
****Aku menyukaimu,
Aku tlah mencoba untuk menahannya,
Namun sayangnya aku tak bisa,
Sekali lagi akan ku katakan,
Aku menyukaimu!
Begitu banyak waktu menjadi saksi aku mencoba menolak rasa ini,
Tapi beginilah cinta,
Semakin ku menolak semakin aku mencintamu,
Semakin ku coba menghapus mu,
Semakin besar rasa rinduku.
Dan inilah aku yang kembali berakhir di hadapanmu...
Berdiri di hadapanmu,
Dengan segala rindu dan cinta yang menggunung padamu****
🍒🍒🍒🍒
"Jadi....apa jawaban kamu??"Bryan bertanya tanpa basa basi lagi. Selepas menyerahkan sebuah bingkisan kepada Maira, tanpa menunggu lama dia langsung meminta jawaban atas pernyataan cintanya tadi pagi.
"Ini apa??"Maira tak menggubris ucapan Bryan. Gadis itu lebih tertarik pada bingkisan yang Bryan berikan.
"Buka deh"Ujarnya duduk di ruang tamu yang satu area dengan meja makan. Tempat Maira duduk memandangi bingkisan tersebut. Selain bingkisan itu, Bryan juga membawa beberapa buah dan sekarang tlah dia letakan di dalam sebuah wadah. Baru kemarin dia bertandang ke sini Bryan sudah begitu akrab dengan kontrakan Maira.
Area dapur yang minimalis juga perabot yang tak begitu banyak, memudahkan Bryan mencari piring dan kawan kawan.
"Wuahh....Ponsel!!"Pekik Maira senang. Benda pipih berlambang buah apel itu nampak bersinar di mata Maira. Jelas saja! selama ini dia hanya memakai ponsel para rakyat jelata yang biasa biasa saja, itu pun bayarnya nyicil 12 kali pembayaran.
"Pak...yakin ngasih saya hadiah ponsel ini??"Maira sangsi. Ini pasti ada udang di balik bakwan.
"Iya, terima ya"Ucapnya santai.
"Nomor ku udah tertera di situ"Sambungnya lagi.
Maira memandangi benda itu lagi lebih seksama. Jadi....sekarang ponselnya naik jabatan??
"Jangan di pandangin mulu, kamu lebih tertarik pada ponsel itu atau menjawab pernyataanku tadi pagi?"Sedikit berhati hati Bryan kembali menyinggung pernyataan cintanya yang sempat di abaikan Maira.
"Oh saya mengerti sekarang, cinta saya di tukar dengan ponsel ini??"
Bryan melirik Maira tak percaya, pikiran apa itu??? kok Maira berpikir se aneh itu. Dia tulus mencintai Maira, semua itu nggak ada hubungannya dengan ponsel yang dia berikan.
"Ambil aja deh Pak, lagian....saya terbiasa pake hape rakyat jelata. Takut jempol saya terkilir kalo pake ponsel ginian" Dengan berat hati Maira menyodorkan ponsel itu pada Bryan.
"Ra~~~"Ucapnya lirih.
"Aku tulus kok ngasih kamu ponsel ini, kan ponsel kamu udah rusak"
"Mungkin masih bisa di perbaiki Pak, nih bawa balik aja ponsel Bapak"
"Ck, ponsel ini nggak ada hubungannya dengan perasaan aku ke kamu Ra"
"Nggak yakin"Gumam gadis itu pelan. Dia beranjak kembali ke meja makan. Lebih baik dia menjaga jarak dengan Bryan, sampai pria itu mau mengungkap sebab perubahan sikapnya dia nggak akan bersikap lemah. Meski tak bisa di pungkiri hatinya terlonjak bahagia di dalam sana.
Dari tadi pagi dia terus tersenyum sendiri mengingat pernyataan cinta dari Bryan, untung saja dia sendirian di kontrakan saat itu, jika orang lain bersamanya bisa jadi dia di katakan gadis gila. Kerjaannya nyengir kuda mulu sih.
"Oke, ponselnya aku bawa balik. Sekarang kasih aku jawaban dong"Kepalang malu. Hatinya sudah kelewat bersabar menunggu jawaban Maira. Sekarang dengan penuh keberanian dia mengekor Maira duduk berhadapan di meja makan.
Mendapati wajah rupawan ini di depan mata, hati Maira di dalam sana kembali jejingkrakan. Rambut hitam yang sebagian menyapu keningnya membuat jemari kecil Maira hendak bermain main di sana. Mengacak ngacak rambut hitam legamnya seperti yang sering Maira lakukan dahulu.
Juga hidung mancungnya, tak jarang hidung itu menjadi sasaran empuk Maira ketika bercanda dengannya dulu, tak segan segan dia mencubit hidung itu ketika sang empu bersikap menyebalkan kepadanya.
"Ra~~~"Bryan mengibaskan tangan di depan wajah gadis itu.
Buru buru Maira mengkondisikan pandangannya. ih kok jadi keasikan menikmati pahatan sang pencipta pada wajah Bryan sih!
"Gimana??kamu___mau kan jadian sama aku??"Ucap Bryan penuh harap.
Maira menunduk"Oh Tuhan, kuatkan aku"Pekik hatinya. Dia bagaikan kucing betina yang sedang melawan hawa nafsu di depan ikan panggang yang sangat menggoda.
Dia sangat ingin berkata Iya, tapi dia juga tak ingin begitu saja memberikan jawaban yang melegakan hati Bryan.
"Bilang dulu, kenapa dulu Pak Bryan meninggalkan saya!"
Bryan melonggarkan genggaman tangannya. Menelan saliva demi menetralkan gelisah yang tiba tiba menyapanya.
"Aku____"Dia nampak ragu berkata kata.
Maira mengejar pandangannya, namun Bryan selalu enggan bertatap mata dengannya.
"Saat itu aku hanya ingin fokus dengan pelajaran"Ucapnya begitu tak meyakinkan.
"Akh!, terus aja ngeles. Saya nggak akan menjawab pernyataan itu sampai Pak Bryan mengungkap segalanya"
"Itu masa lalu Ra, sekarang kita hanya harus menatap kedepan"
"Nggak, itu sangat berpengaruh pada kehidupan saya Pak"
"Lho...bukannya kamu baik baik saja bersama June??"
__ADS_1
Kening Maira menyerngit tak senang"Kok bawa bawa June??"
"Kamu bilang kepergianku sangat mempengaruhi masa lalu mu, tapi ku lihat kamu berbahagia bersama June"
Melihat gelagat Bryan, tiba tiba pikiran itu terlintas di benak Maira"Apa kepergianmu dulu berhubungan dengan June???"Todongnya.
Bryan menggeleng. Namun dia masih tak kuasa menatap Maira.
"Bryan!"
"Tatap mata aku!"Pinta Maira lagi. Hal ini terjadi lagi, gadis itu kembali menanggalkan rasa hormatnya terhadap Bryan sebagai atasannya. Kesabarannya mulai menipis. Pria di hadapannya ini begitu plin plan.
"Aku lelah Bryan, kamu bilang mencintaiku. Tapi kamu menyimpan rahasia dari ku"Ujarnya menatapnya lekat.
"Sumpah mati Ra aku sayang banget sama kamu, selama ini perasaanku nggak pernah berubah sedikitpun"
"Tapi sikap mu berubah, kamu dingin bahkan bersikap kasar kepadaku. Bertahun tahun aku hidup dalam tanda tanya Bry!! aku terpaksa menjalin hubungan bersama June agar bisa melupakanmu. Kamu bilang aku bahagia??"
"Jika June nggak pergi aku yakin sekarang kamu pasti hidup bahagia bersamanya Ra"Ucapnya dan akhirnya dia berani menatap langsung pada dua bola mata Maira.
Gadis itu menggeleng.
"Maaf, aku sempat berterimakasih pada sang pencipta atas kepergian June"
"Ra!!!, June mencintaimu dengan tulus"
"Kamu tau dari mana???"
"Aku sahabatnya, aku tau segalanya tentang cintanya padamu"
"Aku juga sahabatmu, dan aku yakin kamu juga tau tentang cintaku kepadamu!"
Bryan menghela nafas.
"Stop Ra, June udah nggak ada. Jangan bahas dia lagi ya"Pria ini melemah. Jemarinya menyeka genangan air mata di kedua pipi Maira.
"Kamu nggak benar benar mencintaiku"Gadis itu menepis tangan Bryan.
"Kamu nggak tau cintaku sangat besar padamu Ra"
"Nggak"Maira menggeleng.
"Aku berani bersumpah Ra, selama ini hanya kamu di hati aku"
"Kalo gitu kenapa kamu ninggalin aku???kenapa kamu acuh terhadapku??aku seakan tak terlihat di matamu!bahkan setelah kita bertemu lagi kamu seolah tak mengenal ku!!"Pekik Maira meninggikan nada bicaranya.
"Karena aku kalah bertaruh dengan June!!!"
. . . . . . . . "Bertaruh????"
Bryan kelepasan berbicara. Dia juga tak bisa menarik kata katanya lagi.
"June memenangkan aku???karena itu kamu meninggalkan aku??itu yang kamu bilang cinta???"Maira mulai geram. Dia mulai kehilangan kendali.
"Maaf Ra"Menangkupkan kedua tangan di dada, Bryan berharap Maira memaafkan kesalahannya dahulu.
"Kamu___, ini yang kamu bilang cinta Bry??"Ucapnya lirih.
"Kalo June masih hidup gimana nasib aku Bry??"Tanya nya kembali mengejar tatapan Bryan.
"Aku akan menikah dengannya Bry!orang yang terpaksa aku pacari karena penyakit yang dia derita!!"Sentak Maira.
"Kamu tega menyerahkan aku padanya"Isak tangis Maira semakin pecah.
Bryan panik. Hal ini yang dia takutkan jika Maira tau kesalahannya di masa lalu. Usahanya menghentikan tangis gadis itu di tolak mentah mentah. Maira malah memintanya pergi meninggalkannya, dan meski terpaksa Bryan memang harus meninggalkan Maira saat ini.
"Ponselnya aku tinggalin di sini"Ujarnya sebelum pergi. Dia mengeluarkan ponsel dari kotaknya.
Nampak wajah manis Maira tersenyum lebar di layar ponsel tersebut. Itu foto ketika dia masih SMA.
"Kalo sudah tenang ku harap kamu mau menghubingi ku"Tak lupa dia mengusap lembut pucuk kepala Maira dan benar benar pergi dari kontrakan itu.
🎐🎐🎐🎐
Aroma masakan menggugah selera memenuhi setiap sudut kediaman Lian dan Kaila. Meski hanya bisa meracik masakan yang biasa saja namun bagi Lian masakan Kaila adalah yang terenak di jagat raya ini. Hohoho biasa lah pengantin baru kan semua hal selalu indah bagi mereka.
"Wuidih...kenyang Yank"Lian senderan di kursi balkon. Perutnya terasa penuh karena banyak makan.
"Enak masakan aku??"
"Ya iyalah! masakan istri selalu nikmat di lidah aku"Ujarnya memuja dan memuji Kaila. Seperti biasa, Lian dengan mulut manisnya selalu saja sukses melancarkan kata kata lebay kepada Kaila.
"Di jamin 1 bulan ke depan aku bakal endut lho Yank"Ujarnya menarik Kaila agar duduk di pangkuannya.
"Jangan dong, aku ogah punya suami gembul"
"Lho.....jadi kalo aku gendut kamu nggak sayang lagi??"
"Hu-um"Sahut Kaila melirik nakal pada Lian.
"Yah sayang, masa gitu sih. Masakan kamu tuh enak banget. Nih perut aku aja sampe kekenyangan saking nikmatnya masakan kamu"
"Cih lebay"Cubitan kecil mendarat di roti sobek Lian.
"Eiiii...sakit tau"
"Makanya jangan lebay. Dari kemaren kamu berubah jadi Kang gombal. Aneh Yank"Ujar Kaila lagi. Siapa sih yang nggak suka kalo di puja dan di puji oleh orang tercinta, tapi nggak kaya Lian juga. Rayuannya terlalu manis, entah dapat modal ngegombal dari mana mamas suami ini.
__ADS_1
"Aku nggak gombal kok, kaya gini nih...gara gara ada kamu di sini hujan yang mengguyur area sekitar sini tadi pagi jadi reda kan. Dan sekarang cuaca jadi cerah lagi kan"
"Woh!! kan gombal kan"Sebuah tepukan dari jemari Kaila mendarat di pundak Lian.
"Beneran sayang, soalnya kamu tuh matahari aku. Cuaca mendung ketika hujan tadi sirna karena ada kamu di sisi aku"Lian menatap Kaila dengan hangat.
"Oh Tuhan, kesambet jin alay ya Yank??"
"Hehehehh, kamu gemesin lho kalo kaya gini. Kedua pipi Kaila di cubit Lian dengan penuh kasih sayang.
"Dah lah Yank, kamu berhenti dong ngegombalnya! Awas aja kalo masih lebay kaya gini"
"Awas apa??"Lian nyengir.
"Yah...awas aja"
"Yeee....awas apa??"Berniat menakuti Lian malah sekarang dirinya yang terpojok karena kata katanya sendiri.
"Aku sleding kamu nya"Ucapnya terkekeh geli. Sebab jemari Lian kini bermain di area pinggangnya.
"Geli Yank!!"Pekiknya hendak lari dari pangkuan Lian.
"Makanya jangan berani berani mengancam mamas suami"Lian masih mengkitik kitik pinggang Kaila dan wanita itu terus tergelak tawa karena ulah suaminya.
"Oke, ampun! nggak lagi deh. Terserah mau ngegombal model gimana pun aku terima aja"Serunya yang ngos ngosan setelah Lian berhenti melancarkan aksinya.
Lian menarik kembali tubuh Kaila ke dalam pangkuannya.
"Rasa sayang aku lebih besar setelah kita kembali bertemu, maaf kalo sikapku terlalu berlebihan di mata kamu"Ucapnya merapikan helai rambut Kaila yang sempat berantakan karena ulahnya.
Ada kesungguhan di dalam tatapan Lian. Dan dada Kaila kembali bergetar dengan sikap hangat seorang Lian.
"Hm...iya deh. Makasih sudah menikmati masakan sederhana aku"
"Jadi...kalo aku gendut gimana??"
"Hm...aku selalu nemenin kamu makan kan, berarti kita bakal gendut sama sama dong"
Lian terkekeh. Bener juga kata kata mbak istri.
"Gimana ya tampilan kamu versi gendut Yank??"Lian menatap lepas ke langit biru.
"Begini??"Kaila menggembungkan kedua pipinya.
"Gemes, siniin pipi nya biar aku cubit!"
"Enak aja. Noo~~~~"
Pasangan pengantin baru itu kembali bercanda di balkon kediaman mereka. Suara tawa dan canda mereka terdengar renyah di telinga.
🎐🎐🎐🎐
Barang bawaan Ayah Maira nampak memenuhi teras rumahnya.
"Ngapain bawa kompor Yah??"
"Kali aja Maira nggak ada kompor Bu"
"Ayah pikir selama ini dia nggak masak di kontrakan??"
"Kata mata mata Ibu kan dia selalu makan di minimarket"
"Iya juga sih. Tapi nggak usah bawa kompor dari rumah juga Ayah! kita bisa beliin dia kompor di sana kan"
"Oh..bener juga sih. Oke, kompor kita skip"Ayah menyisihkan kompor dari daftar belanjaannya.
"selimut Yah"Ucap Ibu memeriksa barang bawaan"
"Nih"Ayah menunjuk selimut tebal bermotif beruang coklat milik Maira.
"Bantal Yah, sama guling juga"
"Redy Bu"Ayah memeriksa.
"Mau kemana Bu Ranti, Pak Gani"Tetangga mantan calon besan menyapa mereka. Kebetulan dia hendak berangkat ke mushola dan melaksanakan sholat ashar di sana.
"Hehehhe mau jengukin anak gadis"Sahut Ayah Maira tersenyum gembira. Lama tak bertemu dengan sang anak gadis jelas Bapak satu ini sangat merindukan sang putri sengkleknya. Meski terkesan garang ketika memarahi Maira karena menolak perjodohan yang sudah mereka atur namun penyesalan begitu berbekas di dalam hatinya ketika sang anak gadis memutuskan minggat dari rumah.
"Oh ke kota dong Pak"Sahut sang tetangga.
"Iya nih"
"Nggak sholat ashar dulu?? sebentar lagi masuk waktu ashar lho"Ujarnya mengingatkan.
"Bener Pak, barengan ya ke musholanya"
Ayah pun bergegas menuju mushola. Meninggalkan Ibu yang nampak memilah ayam ayam milik sang suami.
"Hohoho, suami ku selalu ngasih makan kalian sampe kenyang kan. Sekarang giliran kalian yang bikin kenyang perut anak gadis aku"Si Ibu ngomong sama para ayam.
"Kekkekkeke, bersiaplah kalian wahay ayam. Selepas sholat ashar aku akan mengundi siapa di antara kalian yang akan ikut ke kota bersama kami"Ujarnya lanjut bicara dengan para ayam.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
16 Desember 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1