Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 51


__ADS_3

****Ketika cinta yang ingin kau hapus tak berniat pergi dari hidupmu,


Ketika engkau yang lemah mampu bertahan sekedar melihat senyum tipisku,


Ketika hari hari nan suram kembali hangat dengan mendengar hela nafasku,


Ketika hati yang hampa terasa terisi dengan adanya balas rinduku,


Ketika cinta terus mengikat hatiku dan hatimu meski kita jauh,


Cobalah kau berbalik,


Tatap aku yang masih berdiri di sini mengharap maafmu.


Aku yang jatuh cinta padamu dalam hitungan ke tiga detik


Tak kan mampu berpaling darimu meski sang senja tlah berganti 3 kehidupan sekalipun****


❣❣❣❣


Maira tergesa gesa menyusul langkah Joe, mau kemana pria ini?? kenapa jalan yang dia ambil sama dengan langkah yang sedang Maira ambil juga???


Maira semakin bertanya tanya ketika Joe sampai di anakan tangga menuju kediamannya.


"Weh!!!, ngapain dia naik ke atas??"Bisik hati Maira.


Sempat terlintas pikiran buruk tentang Joe di benak Maira. Tapi....Joe kan temennya Lian sama Kaila, masa iya temen mereka berperangai buruk??


"Ck, dia hanya ingin nongkrong di atas bangunan ini kali"Pikir Maira menepis bisik bisik setan betina sisi lain dari hatinya.


Dari penampilan sangat nggak memungkinkan Joe adalah seorang pria mesum yang berniat masuk ke dalam kontrakannya.


Dari tutur kata pun Maira dapat menilai bahwa Joe adalah pria yang sopan dan sangat menghargai dirinya sebagai wanita.


Kebetulan kontrakan tunggal di atas memiliki halaman yang lumayan luas di sana, terkadang pelanggan yang hendak menikmati malam lebih dekat dengan sang bintang akan nongkrong di atas sana sekedar ngopi ngopi atau sembari menikmati makanan instan yang di jual di minimarket Kong Mansur.


Tapi_____


Joe mengeluarkan kunci dari sakunya. Membuka pintu kontrakan itu dan masuk dengan santainya.


"Penjahat!!!"Pekik Maira yang mengintip di anak tangga.


Kening Joe berkerut. Dia menatap arah suara yang memekik dari arah tangga.


Di sana nampak Maira jongkok memegangi dadanya, dia nampak panik.


"Mbak buket"Ujar Joe terkejut. Apa yang membawa mbak buket ini ke sini.


"Hai kamu!, kenapa bisa masuk ke dalam rumah ku!"Maira memberanikan diri bertanya dengan berani kepada Joe. Jika pria ini menyerangnya dia akan berteriak sekuat hati. Ah...Keano ada di bawah, dia hanya perlu berteriak lantang memanggil nama sahabatnya itu.


"Aku tingggal__"


"Berhenti!!"Pekik Maira. Dia gugup ketika Joe mulai maju mendekatinya.


"Ini rumahku!"Ucapnya tegas.


"Mbak buket!!!aku tinggal di sini"Jelas Joe.


"Hei ini kedimanku!aku tinggal di sini dengan teman cewekku!!"Sentak Maira galak. Kedua mata bulatnya seakan hendak melompat keluar menatap Joe.


"Kamu salah! aku tinggal di sini dengan teman cowok ku!"Joe tak kalah ngototnya di bandingkan Maira. Dia tak takut membalas tatapan galak yang Maira hujamkan ke dalam matanya.


"Penguntit!"


Joe naik darah. Seumur umur dia nggak pernah mengalami hal seperti ini. Dia anak baik, dia juga sangat menghargai perempuan meskipun otak nya kadang traveling kalo di goda goda Vino tentang gadis bohay. Tapi semua itu hanya sebatas dalam angannya saja, dia nggak seberani itu untuk menjadi seorang penguntit yang merugikan perempuan.


Kunci!!Joe teringat akan kunci rumah yang dia miliki.


"Dih, aku punya kunci rumah ini. Atas dasar apa kamu menuduhku seorang penguntit??"


"Aku juga punya kunci rumah ini"Maira merogoh saku celananya. Mengeluarkan kunci yang sama seperti yang di miliki Joe.


Krik....krik...krik....mereka hening beberapa waktu. Coba menepis ego masing masing dan berpikir jernih tentang apa yang sedang mereka alami.


"Kamu udah lama di sini??"Joe lebih dulu bertanya.


"Baru beberapa hari, kamu??"


"Sama sih,emmm____siapa nama yang punya kontrakan??"Tanya Joe ingin lebih memastikan.


Maira hendak menjawab namun Joe menahannya.


"Kita jawab sama sama, jika aku atau kamu yang salah menyebutkan nama pemilik kontrakan ini maka dialah penguntitnya.


"Oke!"Maira yakin dia nggak salah.


Begitu pula dengan Joe.




. . .




. . . .




. . . . .

__ADS_1




"Kong Mansur!!"Ucap mereka bersamaan.


"Jadi kamu beneran penghuni kontrakan ini??"Maira terhenyak mendengar jawaban Joe. Nampaknya dia memang sang penyewa yang di katakan Kong Mansur beberapa hari yang lalu. Sebelum Maira masuk ke kontrakan itu Kong Mansur sempat cerita kalo di sana Maira bakal ada temennya.


Si Engkong juga cerita sama Joe, tapi dia nggak bilang kalo mereka berbeda jenis"Jadi...yang di bilang Kong Mansur tentang teman serumah itu kamu??"Joe masih tak percaya dengan kejutan yang di berikan Kong Mansur padanya. Dia jomblo, kaga pernah pacaran sekali pun sepanjang hidupnya. Eh sekarang, tiba tiba dia harus berbagi tempat tinggal dengan sorang gadis yang manis dan cantik seperti Maira??? Heiii....Tuhan, kau terlalu baik kepadaku!!


Di tempat lain si Ibu sama Bapak sudah hampir sampai pada tujuan mereka. Kang mata mata yang di bilang paling oke itu sedang menunggu mereka di persimpangan kota.


Tak tanggung tanggung, si Ibu sama Bapak datang dengan mobil pick up pribadi mereka.


"Set dah, ini emak emak datang ke kota mau nengokin anak apa mau jualan sayur sayuran??"Gumam si mata mata ketika mereka tlah sampai di tempat janjian bertemu. Pick up mereka penuh dengan bahan pangan dan beberapa perlengkapan rumah tangga. Burhan sempat terkekeh melihat bekal mereka ke kota.


"Nak Burhan??"Ujar Ibu menatap lekat lekat wajah si mata mata. Hari sudah gelap ketika mereka sampai dan bertemu Burhan. Penglihatan Ibu yang sudah rada rada rabun menatap Burhan dari atas sampai ke bawah demi memastikan apakah ini benar sang mata matanya.


"Iya tante"Sahut Burhan langsung salim tangan dengan kedua orang tua Maira.


"Wuidih....sopan bener ni bocah, udah punya cewek belom??"Ayah terpesona pada pandangan pertama kepada Burhan. Sikapnya yang sopan pada orang tua membuat Ayah menimbang nimbang kepantasan Burhan menjadi menantunya.


"Hehehhe, saya mah jones om"Burhan nyengir.


"Jones???"


"Jomblo ngenes Yah"Jelas Ibu menilik wajah tanda tanya sang suami.


Ayah dan Ibu saling berpandangan. Ada makna tersirat di sana. Udin udah nikah, masih ada Burhan yang bakal mereka jodohkan dengan Maira. Mungkin kemaren Maira menolak Udin karena dia pemuda kampung, kalo Burhan kan cowok kota. Begitulah isi dalam pikiran Ayah dan Ibu Maira.


❣❣❣❣


"Ngapain buang buang waktu di sini??mending kamu samperin Maira nya"Kata kata Lian terus terngiang di telinga Bryan.


Dia bergegas mandi, benar apa yang di katakan Lian. Baru di suruh pulang dari kediaman Maira saja dia sudah patah hati, gimana Lian yang bertahan mencari Kaila dan menunggu dalam ketidak pastian bertahun lamanya.


"Oke, kalo ini aku setuju dengan saran manusia menyebalkan itu"Gumamnya sembari menyelesaikan ritual mandinya.


Memang benar, nggak seharusnya dia pergi ketika Maira mengusirnya. Wanita itu kalo bilang nggak marah berarti marah, kalo nyuruh pergi berarti nggak mau di tinggalin. Begitu sih ilmu yang Bryan dapat dari Lian sang master cinta.


"Mau balik ke panti Nak??"Tanya Tuan Odet ketika melintasi kamar Bryan.


"Bukan Pah, Bryan masih mau tinggal di sini sama Papah"Sahutnya menyemprotkan parfume ke udara dan berputar di bawahnya.


Parfume??? meskipun berpakaian casual namun tak menampik bahwa Bryan lumayan berdandan malam ini. Hendak kemana anak lelakinya ini??


"Jangan terlalu malam, ingat besok pagi kita ada pertemuan"Ujarnya mengingatkan Bryan akan tugasnya besok pagi. Dia berharap banyak kali ini terhadap anak lelakinya itu, berhadapan dengan si kembar dari keluarga Abraham... dia yakin Bryan pasti bisa.


"👍 siap Pah, Bryan akan berusaha semaksimal mungkin"


"Hm..."Gumam Tuan Odet mengiringi langkah Bryan keluar rumah. Tak berapa lama terdengar suara mobil milik anaknya itu perlahan meninggalkan kediaman mereka.


Berdebar, rasa itulah yang tengah menghantui Bryan saat ini. Kali ini semarah apapun Maira kepadanya dia tak kan melangkah mundur. Kalo perlu dia bakal langsung mencari alamat kedua orang tuanya di kampung dan melamar gadis itu tanpa sepengetahuannya. Terkesan egois bukan?? tapi hal itu akan benar benar dia laksanakan jika permintaan maaf nya terus di tolak Maira.


❣❣❣❣


"Berdoa saja semoga mereka berjodoh"Sahut Lian nampak sibuk berkutat dengan laptopnya


Kaila melenguh mendapati Lian terlihat begitu serius dengan kerjaan kantornya. Meski pun cuti dia masih saja kebagian kerjaan dari dua cecunguk pewaris Trifam. Vino dan Fatur kebanyakan nge game nih jadi Lian yang masih dalam masa cuti pun kebagian kerjaan.


Wanita itu meletakan ponselnya di meja dan merebahkan diri di karpet berbulu tempat Lian sedang bekerja.


"Yank___"Dia menarik ujung kaos yang Lian kenakan.


"Hm"Begitulah sahutan pria itu jika dia sedang fokus bekerja.


"Kemana kita bulan madu??"


"Nggak usah bulan madu ya"Sahutnya santai.


Bibir Kaila mengerucut, dia pikir Lian bercanda ketika mengatakan bahwa mereka nggak akan bulan madu tempo hari.


"Ku pikir cuman di tunda doang, ternyata beneran"Wanita itu membenamkan wajah ke bantal berbentuk hati di kepalanya.


Nggak asik! Kaila beranjak hendak meninggalkan Lian.


Namun dia terhenti, tangannya di genggam Lian dan menariknya kembali duduk di sebelahnya.


"Di tunda doang kok sayang"Ucapnya menatap Kaila. Menarik sudut bibir mbak istri agar membentuk sebuah senyuman di wajah manisnya.


Dan benar saja, tanpa bantuan jemari Lian senyum yang sebenarnya tlah terukir di wajah Kaila"Beneran Yank??"


Lian mengangguk, juga dengan senyuman.


"Hemmmm, makasih sayangku!!!"Sebuah pelukan menjadi hadiah atas apa yang Lian ucapkan.


"Tapi Yank, jari aku capek lho"


"Oh gampang, pijatan mbak istri akan mengusir semua lelah di jemari anda Pak Lian"Kaila begitu antusias meregangkan jemari jemari Lian yang sedari tadi nampak sibuk menari nari di atas laptop.


"Ini juga capek sayang"Lian mengendikan bahu.


Kaila meletakan tangan Lian dengan sangat hati hati, dia berpindah pada pundak Lian dan melancarkan pijatan di sana.


"Jadi gini kalo ada maunya"Lian tersenyum menikmati pijatan dari jemari lembut sang istri.


"Udah jago nyenengin suami ya"Timpal nya.


"Iya dong, nanti pas bulan madu giliran kamu yang nyenengin aku ya"


"Gampang"


"Iya emang gampang, siapin black card kelar deh"Celoteh Kaila tertawa penuh kemenangan.


Lian hanya mampu ikut tertawa memahami maksud dari kata kata Kaila. Ni cewek udah pasti bakal shopping gila gilaan saat liburan bulan madu nanti. Demi Kaila apa aja di kasih deh.

__ADS_1


❣❣❣❣


Joe menarik selimut hello kitty yang di berikan sang Mamah padanya ketika hendak hijrah ke kota ini. Kalo bukan pemberian sang Mamah dia mah ogah banget pake tu selimut.


"Gara gara selimut itu, aku begitu yakin teman serumahku adalah seorang wanita"Gumam Maira ketika Joe melewatinya masuk ke dalam kamar nya.


"Eh, gara gara boxer item itu, aku juga jadi yakin kalo teman satu rumahku ini cowok"Ketusnya merasa terhina dengan sindiran Maira. Gadis itu bahkan tertawa mengejek selimut hello kitty dalam dekapannya.


"Itu bukan punya aku"Sanggah Maira.


"Masaaaaa???"Ledek Joe sangsi dengan ucapan Maira.


"Sumpah, itu boxer pegawai marker di bawah. Kemaren dia yang bantuin aku pindah ke sini, sekalian numpang mandi di sini dianya"


Joe manyun. Ugh!!Mamah sih segala di kasih selimut hello kitty. Pinky begini pula.


"Udah lah nggak usah malu malu lagi, aku juga nggak akan ngeledekin selimut kamu lagi kok"Tuturnya bersiap masuk ke kamarnya.


"Bagus deh, ini pemberian Mamah aku. Inget!! ini hanya kenang kenangan dari Mamah aku"Joe lebih menekankan perihal selimut itu.


"Iya iya,btw aku Maira"Ucap gadis itu. Jika di ingat ingat mereka belum sempat berkenalan sedari pertama bertemu.


"Aku Joe"Sahut Joe semakin masuk ke dalam kamarnya.


Tok tok tok!!!


Saat itu pintu kontrakan di ketuk.


"Siapa, kamu nungguin seseorang??"


Miara menggeleng"Itu pasti Bryan"Gumam Maira.


"Kamu deh yang bukain"


"Kenapa nggak kamu aja??"


"Kamu ternyata bawel ya!"Gerutu Maira segera membuka pintu dengan Joe mengekor di belakangnya.


"Lah ngapain ikut??"


"Yah kali aja temen temen aku"Sahut Joe masih dengan selimut hello kitty nya.


"Pak Vino??"Tanya Maira.


"Juga Fatur mungkin, atau Lian"Sahut Joe.


"Waduh, gimana kalo beneran temen temen kamu??, kamu aja deh yang bukain. Ntar aku di bully gara gara serumah sama kamu!"


"Kamu pikir aku suka serumah sama kamu??"


"Eh, mau menghina??"Sentak Maira.


Tok tok tok!!


Pintu kembali di ketuk.


"Kamu bukain deh!"Joe mundur.


"Nggak!"Maira menolak.


"Spadaaaa~~~~"Panggil seseorang di luar sana.


"Bukan suara Vino, juga bukan suara Fatur. Apalagi Lian"Tukas Joe.


"Kamu aja yang buka"Joe tetap menyuruh Maira yang maju.


"Sama sama"Pinta Maira.


"Hm!"


Cekrek!!!!


Pintu terbuka. Maira berada di depan sementara Joe mengikuti dari belakang.


"Kejutaaannnn!!!!!"Ibu dan Ayah berdiri di depan pintu bersama Burhan.


Begitu banyak barang yang mereka bawa dari kampung. Mulai dari perabot dapur, selimut dan kawan kawan, sayur mayur juga buah buahan. Tak lupa 2 ayam yang tlah di undi Ibu kini terkoak koak terkejut karena teriakan Ayah dan Ibu ketika Maira membuka pintu.


"Ibu!!!Ayah!!!"Pekik Maira dengan rasa nano nano. Ada bahagia, ada duka, ada gelisah. Gimana kaga gelisah. Joe berada di belakangnya. Dia bersama lelaki bukan mahrom ketika kedua orang tuanya datang bertandang ke kediamannya.


"Tuhaaaannnnnn!!!tolong akuuuu!!"Jerit hati Maira saat itu.


"Nak!!!, siapa lelaki ini??"Dan dugaan Maira benar! Ayah terkejut mendapati Joe berada di dalam kontrakan anak gadisnya.


Ibu melepaskan pelukannya bersama Maira.


"Nak!! kamu tinggal sama cowok??"


Gadis itu panik. Dia bingung harus memulai dari mana.


"Jadi cowok ini yang bikin kamu minggat dari rumah??"Hardik Ayah.


"Bukan___"Merasa terpojok, Joe jadi ikutan panik seperti Maira.


"Pulang nak!! kamu bikin Ibu sama Ayah malu"Lengan Maira di tarik Ibu dengan paksa.


Ayah menarik Joe keluar dari kontrakan"Kamu juga ikut, sejak kapan kalian kumpul kebo??ayok kalian nikah aja di kampung"


Burhan serba salah. Buru buru dia memanggil Keano di bawah. Terjadi kesalah pahaman di sini dan dia nggak tau harus berbuat apa.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.


20 Desember 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2