Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 25


__ADS_3

***Aku tak percaya akan takdir di masa lalu,


Sama seperti aku tak percaya bahwa langit penuh bintang dan bersalju bisa muncul pada saat bersamaan.


Sampai akhirnya aku bertemu denganmu,


Aku pun mulai percaya,


Bahwa setiap saat yang ku habiskan bersamamu...


Itu semua telah terikat dalam sebuah takdir.


Aku ingin melihat salju bersamamu,


Berjalan bersamamu,


Menjadi sandaranmu,


Menemanimu memenuhi setiap impianmu,


Kita akan menua bersama,


Lalu hal hal kecil di sekitar kita akan perlahan berubah.


Namun....


Sampai kapan pun aku kan tetap tinggal bersamamu seperti bintang.


Seperti abadinya cintaku kepadamu yang tak kan pernah berubah.


Cantik ku...


MENIKAHLAH DENGAN KU***


💖💖💖💖


keputusan Lian untuk secepatnya menikahi Kaila kini semakin mantap. Setelah mempertemukan Kaila dengan sang Mamah, kini atas dasar paksaan dari sang Mamah pula dia akhirnya mempertemukan Rilley dengan kekasihnya yang merupakan saksi pertama perselingkuhan sang Papah.


Keterkejutan Rilley mendapati Kaila kini hadir di hadapannya tak di hiraukan Lian.


"Kami akan menikah secepatnya"Ujarnya datar.


"Apa pun itu asal kau bahagia Papah akan merestui"Tukas Rilley. Setidaknya Lian tak melangkahi restunya sebelum benar benar sampai di jenjang pernikahan.


Jam makan siang


Makan siang bersama yang kerap mereka lakukan setelah akhirnya bersama lagi seakan menjadi ritual yang harus mereka jalani bersama, seperti siang ini. Kaila mengabaikan pesan dari Bryan yang mengajaknya untuk makan bersama. Meski sang Kakak bersikeras memaksanya untuk menemaninya namun Kaila tetaplah Kaila, dia bukan lagi Syila yang selalu manut dan patuh terhadap sang Kakak.


📨:"Sorry banget Kak, Kaila udah janji sama Lian mau makan siang bareng"


Pesan di kirim. Ada sedikit iba tersemat di hati Kaila, namun....Bryan bukan bocah yang bakal menangis bombay hanya karena nggak di temenin makan siang kan.


Cukup lama pesannya tak mendapat balasan.


Hingga ketika mobil hitam milik pria berlesung pipi itu terparkir di depan Kedai Arin pun pesan dari Bryan tak nampak di layar ponsel Kaila.


Sudut bibit Kaila spontan menukik naik ketika Lian keluar dari mobilnya. Lantas dia memasukan ponsel itu ke dalam saku celana jeans yang dia kenakan.


"Astaga!!! sejak kapan aku begitu menyukai pria ini???"


Pikirnya coba meredam semu di wajah. Hawa panas bahkan terasa hingga menjalar ke daun telinga.


"Tok tok!!"Wajah Arin tercetak jelas di hadapan Kaila. Menghalangi pandangan penuh cintanya terhadap Lian.


"Eh!, apa sih Rin"Ujarnya seraya menarik memo dan ingin menghampiri pelanggan yang kebetulan datang berbarengan dengan Lian.


"Nggak usah ngeles, wajah kamu udah kaya taman bunga. Kupu kupu bahkan udah memenuhi seluruh penjuru kedai ini"Sindir Arin mengambil alih memo yang tlah berada di tangan Kaila.


"Apa sih Rin, jan lebay deh"Tukasnya menyelip rambut di daun telinga. Arin tertawa menyaksikan gelagat malu malu yang sedang merajai diri Kaila.


"Udah___lepasin apron nya"Ucap Arin lagi. Dia paham betul dengan gelagat Kaila. Lagian siapa sih yang nggak berbunga bunga menyambut kedatangan sang kekasih hati.


"Hihi..mata kamu jeli banget Rin"Cengirnya menuruti perintah sang anak majikan.


"Ya iya lah. Arin gitu. Bos Lian kan cakep banget. Setiap cowok cakep pasti akan terlihat jelas di biji mata aku La...makanya jagain cowok kamu. Jan sampe di babat ciwik lain"Tukasnya menaik turunkan kedua alis bergiliran.


"Fufufufuuf!" Suara itu. Suara paling menyebalkan bagi Arin, tapi terasa lucu bagi Kaila.


"Apa sih???maen nimbrung aja. Cowok di larang gabung obrolan cewek"Bibir mengerucut Arin terarah pada Fay. Pria ter uwu bagi para pelanggan namun menyebalkan bagi Arin.


"Dih..orang cuman ketawa doang. Sensi amat Mbak, PMS yaaaaa???!"Ledeknya mengkerutkan hidung kepada Arin.


"Bruk!!" Lepas landaslah nampan di atas kepala Fay. Dan pelakunya adalah Arin.


Kedua mata Kaila membulat dengan kedua tangan menutup mulut menganga nya"Haaahhhh!"


"Waw!!! sakit banget tuh"Pekik Febby sang asisten dapur Ayahnya Arin. Dengan tangan penuh tepung dia berjalan cepat ke arah Fay. Cowok itu meringis memegangi kepalanya.


"Fay...are u okay??"Tanya Febby memeriksa kepala Fay.


"Geger otak nih, bakal geger otak aku Feb!!" Ringis Fay menahan sakit.


Febby mengobok obok rambut Fay memeriksa takut ada yang bocor di setiap sudut kepala cowok itu. Tentu saja dengan tangan penuh tepungnya, secara dia kan staf dapur yang berurusan adon mengadon roti, alhasil Fay menjelma menjadi kakek kakek berambut putih sekarang.


"Gkgkgkgkgkkg"Kaila dan Arin tertawa geli.


"Feb..."Tegur Arin.


"Syut!!!"Jari telunjuk Febby melekat di bibirnya"Biarin!! sekalian aja di kerjain. Mulutnya lemes banget sih"Bisik Febby.


Lengkap sudah penderitaan Fay siang ini. Para cewek mengerjai dirinya tanpa merasa iba dengan kepala tergeplak nya.


"Ehem!!"Lian tlah sampai di counter Drink di tengan gelak tawa mereka.


"Ugh!!!, Jahat banget sih Rin!!, kalo aku geger otak gimana??maen tabok aja, itu nampan ya Rin"


"Ini emang nampan, mau di sebut apa lagi??"Arin berlagak polos.


"Hai"Sapa Kaila pada sang kekasih.


"Kenapa??"Lian menunjuk Fay yang masih meringis memegangi kepalanya.


"Ketiban duren Pak Bos"Sahut Febby.


"Amit amit Feb, bocor dong kepala aku!!"


Lagi...mereka mentertawakan Fay. Mereka menari nari di atas derita seorang Fay.


"Yank..ayok"Bisik Lian.


Sembari menahan tawa Kaila melepas apronnya dan segera pamit dari hadapan mereka.


"Fay...bukannya aku nggak mau belain kamu ya, tapi perut aku udah meronta ronta meminta jatah makan siang nih. Aku tinggal dulu ya"


Fay manyun. Dia tak menyahut ucapan Kaila yang terlihat ke belakang untuk mengambil tasnya.

__ADS_1


"Bang...bawain cemilan ya. Nutrisi buat otak Fay ini bang"Pintanya dengan wajah memelas.


"Nutrisi otak???"Tanya Lian dengan senyum tipis.


"Makanan lah bang. Yang enak enak gitu" Rengek Fay.


"Uwwww, itu mah nutrisi perut Fay!!"Seru Arin meraih nampan senjata penggeplakan kepala Fay tadi.


Rasa ngeri terhadap nampan itu membuat Fay spontan menutupi kepalanya dengan kedua tangan"Rin!!!, jan geplak lagi la!!"Cicitnya.


"Hoel!! siapa yang mau geplak lagi??cukup sekali aku geplak kamu. Aku juga nggak mau kali punya karyawan gila"Seloronya mendekati posisi Lian dan Fay di counter Drink.


Fay terlihat mengelus dada lega.


"Sekali sehari maksudnya Fay"Sentak Arin berlagak songong.


"Alamak!!!, 3 hari bakal gila aku Rin!!! Feb tulungin dong"Rengeknya pada sahabat dari masa SMA nya itu.


"Kamu sih mulutnya ceriwis banget"Sahut Febby nyengir dan kembali ke dapur.


"Nah...abis dah kamu Fay"Tukas Lian menampakan lesung pipinya. Jelas sekarang dia mentertawakan tingkah si bocah Fay.


"Udah Yank, tinggalin Fay sama Arin sama Febby"Ujar Kaila muncul dari arah dapur.


"Hick..bang..nutrisinya jan lupa yak"Pintanya dengan suara lirih.


"Bayar Fay!!"Bukannya Lian yang menyahut tapi malah Kaila.


"Hisss...jahat klean!!"Gerutunya manyun.


Kesedihan Fay mengiringi kepergian Lian dan Kaila. Gelagat Fay benar benar mengingatkan dirinya di masa lalu. Tak ayal Kaila sering bersikap seperti yang Arin lakukan pada Fay.


Mengingat itu membuat Lian senyum senyum sendiri menggiring Kaila keluar dari Kedai Arin.


"Masih nyengir aja"Tegur Kaila. Lian masih geli hati mengingat Fay tadi.


"Fay pecicilan banget Yank"Ujarnya dengan pandangan fokus ke depan. Dia berkemudi dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain menggenggam erat jemari Kaila.


"Kaya kamu dulu"Sahutan Kaila membuat senyum Lian semakin merekah.


Dia mencubit pipi Kaila gemas.


"Aw!!,Udah berani nyubit yaaa!!"Ringis Kaila manja.


"Pelan doang Sayang"Tangan itu beralih pada pucuk kepala Kaila.


"Jan sampe aku gigit ni tangan"Ancam Kaila menurunkan tangan pria itu.Dia mengalihkan tangan Lian ke arah kemudi mobil.


"Fokus Yank, aku nggak mau ini jadi hari terakhir kita bersama"


"Ugh!!! amit amit Sayang"Pekik Lian ngeri. Sekedar membayangkan saja membuat Lian bergidik ngeri.


"Jangan ngomong ngaco La"


"Makanya fokus nyetir Lian"Sahut Kaila.


Cekiiiiittt!!!


Lian menghentikan mobil di tepi jalan.


Deg!!!


"Kenapa Li??"Kaila nampak gugup.


Lian meraih kedua pipi kekasihnya dan menciup sekilas bibir ranum wanita itu.


"Lian!!!di liatin orang!!"Wajah bersemu itu membuat Lian semakin gemas dengan Kaila.


"Bodo amat!! calon istri aku kok"Ujarnya bersiap memacu mobil kembali.


Gemas Kaila mencubit perut Lian.


"Akh!!!, kenapa sih nggak Mamah nggak kamu pasti nyerangnya di perut!"Keluh Lian meringis sakit.


"Bodo amat!" Kaila copy paste ucapan Lian.


"Banyak lecetnya lho La"Lian sedikit menyibak kemejanya.


Set dah!! perut kotak kotak Lian membuat jantung Kaila berdecak kagum. Gemes juga. Haisss!! pake pamer roti sobek pula, nggak lama lagi bakal aku abisin tu roti sobek!! Batin Kaila.


"Nanti di obatin!"Ucapnya akhirnya.


"Kamu yang obatin"Lian menatapnya menggoda.


"Boleh..boleh banget"Sahut Kaila menelan saliva. Bakal laen ceritanya kalo Kaila yang ngobatin. Yang ada mereka bakal nge Teh berkali kali.


💓💓💓💓


Di sebuah ruangan seorang Bryan Brander.


"Panggil Maira kemari"


Perintah Bryan pada Kevin sang asisten. Dengan segera Kevin menyampaikan pesan pada Maira. Dia yang sedang sibuk menyusun berkas terpaksa harus meninggalkan tugasnya sejenak.


Cekreekkk! pintu di buka.


"Selamat sore Pak Bryan. Anda mencari saya??"


"Srak!"Bryan menyerahkan setumpuk berkas baru kehadapan Maira.


"Mesin pencetak divisi ini sedang rusak, tolong kamu ke divisi sebelah dan segera bawa berkas yang sudah kamu cetak kepada saya"


"Baik Pak"Sahut Maira pelan. Meski Bryan berlagak datar kepadanya paling tidak dia masih bersedia memberikan tugas dan bertemu langsung dengannya.


Beberapa menit kemudian Maira datang dengan setumpuk berkas.


"Ah..saya lupa. Tolong kamu susun berkasnya ya. Harus selesai hari ini. Besok pagi akan saya gunakan"


"Ba__baiklah Pak"Maira coba menenangkan diri. Berkas yang di limpahkan Brama tadi aja belum kelar.


Pasrah...Maira hanya bisa pasrah. Dia berbalik membawa kembali berkas menggunung dalam pelukannya.


"Eh tunggu!!"Panggil Bryan lagi.


Lama lama tingkah Bryan membuat dongkol hati Maira.


Sebuah cangkir kosong Bryan pamerkan kepada Maira.


"Ng??"Wanita itu berwajah penuh tanya.


"Kopi saya habis, tolong kamu belikan saya kopi dulu ya"


Maira menarik nafas dalam dalam. Masih mempertahankan raut wajah ramah"Pak Bryan mau kopi apa??"


"Hmmmm,,,"

__ADS_1


"Lama pula mikirnya, kapan kerjaan ku selesai"Gumam hati Maira.


"Tik!"Bryan menjentikan jemari.


"Dalgona" Ujarnya sangat yakin.


"Baiklah Pak Bryan" Ucapnya lirih.


Baru sampai dirinya di muara pintu ruangan Bryan, pria itu kembali memanggilnya.


"Jangan dalgona deh, capucinno aja"


Maira mulai menggigit bibir. Alamat nggak baik nih.


"Siap Pak"Ujarnya berbalik dan tersenyum pada Bryan.


Senyum itu bagaikan senjata penakhluk untuk Bryan. Tapi____Itu dulu.


"Maira!!" Panggilnya lagi ketika punggung wanita itu nyaris menghilang di balik pintu.


"Iya Pak Bryan"Ada penekanan ketika Maira menyebut nama Bryan. Tak ada lagi sebuah senyuman di sana.


"Dalgona aja deh"


"Hah, Baiklah Pak" Maira berjalan cepat agar tak mendengar jika saja Bryan kembali memanggilnya.


Seperginya Maira senyum licik menghiasi wajah Bryan.


"Semoga kamu betah bekerja di sini Maira"


....


Maira menambah tumpukan berkas di meja kerjanya. Kevin yang berpapasan dengannya sedikit terkejut ketika mendapati gadis itu membawa begitu banyak berkas saat keluar dari ruangan Bryan.


"Maira, di cariin Pak Brama"Ujar Kevin pula.


"Hupffhh!!, oke. Makasih info nya Vin" Langkah membawanya masuk ke ruangan Brama.


"Udah selesai??"Sudah pasti Brama nanyain berkas yang dia berikan pada Maira selepas jam makan siang tadi.


"Sedikit lagi Pak"Sahutnya.


Melihat gelagat lelah Maira menggelitik Brama untuk menanyakan keadaan wanita itu.


"Kamu baik baik aja??"


"Baik kok Pak"


Brama sangsi"Beneran??capek ya kerja di sini??"


Cepat cepat Maira menggelengkan kepala"Enggak Pak, saya merasa sangat bersyukur Pak Brama dan Pak Bryan memberikan banyak pekerjaan kepada saya"


Hahahha Maira curcol kepada Brama.


"Tugas dari Bryan??"Brama kepo.


Awalnya Maira nggak berniat bercerita perihal cerewetnya Bryan siang ini. Namun Brama yang jago memaksa akhirnya dapat membuat Maira bercerita panjang lebar tentng sikap Bryan padanya.


"Hahahah, dia emang begitu. Kalo kerja maunya cepet selesai. Gini deh, kamu kesampingkan dulu berkas yang ku berikan. Selesaikan tugas dari Bryan aja dulu"


Maira bernafas lega.


"Terimakasih Pak Brama"


Brama mengangguk dengan senyum nya.


"Ya sudah, cepat selesaikan pekerjaan kamu"Tukasnya dan Maira pun permisi dari ruangan itu.


"Hm...tumben Bryan rada judes sama pemagang. Jadi bertanya tanya kan aku nya"Gumam Brama memegangi dagunya.


Secepat yang dia bisa Maira bergegas membelikan kopi di kantin untuk Bryan. Kaki kecilnya melangkah sedikit berlarian mengejar waktu.


"Tuk" Segelas Dalgona kini tersedia di meja Bryan.


Ujung mata Bryan menyerngit memandangi label di gelas itu BRANDER DRINK.


"Duh"Dia menepuk jidat.


"Aku lupa bilang Ra, aku maunya Dalgona di Cafe ujung jalan. Sekalian beliin cemilan juga di sana"Wajahnya nampak menyesali keteledorannya meminta kopi namun dengan informasi yang kurang.


"Glek!!"Maira menelan saliva. Tatapannya hampa. Dia lelah, modar mandir kaya seterikaan karena ulah Bryan.


"Pak Bryan____"


Wajah anak kucing dengan mata berbinar. Tanpa di sangka Bryan punya tampang menggemaskan seperti itu. Sembari memohon dia bahkan menangkupkan kedua tangannya memohon kesediaan Maira membelikan kopi di Cafe ujung jalan.


"Pleaseeeee 🙇‍♂️🙇‍♂️🙇‍♂️ !!"


"😓 Ba__baiklah Pak Bryan. Tapi gimana dengan kopi ini, sayang di buang kan Pak"


"Berikan pada Pak Brama 😉"Tukas Bryan senang.


Maira mengambil kembali kopi yang susah payah dia beli di kantin.


"Kopi oh kopi, apa kau lebih di inginkan Bryan dari pada diriku??"Celetuknya berbicara pada kopi yang dia genggam.


Tampang berantakan Maira menyita perhatian para karyawan lain.


"Astaga!! kopi itu dia bawa kembali, apa Pak Bryan membencinya??"Bisik para karyawan.


"Entahlah, perasaan dulu ketika aku magang Pak Bryan memperlakukan ku dengan baik kok"


"Aku juga"Ujar karyawan yang lain.


"Maira....mau di bawa kemana kopinya??"Tanya Kevin.


"Kopinya buat Pak Brama"Sahutnya lesu.


"Pak Bryan nggak jadi ngopi??"


"Jadi lah"


"Oh..kamu beli 2 ya kopinya??"


"Hah...Pak Bryan mau nya kopi di Cafe ujung jalan"Jawabnya singkat. Lantas dia memasuki ruangan Brama demi mengantarkan kopi tersebut.


Para karyawan menangkap signal ketidak sukaan Bryan terhadap Maira.


"Nampaknya hari hari suram akan menghiasi hari hari Maira di kantor ini"Ujar Kevin yang di angguki karyawan lainnya.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.


21 Oktober 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2