
****Kau adalah galaksi ku,
Membuatku mengangkat kepala dan menyalakan kehangatan di relung hati sepiku.
Kau adalah warna terindah,
Yang di warnai begitu indah oleh cahaya cinta dan bayangan rindu.
Asalkan bersamamu maka aku akan bahagia,
Hanya kamu dan harus kamu.
Kau adalah miliku,
Tak perduli waktu kan kembali bermain memisahkan kita,
Kau adalah titik lemahku di dunia ini.
Sempat menghilang,
Kita terpisah,
Dan kita di temukan kembali,
Biarlah, waktu berpisah kita menjadi kenangan.
Di kehidupan lampau,
Di kehidupan sekarang,
Di kehidupan nanti,
Selamanya aku kan kembali memilih dan memilikimu****
❣❣❣❣
"Weeeyyy, Bryan!"Seru seseorang mendapati sosok Bryan tengah duduk menikmati segelas minuman.
Dua tuan muda Braham berjalan bersama menghampiri Bryan. Duduk bersama meski Bryan tak mempersilahkan.
"Kalian datang juga"Seringai Bryan menatap si kembar di hadapan nya ini dengan tajam.
"Eiii, apa kehadiran kami tak di harapkan??"Alex menepuk pundak Bryan.
"Hahaha, mengingat hubungan unik kita jelas saja kehadiran kita tak dia inginkan"Aron datang dengan 2 gelas minuman.
"Cih, unik dari mana. Yang benar tuh aneh, kalian para pembully dengan santainya bertamu ke kediaman koran bully. Kalian nggak malu??"
"Ayolah Bryan, itu sudah lama sekali"
"Boleh jadi itu sudah sangat lama, tapi di sini"Tunjuk Bryan pada letak hatinya.
"Sampai hari ini masih berbekas, kalian seperti menancapkan paku pada hatiku. Meski kalian sudah meminta maaf, mencabut paku itu namun bekasnya tak pernah hilang" Tatap nanar Bryan membuar Aron menggigit bibir.
"Pak Bryan"Maira muncul di saat yang tepat bagi Bryan.
"Aku permisi, nikmati pestanya"
"Pak temannya___"
Bukan, mereka hanya tamu"Ujarnya dingin menarik lengan Maira agar menjauh dari mereka.
Alex mendecih kesal, ini bukan kali pertama dirinya dan Aron berniat berbaikan dengan Bryan. Namun kesalahan mereka di masa SMP meninggalkan luka mendalam di hati Bryan.
"Sudahlah Ron, kita nikmati saja pestanya"
Aron mengangguk sembari meneguk minumannya.
Raut bahagia terlukis jelas di wajah Lian dan Kaila, di tambah para sahabat yang ikut bersuka cita membuat rasa syukur di hati mereka melonjak naik.
Namun___di balik kebahagiaan setiap orang ada seraut wajah kesal yang memendam amarah.
❣❣❣❣
Waktu terus berjalan, perlahan langit biru berubah menjadi senja berwarna jingga.
Hari ini Bryan benar benar membuat Maira kesal setengah mati. Berjanji akan mengantarnya pulang ketika sudah berganti pakaian eh nyatanya sekarang dia masih terjebak di kediaman Brander yang sangat luas dengan perabot nan mahal dan megahnya.
"Hah! mimpi apa aku semalam, ku pikir di kasih libur bakal bisa guling guling di kamar seharian"Bibir Maira manyun memandangi para tamu di bawah sana yang masih ramai berdatangan.
"Nih aku bawain makanan"Bryan nongol dari luar pintu kamar dengan makanan dan cemilan yang dia bawa di dalam nampan.
"Saya masih kenyang Pak, perasaan baru beberapa jam yang lalu saya makan"Lenguhnya kembali menatap ke area pernikahan Lian dan kaila di bawah sana. Dia hanya menatap sekilas Bryan yang tlah melepaskan jas nya. Kini pria itu hanya mengenakan kemeja biru langit dengan lengan tersingsing hingga ke siku.
"Anjim kau hati, liat gituan aja udah jumpalitan. Lagian itu otot pake nongol pula, jadi makin aneh kan ni hati"Gerutunya kesal di dalam batin. Barisan otot di lengan Bryan ketika meletakan nampan di meja balkon sempat mencuri perhatian Maira. Sejengkel apapun dia terhadap pria ini, dia tetaplah Maira si gadis normal yang doyan lelaki berotot seperti Bryan.
"Sampe kapan mau liatin para tamu di bawah sana??? atau____kamu iri yak?? beneran pengen nikah dengan konsep penuh bunga kaya gitu??"
"Nggak!"Sahutnya cepat.
"Makanya sini, kalo nggak mau makan minimal temenin Boss baik hati kamu ini makan"
Sebelah alis Maira terangkat naik"Bos baik hati??"
__ADS_1
"Iya dong, coba deh kamu pikir mana ada Bos yang mau nalangin hutang karyawannya?? cuman aku yang berhati mulia kaya gitu"
Maira mencibir"Terus hutangnya di kasih bunga sampe berlipat lipat. Itu bukan nolingin, tapi nyolongin!!"Ketusnya kesal. Emosinya sudah tak tertahan lagi. Seharian di kibulin Bryan sudah cukup menguras emosinya. Sekarang dia hanya ingin pulang terus rebahan di kontrakan barunya.
"Aku nggak nambahin bunga di hutang kamu kok, itu semua nyata hutang kamu kan"
"Hm...suka suka Bapak lah. Sekarang sudah hampir malam, hutang saya juga sudah lunas kan. Saya boleh pulang sekarang kan???"Tanya nya penuh harap.
"Enak aja"
"Lho"Maira menyerngitkan kening.
"Acara belom selesai, kamu nggak ada niat buat bantu beres beres di bawah??"
Di pandangi Maira kembali suasana ramai di bawah sana"Hutang 10 juta di bayar dengan menjadi babu di kediaman ini??"Ucap hatinya.
Alis Bryan turun naik dengan senyum menjengkelkannya.
"Sampe acara selesai doang kan??"
Bryan mengangguk.
Gadis itu menarik nafas, menenangkan hati yang terus meluap kesal sedari tadi"Oke Maira, bertahanlah sebentar lagi!".
Sepakat perjanjian pelunasan hutang akan selesai ketika acara selesai maka Maira pun kembali duduk di kursi balkon. Mau nggak mau dia akhirnya menemani Bryan menyantap makan malam nya.
Gadis itu mulai bekerja ketika Bryan selesai makan, dia membawa nampan berisi piring kotor ke arah dapur. Angela menatap sinis padanya"Cih, gadis cinta pertama! sebutan yang norak banget. Aku nggak bisa tinggal diam. Tunggu aja kamu Maira!"Gerutunya dengan tangan mengepal bergetar.
Lama berbincang dengan Tuan Odet sampai tak menyadari siang tlah berganti malam. Nyonya Daniza pamit undur diri dari kediaman Brander.
Mengiringi langkah sang Mamah keluar dari kediaman Brander Alex dan Aron bertemu seorang gadis yang masih begitu berkesan di hati mereka.
Nona muda dari keluarga Charllote nampak manis dengan gaun hitamnya. Kulit putih bersihnya terlihat menyilaukan bagi kedua saudara kembar itu.
"Nari!"Alex begitu bersemangat menghampiri Nari.
Gadis itu tertegun. Kisah masa lalu mereka yang menyedihkan membuat Nari ragu untuk menyambut mereka berdua.
"Eiiii, santai dong. Makin manis aja nih, gimana hubungan kamu dengan Kai"Aron menanyakan kekasih Nari, orang yang berhasil memenangkan hati Nari ketimbang mereka.
"Baik kok, dia sudah di dalam"Sahut Nari hati hati. Dia tak ingin menyinggung perasaan mereka berdua.
"Hm...kok rada canggung begini sih, ayolah Nar bersikap santailah terhadap kami. Masa lalu biarlah berlalu"Ujar Alex menatap hangat kepada Nari.
Senyum manis melengkung di wajah gadis itu, ah senyum itu masih saja membuat hati dua tuan muda ini berdetak tak karuan.
Berbincang sejenak Aron dan Alex akhirnya berpisah dengan Nona muda itu. Kasih tak sampai, selamanya tak akan sampai."Makin cantik aja si Nari"Gumam Aron di dalam mobil.
"Hooh, cantik banget pacar orang"Alex menimpali. Mereka saling berpandangan namun akhirnya tergelak tawa. Ya sudah lah, bukan jodoh bakal pacaran sama Nari apa hendak di kata.
"Eh pacar akoh, sini naik"Pangil Bryan bersemangat.
Hati Angela terlonjak gembira. Bergegas dia masuk ke kediaman Brander mengusul Bryan di kamarnya.
❣❣❣❣
"Beli yang kecil aja Joe"Vino dan Fatur memang sahabat sejati. Sesuai dengan janji mereka, malam ini mereka menemani Joe membeli barang barang yang dia perlukan ketika memasuki kontrakan barunya.
Dengan susah payah mereka membawa belanjaan Joe yang sangat banyak. Dari alat elektronik sampai segala snack pun dia borong.
"Joe, kamu mau buka warung??"
"Apaan??"Tanya Joe menanggapi perkataan Vino barusan.
"Ini, beli minuman mineral aja sampe dus dus an"
"Oh, buat stok aja sih. Kamu tau kan aku mager tingkat dewa. Kalo aus kan tinggal comot tu minuman"
"Ya elah, market di bawah doang pake stok kaya mau buka toko sembako. Ini juga, beli jajan banyak amat. Ato jangan jangan kamu mau saingan sama minimarket di bawah ya??"Fatur menambahin.
Gimana enggak di bilang mo buka warung, jajan ciki cikian yang Joe beli aja hampir bikin kulkas barunya kepenuhan. Di tambah coklat coklatan, kue kue an. Segala donat donatan. Belum lagi mie instan yang dia beli masing masing 3 dari setiap varian rasa. Minumannya juga bukan cuman air mineral doang, Frenta seplit sama colacola dia beli berbotol botol. Kulkas barunya alamat kelebihan beban tuh.
Jeli jelian juga tak ketinggalan masuk ke dalam tu kulkas. Roti rotian buat dia sarapan, sayur mayur, buah buahan, bahkan rempah dapur seperti bawang merah dan kawan kawan kini juga tlah menempati bagian di dalam kulkas Joe.
"Kalian bawel dah, buruan bantuin beres beres. Kita harus balik ke acara Lian kan"
"Ntar aja, kita tinggal nyusul ke apartemen mereka. Malam ini kita nginep di sana yok"Vino mendapat ide brilian dari otak sengkleknya.
"Dih ngapain nginep di apartemen penganten baru??"Tukas Joe bergidik.
"Ya gangguin mereka lah"
"Ogah"Sambar Joe memutus kata kata Vino.
"Nginep di tempat kamu yang udah lama nikah aja bikin otak ku traveling mulu, gimana kalo nginep di rumah penganten baru. Alamat pusing atas bawah ni kepala!"
"Kepala tuh di atas, di bawah mana ada kepala"Fatur nyengir.
"Nih"Tunjuk Joe pada si Joni di bawah sana"Mana mampu kalo sampe si penganten baru berdesah pas lagi bercinta. Kalian mah enak ada penyaluran. Lah aku??"
"Kwkwkwk bilang dong kalo pala satunya tu pala si Joni"Fatur ngakak.
"Tenang aja, Lian punya sabun batangan kok"
__ADS_1
"Buakakakakak"Vino terbahak karena ucapan Fatur.
"Kasian banget si Joni"Tambah Vino.
"Ih jahat kalian, lagian emang Lian ngijinin kalo kita nginep di sana??"Tanya Joe di sela wajah masamnya di tertawakan.
"Kita cari cara lah, lama lama aja di sana, pas mau pulang bilang aja udah di kunciin bini pintu. Lian pasti nggak tega deh ngusir kita buat pulang"
"Boleh boleh"Sahut Fatur.
"Sepakat kan??"Tanya Vino. Dia menunggu tosnya mendapat sambutan dari Joe dan Fatur.
"Ya sepakat lah!!"Sorak mereka berdua.
❣❣❣❣
Akhirnya~~~~ waktu yang di nanti Maira tlah tiba.
Dengan gesit dia bersama para pelayan membereskan tempat di area pernikahan.
"Neng, makasih udah bantuin, sisanya biar kami yang lanjutin. Eneng nya di panggil Den Bryan"Ujar salah satu pelayan.
Maira pun meninggalkan taman, berjalan mencari cari Bryan yang katanya memanggilnya.
"Non Maira ya??"Sesosok pelayan wanita menghampiri Maira.
"Iya, ujarnya pelan"
Suasana sudut taman yang minim cahaya membuat Maira tak jelas melihat siapa yang sedang menyapanya.
"Di tungguin Den Bryan di sana"Tunjuknya ke arah keluar dari pekarangan keluarga Brander.
"Terimakasih"Ucap Maira.
Sesampainya di depan gerbang Maira tak mendapati Bryan di sana.Dia menanyakan keberadaan Bryan pada pelayan yang lewat tapi sang pelayan juga tak tau di mana keberadaan Bryan.
"Dih ngajak gelud ni cowok, kalo nggak mau nganterin bilang aja. Aku bisa pulang sendiri kok"Gerutu Maira. Namun dia coba bersabar dengan menunggu Bryan sebentar lagi. Sembari mengisir sekitaran taman dan kediaman Brander Maira berharap menemukan sosok Bryan di sana.
Di tempat lain Angela kembali bertingkah, masih dengan alasan nyeri datang bulan dia berhasil mengecoh Bryan dan menahan pria itu untuk bersamanya di ruang tengah lantai atas kediaman Brander.
"Sakit banget ya Gel??ke dokter aja ya"
Angela menggeleng.
"Terus gimana dong??obat yang kemaren kamu bawa nggak??"
"Ada di mobil"Ujarnya dengan rintihan.
"Aku ambil ya"
Tangan Angela menahan lengan Bryan"Jangan pergi dong, suruh pelayan kamu aja yang ambilin"
"Aku panggil pelayan dulu"Ujarnya.
Saat Bryan pergi ponsel yang dia letakan di atas meja mendapat panggilan.
📱:"Halo"
📲:"Ngh??"Maira memeriksa kembali nomor yang dia telpon.
📱:"Maaf Bryan nya lagi bikinin aku minuman hangat"Celoteh Angela dengan suara lembut. Melihat nama Maira tertera di sana Angela tak membuang kesempatan. Niatnya menyingkirkan Maira semakin lebar.
📲:"Oh, maaf mengganggu. Saya cuman mau bilang, saya akan pulang sendiri"Ujar Maira datar. Entahlah, kata katanya seakan enggan untuk berbicara banyak pada gadis yang menerima nelfon nya.
📱:" Baiklah, nanti aku sampaikan pada Bryan" Ujar Angela tersenyum senang.
Maira pun mengakhiri panggilan. Ada rasa sesak di dalam dada hingga membuatnya sulit bernafas. Dia menarik nafas dan menghembuskannya kasar"Cih, kalo lagi kencan ngapain nyariin aku!"
Maira mulai melangkah meninggalkan kediaman Bryan. Menyusuri jalanan nan sepi sendirian, berharap ada kang ojek atau apalah yang bisa dia tumpangi untuk pulang ke kontrakan.
Setelah berjalan sekitar 10 menit Maira di kejutkan dengan sebuah klakson yang berbungi nyaring di belakangnya.
"Non Maira ya??"Nampak seorang pria menyapanya dengan sopan dari dalam mobil.
"Iya"
"Saya pelayan Den Bryan, saya di minta mengantarkan Nona pulang"
"Oh, masih inget sama nasib karyawan kecil nya ini"Gumam Maira kesal.
"Ayo Non, bareng temen saya di belakang ya"
Maira sedikit ragu.
"Nggak apa apa non, dia pelayan di kediaman Brander juga"Ujarnya sopan dan ramah.
Maira pun ikut masuk dan mendapat sambutan senyuman hangat dari orang di kursi belakang.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote komen dan vote ya.
7 Desember 2020.
__ADS_1
Salam anak Borneo.