Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 6


__ADS_3

***Sebuah cerita yang tertinggal dalam dingin.


Setiap momen saat itu jelas bagiku,


Seperti dalam dongeng aku ketakutan di tinggal sendiri,


Dengan hati yang terhenti aku mencoba melepaskanmu,


Berharap akan dapat menemukan celah untuk bernafas dan menyambung hidupku.


Tapi..


Seperti inilah kita kembali bertemu,


Dan kita kembali bertemu di saat aku nyaris menghapusmu,


Melewati waktu yang menyakitkan dan bertahan hidup karena kehilanganmu***.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Dua pria yang memiliki daya tarik masing masing masih terlibat dalam bercakapan pelik. Mereka berpakaian rapi dan berkelas, jika di pandang sekilas mereka nampak seperti sedang rapat urusan pekerjaan sembari sarapan, padahal....ketika berpandangan mata mereka bisa saja memancarkan percikan api pertanda adanya persaingan ketat di antara mereka.


Lian dengan jantung berdebarnya masih terlihat santai di mata Bryan. Berdebar namun santai?? Hey hati siapa yang nggak berdebar hebat setelah setahun lebih baru bertemu dengan kekasih yang selalu di rindukan??


Namun pertemuan mereka ternyata melibatkan lelaki lain di antara mereka, jelas Lian harus bersikap santai dalam menghadapinya. Lagian sejak kehilangan Kaila dia memang sudah terbiasa santai dan kalem meskipun hatinya sedang kalut ataupun bahagia sekalipun.


" Jadi....kau mengakui bahwa dia adalah Kaila??". Ucap pria berlesung pipit itu sembari bersandar di sofa kedai.


Berbeda dengan lawan bicaranya yang terkesan panik." Entahlah". Bryan tertunduk. Percuma dia berkilah, perasaan Lian nggak bisa dia helat.


Mendengar tanggapan mencebik Bryan seketika taring Lian memaksanya bertindak sedikit garang. Lian berdiri dan menarik kerah kemeja Bryan, Pria di depannya ini sungguh membuatnya geram. Dia terlalu kentara hendak mengibulinya, caranya berkilah dan berkelit memicu emosi Lian.


" Oke!!, oke aku akan jelas kan dari awal". Kedua tangan Bryan mengambang di udara. Dia menyerah pada keadaan. Tapi apapun itu dia akan tetap mempertahankan Syila.


" Bruk!!" Lian melepaskan cengkeramannya sembari tertawa. Yess!! aku menangπŸ’ͺπŸ’ͺ.


" Aishhh!!, Nyaris saja wajah tampan mu ini aku ukir dengan darah". Ucapannya terdengar sadis, untung saja mereka adalah tamu pertama di kedai itu, dan para pelayan juga berada di counter depan jadi obrolan berat dan cekcok mereka nggak terdengar jelas. Hanya saja aksi tarik kerah kemeja Bryan yang di lakukan Lian sempat membuat para pelayan terkejut.


Untung saja Lian tertawa dengan raut ramah ketika menjatuhkan tubuh Bryan di sofa " Owh..becanda doang mereka cuy!!". Ucap para pelayan lega.


" Tapi Lian, ini sudah waktunya aku ke kantor".


" Oke nanti siang kita makan bareng!". Sambar Lian. Dia juga menyadari jarum jam sudah hampir melewati angka 8.


" Ehem..!" Bryan memperbaiki letak dasinya.


" Set!". Lian mengambil alih.


" Kamu...harus menceritakan semuanya, bahkan jika ada peran seorang semut pun kamu harus menceritakannya kepadaku". Setelah membenarkan letak dasi Bryan dia menepuk kedua pundaknya dan menatapnya tajam.


Entah kenapa Bryan yang biasanya tegas dan dapat menghadapi setiap masalah dengan santai kini bak singa yang kehilangan taringnya.


" Ya". Sahut Bryan singkat. Dia tak ingin terlihat lebih memalukan di hadapan Lian. Lebih baik dia menenangkan diri dahulu sebelum nantinya akan banyak berbicara kepada Lian.


" Tapi aku punya 1 syarat". Pintanya.


" Hm??". Lian kembali menatapnya.


" Karena Syila tak mengenalimu jadi jangan membuatnya bertambah bingung, aku akan memberikan alasan yang tepat atas prilaku mu kepadanya tadi".


" Dia mengenalku dengan baik". Tegas Lian.


" Dulu!! sekarang tidak kan??". Bryan balas menegaskan.


" Cih!! bilang saja kamu ingin mencuci otaknya lagi??" Cibir pria yang kini banyak bicara.


" Aku nggak sepicik itu Lian". Sanggah Bryan, mimpi apa dia semalam hingga hal memalukan ini terjadi di awal harinya.


Lian kembali melancarkan serangan halus menyindir Bryan." Oh ya?? jika di pikir pikir bukankah ini pertemuan kedua kita?? dan kita sudah terlibat dalam masalah yang sangat pelik bukan??? nampaknya kita akan mengukir cerita yang sangat menarik bukan??".


" Mungkin tidak mungkin juga iya, tapi ingat aku akan menjelaskan segalanya tapi bukan berarti aku akan menyerahkan Syila kepadamu". Tukas Bryan menyabet ponselnya di atas meja dan berlalu meninggalkan Lian.


" Bryan!!". Panggil Lian ketika lawan bicaranya baru sedikit menjauh darinya.


Tubuh tegap Bryan terpaksa berbalik lagi.


" Ingat janji makan siang kita ya". Ujar Lian sembari melambaykan ponselnya pada Bryan. Tentu saja dengan senyum mengembang pertanda puas dengan kemenangannya.


" πŸ‘Œ". Begitulah cara Bryan membalas. Benar yang di kata orang, berurusan dengan Lian sangatlah pelik. Dia nampak tenang namun menyerang langsung pada intinya.


Lian pun berjalan meninggalkan kedai, nampak di seberang sana Bryan sedang berbicara dengan Syila. Mereka terlihat akrab, duduk di kursi depan toko bunga yang memang di sediakan untuk bersantai atau sekedar berbincang seperti mereka sekarang.


" Heh, nikmati saja dulu masa masa terakhirmu dengan Kaila". Ujarnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut. Namun Lian masihlah Lian yang dulu, dengan santai dia membunyikan klason dan berdadah ria kepada Bryan.


" Asem!! sok akrab pula tu orang. Dasar gila!" Gerutu Bryan dalam hati.


Interaksi mereka membuat Syila penasaran " Jadi Kak Bryan temenan sama tu orang??".


" Bisa di bilang begitu sih, lebih tepatnya baru berteman. Kenapa emang?? kamu kenal tu orang". Dia coba menyelidiki Syila, mungkinkah Syila mengingatnya ??


Bahu gadis itu mengendik " Enggak!!, aneh begitu".


Seulas senyum mengembang di wajahnya, ada rasa lega dalam diri Bryan.


" Terus Kak, kok dia mengaku tunangan Syila??, aneh banget kan dia". Syila yang penuh rasa penasaran terus bertanya pada sang Kakak.


" Kamu sih makanya punya muka jangan pasaran, jadi di kira tunangan dia kan". Goda Bryan. Dia menyenggol lengan Syila dengan lengannya.


" Ini muka turunan Mamah tau, Kak Bryan kan yang bilang gitu!". Tunjuknya pada batang hidungnya sendiri untuk membela diri.


Syila benar, dia pernah bertanya tentang sang Mamah yang kata Bryan tlah tiada. " Ngaca deh, muka Mamah ngejiplak di muka kamu tuh". Begitu kata Bryan dulu.

__ADS_1


" Heheheh, Sorry deh. Canda doang dek!".


" Kak Bryan yakin tunangan dia pasti cantik, kan mirip kamu".


" Hihihi, Candaan anda garing Tuan Bryan". Ledeknya.


" Makanya jagain tu muka jangan sampe lecet, dih gemes deh sama muka pasaran gini". Bryan mencubit kedua pipi adik tersayang.


Kedua tangan gadis itu spontan memegangi pipinya " Au nih muka, kemaren juga gitu kan. Yang di pinggir sungai kemaren kak, masih inget nggak sih??".


" Iya iya, dih bawel. Tapi tenang deh dia nggak akan ngaku ngaku lagi deh".


" Bener Kak??, syukur lah, bisa berabe kan kalo di sangka udah tunangan. Syila kan belom pernah pacaran boro boro tunangan". Tuturnya polos.


" Wuuuu, emang cowok idaman kamu kek gimana sih? jangan bilang kaya orang tadi ya!". Tunjuk Bryan pada arah perginya Lian.


Gelak tawa renyah keluar dari seorang Syila " Hahaha kalo nggak aneh boleh juga sih Kak". Tak lupa dia mengedipkan sebelah mata pada Bryan, kecentilan banget kan dia.


Jawaban bercanda Syila sempat membungkam mulut Bryan...


"____, emang___ dia masuk kriteria cowok idaman kamu dek??". Tanyanya berusaha santai namun nyatanya berucap tersendat sendat.


" Hihihihi...wangi kak".


Blushhh, pipi gadis itu merona. Dia cengar cengir membayangkan berada dalam pelukan Lian tadi.


" Syila di peluk lho tadi kak 😳". Ujarnya malu malu. " Rasanya nyamaaaan banget, sayang tu orang rada miring".


" Dih maen peluk peluk aja". Sentak Bryan


" Hisss!! pantas saja bilang segala wanginya Syila, kampret tu Lian!!". Lagi..batin Bryan merutuk Lian.


Di pandanginya Syila yang masih senyum senyum mengingat Lian.


" Katanya aneh, tapi kok merona begini mukanya". Tegurnya.


" Apa ya Kak, sulit di jelasin deh,, eh btw dia bilang Syila jangan marah lagi sama dia. Emang ceweknya kabur dari dia Kak??".


" Lah...mana Kakak tau, kenal aja baru". Obrolan mereka mulai memicu rasa kesal Bryan. Hiss secinta apa sih Syila dulu sama Lian sampai pas hilang ingatan aja dia masih tertarik kepadanya bahkan di saat pertama kali mereka bertemu kembali.


" Wangi banget Kak, nih wanginya lengket di baju Syila tuh". Dia menyodorkan lengan kemejanya kehidung Bryan.


" Bwekkk!!, ini mah parfume KW dek!!". Hinanya 🀣.


" Masa sih Kak?? wangi gini kok di bilang KW!".


" Dueileh...kalo masalah wangi Kak Bryan jauh lebih wangi kali dek".


" Nggak Akh, Kak Bryan mah B aja wanginya". Ujarnya santai.


Kini hidung Syila jadi sasaran empuk cubitan Bryan." Hidungnya perlu di gencet dulu nih biar normal!!


" Aw aw...". Pekik Syila menepuk nepuk tangan Bryan yang begitu betah menarik hidungnya.


"_____, Hah...rahasia oh rahasia". Gumam Nyonya Sook menghela nafas.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


" Morning boskuuuuu" Jerit Dion berlarian menghampiri Lian. Tumben banget bos Lian telat ngantor.


" Ada yang nggak beres bos?? kok telat?? ban mobil kempes bos?? abis bensin bos?? kok nggak nelpon saya sih kan saya bisa samperin bos".


Lian cuek dan tetap melangkah ke area Divisi penjualan.


" Kita rapat pagi". Ucapnya sembari memasuki ruangannya.


" Pak Lian kita sudah rapat pagi Pak". Jawaban Dion menghentikan aktivitas Lian.


" Hm...??". Ujarnya dalam tanya.


" Kan bapak datangnya telat, jadi Pak Riley yang memimpin rapat pagi ini sekalian memeriksa laba perusahaan bulan ini".


" Hmmm...". Lian sedang dalam pose berpikir dengan jari telunjuk di dagunya πŸ€”...


" Oke lah, aku nggak usah repot repot bikin laporan lagi kepadanya".


Dion manggut maggut dengan pose yang sama dengan Lian ." Iya Pak, bener banget tuh".


Lian berucap lagi, " Jadi aku udah nggak ada kerjaan kan??".


" Hah??" Dion bengong." Maksudnya Pak??".


" Kan Papah udah tau laporan bulan ini, jadi aku free kan??".


" Nanti siang ada pertemuan sama Klien kemaren Pak, yang kita menangkan dari Brander company".


" Katanya di undur besok". Sahut Lian.


" Eh iya ding, sorry Pak lupa. Padahal saya yang ngasih tau ke Pak Lian ya".


" Otaknya di mana sih??".


Dion kesal dengan ucapan Lian, pake bawa bawa otak pula " Tertinggal bersama kenangan pahit Pak".


" Beh ketahuan sekarang kalo otak kamu tuh nggak guna". Lian semakin lancar menghina Dion.


" Lho.." Dion nggak ngerti dengan ucapan Lian. Bener nih dugaan Lian otaknya Dion kayanya lagi jalan jalan. Dari tadi ngomong tapi dianya nggak cepat tanggap gitu.


" Kan mantan itu sesuatu yang nggak berguna lagi".." Iya kan??". Lian menegaskan.


" Oh...." Barulah dia mengerti. " Sadis bener congor ni orang". Umpatnya dalam hati.

__ADS_1


" Terus si Bapak galau menahun sampe sekarang karena siapa Pak?? mantan juga ka??". Sindir Dion mencoba menyerang balik Lian.


Tatapan Lian seketika berubah " Bukan mantan ya, aku nggak ada mantan ya!".


Dion sang pemilik mulut nggak berakhlak ini tersadar dengan kelancangannya. " Maaf Pak, saya keceplosan".


Lian menghela nafas, " its okay, saya sudah terbiasa dengan mulut lucknat kamu".


" Udah deh saling nyinyirnya, berarti sekarang saya bisa libur kan. Suka suka saya kan??" Tandas Lian.


" Iya juga sih Pak, tapi tentang Pak Vino___".


" Nah!! itu yang belum selesai, dia udah tanda tangan kan surat pemindahannya??".


Dion geleng geleng. Wajahnya tiba tiba kek orang banyak beban derita.


" Selow Dion, aku yakin kamu bisa meyakinkan Vino. Aku mau balik ke rumah, kamu urusin Vino ya". Seringai Lian.


Mendadak kepanikan merajai Dion " Pak Lian ..., kok gitu sih Pak". Kedua tangannya menggaruk garuk kepala tak gatalnya.


" Nanti sore udah harus di tanda tangani ya!" Lagi. Senyum liciknya memangkas semangat Dion hari ini.


" Akh!!, selamat di lubang buaya malah masuk ke kandang singa 😭😭". Jerit Dion tersedu sedu meratapi nasibnya.


" Kwkwkkwkw kok garuk garuk kepala sih Dion". Tegur karyawan lain.


" Au ah gelap 😭😭😭". Pekik Dion kembali tersedu sedu.


" Pak Liannnnn". Apalah daya, jeritan Dion nggak membuat pria dingin itu berbalik. Dia malah sudah menyalakan mobilnya dan melaju ke jalanan meninggalkan perusahaan.


Dengan tersungut sungut Dion bangkit dari lantai, meratapi nasib sambil lesehan di ubin nggak enak banget kan. Mending dia mikir deh kek gimana menghadapi Vino.


Dia teringat akan Pak Hermanto, gimana kalo dia minta tolong sama bos baik hati itu aja!".


Langkahpun membawanya ke ruangan Pak Hermanto, Ayah dari Vino. Kebetulan Pak Hermanto memiliki waktu luang hingga dia bisa mencurahkan segala keluh kesahnya tentang Lian dan Vino.


" Itu sih sama aja dengan misahin Vino sama bininya Dion". Ujar pria baruh baya itu.


" Terus saya harus gimana dong Pak, kalo begini mah saya bingung banget. Istilahnya saya berdiri kejedot, saya duduk malah encok, nggak enak banget kan Pak". Celotehnya panjang lebar.


" Hahaha, kasihan amat sih kamu. Nanti deh saya ngomong sama Vino dulu".


" Tapi Pak Lian meminta kepastian Pak Vino nanti sore Pak". Desaknya. Untung saja dia sedang berhadapan dengan Hermanto yang baik hati dan tidak sombong, jadi sikap kurang sopannya ini dapat di makhlumi.


" Ada pilihan lain nggak??".


" Kalo Pak Vino menolak___,". Dion memutus kata katanya.


" Kamu yang bakal ke Jepang, ya kan". Terkaan bos besar itu benar 100%.


" Hick hick...gimana dong Pak?? saya nggak mau ke Jepang. Ntar dapat bini orang sana, saya cinta produk indonesia Pak" Rengeknya kek anak kecil.


" Dih PD binggo, cewek Jepang punya standar keren kali memilih cowok. Modelan kaya kamu mah nggak masuk dalam hitungan mereka". Ikbal udah nggak tahan ikutan menimpali ocehan sahabat sesama asistennya ini.


Dion cemberut menatap Ikbal.


" Hahahha dasar si Lian bisa banget bikin kamu senam jantung, Liannya panggil ke sini deh". Pintanya.


" Pak Lian udah balik Pak, nggak jadi ngantor dia".


" Nah lho...nanti saya telpon deh, terus kamu ngapain kalo bos kamu nggak ada di sini??"


" Terserah Bapak deh, saya ngikut Pak Hermanto aja hari ini sebagai ucapan terimakasih".


" Saya sudah punya Ikbal kok yang siap memenuhi keperluan saya".


Ikbal dengan senyum terlebarnya menatap kasihan kepada Dion, sahabat seperjuangan ketika menjadi pelamar di perusahaan Trifam ini.


" Hick hick saya nggak di harapkan di mana mama ya Pak, nasib saya kok apes banget sih". Dion merutuki dirinya sendiri. Tingkahnya membuat Ikbal yang berdiri di depan pintu terkekeh geli. Untung saja dulu dia nggak di tempatkan pada posisi Dion, bisa mati berdiri dia kalo tiap hari harus kaya Dion.


Dengan langkah lunglai Dion pamit diri dari ruangan itu.


" Bro..nanti siang makan bareng yok!". Ajak Ikbal merangkul pundak Dion.


" Tanggal tua Bro". Lengkap sudah derita Dion.


" Jadi kamu makan siangnya gimana??"


" Biasanya nebeng Pak Lian, tapi hari ini dia kaga ada kan. Puasa deh makan siangnya 😭". Sahutnya lagi.


" Gkgkgkgkkgkg". Ikbal ngakak so hard.


" Ambil deh makanan di kantin sepuas hati kalian, hari ini saya yang traktir kalian". Seru Pak Hermanto.


" Hick hick...😭😭 Ikballl tukeran atasan yookkk". Pekiknya kembali tersedu sedu. Dasar asisten gak ada akhlak baru sehari di tinggalin Lian dia udah melirik atasan yang lain. Padahal dingin begitu Lian nggak pelit lho.


Merasa posisinya di incar sang sahabat Ikbal sontak berseru geram kepada Dion" Ogahhhh!!". Sahut Ikbal menekan pundak Dion dan bergelutlah mereka di ubin perusahaan. Ckckckckck 🀧


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


.



Lian Gulzar Althario.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen πŸ˜‰.


10 September 2020.

__ADS_1


Salam anak borneo.


__ADS_2