
...**Saat aku melihatmu......
...Aku sangat cemas ingin mendapatkanmu....
...Aku memikirkanmu......
...Bahkan tepat sebelum aku tidur....
...Aku benar benar menyukaimu.....
...Bahkan ketika kau menguap sekalipun....
...Karena kau adalah type ku...*** ...
...___Ikon" My type "___...
🍒🍒🍒🍒
Angin malam menemani kesendirian Maira di balkon kamar Bryan, eh salah!! bukan cuman kamar Bryan sih sekarang kamar itu sudah jadi kamar Maira juga. 😁😁😁
Malam semakin merangkak naik, lelah dan letih seharusnya menuntun Maira agar masuk ke dalam dan mengistirahatkan diri setelah seharian menjadi Ratu di pesta pernikahannya. Tapi niat yang sempat sangat ingin dia lakukan itu tiba tiba harus dia tahan karena ulah kejahilan seseorang.
Sembari memelintir ujung piyama yang dia kenakan" Apa aku harus masuk sekarang??" Batinnya. Dia bingung, bisikan Tunder beberapa saat yang lalu menimbulkan bermacam prasangka dalam benaknya.
" Neng bidadari, belah duren itu bikin menjerit lho"
Om Durjana sukses membuat gadis itu mengerjapkan mata berkali kali. Sebagai wanita dewasa dia paham betul kemana arah dan tujuan bisikan Om Durjana itu. Di tambah lagi ketika pergi berlalu Om Durjana kembali berbisik kepadanya
" Jeritnya jangan kenceng kenceng yak, kalo kedengeran Ibu sama Ayah kamu kan nggak lucu" Wajah tampan dengan perangai usil, rasanya Maira sangat geram ingin menggeplak jidat tu orang.
Teringat hal itu jemari Maira semakin erat memelintir ujung kemejanya" Dasar Om Durjana!! otaknya isinya 18++ semua kali ya, pake di bisikin kaya gitu pula!!" Desisnya mengerucutkan bibir.
" Otak ku jadi traveling duluan karena bisikannya!!" Ujar Maira yang kini berubah posisi menjadi jongkok sembari menyelipkan kedua tangan di antara pagar balkon.
Di dalam sana Bryan yang baru memasuki kamar setelah berbincang cukup lama dengan sang Papah mencari cari keberadaan Maira, gadis yang tlah sah menjadi istrinya.
Entah karena telalu lama hidup tanpa pasangan, Tuan Odet nggak peka dan malah menahan Bryan begitu lama berbincang bersamanya perilah pekerjaan yang akan Bryan ambil alih di Jepang. Meski Bryan terlihat gelisah Tuan Odet masih saja melontarkan beberapa pertanyaan tentang persiapan Bryan yang akan segera memboyong Maira bersamanya ke Jepang. Hingga akhirnya kesabaran Bryan tlah habis, pria itu beranjak dari duduknya ketika Tuan Odet menjeda obrolan mereka.
" Pah, Bryan naik ke kamar ya. Sudah ngantuk banget Pah"
Tuan Odet melirik arloji di tangan kirinya" Nggak kerasa ya, sudah hampir tengah malam" Ujarnya tanpa merasa bersalah.
Ya iyalah Tuan Odet!! dan seharusnya di jam segini Bryan si pengantin baru itu sedang olah raga malam bersama istri tercintanya, bukan ngobrol sama Papah yang nggak peka kaya anda 😅😅😅. Ckckckkckc Tuan Odet oh Tuan Odet.
Sembari menaiki tangga senyum Bryan tiba tiba merekah, dia sudah bebas mau melakukan apa saja bersama Maira. Yey!!! hati Bryan jumpalitan di dalam sana, udah goyang tingting sambil dangdutan. Kecantikan paripurna Maira hari ini terbayang bayang di matanya, sedari pagi dia sangat ingin memeluk erat gadis itu, namun manusia manusia usil seperti Kaila dan Tunder pasti akan menggodanya jika ketahuan berprilaku mesra di sela sela waktu pernikahan mereka.
" Maira~~~" Panggilnya ketika tak mendapati Maira di dalam kamar. Lengkahnya melebar mencari keberadaan Maira, jantung yang mulai berdebar takut Maira kenapa kenapa kini dapat menghela napas dengan lega.
" Ngapain nongkrong di situ?? udah tengah malam. Nggak takut di sapa mbak kunti?? atau pocong cakep gitu??" Pintu menuju balkon dia buka lebar, nampak gadia pujaannya masih dalam posisi jongkok di depan pagar.
" Bry!!, becandanya jangan horor dong!!" Gadis itu bergegas bangun dari jongkoknya. Menghampiri Bryan dan memukul lengannya.
" Takut sama setan??" Goda Bryan.
" Iyalah!! emang kamu nggak takut??" Cicit Maira dengan wajah ketakutan.
" Apa pun itu, siapa pun itu, kalo sama kamu aku nggak akan takut sayang" Kata kata manis terlontar begitu saja dari mulut Bryan, sederhana namun mamlu membuat hati seorang Maira meleleh.
Jeng jeng!!! hati Maira tiba tiba terasa sesak dengan bermacam bunga bermekaran. Berbagai warna ceria memenuhi setiap sudut di dalam relung hatinya.
" Ehem! belajar ngegombal dari mana??" Wajahnya merona, dia membuang muka demi menyembunyikan rona wajahnya yang semakin memerah.
" Aku nggak gombal kok, aku serius!" Tatap Bryan lurus pada dua bola matanya.
" Oh" Sahut Maira kikuk. Dia kehabisan kata kata. Pandangannya masih tak berani menatap langsung wajah Bryan, meski terang terangan Bryan mengejar pandangannya Maira terus berusaha menghind agar pandangan mereka tak bertemu.
" Maira"
" Hm??"
" Liatin apa sih??, kalo di ajak ngomong liatin orangnya Maira" Pipi lembut itu terasa hangat ketika Bryan menyentuhnya.
" Iya kenapa??" Maira melirik Bryan sekilas.
" Gitu amat, emang muka aku menakutkan??" Jemarinya mengusap usap pipi sang istri, kulit nya begitu halus. Bryan ingin mendaratkan ciuman di sana namun sejujurnya dia juga tak kalah malunya ketimbang Maira.
Maira menggeleng.
" Aku sudah sangat mengantuk, aku juga sangat lelah" Tukasnya pelan. Kata lelah sangat dia tekankan kepada Bryan, bisikan Om Durjana masih menghantui pikirannya. Menjerit?? akh!! apakah sesakit itu??
" Ugh!! berhenti berpikir yang macam macam!!"
" Lho, kenapa kepalanya di toyor sendiri??" Melihat tingkah aneh Maira yang menoyor kepalanya sendiri membuat Bryan menyerngitkan kening.
" Nggak kok, aku hanya kelelahan" Kilahnya.
" Hup" Byan menggendong tubuh kecil Maira ala Bridal.
" Bryan!!" Maira memekik.
__ADS_1
" Katanya kelelahan, aku gendong kamu ke dalam ya"
" Tapi nggak udah di gendong begini!" Maira sedikit meronta.
" Emang kenapa??"
" Ya~~~`" Wajah Maira memanas, auto kaya kepiting rebus deh wajahnya sekarang.
" Aku___aku masih bisa jalan sendiri kok" Ujarnya tergagap.
" Kalo aku maunya gendong kamu, kamu bisanya apa??" Cuek dengan Maira yang berontak dalam gendongannya, Bryan membawa wanita itu masuk ke dalam dan merebahkannya di tempat tidur.
" B___bry__, kamu mau apa??"
" Menurut kamu??" Tanyanya menyibak helai rambut yang sebagian menutupi wajah cantik sang istri.
" Anu___" Jemari Maira memegangi kerah piyamanya dengan erat" A___aku__"
" Hupfffppphh!!, katanya kamu sudah lelah, aku cuman mau tidur sambil memeluk kamu" Bryan menarik bantal dan rebahan di samping Maira.
" Hah??"
" Aku juga kelelahan Sayang, boleh kan aku tidur dengan memelukmu seperti ini??" Terasa tangan yang melingkar di pinggang Maira semakin erat.
" Ku pikir dia akan___ck!! ini karena omongan Om Tunder!! pikiranku jadi aneh begini!!" Jerit hati Maira. Dia melepaskan pegangannya di kerah piyama yang dia kenakan.
" Bryan"
Tak ada sahutan.
" Bry!!"
Senyap~~~
Di tatapnya wajah Bryan yang kini tlah tertidur pulas di sampingnya.
" Hupffh!! untung langsung tidur" Maira bernapas lega. Perlahan dia bangun dan melepaskan sendal dari kaki Bryan, menarik selimut agar lebih naik menutupi tubuh Bryan.
" Kamu pasti lelah sekali hari ini, selamat tidur sayang" Ucapnya pelan membelai rambut hitam yang menutupi kening Bryan. Ada rasa ingin mendaratkan sebuah kecupan di kening sang suami. Namun Maira takut jika Bryan masih belum tertidur pulas.
Dia menggoyang goyangkan telapak tangannya di depan wajah Bryan, pria itu nampak benar benar tlah tertidur pulas.
Sedekat ini dengan Bryan, sungguh hal baru bagi Maira. Tak bisa di pungkiri pahatan sang pencipta pada wajah Bryan membuat Maira terpukau. Dia sangat tampan bahkan dalam keadaan tertidur seperti sekarang ini.
Tanpa Maira sadari jemarinya menyusuri wajah Bryan dengan jari telunjuknya.
" Cup" Mimpi indah Bryan" Ujarnya pelan setelah mendaratkan ciuman lembut di kedua mata tertutup Bryan.
Ujung bibir Bryan terangkat naik, kedua matanya terbuka dan itu membuat Maira sangat terkejut" Kamu belum tidur!!"
" Awalnya aku sudah tidur tapi rasa kantuk ku hilang ketika mendengar kamu memanggil sayang padaku"
" Kamu salah dengar"
" Nggak, aku nggak salah dengar kok"
" Aku mau cuci muka, mau sikat gigi juga" Maira menghindar. Bergegas dia meninggalkan Bryan dan masuk ke kamar mandi.
" Jangan di kunci!!" Seru Bryan.
" Kenapa??" Tanya Maira di muara kamar mandi.
" Aku juga mau sikap gigi"
Maira masuk tanpa mengunci pintu kamar mandi. Dia mencuci muka dan segera menyikat gigi. Bryan nongol di belakangnya, mengambil sikat gigi dan gelas yang ternyata sepasang dengan gelas di tangan Maira.
Maira menatap gelasnya dan gelas Bryan.
Kedua alis Bryan bermain main menatapnya sembari menyikat gigi. Maira lebih dulu menyelesaikan aktivitasnya, meletakan kembali sikat giginya ke dalam gelas.
" Ambilin piyama aku dong___sayang~~~~"
Kata sayang itu begitu sengaja Bryan ucapkan dengan perasaan. Maira senyum senyum di balik sikap cueknya.
" Ganti nya jangan di sini" Ujarnya ketika Bryan hendak mengganti bajunya dengan piyama di depannya.
" Kenapa??"
" Pake nanya!! " Pekik batin Maira.
" Nggak sih, terserah kamu deh. Aku tidur duluan ya" Nggak ada jalan lain selain menarik selimut dan menutupi wajahnya. Kedua bola mata Maira sempat melihat Abs yang hampir Bryan buka di depannya barusan.
" Aduh jantung!! bisa diem nggak sih!!" Dan sayangnya sang jantung sedang tak bisa di ajak kompromi saat ini. Dia terus saja berdetak dengan sangat keras, hingga kedua tangan Maira terasa panas dan dingin secara bersamaan.
Senyum kembali mengembang di wajah Bryan. Dia segera berganti pakaian dan menyusul Maira di tempat tidur.
" Sruk" Selimut yang menutupi wajah Maira kini terbuka.
" Jangan sembunyi, aku tau kamu malu tapi mulai saat ini kamu harus terbiasa dengan semua ini" Maira sedikit terkejut. Bryan memotong jarak di antara mereka. Bahkan napasnya terasa hangat di wajah Maira ketika dia berkata kata.
__ADS_1
" Aku nggak malu" Sahutnya. Kini pandangan mereka bertemu. Memerangkap pandangan satu sama lain hingga menimbulkan desiran aneh dalam hati mereka.
Bryan menelusupkan lengannya di bawah kepala Maira, membawa gadis itu semakin dekat kepadanya.
Hangat, Maira merasakan kehangatan berada dalam dekapan Bryan.
" Sayang, kamu capek banget??"
Maira mengangguk.
" Alamak!!" Pekik batin Bryan.
" Ya sudah, selamat tidur" Ucapnya akhirnya. Oke malam ini dia akan melepaskan Maira. Meskipun dia sangat ingin mengambil hak nya namun melihat dari wajahnya saja dia sudah tau bahwa Maira memang kelelahan.
Perlahan Maira yang merasa nyaman dalam dekapan Bryan pun tertidur. Berbeda dengan Bryan, tak bisa di pungkiri Bryan sangat menginginkan Maira malam ini dan hal itu membuatnya gelisah dan tak bisa tidur.
Wangi tubuh Maira yang begitu dekat dengannya membuat naluri jantan di dalam sana meronta ronta. Namun wajah tenang Maira dalam tidurnya membuat Bryan tak tega jika harus membangunkannya.
Pelan pelan dia menarik lengannya dan meletakan bantal di bawah kepala Maira.
" Sabar Bry!! masih banyak hari esok!!" Dia berusaha mensugesti diri sendiri. Menjauhi Maira, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
" Diem di sini ya guling" Bisiknya pada guling yang dia letakan di antara dirinya dan Maira. Mengusap wajahnya kasar, Bryan mengambil selimut lain dari dalam lemari dan bersiap untuk tidur.
" Buk!" Maira menendang guling dalam tidurnya. Gadis itu cukup aktif ketika tidur, hingga tak sengaja kancing piyamanya terbuka dua buah.
" Glek" Bryan menelan saliva. Sesuatu menyembul dari dalam piyama.
Bryan meraih gelas di nakas dan menuangkan air ke dalamnya. Meminumnya dalam tiga tegukan, semoga bisa menenangkan hasratnya di dalam sana.
" Bryan aku juga haus" Rupanya Maira terbangun mendengar air yang Bryan tuangkan ke dalam gelas.
" Yesss!! dia bangun sendiri!!" Hatinya bersorak gembira.
" Haus??"
Maira mengangguk.
Bryan meminum air namun tidak menelannya, tanpa Maira duga dia memberikan minum kepada Maira langsung dari bibir nya.
( Aku geleng geleng kalo bikin part beginian 😅)
" Glek" Maira menenggak minum yang Bryan berikan.
" Bryan" Ucapanya tersengal sengal.
" Maaf, aku nggak bisa menahan diri lagi" Sorot mata Bryan begitu sayu. Tatapannya penuh cinta, gadis di hadapannya ini benar benar membuatnya jatuh dalam rasa cinta yang mendalam.
" Aku mencintaimu, aku menginginkanmu. Sangat menginginkanmu"
" Aku juga mencintaimu" Ucap Maira dengan sorot mata penuh cinta pula.
( 😂 Maaf aku nggak kuat bikin part beginian!!)
Bryan mendaratkan ciuman lembut di bibir Maira, membuat gadis itu terhanyut dalam belaian Bryan. Ini kali pertama dia benar benar merasakan sebuah ciuman, yang kemaren sih Mairanya dalam keadaan nggak sadar diri kan. 😅
Tak hanya sampai di situ, Bryan mulai menjelajahi setiap jengkal tubuh Maira. Sentuhan lembutnya membuat Maira menggigit bibir menahan diri agar tak bersuara.
Gigitan kecil Bryan di dadanya akhirnya membuat des*han itu lolos dari mulutnya. Suara itu membuat Byan semakin menggila.
Bryan berdiri dengan dua lutut, sedangkan Maira pasrah berada dalam kungkungannya. Melepaskan piyama dari tubuhnya hingga Abs yang sempat mengintip tadi kini terlihat jelas di depan mata Maira.
Jemarinya menulusup ke belakang tubuh Miara, mencari pengait agar bisa melepaskan penutup berwarna hitam milik Maira.
" Bry"
" Hm?!" Bryan menciumi ceruk lehernya. Maira kembali mend*sah.
" Kenapa Sayang?" Tanya Bryan tanpa menghentikan aktivitasnya. Jemari itu kini membuka kancing piyama Maira. Perlahan melepaskannya dan teronggok di lantai.
" Aku takut" Cicit Maira.
Bryan menghentikan aksinya.
" Takut kenapa??" Tanyanya membelai lembut kepala Maira.
" Kata Om Tuder kalo____"
" Om Tunder??" Sambar Bryan. Di saat begini si Om Durjana itu tiba tiba nongol di pikiran Maira. Bryan jadi semakin kesal, hal aneh apa lagi yang Tunder katakan kepada Maira.
" Katanya sakit" Ucap Maira menahan malu.
To be continued.
Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.
20 Februari 2021.
Salam anak Borneo.
__ADS_1