaknya kelakar garing Kaila mampu menetralkan jantungnya yang jumpalitan sehabis menyatakan cinta.
"Ngajakin Maira ke kediaman Kaila,,,,Semoga bisa deh"Gumam hatinya. Memikirkan Maira membuatnya tersenyum kecil.
ππππ
Di kampung halaman Maira....
"Apa!!!!!???"
Teriakan Ibunya Maira seketika membuat ayam ayam peliharaan Ayahnya Maira terkejut bukan kepalang. kepakan sayap mereka menerbangkan bulu bulu kecil hingga meninggalkan beberapa helai di atas rambut Sang Ayah.
"Kenapa sih Bu???"Sentak Ayahnya berdiri menghadap sang Istri.
"Ini....Maira kecelakaan" Cicitnya dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Hah!!!"Kini giliran sang Ayah yang berteriak.
"Kita susulin ke kota Bu!!"
"Tapi katanya udah pulang ke kontrakannya Yah"
"Ya sudah, kita susulin ke kontrakannya, lagian Ayah juga udah kangen banget sama anak sableng itu. Betah banget minggatnya, kalo nggak di telpon duluan juga nggak bakal nelpon dianya"Gerutu sang Ayah menahan kesal. Dia meninggalkan ayam ayam yang berhamburan keluar dari kandang. Bidi imit dah, ntar juga balik lagi tu ayam.
Baru juga duduk di samping istri tercintanya"Eh sebentar, selama ini Ibu selalu tau keadaan Maira, siapa sih mata mata Ibu??" Tanyanya begitu penasaran.
Bibir sang istri tersungging naik.
"Rahasia"Ucapnya dengan senyum lebar. Jemarinya begitu lentik memperbaiki letak roll yang masih tergelung di rambut berponi nya.
"Heiiiii sama suami sendiri Ibu main rahasia rahasiaan"Delik Ayah mendekati Ibu yang kini berkaca pada jendela kediaman mereka.
"Siniin hapenya, Ayah mau tau siapa mata mata Ibu selama ini!"Ayah berusaha merebut ponsel yang Ibu letakan di meja rotan.
Dengan gesit Ibu menyambar ponselnya."Nggak usah Yah, mata mata Ibu benar benar bisa di percaya. Ayah terima beres aja!"
"Ayah pengen tau Bu, jangan jangan itu gacoan Ibu di kota ya??"Ayah malah menuduh si Ibu main serong dengan pria kota.
"Yah!!, Ibu tau wajah cantik ini memikat banyak pria. Tapi hati Ibu sudah sepenuhnya milik Ayah. Jadi tolong jangan sakiti perasaan Ibu dengan menuduh yang enggak enggak seperti itu!!!"Sentak Ibu dengan bola mata berbinar. Nampak tepian matanya hendak mencipta genangan air mata.
"Bukan gitu Bu"Sang Ayah melemah.
"Ayah tau kok kalo Ibu cinta mati sama Ayah, hanya saja Ayah nggak suka kalo Ibu main rahasia rahasiaan kaya gini. Ayo dong Bu bilang siapa mata mata Ibu itu??"
Ibu menyeka anakan sungai yang sempat menggenang di kedua pipinya.
"Itu....temennya si Keano"
"Keano???"Ucap ayah dengan nada bertanya.
"Anak nya pak RT di kampung sebelah. Yang kabur kaya Maira juga. Cih anak jaman sekarang, hobby nya aneh aneh. Dia pikir kabur dari rumah itu keren apa?? yang ada malah nyusahin orang tua!!"Si Ibu terus ngedumel dengan tangan perkacak di pinggang.
"Ohhh~~~"Ayah mengangguk tanda mengingat siapa Keano yang istrinya ceritakan.
"Tapi bukan dia kan mata mata Ibu??"
"Temennya Yah"Ulang Ibu dengan penekanan.
"Nanti Ayah mau ketemu sama mata mata Ibu"
"Mau ngapain??"
"Mau ketemu aja. Nggak boleh??"Selidik Ayah menatap Ibu tajam.
"Hehehheh, boleh Yah. Boleh banget malah. Anaknya cakep lho, 11 12 lah sama si Udin. Siapa tau dia cocok buat jadi suami Maira kan Yah"Celetuknya sembari membayangkan wajah sang mata mata.
"Ck...mulai lagi deh. Sudah lah. Ayah mau mandi, nih liat gara gara teriakan Ibu bulu bulu ayam pada nemplok di kepala Ayah"Tunjuknya pada pucuk kepalanya.
"Ibu terkejut Yah, maaf ya"Ujarnya tersenyum manja pada Ayah.
Kalo sudah senyum begitu si Ayah mana bisa marah sama Ibu. Bisa bisa di kirim ke planet pluto dong Ayah kalo berani ngambek sama Ibu.
ππ
Di sela sela waktu bekerjanya Bryan menyempatkan diri menilik beberapa model ponsel terbaru melalui laptop nya.
"Ehem!"Brama nongol di depan pintu.
"Mau ngapain??"
"Kangen kamu"Sahutnya mengedipkan mata.
"Najesssss!!!"Decih Bryan membuang pandangan.
"Hahhhhha, canda doang boskuuu, aku kesini mau ngingetin jadwal ketemu calon investor"
"Kai udah ngingetin aku kok, udah deh kamu minggat sana"Bryan mendorong tubuh Brama yang tiba tiba mendekatinya dan ikut mengintip pada layar laptop nya.
"Wuidih...mau ganti ponsel bosku??, hape udah jenius begitu, udah bosen?? sini kasih aku aja"Ucapnya melirik Galaxy fold milik Bryan di meja kerjanya.
"Boleh, tukeran sama kepala mu. mau??"
"Njiiimmm, mati dong aku Bry"Brama mengerucutkan bibir.
"Makanya kalo mau berumur panjang minggat dari sini. Aku banyak kerjaan ini"
"Sok sibuk, nyatanya maen mbah g00gle"Seloro Brama mencibirkan bibir.
"Ikh, pergi nggak!?"Ancam Bryan hendak melempar cangkir kopi nya pada Brama.
"Ayyaaa~~`galak amat. Kesel di langkahin Adek nya nikah ya???"Brama tak kehabisan akal menggoda Bryan.
"Ck"Bryan berdiri. Menarik Brama agar keluar dari ruangannya.
"Hahahhaha, beneran kesel kan. Aku turut berduka cita bro"Pekiknya di depan pintu ruangan Bryan.
Bryan menutup tirai agar wajah mengolok Brama tak nampak di depan matanya. Alhasil sikap Bryan membuat Brama semakin tergelak tawa. Entah kenapa dia begitu suka menggoda Bryan, membuatnya kesal adalah hal yang menarik baginya.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
15 Desember 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1