Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 28


__ADS_3

****Aku ingin memberimu semua kebaikanku,


Apakah kamu tahu,


Betapa berartinya dirimu bagiku,


Apakah kamu tahu,


Betapa indahnya mimpiku bersamamu,


Setiap waktu yang kita habiskan bersama,


Akan ku simpan dalam bingkai kerang yang kita buat bersama.


Di sini di tepian pantai ini,


Bersama kita menunggu sang matahari terbit.


Deru ombak menyatu bersama hembus nafas manismu,


Menjadikan irama syahdu yang melekat bersama detak jantungku.


Aku ingin membangun kastil,


Dengan aroma laut,


Berlari tanpa alas kaki di pantai bersamamu,


Mengukir senyum manis di sepanjang hidupmu***


🌼🌼🌼🌼


Malam seakan memberikan ganti rugi atas ke sialan yang Maira dapati di mini market tadi. Meski dia sempat tertangkap basah sedang menggibah Bryan sang Bos yang sangat menyebalkan baginya namun nyatanya sang Bos arogan itu sedang mengikuti langkahnya di belakang sana.


"Tuk!!"


Maira berbalik menatap Bryan yang juga menghentikan langkah tak jauh di belakangnya.


"Sampai kapan mau ngikutin saya Pak Bos??"


Bryan sok terkejut"Siapa yang ngikutin kamu??"


"Dari depan mini market tadi kamu ngikutin aku kan??"Ketus Maira lagi.


"Ge-er banget sih, aku jalan jalan doang. Cari angin segar"Kilah Bryan dengan wajah tanpa dosa.


"Cih...bilang aja kamu khawatir sama aku Bryan!!"Batin Maira.


"Ya udah kamu duluan sana!!"Ucap Maira mempersilahkan pria itu mendahului langkahnya.


Bryan menolak"Gak!!kamu aja duluan. Angin di sini sejuk banget, aku pen diem di sini sebentar" Berlagak mengibas ngibas kerah bajunya seperti sedang menikmati angin sepoy sepoy.


Pandangan Maira menjelajahi sosok Bryan yang keras kepala, bilang aja mau nganterin pulang. Pake bilang cari angin segala, dih gengsi Bryan emang setinggi langit.


"Ya udah!!, nikmatin aja angin malam nya biar masuk angin sekalian"Gerutu Maira kembali melangkah meninggalkan Bryan.


Selangkah....


Dua langkah...


Tiga langkah....


"Bryan!!!, kamu belajar jadi penguntit yak!!"Sentak Maira meninggikan suaranya.


"Jan berisik Ra!! udah lewat tengah malam!"Jemarinya meminta Maira menurunkan nada bicara. Takut mengganggu warga sekitar, ntar mereka di kira ngapa ngapa in berduaan di tengah malam.


"Kamu tu ngapain ngikutin aku lagi???!"


"Kan aku cari angin, di bilangin dari tadi!!"Ujarnya polos.


Jari telunjuk Maira menunjuk arah mereka berdebat barusan di belakang Bryan"Katanya angin di sana sejuk, kok aku jalan kamu ikutan jalan lagi!!"


"Udah abis anginnya di sana Ra!"Sahut Bryan lagi.


Maira mendengus kesal, tingkah Bryan yang kekanak kanakan membuatnya hampir tergelak tawa tapi dia harus menutupi geli hatinya dengan dengusan kesal. "Jadi begini cara Bryan menunjukan rasa perhatiannya terhadapku??nikmatin aja lah 😢" Batin Maira lagi.


Perlahan Maira melanjutkan langkahnya dan membiarkan Bryan kembali mengikuti langkahnya. Hingga sampailah mereka di sebuah kontrakan sederhana 2 lantai.


"Aku sudah sampai, kamu balik deh"Ujarnya menaiki tangga samping menuju pintu kontrakan nomor 4.


"Kontrakan???"Bisik hati Bryan.


"Pak Bos!!, jan bengong. Ini tengah malam, ntar kesurupan!"Seru Maira dari atas sana.


Ucapan Maira tak dia hiraukan"Kamu tinggal di sini??"


"Ya iya lah, masa aku ke sini mau bertamu doang, lagian udah jam segini hunian mana yang menerima orang bertamu di jam segini Pak Bos??"Sahut Maira nyeleneh


Enggan berdebat Bryan pun meninggalkan Maira dan menyusuri kembali jalan yang tadi mereka lalui. Hanya perlu beberapa menit kini dia tlah sampai di depan mini market kembali. Di kursi depan Keano sang karyawan mini market sekaligus sahabat Maira masih betah berkencan online dengan sang kekasih.Sesekali terdengar gelak tawa Keano dengan ekspresi cerianya.

__ADS_1


"Gitu amat ngobrol sama pacar"Gumam Bryan bersandar di pintu mobil.


"Maira kok tinggal di rumah kontrakan??ada apa dengan kehidupannya setelah meninggalnya June??"Gumamnya berpikir keras.


Ingin rasanya Bryan bertanya panjang lebar kepada Keano, tapi melihat betapa asik nya tu anak ngobrol dengan kekasih di telpon Bryan jadi enggan bahkan sekedar menyapanya saja.


Akhirnya pria itu meninggalkan area mini market untuk segera kembali ke kediamannya.


🍭🍭🍭🍭


Pagi yang cerah dengan aroma khas kopi menyapa Kaila di awal hari ini. Tubuh lelah dengan rasa pusing akibat kebanyakan minum tadi malam membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur. Lagi pula mulai hari ini dia resmi sebagai pengangguran, selain bermalas malasan hal apa lagi yang patut dia kerjakan. Hmmmm...akhirnya masa masa senggang yang tlah lama Kaila impikan terwujud juga. Kesibukan bekerja di dua tempat dalam setahun terakhir jelas membuat Kaila lelah dalam segalanya.


Tanpa membuka mata Kaila bolak balik di tempat tidur menikmati aroma menenangkan dari secangkir kopi yang Lian sediakan. Otak wanita ini belum mencerna di mana dia sekarang, ranjang empuk yang dia nikmati sekarang memang hampir sama dengan ranjang miliknya di panti, tapi....Seketika aroma mint vanilla khas Lian menyeruak di indra penciumannya.


"Endus endus"Hidung mancung Kaila mempertajam penciumannya.


"Lian___"Gumamnya masih dengan kedua mata terpejam.


"Iya La, udah bangun"


Whaaaattt!!!! kedua mata Kaila terbuka lebar sekarang. Mata bulan itu semakin membulat ketika mendapati sosok Lian duduk manis di tepian ranjang. Pantas saja aroma Khas nya tercium sangat tajam. Dia habis mandi, bahkan masih mengenakan handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Glek!!"Entah kenapa menelan saliva di pagi hari terasa kesat di tenggorokan Kaila. Eh...perasaan pagi pagi kemaren ini tenggorokan baek baek aja kok. Apa karena roti sobek tak berakhlak ini?? Kaila jadi ingin menarik Lian dan tenggelam dalam selimut bersamanya.


"Masih pusing??"Tanya Lian tanpa tahu apa yang sedang terjadi dalam otak mesum Kaila. Ckckckkckc


"Ehss!!, dikit sih"Ujarnya mendesis memegangi kepala dengan rambut acak acakan.


"Makanya!!di bilangin gak usah minum, ngeyel sih!"Jemari Lian memijat pelan kepala wanitanya.


"Heiiii, belom jadi suami udah berani ngomelin aku??"Kaila mendongak memandang Lian dengan sepasang mata memicing.


Lian tersenyum, haisss!! pake pamer lesung pipi pula. Kaila kan jadi makin gemes sama calon suaminya ini >,<


"Kan demi kebaikan kamu juga Sayang, sekarang siapa yang lagi pusing??"


"Aku"Jawab Kaila manyun.


"Nah!! coba kalo tadi malam kamu gak minum, aku juga gak usah repot repot gendong kamu dari sofa ke tempat tidur ini Sayang"Ujarnya mengusap rambut berantakan Kaila.


"Ohhh jadi sekarang kamu ngeluh??"Tunjuk Kaila pada kening Lian.


Kedua tangan Lian mengibas di depan dada"Bukan gitu Kaila Sayang, kamu gak tau gimana beratnya godaan aku tadi malam😢"


Pake nunjuk kening pula, jadi keinget Kaila yang coba mengaktifkan mode seksi padanya tadi malam. Hehehe Kaila ada ada aja nih kalo mabok.


Lian membantu Kaila beranjak dari tempat tidur"Gak usah kebanyakan mikir, sarapan yuk"


Kaila mengikuti langkah Lian meski masih sempoyongan"Aku cakep Li!!!"


Tubuh kecil itu dia dudukan di kursi"Makanya sarapan biar keisi tenanganya"


"Dih..kamu ada kopi kok aku enggak??"Tanya Kaila mendapati hanya kopi milik Lian yang tersedia di meja makan.


"Ups!!punya kamu aku letakan di nakas tadi, aku ambilin deh"Pria itu bergegas kembali ke kamar dan meletakan secangkir kopi panas yang mulai menghangat di hadapan Kaila.


Kaila menopang dagu dengan kedua tangan menghadap Lian"Li!!!, kamu mau ngasih aku sarapan apa??"


Roti lapis krim keju tlah tersedia di hadapan Kaila, tapi wanita ini masih bertanya tentang menu sarapan yang akan Lian berikan kepadanya. Nampaknya otak Kaila belum benar benar nyambung dengan dunia nyata.


"Ini Sayang, udah di depan mata. Silahkan di nikmati!!" Tukas Lian mendekatkan menu sarapan itu pada Kaila.


"Kirain.....mau di kasih sarapan roti sobek milik kamu" Jemari lentik Kaila bermain di perut Lian yang memang belum mengenakan pakaian.


"Blush!!"Wajah Lian bersemu. Kaila makin hari makin sengklek nih. Makin ke sini Kaila makin ganjen dan centil menggoda dirinya.


"Kamu duluan aja, aku siap siap dulu"Lian ngacir dari hadapan calon istri somplaknya.


Sementara Lian melarikan diri karena malu atas tingkah Kaila, si pelaku terkekeh geli setelah melancarkan godaan pada lelakinya itu.


Brak!!, Pintu kamar tertutup. Lian bersandar di belakang pintu coba mengusir rasa malu nya.


🍭🍭🍭🍭


Rencana pernikahan Kaila dan Lian kini perlahan di persiapkan. Langkah awal para orang tua akan bertemu nanti malam di kediaman Brander.


Mendapati kabar tersebut ada rasa berat untuk melepaskan di hati Bryan, Kaila Adik tersayang harus segera dia relakan hidup bersama dengan Lian yang menyebalkan baginya.


"Mukanya di tekuk terus, ntar kucel lho"Tegur Tuan Odet mendapati wajah masam sang putra.


"Nggak lah Pah, biasa aja kok"Kilah Bryan. Emang deh si Bryan, gak sama Maira gak sama Tuan Odet kerjaannya ngeles mulu kek angkot.


Seringai tawa mengembang di wajah Tuan Odet. Tingkah Bryan kaya anak kecil belakangan ini.


"Ya sudah, jangan lupa nanti malam kembali ke rumah. Papah kangen bangun pagi ada kamu di kediaman kita"Ujarnya menepuk pundak sang putra.


"Iya Pah"Sahutnya begitu malas. Menu makan siang terasa hambar di lidah, kabar pernikahan itu meruntuhkan selera makannya.


"Cinta...cinta...,his!! apa sih indahnya cinta"Komat kamit kaya lagi baca mantra.

__ADS_1


"Oi!!!, tumben ngomongin cinta!!"Brama sahabat tak di anggap nongol kaya ninja hatori. Seketika udah duduk aja ni anak di depan Bryan.


"Hadddaaaahhhh!!!, apes banget sih"


"Apes kenapa brooooo"Lanjut Brama cuek menarik mangkok mie ayam milik Bryan.


"Nih, apes kamu rampok. Maen ambil aja. Itu makan siang aku Bram!"


"Aku liatin dari tadi mie ayam nya kamu obok obok doang, dah deh nggak usah kamu makan. Ntar pusing lho pala nya"


"Dih mitos tuh,kalo gitu napa kamu yang makan mie ayam nya??gak takut pusing juga tu kepala??"


"Aku mah ada penangkalnya Bro!"Brama terus melahap mie ayam tanpa menghiraukan pandangan sang empu.


"Apaan?"Tanya Bryan termakan kibulan Brama.


"Cakep!!, gak liat aku cakep. Orang cakep mah bebas, mo ngapain aja gak bakal kenape kenape"Kedua alis jahilnya berkedut mengolok Bryan.


"Plak!!"Mendaratlah ponsel milik Bryan di jidat Brama.


Dia hampir tersedak karena geplakan Bryan"Kalo aku mati tersedak gimana Bryan! gegara semangkok mie ayam doang!"Ucapknya sedikit kesal.


"Maka aku akan mengirimkan sekeranjang bunga ke pemakaman kamu"Sahut Bryan yang langsung membuat bibir Brama manyun bagaikan donal bebek.


"His!! mulut jahat mulut jahat mulut jahat!!"Cecarnya memandang kepergian Bryan.


"Bryan si mulut jahat!!!!"Pekiknya kesal di cuekin Bryan.


"BRYAN MULUT JAHAAAATTT!!!"Teriaknya akhirnya. Sayang Bryan tak bereaksi apa apa pada teriakannya. Dia semakin menjauh dari dapan Brama tanpa berbalik menatapnya sedikitpun.


🌼🌼🌼🌼


Maira meringkuk bak pesakitan di sofa santai. Para pemimpin Brander company memang menyediakan area bersantai demi melepas penat ketika bekerja untuk para karyawannya. Selepas makan siang dia mendapat pesan cinta dari pemilik kontrakan. Jika sampai akhir bulan dia belum membayar uang sewa maka dengan terpaksa dia harus angkat kaki dari kontrakan.


"Brbrbrbrbr"Maira meracau memandang ponsel. Pesan di ponsel tersebut tiba tiba membuatnya sakit perut.


"Keano!!, pinjem duit sama Keano!!" Pekiknya kembali bersemangat.


πŸ“±:"Tutttt!!!....Tuttt!!!"


Tak ada jawaban


πŸ“±"Truuuttt!!!"Kali kedua Maira menekan nomor Keano di ponselnya.


"Aduh Keano!!!, angkat dong!!!"Desahnya putus asa.


"Hick...aku harus kemana kalo sampe di usir???!"Keningnya terus mengkerut setelah mendapat pesan itu.


πŸ“²:"Keano calling!"


Gadis itu menerima telpon balik dari Keano.


πŸ“±:"Dari mana aja bambank!!, di telponin dari tadi"Cecarnya tak sabar ingin menyampaikan maksud hati.


πŸ“²:"Abis boker Ra!!, lagian ada masalah apa kamu??"Tembak Keano. Jika Maira menghubunginya berkali kali pasti ni cewek ada mau nya. Contohnya....


πŸ“±:"Pinjem duit dong!"


πŸ“²:"Nah...baru juga kepikiran, kalo gak uang dan derita apa lagi yang bisa kamu hibahkan sama aku. Kalo senang senang mah kamu pasti menikmatinya sendiri"Sindir Keano tanpa merasa takut Maira tersinggung.


Yah...Keano satu satunya sahabat Maira di kota ini. Dia bertahan sendirian di kota ini demi menghindari kedua orang tuanya di kampung yang selalu mendesaknya agar segera menikah. Selepas gagal membina rumah tangga karena di tinggal pergi oleh June, dia di cap akan hidup dalam kesialan jika tak segera mendapatkan pengganti June yang kini tlah tenang di surga.


πŸ“±:"Jan banyak cingcong, buruan pinjemin duit!"Desaknya.


πŸ“²:"Gak ada Ra!"


Wajah Maira seketika masam.


πŸ“±:"Pelit nih, ayolah Keano. Abis gajihan aku ganti kok!"Pinta Maira sangat berharap.


πŸ“²:"Kamu kaya gak tau isi dompet aku aja Ra, ini juga udah lewat pertengahan bulan. Gajih aku kan gak seberapa"


Keano ada benarnya, meski dari keluarga berada sejatinya dirinya dan Keano sama sama kabur dari para orang tua. Sementara Maira kabur karena di desak segera menikah sedangkan Keano di desak mendalami dunia bisnis agar kelak dapat mewarisi perusahaan Ayah tirinya.


πŸ“±:"Ya udah deh kalo kamu gak punya uang lebih. Tapi kalo ntar aku di usir dari kontrakan numpang di kontrakan kamu yak"


Tanpa Maira sadari sedari tadi Bryan berada di sofa belakang menguping obrolannya bersama Keano.


"Hoel!! kaya gak ada beban aja ni cewek seenaknya pengen numpang di kontrakan cowok!!"gumam batinnya.


Maira lanjut berkeluh kesah kepada Keano di belakang Bryan. Dari hasil nguping obrolan mereka akhirnya Bryan paham masalah Maira sekarang.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.


1 November 2020.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2