Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 11


__ADS_3

Seperti mimpi,


Ketika cinta yang berharga dapat terus memenuhi satu halaman.


Kerinduan mengelilingi,


Ketika lukisan kubuka yang terlihat hanyalah wajahmu.


Keinginan yang belum terselesaikan terlukis bahagia dari banyak kehidupan,


Mata yang tlah mulai berpaling masih setia menunggu uluran benang merah darimu.


Kau adalah dunia terhangat yang terus menerus mengikat hatiku,


Sebuah cinta yang tak terucap oleh takdir.


Menjadi penyesalan tercepat yang masih belum sempat aku selesaikan,


Badai yang mendesak perpisahan,


Berkembang dan memudar,


Hingga diam diam terlupakan.


Perasaan ini tak pernah berubah,


Tetap manis di dalam lubuk hatiku.


💝💝💝💝


07:00 Trifam Company.


Sepasang mata menatap tajam pada sebuah mobil berwarna hitam yang baru saja berhenti di parkiran.


Seorang pria bertubuh tinggi tegap menanti sang pemilik mobil berjalan mendekat kepadanya.


"Morning friend" Sapa sang pemilik mobil yang tak lain adalah Lian.


Mendengar sapaan santai Lian orang yang menantinya mencebik kesal.


Tanpa membalas sapaan Lian, pria yang nampak kesal terhadap pria songong itu mengekor langkahnya memasuki perusahaan "Anda bahagia akhir akhir ini Pak Lian??". Ujarnya bertanya dengan nada datar.


"Yes!!, anda??" Lian balik bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Pake ngelemparin senyum pula.


"Kampret!!, masih sempat bertanya balik!!" Pria yang tak lain adalah Vino itu menekan pundak Lian dengan kesal. Teringat insiden pemindahan kerja, gegara titah lebay Lian dirinya harus menghadap sang Papah untuk memberikan penjelasan perihal pemindahan itu. Jadi ketahuan deh kalo dia sering molor berangkat ngantornya.


"Kapan berangkat ke Jepang??" Lian santuy menanggapi amukan Vino. Meskipun dia sempat sedikit oleng karena pukulan pelan Vino di pundaknya, sikap santai dan tenang seorang pemimpin masih terpancar dari dirinya.


Vino sempat tersenyum mendengar pertanyaan Lian, namun kemudian dia berwajah songong dan dengan bangga berucap pada Lian.


"Kamu pikir aku nggak bisa menolak perintah kamu??hah!! kamu lupa kalo kita sederajat??" Ujarnya dengan wajah bangga.


"Sama tapi berbeda, itulah aku sama kamu. Aku giat bekerja kamu giat kesiangan, cih alasan apa yang kamu gunakan untuk menentang titahku Mber??" Selidik Lian.


"Jova hamil" Sahut Vino tersenyum lebar.


Langkah Lian terhenti, dia berbalik dan menatap Vino seakan tak percaya.


"Serius??"


"😆 Iyah". Sahut Vino senang bukan kepalang.


"Oh god!!, selamat Mber, bakal jadi ayah deh". Sikap Lian seketika berubah. Dia nampak bersemangat mendengar kabar baik itu. Sebenarnya ini bukan kali pertama Jovana hamil, di awal awal masa pernikahan mereka Jovana sempat hamil namun kesabaran mereka di uji sang maha kuasa, Jovana keguguran.


"Hahahha, Lihat Nci, Tuhan tuh sayang banget sama umatnya. Setiap kesabaran pasti ada buahnya, setelah setahun lebih Jova akhirnya hamil lagi". Cerocos Vino penuh semangat.


"Hm...gitu ya, tapi kok sama aku enggak??"


"PLAK!!!" Vino menampol mulut Lian.


"Congor lucknat!!, nggak boleh ngomong begitu Panci!!, Tuhan tuh maha pengasih dan maha penyayang, kamu nya aja yang nggak menyadarinya. Dasar kulkas, punya hati kok dingin melempem bin beku.


"Suka suka aku lah, aku udah enak kaya gini kok". Lian nyolot.


"Dibilangin malah ngeyel, move on dong dari Kaila, Tuhan pasti udah nyiapin jodoh terbaik buat kamu. Ingat Li, kamu udah mau 32" Bak seorang ustad Vino melakukan ceramah paginya sembari mengiringi langkah Lian ke dalam ruangannya.


"Cowok umur 32, emang kenapa??" Dengus Lian, segala menyinggung usia Vino bikin makin kesel Lian nih.


"Umur 32 belom dapet bini, terus Lian junior kapan lahirnya??"


Sontak Kekesalan Lian semakin menjadi, dulu dia sempat memikirkan hal itu namun cepat cepat dia tepis karena mikirin itu aja bisa bikin mood nya anjlok. Lah sekarang si Vino pake mau ngebahas perihal Lian junior pula, alhasil Lian mendorong Vino untuk keluar dari ruangannya dan menutup pintu dengan keras" BRAKKKK!!".


"Astagfirullah!!!, Oy Jin galau tinggalin tubuh Lian". Teriak Vino.


"Gila!!" Lian balas berteriak.


"Ugh!!!, di kasih nasihat malah di usir". Gerutunya menendang pintu ruangan Lian dan melangkah ke arah berlawanan.


"Ngedrama mulu pagi pagi" Tegur Fatur yang ternyata juga sudah datang.


"Eh mantan pesakitan, gimana kabar ente?".


"Siapa yang pesakitan??, Tak' sobek sobek mulut kamu Vino!!" Sentak Fatur terlihat garang.


Vino mengibaskan tangannya di depan Fatur "Iya deh yang percintaannya happy ending"


"Kamu minggir deh, buruan lewat, ntar di omelin Lian lho".


"Omelin??salah aku apa??" Tanya Fatur menatap penuh tanya Vino.


"Lagi datang bulan kali, di nasehatin malah ngambek. Dah deh minggat sono". Jelas Vino dan berakhir dengan pengusiran Fatur.


"Ya elah, kalian yang berantem kok aku yang kena??"


Lian keluar dari ruangannya dengan beberapa map di tangan" Dionnnnn, kumpulin para anggota divisi kita, 5 menit lagi rapat pagi".


Tergesa gesa Dion menghampiri sang atasan dan segera melakukan apa yang dia perintahkan.


"Gila!!" Sempat sempatnya Vino berseru pada Lian.

__ADS_1


"Bwekkkk!!, Sinting!!" Balas Lian.


"Astaga!!!, udah gede, masih aja ejek ejekan" Fatur berujar.


Dari suara itu Lian menyadari kehadiran Fatur"Eh kang bucin, minggir sono!!, anda bukan dari divisi kami". Sentaknya tak berperasaan.


"Nah lho..jangankan kamu, aku yang satu divisi aja dia usir, minggat deh kamu Tur!". Tambah Vino melirik kesal Lian.


Kedua mata Fatur melirik Lian dan Vino bergantian "Kalian kenapa sih??,berantem lagi??".


"Nggak!!" Sahut mereka bersamaan.


"Terus??".


"Minggir Fatur, urusin kerjaan kamu sana!!" Ujar Lian lagi.


"Oke oke, mau berantem mau mesra mesraan aku mah bodo amat ye,bye👋". Fatur mengalah, dia tau ada keributan di sana namun dia nggak berniat untuk menambah keributan "Damai itu indah". Ujar Fatur meninggalkan Lian dan Vino.


Setelah rapat pagi selesai para karyawan melaksanakan tugas mereka masing masing, begitu juga dengan Dion.


"Mengenai motor sama ponsel yang kemaren Pak" Ujarnya buka suara.


Telinga Vino berkedut memperluas pendengaran,"Lian beli motor??" Tanya batinnya.


"Hmmm" Lian bergumam.


"Motornya ada di parkiran, dan siang ini ponselnya udah bisa di ambil Pak". Lanjut Dion kembali beucap.


"Jam makan siang ponsel itu sudah harus saya terima".


Dion kelabakan "Waktunya belum di tentukan Pak, sedang di proses".


"Usahakan pas jam makan siang ponselnya udah kembali normal".


"Siap Pak, saya usahakan".


"Ehem!" Ujar Vino mulia ngibarin bendera perdebatan.


"Dion,kamu kalo punya telinga jangan suka nguping obrolan orang ya, ntar telinga kamu selebar daun keladi lho". Sindir sang pria dingin.


Vino balas menyindir "Dion, kamu kalo jadi orang jangan suka kepedean, kaya kamu penting aja!!".


"Anu___"


"Dion" Tukas Lian memutus ucapan Dion "Mulut kamu tolong di kondisikan ya"


"Dion___"


"Ampun!!"Pekik Dion mengakhiri dua saudara saling nyinyir ini.


"Tolong jangan seret saya dalam bertengaran kalian". Ucapnya dengan kedua mata tertutup rapat.


"His!!!, yang waras kabur dah, dari pada ikutan beku kelamaan dekat kulkas". vino melenggang keluar dari ruang rapat.


"Aneh" Lian kembali bergumam.


💝💝💝💝


"Pak Lian!!!" Seru Dion mengejar langkah Lian.


"Pak Lian...!!" Serunya lagi.


Mendengar panggilan Dion, Lian pun berbalik.


"Hosh hosh hosh.., cepet amat jalannya Pak ini ponselnya". Setelah mengatur nafas beberapa detik Dion menyerahkan ponsel Kaila pada Lian.


"Terimakasih!" Lian menyambut ponsel dan bergegas pergi. Melintasi jalanan yang lumayan padat tak menyurutkan semangat dalam diri Lian, dengan santainya dia memacu mobil di keramaian jalanan hingga akhirnya berada di toko bunga Charlotte.


"Selamat siang" Sapanya memasuki toko bunga.


"Selamat siang" Sahut Nyonya Sook."Oh, ada yang bisa saya bantu??" Nyonya Sook menatap Lian penuh tanya. Kejadian kemarin sedikit meresahkan hatinya, apakah anak muda ini mau mengusik Syila lagi??


Lian mengulurkan tangan pada Nyonya Sook "Perkenalkan Nyonya, saya Althalio".


Mimik wajah Nyonya Sook yang semula penuh tanya kini berganti senyuman "Jadi kamu yang sudah menolong Syila, terimakasih banyak nak Altha, ah..apa Lio?? duh bagaimana cara saya memanggil kamu??" Ujarnya sumringah.


"Lian aja deh Nyonya, Althalio hanya nama belakang saya".


"Oh begitukah! Althalio nama yang sangat bagus. Lian juga bagus menurut saya, kamu memiliki nama yang keren kalo kata anak muda mah". Tutur nyonya Sook lagi sembari menyunggingkan senyum tipis. Meskipun sudah setengah baya gurat wajah Nyonya Sook masih tergolong cantik, udah di usia hampir 50 an aja dia masih kinclong gimana pas dia masih muda kemaren ya.


Lian tersipu karena ucapan Nyonya Sook.


"Hm...jadi nama lengkap kamu Lian Althalio??" Tuturnya lagi sembari menggiring Lian ke meja ngeteh sore nya.


"Lian Gulzar Althario lebih tepatnya Nyonya". Anak muda itu masih berdiri di hadapan Nyonya Sook.


Deg!!!, detak jantung Nyonya Sook seketika berdetak abnormal.


"Nggak mungkin Gulzar yang itu kan". Gumamnya spontan.


"Eh...apaan Nyonya??"


Nyonya besar dari keluarga Charllote itu terkesigap "Akh...nggak kok, btw kamu mau pesan bunga lagi??" Ujarnya mengalihkan pembicaraan.


"Ngh,,, silahkan duduk nak Lian". Ujarnya mengulurkan tangan mempersilahkan Lian duduk bersamanya, meski nampak sedikit linglung dia menutupi kecanggungan itu dengan senyuman lagi.


Sembari duduk Lian menyahut perkataan Nyonya Sook"Kedatangan saya bukan mau membeli bunga lagi Nyonya, saya mau mengajak Syila makan siang".


Oh...Nyonya Sook baru mengerti maksud kedatangan Lian, namun nampaknya Lian datang terlalu cepat. Gadis yang dia maksud belum kembali dari mengantarkan bunga pesanan pelanggan.


"Boleh saya tunggu di sini Nyonya??"


"Ya!! silahkan Nak Lian, kamu mau secangkir teh??" Nyonya baik hati itu bahkan menawarkan minuman untuk menemani Lian menunggu kedatangan Syila.


Lian menolak halus tawaran Nyonya Sook, siang ini dia hendak memesan dalgona ice saja di kedai Arin, bersama Kaila tentunya.


Setelah kembali berbincang sesaat,Nyonya Sook meninggalkan Lian untuk kembali merangkai bunga, teringat akan nama tengah Lian mengundang sedikit rasa penasaran akan anak muda itu. Di pandanginya wajah Lian lekat lekat "Dia punya sepasang lesung pipit, sama seperti Gulzar". Bisik hatinya.


Selang beberapa waktu akhirnya sang gadis pujaan pun datang, Lian tersenyum manis kepada Kaila dan di balas senyuman. Hati pria itu seakan melayang keudara, sudah lama dia nggak merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Cie yang lagi di apelin" Goda Ghina pada Syila. Jari telunjuknya mencuil pinggang Syila.


Gsdis yang nampak kegelian itu terkekeh sembari menutupi mulutnya.


"Jangan gitu lah Ghin!!, sekedar makan siang doang".


"Ih aku nggak nanyain kencan kalian yah, cuma bilang ada yang ngapelin aja kok". Goda Ghina lagi.


Wajah Syila merona malu, terasa kedua pipinya begitu merah menahan malu. Dia pun mengipas ngipas wajah dengan tangannya sebelum benar benar menemui Lian.


"Cie~~~~" Ghina masih saja menggodanya.


"Syuttt!!" Hardik Syila.


"gkgkgkgk!!,awas Mah, cewek idaman mau liwat" Bisik Ghina di samping mertuanya.


Nyonya Sook tertawa kecil karena ulah Ghina"Kalo urusan godain orang kamu emang jago ya Ghin"


Selepas berpamitan kepada Nyonya Sook dan Ghina, Lian pun segera mengajak Kaila menyeberangi jalan. Tangannya hendak menggandeng Kaila ketika menyeberang namun Kaila yang lucu dengan santai melewatkan ajakan tangan Lian. Dia nggak peka guys 😂😂😂.


⚘⚘⚘⚘


"Nih ponsel kamu udah di perbaiki". Mereka kini duduk di meja favorite Lian. Tu meja udah kaya di kontak Lian aja, setiap mampir ke kedai selalu pas meja itu lagi kosong.


Kaila menerima ponselnya dengan sumringah "Makasih banyak Lian, secepatnya akan aku ganti biaya perbaikannya".


"Nggak usah".


"Jangan gitu dong Lian, mie rebus kemaren aja belom aku bayar kan". Ucapnya sibuk menekan nekan layar ponselnya.


"Beneran udah kembali normal" Ujarnya lagi berkomentar tentang ponselnya.


Lian berujar sembari meraih daftar menu"Bagus deh, kamu mau pesan apa nih".


"Aku yang bayarin ya". Pinta Kaila.


Lian mengalihkan pandangannya dari daftar menu.


"Ayolah Lian, itung itung bayar perbaikan ponsel ini". Tunjuknya pada benda pipih yang dia letakan di meja.


"kamu beneran mau ngebayar semua kebaikan aku??" Tanya Lian bernada serius.


Kaila mengangguk yakin.


Sudut bibir Lian menukik naik "Kita makan siang dulu ya".


Kaila yang polos mengacungkan jempol tanda setuju 👍. Dia nggak tau rencana apa yang sedang menari nari di pikiran Lian. Awalnya Lian nggak berniat melancarkan rencana ini kepada Kaila, namun karena gadis itu selalu mengingat kebaikan Lian yang di anggap hutang olehnya ya sekalian aja Lian menyelam sambil minum air.


Waffle strawbery menjadi menu pilihan Kaila, bukannya memesan makanan berat gadis itu malah tergiur dengan tampilan menggoda Waffle strawbery tersebut.


"Itu makanan ringan Syila". Tutur Lian.


"Iya aku mau itu".


"Nanti kamu lapar lagi lho" Ujar Lian lagi.


"Nghhh!!!" Kaila menggeleng "Aku mau itu aja Lian".


Apalah daya sang pria yang sedang di mabuk cinta, dia pun kalah sebelum berdebat dengan Kaila. Kini seporsi waffle telah tersedia di hadapan Kaila.


"Hmmmm, selamat makan". Ujarnya penuh ceria. Melihat tingkah Kaila rasa lapar Lian sirna dalam sekejap.


"Pelan pelan makannya". Tegurnya ketika Kaila begitu bersemangat memasukan potongan Waffle ke dalam mulutnya.


"Kamu nggak makan??" Kaila mendapati Lian hanya memesan ice dalgona saja.


"Kamu makan aja deh, mau bayar hutang nggak".


"Hmmm!!" Kaila kembali mengangguk ceria.


Nggak kebayang bahagianya Lian melihat Kaila begitu lahap menyantap makanannya. Sesekali dia menawarkan potongan Waffle itu kepada Lian namun dia menolak dengan alasan nggak suka manis. Padahal dia doyan banget dengan makanan sejenis Waffle itu. Biarlah Kaila menikmati makanannya dengan puas, pikir Lian.


"hah,,aku sudah kenyang". Kini Kaila menyeruput minumannya sembari membenarkan letak duduknya.


"Nah, aku udah kelar makan nih. Sekarang bilang dengan cara apa aku membayar hutang kepadamu?".


Lian menatap lurus kedalam mata Kaila"Untuk yang terakhir kalinya aku akan bertanya lagi, kamu yakin mau ngebales kebaikan ku yang kamu anggap sebagai hutang itu??".


"Iya" Jawab Kaila singkat padat dan jelas.


"Kalau begitu....jadilah kekasihku!".


"Tuk" Ponsel yang baru saja Kaila ambil jatuh kembali di atas meja. Untung jatuhnya nggak tinggi, bisa geger otak lagi kan tu ponsel kalo terhempas dari ketinggian.


"Ka__kamu jangan be_bercanda Li". Kaila tergagap.


"Aku serius!". Ucap Lian tegas.


Nggak bisa di pungkiri Kaila memang tertarik kepada Lian, tapi yang Kaila tau dia sudah memiliki tunangan kan.


"Yang lain dong Lian". Gadis itu coba bernego dan tawar menawar kepada Lian.


"Aku nggak memaksa kok La, kamu aja yang ngotot merasa ngutang sama aku. Tapi terlepas dari hal itu aku memang menyukaimu sejak awal".


"Kasih aku waktu ya". Pinta Kaila mencoba menenangkan diri.


Lian meraih ponsel Kaila "Ini nomor ponselku, hubungi aku kalo kamu sudah menemukan jawaban yang tepat" Dia menyerahkan Ponsel itu pada empunya.


Masih nggak percaya Kaila bak jaringan wifi akhir bulan, otaknya tiba tiba lemot dalam berpikir.


"Ikutin kata hati kamu La". Lian membelai lembut pucuk kepala gadis itu. Belaian itu terasa menghangatkan hati Kaila, ada rasa akrab ketika Lian membelai kepalanya.


"Hm, aku akan menghubungimu nanti". Sahut Kaila lagi.


To be continued...


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen 😊.


16 September 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2