Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Eps 42


__ADS_3

****Cahaya bulan menuntun hari hari yang tlah ku lewati.


Setiap saat yang kulewati dengan perjuangan,


Aku akan menemuimu sekarang, saat ini juga.


Duhai pengantar cinta~~


Pergilah sampaikan perasaanku kepadanya.


Duhai pengantar rindu~~


Tunjukan jalan kembali agar ku dapat bertemu dan memilikinya.


Bernaung langit nan bertabur bintang,


Ikrarkan janji untuk kita bersua kembali,


Saat itu, ku rasa saat itu kan tiba masanya.


Bersandarlah di pundak ku saat kau menangis juga terluka,


Ku kan jadi yang terhebat untukmu dan juga untukku.


Di bawah langit yang sama,


Cinta dan rindu kita kan saling bersama,


Kita yang tlah bertemu di masa lalu,


Kita yang tlah banyak melewati waktu bersama,


Kita yang tlah banyak bersenda tawa,


Kita pula yang banyak saling terluka,


Maka kita pula yang kan bersama selamanya****


❣❣❣❣


"S I A L A N !!!" Umpat Maira kesal setengah mati. Mau tidak mau dia kini tlah bergabung memeriahkan acara pernikahan Nona muda Brander. Apa apaan, dirinya yang datang dengan baju tidur kini terpaksa mengenakan gaun nan anggun dengan belahan tinggi di paha kirinya.


"Gila, aku di jebak!"Tangannya mengepal merutuki Bryan. Lihatlah betapa menyebalkan pria itu sekarang, Bryan yang hangat benar benar tlah mati sekarang.


"Seumur umur aku nggak pernah memakai pakaian berbelah sepanjang ini"Gumamnya berputar di cermin fullbody setelah di tinggalkan Sena ke kamar Kaila.


Di tambah gaun berwarna peach itu tak berlengan, selamat sudah! Maira paling anti pamer ketek. Berasa ada yang kurang gitu kalo dia mengenakan baju tanpa lengan.


"Ya salam~~~~, awas kau Bryan!"Giginya bergerutuk menahan kesal. Baik mulut maupun hatinya terus mengumpat dan mengatai Bryan yang menyebalkan.


"Maira, ayo. Kaila ingin kamu yang mengantarnya ke altar pernikahan"Sena muncul dari balik pintu. Demi apa, tanpa persiapan apapun Maira malah di minta mengiring Kaila naik ke altar pernikahan. Hello!dengan begitu selain Kaila maka dirinya juga akan menjadi pusat perhatian, dengan pakaian seperti ini??


"Anu___"Gadis itu gugup. Tenggorokannya tiba tiba terasa kering.


"Kenapa??"


"Hm...ini, gaunnya"Cicitnya tak enak hati pada Sena.


"Kamu cantik Maira, cantik banget"Puji Sena.


"Tapi"Tangannya memegangi pundak terekspos nya pula. Tak di pungkiri Maira memang cantik mengenakan gaun itu, tubuhnya yang putih bersih memancarkan aura berbeda dari biasanya.


"Its okay, kamu cantik banget sayang"Ujar Sena menarik Maira keluar dari kamar tamu keluarga Brander.


Di kamar Bryan tengah berdebat dengan Fatur.


"Kaila Adeknya siapa??"


"Aku"


"Nah, kok kamu minta aku yang nganterin Lian naik ke altar"Fatur senderan di kursi balkon sembari mengamati para tamu undangan di bawah sana.


"Ntar di kira orang aku yang bakal nikah sama Adek kamu. Ingat Pak Bryan, wajah saya ini jauh lebih cakep dari Lian somplak itu" Sambungnya seakan hanya dialah lelaki yang tampan rupawan di sini.


Astaga!, Bryan menilai Fatur berlebihan. Di dalam otaknya Fatur tu pribadi yang kalem dan berwibawa. Nggak tau nya lebih edan dari si Lian. Narsis bin ajaib, itulah penilaian yang sekarang terlintas di otak Bryan.


Sembari mengamati penampilannya di sebuah cermin besar"Ya sudah, Pak Rilley aja yang mengiringi Lian"


"Beh, mana mau! Lian udah pesen, jangan Om Rilley yang jadi pengiringnya"Celoteh Fatur.


"Sudah lah, Pak Bryan aja, udah cakep begini kok"Fatur menyisir penampilan Bryan yang memang cukup menawan setelah berganti pakaian.


"Meskipun jas kita kembaran tapi kalo sama Pak Bryan saya mengaku kalah deh"Mulut manis Fatur mulai beraksi. Demi mengabulkan keinginan Kaila agar Bryan saja yang mengiring Lian maka dengan berat hati dia harus merendah di hadapan Bryan.


"Cekrek" Pintu kamar di buka.


"Hei, kalian para groomsmen siapa nih yang mengiring Lian naik ke altar?"Tanya Sena mengintip di balik pintu kamar Bryan.


"Nih"Tunjuk Fatur tepat di depan wajah Bryan.


Sena tersenyum senang"Nih! urusan pengantin aku serahkan sama kalian berdua"Maira nongol dari balik pintu.


Dengan rambut tergerai sedikit bergelombang, Wajah naturalnya kini terpoles make up yang jelas menambah kecantikannya semakin terpancar. Di tambah gaun manis yang dia kenakan membuat kedua mata Bryan tak berkedip beberapa saat.


Fatur menahan diri. Dengan bibir terkantup dia menatap Maira dan Bryan bergantian.


Sena memberi kode agar Fatur keluar dari kamar itu, biarkan dua insan doyan cek cok ini mengurusi masalahnya sendiri.


"Ikut Sen"Maira berniat mengekor Sena.


"Sama Bryan sana, buruan bentar lagi pengantinnya keluar"


Maira kikuk. Tiba tiba dia tak bisa bergerak leluasa, dari pada salah tingkah dia lebih merasa aman dengan diam mematung saja.


"Bye"Fatur nyengir menutup pintu kamar Bryan.


Awalnya Maira menatap lurus pada Bryan, namun ketika tatap mata mereka bertemu gadis itu buru buru menundukan pandangan. Akh, apa bagusnya ubin di kediaman Brander ini??kok Maira merasa lebih nyaman memandanginya ketimbang menatap Bryan kembali.


"Tuk tuk tuk"Langkah itu mendekat kepada Maira.


"Ayo"Tangannya meraih jemari Maira dan membawa gadis itu bersamanya.

__ADS_1


Jemari mereka saling bergenggaman, terasa dingin bagi satu sama lain. Mungkin karena jantung mereka sedang heboh di dalam sana, jantung yang berlarian riang gembira itu membuat sang empu berkeringat dingin meski hanya bergandengan tangan saja.


Suasa khitmad menyambut langkah Kaila di atas altar, wanita itu kini menjelma bagaikan ratu dari kerajaan bunga.


"Srak!!"


Kelopak bunga mawar merah menghujani langkahnya bertemu Lian, para tamu undangan bertepuk tangan begitu meriah. Ketika jemarinya di antarkan Maira pada jemari Lian, pria itu langsung mengecup punggung tangannya dengan begitu mesra.


"Yahhhh nyiumnya kok di situ sih!!!"Teriak Joe yang katanya kalem, namun kalo urusan ngipasin kompor dia paling kenceng dalam berteriak.


"Cium! cium! cium!"Yak, Joe sukses memandu para undangan untuk meminta mereka berciuman.


"Hehehhe, minta di sleding palanya tu anak"Bisik Kaila tersenyum.


"Ntar aku yang sleding, kalo perlu sebadan badannya aku sleding sayang" Tatap teduh Lian merengkuh pinggang Kaila.


"Jangan ngobrol oi!!"Teriak Joe lagi.


Lian melirik si kupret di bawah sana, dia menunjuk Joe dengan tawa lebar. 3 cecunguk di bawah sana terus tertawa saling dorong sambil tertawa menatapnya.


"Cium! cium!"Para tamu masih menantikan pemandangan yang bisa bikin para jones gigit jari dan tersedu sedu.


"Cup!"Ciuman hangat mendarat di bibir manis Kaila.


"Prok! prok! prok!"Tepuk tangan terdengar riuh penuh rasa suka cita.


Tuan Odet nampak berkaca kaca, di samping Bryan dia ikut bertepuk tangan menyaksikan kebahagiaan di depan mata.


"Waaawww, yang jomblo tolong berbesar hati ya"Ujar Joen sang Mc di pernikahan Kaila dan Lian ini. Benar yang di katakan Tuan Odet, keluarga Charllote banyak membantunya kali ini. Selain Nyonya Sook dan Ghina, kini Tuan muda kedua dari keluarga Charllote dengan senang hati menjadi Mc memimpin acara pernikahan putrinya.


"Nah....sekarang yang masih lajang tolong berkumpul di depan sana, acara lempar bunga akan segera kita laksanakan nih"Jelas Joen.


Fatur menghampiri Maira"Neng, sono rebutan buket"


Maira menggeleng.


"Biar laku, katanya kamu pengen nikah"


"Dih kata siapa???"Tatap Maira dengan bola mata membulat.


"Kata Pak Bryan!, tadi di kamar dia cerita kamu ber uwo uwo menyaksikan dekorasi bunga bunga ini kemaren"Jelasnya membuka percakapannya bersama Bryan beberapa saat lalu.


"Kagum doang mas"


"Mas???, ya elah panggil nama saya aja. Kesannya kaya tua banget kalo di panggil mas gitu"


Maira tersenyum canggung.


"Ayo sama aku"Mei maju menarik Maira.


"Nggak usah, saya lapar belom makan dari pagi"Kilah Maira.


"Abis ini kita makan"Jova ikut mengajak Maira maju ke depan.


Para sahabat Kaila terus membujuk Maira agar gabung bersama mereka. Sudah di rencanakan, mereka akan mendekatkan Bryan dan Maira hari ini.


Lian dan Kaila memegang buket bersamaan, berbalik badan dan melemparnya ke belakang bersamaan.


Para tamu kembali riuh, dan ketika buket yang melambung di udara itu mendarat di tangan seseorang semua mata tertuju pada sang penerima buket.


Buru buru Vino merampas tu buket dan terlempar pada Maira.


"**** aku yang dapat!"


"Diem! demi keselamatan hidup kamu"Desis Vino.


Jadilah sang penerima buket adalah Maira.


Geng somplak mengelu elukan Maira sambil melirik Bryan.


"Ehem! bakal nyusul nih"Goda Mei.


"Nggak, cuman buket doang"


"Cie~~~itu tandanya kamu bakal nyusul"


"Hehehhe, mitos kok"


"Dih kata siapa, jangan lupa undangannya ya"mereka terus menggoda Maira hingga wajah gadis itu merona malu.


Kaila mengedipkan mata pada para sahabatnya. Jempolnya terangkat naik pertanda usaha mereka cukup berhasil.


Para orang tua berkumpul sembari bertukar cerita. Tak terkecuali para emak emak milenia sahabat Nyonya Sook.


Di meja lain nampak Vivi melirik Nyonya Sook yang tergelak tawa bersama para sahabatnya.


"Hmmm...dunia begitu kecil" Bisik Hati Vivi.


Di pandanginya Rilley dan Hermanto yang sedang terlibat pembicaraan serius, katanya sih tentang pekerjaan.


Kemudian di pandanginya lagi Sook di sudut lain, masa lalu. Yah..Vivi, Sook dan Rilley punya cerita di masa masa muda mereka.


Di sudut lain...


"Lapar banget ya??"


"Iya lah, di culik pagi pagi buta. Saya mana sempat sarapan"Sahut Maira cuek melahap makanannya.


Di pandanginya gadis yang tanpa rasa jaim itu dengan seksama. Berkali kali dia menyelipkan rambutnya ketika menunduk menyuap makanan, akh ribet banget jadi cewek.


Bryan meraih rambut Maira nan hitam legam itu, memeganginya agar Maira dapat makan dengan leluasa.


"Pak____saya lagi makan lho"


"Iya tau, lanjut aja"


"Lepasin rambut saya"


"Ntar kamu makan lho rambutnya"


Bibir Maira mengerucut"Oh.."Hanya kaya itu yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Sepanjang acara pernikahan Maira terus di buntuti oleh Bryan, sikapnya begitu terlihat bahwa dia tertarik pada gadis itu. Hingga Tuan Odet yang awalnya tak menyadari kedekatan mereka jadi penasaran terhadap Maira.


"La, Kakak kamu punya hubungan apa dengan gadis itu??"


"Hehehhhe, hubungan hati Pah"Jelas Kaila mengedipkan mata.


Tuan Odet tertawa senang"Wuahhh....yang bener La??"


Kaila mengangguk tertawa.


"Serius?"


"Iya Pah!"


Ucapan putrinya membuat Tuan Oder gembira, jika memang benar bersama dia nggak akan membuang waktu.


Di antara para tamu undangan nampak 2 orang yang memang Tuan Odet tunggu sedari tadi.


"Tuan___"


"Iya, itu mereka"Ujarnya kepada Rivan.


"Ikuti mereka, mereka saling kenal kok. Buat mereka bertemu, segera!"Perintahnya pada Rivan.


Joe sedang tersandar di meja yang penuh dengan hidangan, dia nampak kekenyangan setelah mengisi perutnya yang tengah kelaparan.


"Perut kenyang hati pun senang"Vino dan Fatur nimbrung di meja itu.


"Bro, aku balik duluan ya"


"Lho...kenapa??"Tanya Vino menyesap minumannya.


"Kontrakan"


"Kenapa kontrakan??"Lian nongol bergabung bersama mereka.


"Wuidih!! suami orang, bininya kok di tinggal"Goda Fatur.


"Tenang, udah di iket bro. Tuh..."Lian pamer cincin pernikahan yang terselip di jarinya.


"Cie cie, di tunggu traktirannya"Seloro Vino.


"Iya dong!, ntar malam ke apartemen ya"


"Duh kalo malam ini nggak bisa, atau...aku datangnya telat ya"


"Emang mau kemana??katanya menetap di sini??ikut kerja di kantor kan??"Selidik Lian.


"Iya lah, kalo nggak kerja aku makan apa??emang kalian mau ngasih makan aku??"


"Buwweekkk!!"Fatur mencibir Joe"Ogah, mending ku jual sama tante tante kamunya"


"Wah parah Fatur ih, tenang aja aku kan udah masukin lamaran ke kantor kalian"


"Hehehhhe, kebetulan bagian OB ada yang kosong tuh"


"Jangan OB lah Vin, aku biasa berdasi"


"Gaya mu Joe!!"Sentak Lian.


"Udah udah, jadi gimana nih???kamu mau kemana ntar malam??"Tambahnya.


"Aku udah nemu kontrakan, makanya ini mau beres beres"


"Tuh kan, pinter ni anak"


"Pinter lah"Ujarnya menatap Vino.


"Aku tau diri kali, kelamaan numpang di flat kamu sama Jova nggak baik buat jantung ku"


Fatur terkekeh"Kwkwkkwkwk, emang kenapa?? ada penampakan di sana??"


"Ya kali penampakan, di depan tamu main nyosor tipokan hot, aku yang jomblo ini jadi tersiksa kan"Joe terbayang ketika sedang asik menonton televisi indra pendengarannya terpaku pada suara tipokan panas yang Vino lancarkan pada Jova.


"Lah aku lupa kalo ada kamu, biasa deh kalo sedang berduaan orang ketiga berasa kaya____"


"Setan!"Joe manyun membuang pandangan.


Kwkwkwkkwkk mereka mentertawakan Joe yang menekuk muka. Sudah di sepakati malam ini Vino dan Fatur akan membantu Joe mengemasi barang ke kontrakan. Sekalian membeli barang barang yang dia perlukan seperti kulkas, mesin cuci dan lainnya.


"Nggak capek ngikutin saya mulu Pak??"


"Nggak tuh, sampe kamu bersedia ganti tu gaun baru deh aku berhenti ngikutin kamu"


"Ya sudah kalo gitu saya boleh pulang kan??"


"Enggak!"


Maira melenguh jengah"Pak Bryan, saya ke sini cuman pake baju tidur, Pak Bryan mau saya berbaur bersama para tamu menggenakan baju tidur saya itu??"


"Ya enggak lah"


"Nah, makanya jangan bawel. Saya juga nggak suka pake baju begini tapi mau gimana lagi"


"Pinjem gaun Kaila aja deh"


Maira berpikir sejenak. Bisa juga tuh.


"Saya ke toilet sebentar ya"


"Oke, jan kabur!"


"Saya bukan penghianat Pak, ingat janji Bapak aja, selepas ini hutang saya lunas kan??"


Bryan bersikap cuek"Buruan ke toilet sana"


"Aku butuh strategi baru_____"Gumam hati Bryan.


To be continued....


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.

__ADS_1


6 Desember 2020.


Salam anak Borneo.


__ADS_2