
****
Duhai rindu...
Mengapa kamu begitu curang kepadaku??
Setiap detik kau terus bertambah,
Tanpa sedikit pun kau mencoba untuk berkurang!!****
🍒🍒🍒🍒
" Aku masih menyukaimu" Ucap Alex tanpa ragu pada Angela.
" Dan aku masih tetap mencintai Bryan" Kata kata itu juga tak ragu Angela lontarkan kepada Alex.
" Tapi menurut informasi yang aku dengar, kalian nggak benar benar menjalin hubungan. Bahkan hati Bryan tak pernah perpaling pada satu wanita yang dia cintai sejak SMA"
Angela melengos kesal. Demi apa berita
murahan itu ternyata tersebar sampai ke telinga mereka berdua.
" Jadi...dari pada menunggu hal yang tak pasti, kenapa kamu nggak bersama ku saja. Aku bisa melakukan apa saja demi kamu"
Angela membiarkan Alex menyentuh jemarinya. Nampaknya cinta yang di miliki Alex benar benar bisa membuat pria ini berada dalam kendalinya.
" Termasuk menghancurkan hubungan Bryan dengan gadis itu??" Tanya Angela menarikan jari telunjuknya di helai rambut coklat Alex yang berjuntai menutupi sebagian kening pria tampan itu.
Alex menatap Aron. Pria itu tersenyum sinis pada Alex.
" Gampang, asal kamu bersedia bersamaku. Meski Bryan tlah sendirian, kamu harus tetap bersamaku selamanya"
Angela tersenyum penuh arti. Aron mengangkat minuman dan mengajak mereka berdua bersulang.
. . . . .
Menikmati secangkit kopi sembari menikmati suasana sore di tepian rooftop, Maira nampak beberapa kali menghela napas berat. Dari posisi duduk yang tak biasanya pun siapa saja yang melihat gadis itu dapat menebak bahwa dirinya sedang tak baik baik saja.
"Ehem!, jangan melamun. Lagian duduknya gitu amat"Suara yang tak asing bagi Maira tiba tiba muncul dan mengejutkan gadis itu.
Cepat cepat dia membetulkan posisi duduknya. Mengusap dagu yang sedari tadi dia tempelkan di meja panjang sembari menatap langit.
"Eh, Pak Brama. Belum pulang Pak??"
"Emang kamu doang yang lembur, saya juga sibuk bahkan melebihi kamu kali" Sahutnya duduk bersama Maira dan meletakan kopi nya di meja panjang itu.
Dia nampak mencium aroma kopi itu sebelum mengesap nya dan menyunggingkan senyuman kecil, apa kopi itu begitu nikmat?
"Ah, maaf Pak. Kalo saya salah bicara"Tukas Maira duduk tegak. Ini seperti bukan Brama yang biasanya. Kali ini dia nampak serius, dan kata kata nya sedikit lugas. Berbeda dengan Brama yang biasanya pecicilan dan penuh canda.
Ujung bibir pria itu semakin mengukir sebuah senyuman lebar"Tegang amat. Kamu nggak salah kok. Saya aja nih kayaknya cape banget jadi mood saya rada rada muram begini" Pria itu mengedarkan pandangan lurus ke depan. Menikmati sang senja yang mulai jingga dan sebentar lagi akan berganti malam.
"Gimana?? enak kerja di sini??"
Pertanyaan itu membuat Maira bertanya tanya. Kenapa ni orang, tiba tiba bersikap serius.
"Hm...enak kok Pak"
"Benarkah??"
"Meskipun kamu harus lembur di hari pertama kembali bekerja setelah sembuh dari sakit??" Ucap nya sedikit mengingat bahwa Maira sempat di katakan Bryan sakit dan harus ijin bekerja. Padahal...dia di rawat karena ulah preman bedebah tempo hari.
"Namanya juga bekerja Pak, saya di bayar dan saya memang harus memberikan yang terbaik buat perusahaan ini. Masalah sakit, saya sudak baik baik saja kok Pak"Sahut gadis itu mengaduk aduk kopi di depannya.
"Oh, saya dengar kamu sudah jadian sama Bryan?"
"Hah??" Maira terperanjat.
"Itu____" Maira tiba tiba kehabisan kata kata.
"Saya cuman mau pesan, tolong jangan bikin hati yang kembali hangat itu jatuh terpuruk lagi. Perlu waktu bertahun tahun hati yang dingin itu lolos dari kesepian karena meratapi kesalahannya di masa lalu"
Maira sedikit memutar tubuhnya menyamping. Menatap lekat pada sosok Brama yang memberinya peringatan agar tak menyakit Bryan.
Brama kembali terlihat menghela napas berat"Dulu...dia pernah mencintai seseorang, namun dia melakukan kesalahan pada gadis itu, dan sejak itu dia tak pernah terdengar menjalin hubungan dengan gadis lain lagi"
"Tapi Angela___" Ungkit Maira. Dia tau Bryan dan Angela tak benar benar pernah berpacaran, tapi siapa tau dia menemukan fakta lain tentang mereka dari Brama.
"Itu hanya tipuan saja, dia meminta Angela menjadi pacar pura pura nya agar para wanita berhenti mendekatinya. Katanya sih begitu, aku baru tau tadi pagi" Cerocos nya lagi.
Maira tertunduk. Apa dia salah masih bersikap cuek terhadap Bryan meski usahanya tadi malam sangat tak terduga??
Masih lekat di ingatan Maira bagaimana kacaunya penampilan Bryan yang ngotot ingin membantu Ibu dan Burhan mencabuti buku ayam. Banyak bulu bulu ayam bertebaran di pakaiannya, namun pria itu tak terlihat keberatan. Dia malah nampak bersenang senang dengan Ibu nya.
"Tuk" Brama meletakan cangkir kopi setelah mengesapnya kembali.
"Saya mohon Ra, jangan sakiti dia ya. Dia nampak kuat dan tegar di luar saja. Sebenarnya hatinya sangat rapuh. Kehilangan Ibu dan Adik secara bersamaan, dan kedua wanita yang dia cintai itu meregang nyawa di depan matanya. Setelah bertahun tahun hidup dalam keterpurukan dia akhirnya merasakan hangatnya rasa cinta menyapa hatinya yang kesepian, namun sayang gadis itu harus dia relakan untuk sahabatnya. Aku berharap kamu nggak akan membuat hati yang kembali hangat itu tersakiti"
Kedua mata bulat gadis itu mengerjap berkali kali"Apa Pak Brama tau siapa gadis itu??"
Senyum smirk nampak terlihat di wajah tampan Brama."Kamu!"
"Deg!!!" Jantung Maira berdetak tak karuan. Dia bagai tertembak tepat di letak jantungnya.
__ADS_1
"Santai dong, muka nya biasa aja" Dia bahkan tertawa mendapati wajah terkejut Maira. Jadi dia sudah tau bahwa gadis yang membuat Bryan diam dalam kesendirian bertahun tahun itu adalah dirinya. Tiba tiba Maira teringat akan alasan Bryan meninggalkan nya dulu.
Sembari membenahi letak duduknya, Maira menarik napas sebelum akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan kepada Brama.
"Pak Bryan cerita semuanya ke Bapak??"
Brama mengangguk.
"Semuanya??"
Brama mengangguk lagi.
"Jadi Pak Brama tau bahwa saya di tinggalkan saat itu??"
"Hm...dia kalah taruhan dengan June, si kaya raya yang selalu ingin menang dari Bryan, cih!" Brama nampak tak suka ketika menyebutkan nama June.
"Dia sakit Pak!"
"Sakit??iya dia memang sakit. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi otak dan jiwanya juga sakit!" Nada bicara Brama sedikit terdengar bergetar. Terasa ada rasa kesal yang mendalam ketika dia berkata kata.
"Bryan sangat mencintaimu, namun dia di paksa memilih oleh June. Antara dirinya dan dirimu. Sebenarnya Bryan sengaja menjatuhkan diri ketika balapan hari itu, hingga akhirnya June yang meraih kemenangan dan mendapatkan kamu"
Maira diam meresapi.
"Kau tau apa kata June ketika menang??" Tanyanya menatap Maira lekat.
"Selain menyerahkan kamu, Bryan harus menjauhi mu. Memutus segala hubungan antara kamu dan dirinya"
"Jadi karena itu___"Gumam Maira lirih.
"Dia terpaksa Ra"
"Begitukah??"
"Dan...bisakah kamu memaafkan nya??"Tanya Brama, sorot matanya menyimpan banyak harapan kepada gadis berambut hitam legam itu. Ada rasa kagum ketika menatap gadis kecil ini lekat lekat, meski berperawakan kecil namun dia sangat manis dan imut. Brama menyadari hal itu lah yang membuat Bryan sungguh tak bisa berpaling dari nya meski tlah bertahun lamanya.
" Terimakasih penjelasannya Pak Brama, saya boleh pamit?? saya harus lanjut bekerja" Ujarnya tanpa menjawab pertanyaan Brama.
Pria itu mengulum bibir, setidaknya dia sudah mengungkap segalanya pada Maira. Semoga saja gadis ini memiliki hati yang luas dan bersedia memaafkan kesalahan Bryan yang menyebabkan mereka berdua hidup dalam derita selama ini.
🍒🍒🍒🍒
Semilir angin sejuk membelai wajah cantik Kaila, entah sihir apa yang Lian mantrakan kepadanya. Dia yang awalnya ngotot ingin bulan madu ke luar negeri kini malah berakhir di villa milik Fathur yang terletak di sebuah desa kecil.
Gemerisik pepohonan rimbun di samping bangunan Villa bagaikan harmoni relaksasi yang menenangkan hati, di pandanginya hamparan kebun buah dan sayuran yang terletak di sekitaran bangunan itu.
"Yah....bulan madu ala petani nih ceritanya"Gumam Kaila pasrah pada takdir yang menuntunnya kemari.
Lian datang dengan nampan berisi roti bakar bikinan sendiri. Dia meletakan nampan tersebut di meja samping Kaila berayun pada kursi gantung.
"Hm....iya in aja deh. Aku takut kualat kalo nggak setuju sama perkataan suami"Sahutnya melirik apa yang di bawa Lian.
"Eiii!!!, nggak gitu juga sayang. Maaf deh nggak bisa ngajakin ke luar negeri, abis ini kerjaan di kantor masih banyak banget. Karena pernikahan kita Papah kamu join TRIFAM Company lho"
"Iya tau kok, Papah udah cerita juga"
"Nah...itu sudah tau"Ucap Lian menyentil hidung mancung Kaila dengan jari telunjuknya. Tak lupa dia menyuapkan sepotong roti bakar pada sang istri.
"Hehe"Kaila tertawa canggung"Ini sudah siang lho sayang, ini kan menu sarapan"
"Maaf sayang, aku jago masak mie rebus sama roti bakar doang"Cengir Lian ikut menikmati roti bakar bikinannya.
"Rasanya oke kok"
Kaila hanya tersenyum menanggapi ucapan Lian. Dia senang kok di ajakin ke sini, setidaknya dia merasa tenang berada di perkampungan yang tenang dan damai ini.
🍒🍒🍒🍒
Perkataan Brama bagaikan alarm di dalam pikiran Maira. Di tengah lamunannya menyusuri lorong sepi perkantoran, dia di kejutkan dengan seseorang yang menarik lengannya dan membawanya masuk ke sebuah ruangan.
"Mau pulang??"
"awshhhhh!!!Pak Bryan!!, belajar jadi penculik ya??"Pekiknya menepuk lengan Bryan yang melingkar di pinggangnya.
"Iya, aku mau culik kamu!"Sahutnya tanpa melepaskan pelukan di tubuh gadis itu.
"Nggak lucu! lepasin Pak. Kalo ada yang liat bisa salah paham" Gadis itu berontak.
Bryan melepaskan Maira, wajah panik gadis itu sangat menggemaskan. Jemari pria itu merapikan helai rambut yang berserakan di pipinya, menyelipkan nya di daun telinga dengan tatapan hangat.
"Kamu takut orang orang tau akan hubungan kita??"
"Hubungan yang mana??"Maira ketus. Dia merapikan jaket yang dia kenakan.
Bryan menarik tali di jaket Maira"Aku sudah ngomong banyak sama kedua orang tua kamu lho, kamu pikir sekarang kita dalam hubungan yang seperti apa??"
"Anu____, ngomong nya nggak sedekat ini juga kali Pak. Saya nggak budek" Lagi...si gadis kecil ini berontak melepaskan diri dari cengkeraman Bryan. Heran deh, ni cowok mendadak agresif banget, dapat asupan keberanian dari mana berani menempel padanya di area kantor begini.
"Judes begini aku jadi pengen karungin kamu lho Ra"Goda Bryan dengan seringai tawanya.
Kedua mata Maira berkedip berkali kali" Saya manusia Pak, bukan anak kucing!" Sentaknya keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju lift. Bryan nampak menyusul di belakangnya.
"Bagi aku kamu lebih gemesin dari anak kucing Maira"
__ADS_1
"Pak Bryan salah makan?? kok aneh begini"
"Aku aneh karena kamu, aku nyatain cinta kamu nggak ngasih jawaban. Aku ngomong banyak sama kedua orang tua kamu malah pengen kamu ganggu. Aku tau kok kita punya perasaan yang sama, jadi demi masa depan kita lebih baik kamu terima semua perlakuan aku ini dengan lapang dada" Ucapan panjang lebar Bryan nyaris membuat Maira tergelak tawa.
Dia membuang muka, tersenyum sekilas kemudian memasang wajah datar kembali.
"Lho...Pak Bryan kok masih ngikutin saya?" Tanyanya ketika Bryan berjalan di belakangnya menyusuri trotoar menuju arah pulang.
"Aku mau anterin kamu"
Maira bengong.
"Sambil jalan kaki" Sambung Bryan tertawa. Tawa itu sejenak mengundang senyuman di wajah Maira. Meski ada kesalah pahaman di antara mereka namun Bryan tak lelah mengejar dirinya yang bersikap cuek dan judes padanya.
" Punya mobil tapi milih jalan kaki, aneh!"
" Emang kamu mau kalo di anterin pulang naik mobil aku??"
Maira menggeleng.
" Kan, aku udah tau. Makanya aku anterin jalan kaki aja"
"Jauh lho Pak"
"Sejauh apa sih, jalan aku menuju hati kamu aja puaaannjaaaang banget" Celoteh Bryan tanpa memperhatikan langkah kaki nya. Kaki nya hampir salah melangkah ke saluran pembuangan air di trotoar jika Maira tak menarik tubuhnya lebih maju padanya.
Kini....keduanya terperangkap dalam jarak pandang yang dekat.
Tubuh kecil itu bahkan kembali berada dalam pelukan Bryan.
"Kamu....pengen di peluk??" Tanya Bryan semakin mendekatkan wajahnya pada Maira.
"I___tu, Pak Bryan hampir salah melangkah. Makanya saya tarik"
"Oh" Bryan tersenyum nakal.
" Pak Bryan jangan ke Gr-an" Gadis itu kembali melangkah menuju pulang setelah mendorong tubuh Bryan agar melepaskan pelukannya.
" Siapa yang Gr, wajah kamu lho merah merona begitu. Aku mah biasa aja kali" Bryan merpose santai sembari memasukan kedua tangannya di kantong. Dia sungguh menikmati wajah merona Maira yang membuatnya semakin menawan.
Kedua tangan Maira memegangi dia pipi nya" Asem!! muka ku kok panas begini!!" Gerutu hatinya.
"Sudahlah Pak, Maira duluan. Pak Bryan pulang aja sana" Larinya meninggalkan Bryan.
" Bye bye" Lambaian tangannya membuat Bryan menghentikan langkah.
"Oke deh, kali ini aku lepasin kamu"
Bryan hendak berbalik kembali ke area kantor, namun sudut matanya menangkap bayang seorang gadis yang menatap tajam ke arah Maira.
Angela berdiri di depan Cafe, menatap Maira yang lewat di depan Cafenya sembari berlari kecil.
Pria itu memutuskan memperhatikan gerak gerik Angela. Jika dia mengejar Maira maka Bryan akan ikut mengejar mereka. Namun ternyata tidak. Gadis itu masuk ke Cafe setelah Maira menghilang di persimpangan jalan.
🍒🍒🍒🍒
" Sayang" Bisikan lembut Lian membangunkan Kaila yang tertidur di sofa ruang utama Villa. Membaca buku sambil rebahan bukannya fokus malah bikin wanita itu mengantuk.
Dia menarik buku yang menutup wajahnya dan mengerjapkan mata. Dari sudut pandang Kaila, Lian tengah berdiri di sampingnya yang rebahan begini nampak menggoda. Garis wajah tampan itu membuatnya terbuai dalam lamunan. Di tambah senyum manisnya ketika tertawa, dari sekian banyak pria entah kenapa Lian yang berlesung pipi ini sangat membuat Maira tertarik padanya. Bahkan ketika dia sempat kehilangan ingatan, dia jatuh cinta sekali lagi pada pria yang memang tunangannya sebelum kejadian naas itu.
" Mau ikan panggang?? ayam panggang?? atau daging panggang??"
" Hah?? semua serba di panggang, ada apaan sih Yank??" Tanya Kaila bangun untuk duduk.
" Makan malam kita sayang" Sahutnya mengajak Kaila keluar, di sana sudah ada beberapa pekerja dan juga koki yang siap menyediakan makan malam untuk mereka.
" Wah....bakar jagung enak nih Yank"
" Lho, mau makan malam jagung bakar doang??"
" Hihihi, enggak Yank. Nanti abis makan malam kita bikin api unggun sambil bakar jagung, seru kan"
" Boleh, nanti kita undang Wita sama suami nya di Villa depan ya" Ucap Lian mengingatkan Kaila dengan Wita, sahabat sekaligus mantan istri Fathur sebelum dia menikah dengan Mei. Meski sempat terperangkap dalam kesalah pahaman, kini hubungan mereka sudah baik baik saja.
" Huum Yank"Kaila mengangguk senang.
Di malam yang sama
Di sudut lain dari perkotaan yang ramai, si kembar Abraham melenggang memasuki Cafe milik Angela.
Alex mentap Angela, gadis yang membuatnya jatuh cinta ketika kuliah itu nampak cantik seperti biasanya. Di mata Alex dia tetaplah wanita yang menawan, gagal mendapatkan hati Nari sang nona muda dari keluarga Charllote tak menghentikan Alex untuk membuka hati pada wanita lain. Dan pilihannya itu jatuh pada Angela, dia benar benar mencintai Angela, dan rasa cinta itu tlah tumbuh sejak pertama kali dia bertemu dengan gadis itu di kampus.
Setelah melalui berbagai persiapan untuk menyatakan cintanya pada Angela, Alex kembali harus menelan pil pahit yang di berikan sang dewi cinta.
" Maaf Alex, aku mencintai Bryan" Itulah jawaban Angela ketika Alex menyatakan cintanya dahulu. Dan tak lama setelah itu tersiarlah di seluruh kampus bahwa Bryan dan Angela tlah berpacaran.
Namun siapa sangka kini Angela juga harus menelan pil pahit karena hubungannya dengan Bryan hanyalah sekedar status saja. Tak ada cinta untuknya di hati Bryan, Maira masih bertengger di hati Bryan meski Angela banyak berusaha untuk mendapatkan Bryan seutuhnya.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
27 Desember 2020.
__ADS_1
Salam anak Borneo.