
Ketika angin malam yang dingin menyentuh pipiku,
Aku kembali memikirkanmu yang mendatangiku dengan hati hati.
Ketika angin itu terus bergerak,
Aku tau pikiranku akan semakin di penuhi dengan dirimu.
Aku pun menyadari bahwa setiap hari...
Mulai saat ini,aku akan semakin memikirkanmu di setiap malamku.
Di malam penuh bintang,
Hanya dengan memikirkanmu hatiku terasa sejuk.
Di malam saat bunga sakura bermekaran,
Di bawah angin hangat rembulan,
Aku disini sendiri merindukanmu.
💖💖💖💖
Di kejauhan sosok wanita paruh baya menanti kedatangan Syila dengan cemas.
"Kemana perginya gadis itu, semoga dia baik baik saja ya Ghin". Raut wajahnya nampak gelisah, dia meremas remas tangannya dan berjalan mondar mandir di depan toko bunga miliknya.
Sang menantu juga terlihat khawatir menanti kedatangan Syila, berkali kali dia terus mencoba menghubungi nomor Syila "Semoga deh Mah, ini Ghina telponin juga nggak di angkat".
Nyonya Sook meraih ponsel di saku blazernya dan meminta Ghina mengambil memo kecil yang dia letakan di meja kasir"Mamah telpon yang pesan bunga aja ya".
"Oh bisa Mah, bisa banget tuh. Saking paniknya Ghina ampe lupa sama si pemesan" Seraya masuk ke dalam toko Ghina mencari cari memo kecil dengan nama Althario sebagai pemesan bunga tersebut. Pinter kan Lian supaya triknya nggak kebaca oleh Ghina maupun Nyonya Sook dia memakai nama belakangnya ketika memesan bunga. Meskipun pasangan menantu dan mertua itu mungkin belum tau namanya dia nggak mau mengambil resiko sebuah kegagalan dalam memancing Kaila menemuinya.
Segera nomor tersebut di hubungi Nyonya Sook...
Nada tunggu terdengar berulang di ujung sana, wajah Nyonya Sook terlihat semakin gelisah.
"Please angkat dong, Syila nganterin bunga atau kemana tu anak!!". Gumamnya dengan bibir tergigit. Dia merasa nggak enak hati banget sama Tuan Odet kalo Syila kenapa kenapa, apalagi sama Bryan.
Di tempat lain Syila yang mereka nanti tengah terduduk kelelahan di pinggir jalan. Jemarinya terlihat sibuk menekan layar ponsel. Sesekali dia menyeka keringat yang bercucuran di keningnya, motornya lumayan berat jelas saja Kaila kelelahan mendorongnya sampai ke tempat itu.
Berkali kali dia menghubungi Bryan namun ponsel sang Kakak nggak bisa di hubungi. Karena sibuk terus menelpon Bryan dia melewatkan panggilan Ghina dan malah berfokus hanya kepada Bryan.
Kali ini dirinya kembali di hadapkan dengan sebuah masalah, motor pengantar bunga di hadapannya sedang ingin bermain bersamanya.
"Kamu sih, pake acara kehabisan bensin segala!!". Kakinya menendang pelan ban motor yang dia kendarai.
Gadis itu terkindap kindap mencari warung terdekat yang menjual bensin eceran. Sayangnya dia tak sedang berada di dekat warung penjual bensin atau pun pom bensin.
"Perut selamat eh malah motor yang kumat". Gerutunya memegangi perutnya yang kekenyangan. Di lihatnya para pengguna jalan yang berlalu lalang, siapa tau ada yang dia kenal. Haha...dia seakan berada di dunia asing, dari sekian banyak orang yang lewat tak satu pun yang dia kenal, bahkan tak seorang pun yang menanyakan perihal mogok motornya.
Tetiba dia teringat dengan Lian yang menghidangkan semangkuk mie rebus pedas kepadanya.
"Bisa masak,ganteng,wangi pula. Kok bisa di tinggalin tunangannya ya??". Dia bergumam sendiri dengan jari menghitung segala kelebihan Lian yang dia tau.
"Duh kok malah mikirin tu orang". Sebuah toyoran dia berikan pada kepalanya sendiri.
"Kak Bryan kemana sih??" Dia balik mengingat sang Kakak.
Jemarinya menekan nomor Bryan lagi dan Tut tut blep!! Ponselnya kehabisan daya.
"Hehehehe....oh semesta, inikah bayaran semangkuk mie rebus itu??". Tanyanya kepada langit sore yang sedang menaunginya.
💝💝💝💝
Baru saja Lian membereskan bekas makan mereka, dia di kejutkan dengan nada dering ponselnya yang dia letakan di meja makan.
"Udah sampai kok Nyonya, terimakasih". Sahut Lian ketika Nyonya Sook menelponnya dan menanyakan perihal bunga yang dia pesan.
"Yang nganterin masih di situ??" Tanya Nyonya Sook.
"Udah balik beberapa menit yang lalu". Ekor matanya melirik arloginya sekilas.
"Emang kenapa Nyonya??". Lian merasakan ada sesuatu yang nggak beres. Dan benar saja, Nyonya Sook mengatakan ketidak hadiran Syila di toko bunga.
Lian panik, harusnya dia mengantar gadis itu tadi. akh!! Lian merutuki dirinya atas kelalaiannya.
Setelah menutup panggilan itu, tanpa berganti pakaian Lian menyabet kunci mobil dan jaket kulit di sofa ruang tengah. Dia bergegas mencari keberadaan Kaila. Lian memacu mobil dengan gesit di jalanan, Pandangannya menyapu setiap sudut jalanan. Cukup lama dia berputar putar mencari Kaila, siapa tau nasib kembali mempertemukan mereka.
Rintis hujan perlahan membasahi jalanan, para pejalan kaki berlarian mencari tempat untuk berteduh. Kaila yang tengah kebingungan di pinggir jalan kembali mendorong motor secepat yang dia bisa menuju pemberhentian bus di depan sana.
"Hujan kamu kejam!!, aku biasanya menyukaimu tapi kali ini aku benci!!" Suaranya terdengar lirih di tengah guyuran hujan.
Hujan yang semakin deras mampu membasahi Kaila dalam sekejap. Tergopoh gopoh gadis itu mendorong motor di dalam hujan, dia bisa saja berlarian ke pemberhentian bus di depan tapi dia nggak bisa meninggalkan motor itu begitu saja. Apa yang akan dia katakan kepada Nyonya Sook kalau motor itu menghilang??
Tit!!! Sebuah mobil berwarna hitam berada tepat di belakangnya. Seorang pria berkemeja hitam cepat cepat turun dari dalam mobil.
"Lian!!". Senyum mengembang di wajah Kaila.
__ADS_1
"Bantuin dong,aku keha___".
Belum sempat Kaila menyelesaikan ucapannya Lian melepas jaket yang dia kenakan dan meletakannya di pundak Kaila. Tangannya menarik Kaila ke arah mobil dan membawa Kaila masuk.
"Motornya!!"Pekik Kaila.
"Biarin di situ, kalo ilang aku ganti". Nada bicaranya terdengar dingin. Raut wajahnya datar, dia nampak gusar mendapati Kaila kebasahan dalam hujan.
"Kamu kenapa ujan ujanan??". Tanya Lian merogoh saku jok mobil dan mengeluarkan handuk kecil yang biasa dia letakan di sana. Dia terbiasa membawa handuk kecil bersih jika sewaktu waktu hendak nge Gym selepas pulang bekerja.
"Motornya kehabisan bensin, mogok deh jadinya" Sahut Kaila.
"Aku basah kuyup lho, mobil kamu jadi basah begini".
"Bisa di keringin, kamu diem deh". Tanpa sungkan Lian meletakan handuk di kepala Kaila dan mengusap rambutnya pelan. Perlakuan Lian terasa menghangatkan Kaila, "Cowok ini baik banget". Hatinya terasa bergetar di perlakukan sebaik ini.
"Lain kali jangan hujan hujanan lagi Syil, kamu bisa demam". Tuturnya lantas di angguki oleh Kaila.
"Tapi aku suka hujan lho". Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Lian. Wah pria ini cakep bingittt. Jantung Kaila semakin berdegup kencang.
Namun rasa berdesir di hati Kaila seketika buyar setelah Lian berucap "Bocah". Tangannya terus menggosok gosok kepala Kaila dengan handuk.
Lian tau Kaila menatapnya lekat lekat namun sebisa mungkin Lian menghindari pandangan mereka bertemu. Dia bisa menarik Kaila lebih dekat dan menciuminya. Akh!!!, kuatkan aku ya tuhan!!.
Lian berkelit dengan mendengus menahan amarah "Meskipun suka kamu nggak harus hujan hujanan kan! sambil dorong tu motor lagi!".
"Kamu kok pemarah sih Lian??, cepat tua lho".
"Diem!!, nih keringin sendiri rambutnya. Aku anterin pulang ya".
Kaila menerima handuk biru muda itu dan melanjutkan mengeringkan rambutnya.
"Motornya gimana??, masa di tinggal di situ". Kaila terus saja memikirkan gimana nasib tu motor kalo dia tinggal di sana, gimana kalo motornya hilang??
"Masih aja mikirin motor, nanti asisten aku deh yang ngambil,oh iya tadi Nyonya pemilik toko bunga telpon nanyain kamu".
"Ponsel aku kehabisan daya".
" Eh..ponselku???" Dia berbalik menatap ke luar jendela.
"Yaaahhhhhh...ponselku mandi hujan". Pekiknya menatap pasrah sang ponsel yang tlah basah kuyup di keranjang bagasi motor metik yang dia gunakan.
Lian tepok jidat "Udah tau hujan kok di simpen di situ Syilaaa".
"Tadinya aku mau menghubungi Kak Bryan tapi nggak bisa, terus ada panggilan dari Ghina pas mau aku terima ponselnya langsung mati. Aku simpenlah di situ dan hujan pun datang". Jelasnya panjang lebar.
"Ponselku???".
"Sekalian dianterin ke kang servise sama asisten ku". Jawab Lian.
Gadis itu akhirnya diam. Tubuhnya terlihat mulai bergetar menahan dingin.
Lian nampak prihatin dengan keadaan gadis itu, di pandangnya wajah sang gadis...ingin rasanya dia memeluknya yang sedang kedinginan, tapi dia masih cukup waras untuk tidak melakukan hal gegabah seperti itu lagi."Alamat kamu di mana??"Tanya Lian pada akhirnya.
"Pa__panti asuhan Kakasih Kita" Jawab Kaila dengan bibir bergetar.
Lian meletakan telapak tangannya di pipi Kaila"Yang dekat jembatan besar itu??" Tanyanya lagi tanpa perduli bagaimana tersipunya Kaila saat ini.
"Hmmmm" Sahutnya dengan kedua mata mengerjap. " Hangatnya ~~~".
Lian melepaskan tangannya dari pipi Kaila dan kembali memacu mobil dengan gesit, dia harus cepat mengantarkan Kaila ke kediamannya agar segera mandi dan berganti pakaian. Tak lupa di tengah jalan dia mampir membeli wedang jahe dan juga obat demam untuk Kaila.
Dasar gadis lugu, melihat Lian membeli obat demam dia malah bertanya "Siapa yang demam??"
"Anak monyet". Sahut Lian berkelakar.
"Kamu miara monyet??" Tanya Kaila polos.
Ujung bibir nya menukik naik"Iya, mau lihat??"
"Nggak akh!!kamu unik banget ya, orang mah miaranya kucing, burung, ayam atau apa kek, lah kamu miara monyet". Kaila kaya yang paling tau aja nih .
"Monyetnya manis lho, beneran nggak mau lihat??" Lian masih berkelakar.
"Monyet manis??" Kaila tertawa geli.
"Semua monyet mah sama, nggak ada yang manis asem apalagi asin". Celotehnya ceria.
Lian ngotot dengan ucapannya"Yang ini beneran manis Syila"
Sembari mengibas ngibaskan rambut basahnya "Penasaran juga sih, mana coba??kalo nggak manis gimana??".
"Nih tabok aja". Dengan ikhlas Lian menumbalkan kepalanya kepada Kaila.
Kaila cukup tertarik dengan ucapan Lian"Beneran ya!kalo boong awas aja"
Lian memutar spion depan dan mengarahkannya kepada Kaila.
"Tuh..aneh kan anak monyetnya?? beneran manis juga kan??".
__ADS_1
Kaila terperangah, oh jadi dirinya yang di bilang anak monyet.
"Jahat ih, kapan kapan aku bales lho Lian".
Kwkwkkkwkw Lian terkekeh geli. Dia berhasil ngerjain Kaila.
"Waw!!dia punya lesung pipit". Tiba padangan Kaila kembali terpaku pada lesung pipit Lian ketika tertawa.
"Kamu curang banget sih".
Lian yang masih tertawa tiba tiba berhenti tertawa karena ucapan Kaila
"Apanya yang curang?? aku bercanda doang, maaf deh nggak lagi lagi bilang kamu anak monyet".
"No no no" Jari telunjuk Kaila menyangkal perkataan Lian" Bukan itu, kamu punya dua lesung pipit ya". Dia mendekat menatap wajah Lian, mata bulat itu menatap wajah Lian dalam dalam. Lian merasakan sakit di relung hatinya, apa yang harus dia lakukan ketika kerinduan ini terus menggelitiknya untuk merengkuh gadis itu kedalam pelukannya?? sementara dirinya masih terlupakan di pikiran gadis itu.
"Jangan dekat dekat!!" Sentaknya dalam kebingungan.
"Oh,maaf" Kaila tersadar, tindakannya berlebihan ketika memandangi pria itu. Gadis itu memilih membuang pandangannya ke luar jendela, meskipun memandangi Lian jauh lebih menyenangkan dia harus tau diri bahwa Lian sudah ada yang memiliki.
Beberapa saat setelah itu mereka terdiam terhanyut dalam pikiran masing masing.
Mobil Lian berhenti di depan panti. Tangannya menerima handuk yang Kaila berikan kepadanya. Masih kikuk karena sentakan Lian gadis itu keluar dari dalam mobil tanpa berani menatap Lian lagi.
"La...obatnya". Lian menyerahkan obat dan juga minuman jahe kepada Syila.
"Terimakasih atas bantuannya,kamu mau mampir??, kamu juga kebasahan tuh, wedangnya kita bagi dua".
"Mampir??,apakah ada Bryan di dalam sana?" Gumam batinnya. ih malas banget ketemu tu orang.
"Hm...nggak deh"
"Ayolah...kamu udah baik banget sama aku". Ajak Kaila lagi.
"Nggak deh, lain kali aja ya. Kamu buruan masuk sana".
"Ya sudah, hati hati di jalan. Makasih obatnya...wedangnya juga".
"La..besok siang mau makan bareng??" Ujarnya balik mengajak Kaila.
Mengingat kebaikan Lian tentu saja Kaila nggak akan menolak tawaran itu.
"Iya boleh, di kedai Arin aja ya".
Lian mengangguk senang. Kaila pun permisi dari hadapan Lian, dengan tatapan sendu Lian masih saja memandangi Kaila yang perlahan menghilang di balik pintu panti asuhan.
"Jadi kamu tinggal di sini La". Gumamnya.
"Semoga kamu bersama orang orang yang menyayangi mu".
Seseorang menampakan diri di dekat Lian "Dia bahagia di sini, kami semua juga selalu menyayanginya". Bryan muncul dari arah samping panti asuhan. Sedari tadi dia menyaksikan Syila dan Lian.
"Oh jadi kamu suka mengendap ngendap?" sindir Lian.
"Ini kediamanku, suka suka aku mau ngapain aja kan". Sahut Bryan kesal.
Lian menatap tajam ke arah Bryan"Kamu kemana aja??Kaila kehujanan, dia bahkan mendorong motor di pinggir jalan".
"Ponselku tertinggal di ruang rapat, aku tadi juga sudah mencarinya. Sampai akhirnya Nyonya Sook menelpon ke panti dan bilang Syila akan pulang di antar seorang pelanggan bernama Althalio".
"Pinter ya, kamu memesan bunga dengan nama orang lain". Dia balas menyindir Lian.
"Itu nama belakangku Bro, aku bukan tipe orang yang suka menggunakan hak orang lain untuk bersenang senang".
Kening Bryan mengkerut, dia nggak menyangka Lian balik menyerangnya"Maksud kamu apa??"
"Tanya pada diri kamu sendiri!". Ujar Lian" Bukannya kamu sudah tau bahwa diri Kaila udah menjadi hak ku?"
"Hey!!Kalian hanya bertunangan, dia belum sempat menjadi istrimu!".
"Hal itu bukan alasan yang tepat untuk menahan Kailaku bersamamu kan??"
"Dia sekarang adalah Syilaku!". Tegas Bryan.
Lian bersikeras "Dia selamanya akan menjadi Kailaku".
Bryan lelah, pertemuan mereka pasti berujung dengan pertengkaran.
"Ya sudah, aku titip Kailaku di sini. Jagain baik baik ya Bro". Dengan santai Lian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Bryan yang melenguh kesal.
Sembari memacu mobil Lian merasa puas dengan pencapaiannya "Hahahha...aku menang telak lagi, tunggu saja Kaila. Aku akan membawamu keluar dari panti asuhan itu". Ucap Lian dengan tekat yang kuat.
To be continued....
14 September 2020.
Happy reading. Jangan lupa like dan komen 😉.
Salam anak Borneo.
__ADS_1