Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 57


__ADS_3

*** Ada sebuah rasa yang membuatku mampu bertahan meski terluka...


Ada sebuah rasa yang membuatku mampu diam meski tersiksa...


Ada sebuah rasa yang membuatmu mampu tersenyum meski dalam derita...


Itulah sebuah rasa yang bernama...


______Cinta______****


Aroma masakan wanita tercinta membangunkan Lian dari tidur lelapnya. Pria itu sedikit mengintip di area dapur, dan benar saja...aroma menggugah selera itu berasal dari olahan sang istri tercinta.


Tak ingin membuang waktu, Lian kembali ke kamar dan menyabet handuk. Masuk ke dalam kamar mandi dan segera melakukan ritual mandinya.


Dia kembali mengintip ke area dapur, di sana Kaila masih nampak sibuk memasak tanpa di temani pelayan. Sejak beberapa hari di sini Kaila menolak tawaran Lian untuk merekrut koki agar dapat membantunya memasak di dapur. Wanita itu tak ingin menyerahkan urusan perut suaminya pada orang lain, dan Lian pun sangat senang dengan keputusan Kaila. Itu artinya Kaila benar benar berperan sebagai istri yang perhatian kepada dirinya.


Perlahan Lian mendekati Kaila. Dress putih tulang yang di kenakan Kaila menampilkan pundak mulusnya, rambut hitam sepundaknya nampak menggoda naluri lelaki Lian.


Jemarinya spontan menyentuh helai rambut Kaila, hal itu membut Kaila sedikir terkejut.


" Sudah mandi??" Tanya nya melirik sekilas ke belakang.


" Hm" Sahut Lian singkat. Ketika kucing di hadapkan dengan pundak ayam 😆 hal apakah yang sedang terlintas di otak sang kucing belang???


Jemarinya menyibak rambut Kaila ke belakang, membuat pundak mulus Kaila semakin terekspose nyata.


" Mau ngapain??" Kaila merasakan aura mesum di belakangnya.


" Hehe, mau bantuin iket rambut Sayang" Jawab Lian sekenanya.


" Oh, makasih sayang"


" Iket rambutnya di mana??" Tanya Lian mendekatkan bibirnya ke pundak Kaila.


" Nih di dalam apron" Kaila menunjuk apron yang dia kenakan dengan dagunya. Kedua tangannya sibuk memasak.


Rejeki pagi pagi, Lian tersenyum nakal. Jemarinya meraba kantong apron mencari cari iket rambut yang Kaila katakan.


" Hei Tuan Lian, cari iket rambut apa cari yang lain??"


" Cari iket rambut lah Yank, wuidih sama suami kok suudzon sih"


" Kamunya kan mesum, gimana aku gak suudzon coba"


Lian tak bisa menahan diri lagi. Dia memeluk Kaila erat dan menciumi pundaknya.


" Iya aku ngaku mesum deh, tapi sama istri sendiri tuh. Malah nambahin pahala kan" Ujarnya begitu betah di ceruk leher Kaila.


" Dasar kucing kepala hitam, ayo sarapan dulu" Kaila melepaskan diri dari dekapan Lian. Gila aja, baru di gituin bulu kuduknya mendadak berdiri. Kalo di lanjutin bisa gak jadi sarapan mereka.


Dengan malas Lian mengekor Kaila ke meja makan. Hasratnya yang baru saja naik harus di redam untuk beberapa saat. Punya bini doyan pamer aurat, untung jantungnya kuat sehat wal'afiat.


" Yank, kalo keluar jangan pake baju kaya gitu ya" Protesnya menunjuk dress Kaila.


" Lho...ini kan pilihan kamu"


" Iya tau, tapi aku gak menyangka akan secantik itu di tubuh kamu. Pokoknya gak boleh pake dress itu kalo keluar rumah!" Tegasnya lagi.


" Jadi aku gak boleh cantik cantik nih??" Tanya Kaila menata menu sarapan di meja makan.


" Cantiknya depan aku aja" Senyum manis mengembang di wajah Lian. Inilah Lian yang baru, tingkat overprotektif tiba tiba melonjak sejak memperistri Kaila. Dia yang tak pernah protes pada pakaian yang di kenakan Kaila kini sudah mulai berani membatasi keseksian sang istri saat berpakaian.


" Kamu kok gitu Yank, kaya gak percaya sama istri sendiri aja" Gumam Kaila menarik kursi dan duduk bersama di meja makan.


" Ya maaf deh, aku kan sayang banget sama kamu, gak rela aja bagian tubuh kamu terlalu terbuka dan di lihat cowok lain" Ucapnya sedikit menundukan wajah. Kaila tak sampai hati menatap Lian seakan menciut di hadapannya.


" Uluh uluh~~~, iya tau kok sayang. Siap deh, aku gak akan pake baju yang terlalu buka mulai sekarang"


Lian mengangkat wajah dan kembali tersenyum.


" Nah senyum gitu kan ganteng banget. Lesung pipi nya dalem banger sih mas suami" Goda Kaila menyenggol pundak Lian.


" Jangan mulai, kalo di goda begini aku bisa langsung menyerang kamu lho. Pundak kamu aja bikin aku deg deg an, apalagi kalo kamu senggol senggol kaya barusan sayang"


Kaila menyilangkan kedua tangan di dada membentuk angka X.


" Makan!, jangan mikirin yang lain" Tukasnya penuh penekanan.


Sebuah cubitan manja mendarat di hidung Kaila. Lian begitu menyayangi wanitanya ini, dia berharap dapat selalu membahagiakan sang istri hingga menua bersama.


Kaila pun tak kalah menyayangi Lian. Dengan telaten dia mengurusi segala keperluan Lian. Kebersamaan di Villa ini akan sangat mereka nikmati penuh rasa cinta, dan meskipun sempat takut Kaila berharap semoga sepulang nya mereka dari bulan madu ini si kecil akan segera hadir di antara mereka.


❣❣❣❣


Jika kemarin Bryan yang doyan melamun, hari ini giliran Maira yang begitu asik hanyut dalam lamunannya. Keberanian Bryan tadi malam membuatnya sangat terkejut.


#Flashback on#


Sedikit memaksa Bryan mengekor Maira meniti anak tangga. Meski di tinggalkan, Bryan tetap melangkah maju menuju kediaman Maira.


" Eh nak Bryan" Ayah yang sedang menikmati udara sejuk di beranda kontrakan menyapa Bryan di belakang Maira.


" Selamat malam Om" Ujarnya meraih tangan Ayah dan salim dengan begitu sopan. Hati Ayah benar benar tersentuh dengan sikap sopan dan santun Bryan.


" Bawakan Nak Bryan minuman Ra" Seru Ayah pada anak gadisnya.


" Yaaaa~~~" Sahut Maira malas. Demi kelangsungan hidupnya dia harus bersedia membawakan minuman untuk Bryan. Gak di kantor gak di rumah, dia masih saja harus mengurusi minum si Bos menyebalkan ini.


" Makasih Maira" Ucap Bryan setelah Maira meletakan teh hangat bikinannya di meja.


" Adanya itu doang Pak, silahkan di nikmati" Nadanya terdengar maksa banget. Suka heran sih, Maira ngambeknya karena apa sih?? bukannya Bryan baik banget sama dia, alasan Bryan dulu ninggalin dia juga sudah terungkap. Lantas hal apa lagi yang membuat Maira begitu betah bersikap judes terhadap Bryan???


" Aduh Nak Bryan, maaf Ibu gak punya cemilan. Gimana kalo Ibu suruh Joe beli martabak aja ya"


" Anu Tan___, saya mau pergi keluar sama temen"


" Mau kemana kamu??" Tanya Maira melirik Joe yang sudah berpakaian rapi.


" Aku pengen liat apartemen di sebelah Fatur, katanya kosong tuh"


" Jadi kamu mau pindah??"


Joe mengangguk" Iya, sementara ini masih ada Ayah sama Ibu kamu, ntar kalo mereka gak ada kita bakal tinggal berdua dong?? rasanya canggung Ra" Jelas Joe panjang lebar.


Ibu mengacungkan jempol kepada Joe" Anak pinter"


Sembari tersenyum Joe pun pamit diri dari hadapan mereka.


" Ya sudah kamu aja Nak yang pergi beli martabak nya" Lirikan Ibu beralamat pada anak gadisnya.


" Gak usah repot repot Bu, ini aja udah cukup kok"


" Gak bisa gitu Nak. Kamu kan tamu, buruan Maira beliin martabah sono!" Ibu menepuk lengan Maira agar segera pergi membeli cemilan.

__ADS_1


" Saya temenin Maira ya Bu" Bryan menawarkan diri.


Ayah dan Ibu sangat suka dengan keadaan ini. Serentak mereka berdua mengangguk mempersilahkan Bryan pergi menemani Maira.


Mereka menyusuri jalanan malam dengan beriringan. Sesekali Bryan coba meraih tangan Maira namun gadis itu selalu saja mengayunkan tangannya ketika Bryan hendak meraih jemarinya.


Ada senyum di wajah Maira ketika Bryan kembali gagal meraih jemarinya. Sejujurnya dia tak lagi marah terhadap Bryan, hanya saja rasa gengsinya masih begitu besar. Membuatnya bersikap judes terhadap Bryan untuk menutupi rasa cintanya kepadanya.


" Pak Bryan mau rasa apa??"


Mereka kini tlah sampai di kang martabak pinggiran jalan.


" Apa aja deh"


" Anteng bener, tumben gak cerewet"


" Aku kan emang gak cerewet"


Maira berkacak pinggang" Oh ya?? perasaan dulu waktu pertama kali masuk kerja ada cowok menyebalkan yang bikin saya bolak balik cuman karena salah beliin kopi"


Bryan tersenyum simpul.


" Siapa?? kenapa gak kamu tabok aja tu cowok" Sahutnya mengusap tengkuk pertanda dia salah tingkah.


" Ugh! dasar sok polos" Maira mencibir Bryan.


Maira pun memesan martabak dan kini mereka tlah berjalan kembali ke arah pulang.


" Kamu anak yang penurut sama orang tua kan??"


Maira menatap Bryan yang begitu tinggi di sampingnya.


" Oh, mengingat kamu kabur dari rumah karena gak mau di jodohkan kayaknya aku salah menerka deh" Ralat Bryan.


" Kenapa emang??"


" Aku mau ngomong sesuatu sama Ibu sama Ayah kamu"


" Ngomong apaan??" Maira sedikit ngeri. Ini pasti___


" Aku mau ngelamar kamu!"


Benar kan!!! Bryan langsung menyerang pada titik lemah Maira.


" Kok gak minta persetujuan saya dulu??" Serang Maira.


" Kan tadi aku udah nanya kamu, kamu nya aja gak ngasih jawaban. Biar cepet aku minta ijin Ibu sama Ayah kamu aja"


" Bryan!!" Maira tiba tiba berbalik. Dan hal ini terjadi lagi. Di bawah langit malam, di terangi lampu jalanan nan temaram tubuh kecil Maira berakhir di pelukan Bryan.


" Yesss!!" Hari Bryan menjerit senang.


Maira mundur dengan cepat.


" Kok mundur??"


" Kok nanya?? suka suka saya dong! lagian Pak Bryan suka bener jalan di belakang saya"


" Biar kalo kamu balik langsung aku peluk kaya barusan" Canda Bryan mengundang semu di wajah Maira.


" akh! kekanak kanakan!" Gadis itu berbalik mengembungkan pipinya menahan malu.


" Hei kamu malu??" Bryan mengejar tatapan Maira.


" Tapi wajah kamu merah" Tunjuknya pada pipi merona Maira.


" Nggak!! salah liat kali" Gadis itu menutupi wajahnya dengan punggung telapak tangan.


" Aaayyaaa~~ kamu tersipu malu tuh"


Maira mempercepat langkahnya. Bryan menyabet jemari Maira, meski gadis itu coba melepaskan Bryan menggenggam tangannya begitu erat.


Pasrah, kini Maira bergandengan tangan dengan Bryan di tepian jalan.


" Jangan di tolak ya" Ucap Bryan lagi.


" Hm" Sahut Maira mengiyakan namun tak ingin menatap wajah Bryan.


" Maksud aku lamaranku"


" Pak Bryan~~~"


" No!!" Bryan meletakan jarinya di bibir Maira.


" Ini namanya memaksa Pak!" Ujarnya mendongak menatap wajah tampan Bryan.


" Jadi kamu gak suka sama aku??"


Maira diam.


" Kamu gak cinta??"


Maira masih diam.


" Jadi hanya aku yang ingin hubungan kita lebih serius??"


Maira menggeleng.


" Terus?? jawaban yang benar yang mana sih??" Pancing Bryan.


" Terserah Ibu sama Ayah deh!" Maira kabur dari hadapan Bryan. Gadis itu ngacir meninggalkan Bryan yang tertawa senang.


Seampainya di kediaman Maira, Bryan tak ingin mengulur waktu lagi. Dengan tegas dia mengatakan keinginannya melamar Maira.


" Nak Bryan serius??" Mata Ayah nampak berbinar haru. Ini bukan kali pertama Ayah mengulangi pertanyaan itu kepada Bryan.


" Saya serius Om, secepatnya saya akan mengajak Papah saya menemui Om sama Tante" Ujarnya terdengar sangat yakin.


Ibu meremas jemarinya gugup. Semoga kali ini Maira benar benar akan melangkah ke jenjang perikahan.


" Ibu percaya sama kamu Nak, semoga kamu gak menyecewakan kami" Ucapnya lirih.


" Saya benar benar mencintai Maira Tan, Om . Saya akan berusaha untuk selalu membahagiakannya"


" Baiklah, Om tunggu kedatangan kalian kembali ke sini" Ucapan Ayah terdengar santai namun cukup penekanan.


Maira menggigit bibir di dalam kontrakan. Dia tak tahu keputusan apa yang telah Ayah dan Ibu ambil untuknya. Namun yang Maira tahu kedua orang tua nya itu sangat ingin dirinya segera menikah.


# Flashback off#


.


.

__ADS_1


.


.


" Kata Brama___ di sini ada hantu betina nya lho" Bisikan Bryan membuat Maira terlonjak kaget.


" Kya!!"


Bryan buru buru membungkam mulut Maira dengan telapak tangannya.


" Jangan berisik!! ntar di kira orang kita ngapa ngapain" Ujarnya mendekati wajah manis Maira.


Maira melepaskan tangan Bryan di mulutnya. " Ish!!! kenapa sih suka ngagetin saya!"


" Salah sendiri kok suka ngelamun"


" Saya nggak melamun Pak"


" Cuman mikirian calon suami kamu ini kan??"


Maira kelabakan" Syuttttt!!!"


" Hei santai dong, kita sama sama gak punya pasangan. Bukan suatu hal yang salah kan kalo kita bakal menikah?"


" Bapak mah aman aman aja, lah saya si rakyat jelata ini bisa di demo para fans Pak Bryan nantinya!"


" Ye elah, gak ada tingkatan kasta di sini"


" Benarkah??" Tanya nya. Dan Bryan mengangguk yakin akan pertanyaan Maira.


"Terimakasih atas kebesaran hati anda Pak" Sahut Maira menghela napas.


" Btw ada perlu apa ke sini??" Lanjutnya.


" Aku lagi nyari majalah Vogue edisi tahun lalu"


" Saya bantu cari. Anda di sini aja Pak"


" Anda~~ Saya~~ Pak ~~ , bisa nggak semua kata itu di ganti dengan kata yang lebih keren??"


" Gak bisa!"


" Galak bener" Cicit Bryan diam di tempat.


Maira cuek dengan Bryan yang terus mengoceh. Dia fokus meneliti nama nama majalah yang tersusun rapi di atas sana.


Ketemu! tapi tinggi amat. Dia yang kecil mini binti bonsay ini tak kan sanggup menggapai majalah itu.


Tak kehabisan akal, dia menarik tangga tumpuk di pojokan perpus. Menyusun tangga tersebut sampai tinggi yang di dapat cukup untuknya menggapai majalah itu.


" Heiii...kalo jatuh aku gak bisa sambut kamu kaya di adegan drama korea lho"


" Yang bakal jatuh juga siapa??" Sahut Maira.


" Pede bener, kecil begitu kamu cukup berat Maira"


Maira menatap Bryan cemberut.


" Hahahah, minggir. Aku bisa mengambilnya tanpa bantuan tangga"


" Songong!! diem di situ" Maira merasa terhina. Oke dia akui bahwa dirinya tak bertubuh tinggi semampai, kalo di katakan bonsay....dia memang gak bisa mengelak sih.


Tapi gadis kecil ini memiliki harga diri yang cukup tinggi lho, merasa di hina oleh Bryan yang tinggi menjulang itu jelas dia gak akan mengalah begitu saja.


" Aku aja Maira"


" Stop!! saya bisa kok. Si bonsay ini bisa di andalkan Pak Bryan, jadi jangan meremehkan saya ya!"


" Oke deh" Bryan mengalah. Dia tahu gadis ini gak akan mau mengalah begitu saja darinya.


Langkah pertama Maira menapakan kaki di tangga tumpuk, cukup kokoh.


Langkah kedua Maira naik di atas tangga juga cukup kokoh. Dengan mudah dia menggapai majalah itu tanpa adegan jatuh seperti kebanyakan adegan romantis di drama korea atau pun cina.


" Heh! lihat" Maira mengipaskan Majalah itu. Dia berbalik dengan santai menatap Bryan di atas tangga tumpuk.


" Ck, udah udah. Kamu buruan turun. Kecil mah kecil aja, baru sekarang aku lihat ada orang menggunakan tangga itu sampai tiga tumpukan"


" Bryan!!" Maira menghentakan kaki. Tangga pun goyah, dan Maira akan benar benar jatuh ke lantai.


" Maira!!" Bryan bergegas menghampiri Maira.


" Bruk!!!" Bryan terlambat.


Maira tlah mendarat di atas lantai perpustakaan. Namun bukan suara Maira yang terdengar menjerit dan mengaduh.


" Aw aw aw~~~ Neng bidadari! kalo turun dari khayangan kasih signal dulu dong"


Tunder kini berada di bawah tubuh Maira.


Buru buru Bryan menarik tubuh Maira yang nemplok di atas tubuh sang Om durjana.


" Kamu gak apa apa??"


Maira mengangguk.


" Aku yang kenapa kenapa Bryan! bantuin"


" Ya elah Om, Maira gak berat berat amat kok. Jangan lebay deh, buruan berdiri sendiri"


" Anak piyak!! kamu gak sopan sama Om ganteng ini"


" Suka suka Om deh" Bryan meraih majalah yang tergelatak di samping Tunder.


" Makasih udah selamatin Maira, dadah Om jelek"


Maira membungkuk memberi hormat pada Tunder.


" Makasih Tunder, kamu udah nyelamatin Maira"


" Sini bantuin aku bangun" Pinta Tunder penuh harap.


" Bangun sendiri!" Bryan menepis tangan Tunder yang menunggu sambutan Maira. Menarik Maira agar menjauhi Om nya yang sangat berbahaya bagi para wanita.


" Dasar anak piyak~~~, manis bener aroma tubuh tu cewek" Gumam Tunder bangkit dan menepuk nepuk pundaknya.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.


5 Januari 2020.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2