
***Burung biru menari cantik di dalam mimpiku.
Coba membawa cintaku kembali kerumah untuk bertemu denganmu.
Jika aku berhitung
Satu...
Dua...
Tiga...
Apakah kau kan hadir kembali di sisiku meski bertahun lamanya tlah kita lewati??
Tidak...
Aku menahan air mata...
Aku menahan ketakutan...
Terbang ke dalam badai ke tempat mu berada.
Aku menahan air mata...
Semoga sayap sayap patah ini mampu
Dan cukup kuat untuk mengantarkanku kepadamu.
Di seberang lautan,
Dengan tangan terulur kau menantiku.
Cahaya mercusuar yang bersinar terang,
Lihatlah aku yang terbang begitu tinggi
Lihat bagaimana warnaku melukis langit.
Aku kembali dengan berjuta warna manis cinta.
Memelukmu erat meski dengan sayap patah yang mengantarkan ku bertemu kembali dengan dirimu.
Cintaku...***
❣❣❣❣
Sepekan setelah kembalinya ingatan Kaila.
Sedikit demi sedikit ingatan Kaila berangsur membaik, memorinya pada Fatur, Mey, Vino, Jova, dan bahkan Joe nan jauh di mata dapat dia ingat dengan sangat jelas. Juga pada Bryan, Tuan Odet dan para penghuni panti. Namun tidak pada Lian, ingatannya tentang pria itu terputus putus. Apa karena pribadi Lian yang tlah terlanjur berubah??
Kehadiran Kaila dengan ingatan yang tlah pulih tak membuat Lian kembali menjadi pribadi yang ceria dan pecicilan seperti dahulu. Dia tlah terbiasa dengan dirinya yang kaku, dingin dan minim bicara. Bahkan ketika bersama Kaila pun dia masih terkesan pendiam meskipun terlihat lebih banyak tersenyum.
Senyum??ya!entah dia tlah lupa dengan bahasa manusia atau apalah itu...belakangan dia lebih sering berbicara dengan bahasa tubuh dan sekedar melempar senyum jika berpapasan dengan seseorang yang dia kenal.
Siang itu seperti biasa Lian akan menghabiskan waktu makan siangnya bersama Kaila. Setelah melewati masa penyembuhan baik itu untuk kakinya yang terkena pecahan kaca atau tentang rehatnya yang sangat di anjurkan Dokter, kini Kaila kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Bukan sebagai Kaila seorang manager di Cafe Ceria, tapi sebagai Syila sang pekerja paruh waktu di Toko bunga Charllote.
"Kaila....tuh cowoknya udah dateng"Ujar Ghina yang tlah terbiasa memanggilnya dengan nama aslinya, Kaila.
"Ckckckck...Lian patut di acungin jempol. Usahanya untuk mendapatkan kamu kembali nggak sia sia La"Nyonya Sook melirik Lian sekilas kemudian berpaling pada Kaila yang tengah sibuk menyelesaikan rangkaian bunganya.
"Jangan di bikin menunggu lama dong La,ntar di sabet orang lho"Ujarnya lagi setelah ucapannya sempat tak di sahut Kaila. Gadis itu hanya menyunggingkan senyum kecil ketika Nyonya Sook memuji tunangannya.
"Iya Nyonya!!, bawel ikh!!"
"Hoel!!, makin lancar ngejawabnya ya! mentang mentang udah mendapatkan jati dirinya yang asli. Lantas sekarang Syila yang kalem dan sopan udah nggak ada ya??"Celoteh Nyonya Sook sembari bercanda.
"Hahahha...Maaf Nyonya, jangan pecat Kaila ya" Lanjutnya menyambut candaan sang empu usaha.
Nyonya besar keluarga Charllote terkekeh mendengar ucapan Kaila"Mana bisa saya memecat kamu. Bisa bisa saya yang di pecat Tuan Odet dari daftar sahabat karib nya.
"Hohoho...takut sama Tuan Odet apa sama Papah Mah??"Ghina menimpali obrolan mereka.
"Ya Papah kamu la, dia kan sumber aliran dana Mamah. Bisa berhenti dunia berputar kalo Papah merajuk Ghin. Mamah bakal nangis bombay 7 hari 7 malam"
Kaila dan Ghina terkekeh dengan candaan Nyonya Sook.
"Hehehe, UUD ya Nyonyah"
"Apaan tuh UUD??"
Set!! Tangan Kaila membentuk mini heart dengan jari telunjuk dan jempolnya"Ujung ujungnya duit"
Sontak setangkai bunga anyelir yang semula ada di tangan Nyonya Sook dia lemparkan kepada Kaila.
"Ngasih bunga tuh yang romantis Nyonya, maen lempar aja. Tapi kalo di lemparin bunga Bank Kaila ridho banget lho Nyonya"
"Nah...kamu juga UUD kan"Gelak tawa Nyonya Sook terdengar renyah. Di susul dengan gelak tawa Ghina dan Kaila.
Begitulah sikap dan prilaku Kaila sekarang. Semenjak dia kembali menjadi Kaila seutuhnya nggak ada lagi Syila yang kalem, polos, lembut dalam bertutur kata, kini berganti dengan Kaila yang ceplas ceplos, juga pecicilan. Dia juga punya tingkat emosi yang super minim. Pokonya dia kembali jadi Kaila yang gahar deh. Untung saja orang orang terdekatnya dapat menerima Kaila yang sekarang, terlepas dari sikap barbarnya Kaila tetaplah gadis yang baik hati menurut mereka. Selama nggak di senggol duluan aja, kalo berani memulai bakal kena bacok sama Kaila kan berabe urusannya.
Lambaian tangan Kaila masih menyisakan tawa di wajah Ghina dan Nyonya Sook.
"Mamah bener kan, dia tu bukan adek kandungnya Bryan"Ujarnya duduk bersama Ghina di meja merangkai bunga.
Sang menantu yang ngggak peka tercengang menatap mertuanya dengan kedua mata membulat besar
"Jadi dari dulu Mamah udah tau kalo dia bukan Syila??"
Nyonya Sook mengangguk bangga.
"Mamah kok tau??pindah profesi jadi cenayang ya Mah??"
Bibir yang sempat tersenyum kini menukik turun menghapus senyumnya.
"Enak aja kalo ngomong!, cenayang dari mana pula"
"Terus kok Mamah tau identitas Kaila dari dulu?"
__ADS_1
"Mamah kan hadir di pemakanan Marina dan Syila beberapa tahun lalu"Ujarnya sedikit mengenang sahabat tersayangnya Marina yang kini tlah tiada.
Mulut Ghina membulat membentuk huruf 'O' besar.
Sedikit berlari Kaila melangkah menyeberangi jalan raya dengan tangan menutupi atas kepalanya.
Terik matahari membuat pandangannya seakan buram. Juga panas yang menyengat membuatnya nggak betah berlama lama berada di bawahnya.
Bak seorang pelayang profesional Lian menyambut kedatangan Kaila dengan senyuman dan membukakan pintu mobil sembari menjaga jarak kepala gadis itu dengan tinggi mobil, dia takut kepala Kaila yang berharga itu terbentur. Bisa kacau kan kalau dia kembali melupakan dirinya hanya karena kepalanya terbentur dek mobil.
"Makasih Li"Ucap Kaila menanggapi sikap penuh perhatian dari sang tunangan.
Tanpa suara....Lian hanya melempar senyum manisnya. Sebelum meninggalkan tempat itu dia menyalakan AC agar mengusir rasa panas karena hari yang kelewat cerah.
"Li..kita mau makan di mana??"
"Cafe Ceria ya...udah lama juga aku nggak ke sana"
Matanya melirik ke atas, seakan membongkar ingatannya tentang tempat itu.
"Tempat kamu bekerja sama Mey dulu La"Lian seakan paham dengan mimik wajah tanda tanya Kaila.
"Ingat kok"Ujarnya singkat.
"Syukur deh, kamu dapat mengingat semuanya dengan mudah. Tapi kalo sama aku kenapa berbeda, aku harus menjabarkan kenangan kenangan kita dengan jelas dulu baru deh kamu dapat mengingatkanya" Ucapnya fokus menatap lurus ke depan.
"Sebab kamu berbeda"
Lian menepikan mobilnya. Ini bukan kali pertama Kaila mengatakan dirinya berbeda.
"Aku nggak berubah Kaila, apa lagi rasa yang ada di dalam sini"Ujarnya menunjuk letak jantungnya.
"Iya tau, bahkan mungkin rasa yang ada di dalam sana semakin hari semakin bertambah. Tapi...aku merasa sedikit asing dengan mu Li, kamu___"
"Aku kaku dan dingin"Sambar Lian.
Wajah gadis itu tertekuk dengan bibir bawah yang tergigit"Kan...dia sekarang bisa memotong kalimatku seenaknya, ini bukan Lian yang dulu"
Melihat Kaila diam tertunduk Lian memegang tangannya"Maaf La!!!, bukan maksud aku bersikap berlebihan"
Hanya senyum yang dapat gadis itu berikan. Dia sangat manis ketika tersenyum, namun ada rasa pedih tersimpan di sana.
"Kaila..."
"Ng!!" Sahutnya mengangkat wajah tertekuk sedih.
"Aku akan berusaha merubah diri menjadi Lian yang dulu. Aku mohon bersabarlah sebentar"Pintanya mendekati wajah Kaila dan berakhir dengan kecupan hangat di keningnya.
Kedua mata Kaila terpejam sedetik kemudian, hal ini terakhir kali Lian lakukan ketika mereka menghabiskan waktu bersama di apartemennya. Sebelum pertengkaran mereka terjadi di Cafe Ceria.
Lian kembali memacu mobilnya dengan sebelah tangan yang masih menggenggam jemari Kaila.
"Jangan ke Cafe Ceria deh, kita beli makan di tempat lain terus makan di apartemen kamu aja"
"Apartemen kamu La, bukan apartemen aku. Kamu udah mau pulang ke sana??"Tanyanya penuh semangat.
"Terus kapan baliknya??"
"Emang harus balik ya??"Dia malah balik bertanya kepada Lian.
"Iya lah...itu kan tempat tinggal kamu, aku cuman jagain aja selama ini"
"Kalo gitu bayar uang sewanya dong"Kaila coba memulai canda.
"Nanti kita hitung"Jawaban Lian sungguh mengecewakan. Dengan nada datar dia melontarkan jawaban itu.
Bukan hanya menganggap serius perkataan Kaila, selepas berkata seperti itu Lian kembali fokus menatap ke depan tanpa berucap sepatah kata lagi.
Kaila menghenyak kan diri di kursi mobil itu"Apa aku harus memancing naluri lelakinya biar balik normal kaya dulu. Masa aku harus punya laki kulkas super dingin kaya begini!!, bisa mati kedinginan kalo kaya gini mah!" Bisik hati Kaila.
Dengan tekad bulat Kaila akan menjadi penggoda Lian mulai saat ini, apa dia akan termakan rayuan Kaila atau masih bersikap dingin dan kaku seperti saat ini. Seingat Kaila prianya ini memang terkesan sopan dalam memperlakukannya, tapi bukan berarti sangat segan untuk sekedar mencium pipinya.
"Hayuk deh La!!Semangat kembalikan Lian seperti dulu"Ucap Kaila sangat pelan menyemangati diri sendiri.
"Ngh???, apaan La??"
"Nggak!!😊, emang kamu denger aku ngomong??"Ujarnya berlagak polos.
"Kayanya barusan kamu ngomong tuh" Ucap Lian sembali melepas Belt pengaman di tubuh Kaila. Kini mereka sampai di Cafe Ceria.
"Li!!" Panggil Kaila ketika wajah Lian sangat dekat dengan wajahnya.
Spontan mereka bertemu pandang ketika Lian merespon, hanya beberapa Cm jarak yang tersisa di antara mereka. Kaila begitu cepat dalam bertindak.
Kedua tangannya memegang kedua pipi Lian, coba menarik Lian lebih dekat kepadanya.
Kedua mata Lian terlihat mengerjap pertanda gugup.
"Aku kan maunya makan di apartemen, kok masih di ajak ke sini??"Tukas Kaila setengah berbisik.
"Makanan di sini juga bisa di bungkus La"
"Oh...."Sahut Kaila singkat. Bukan melepaskan Lian, kedua tangannya masih betah berlama lama menahan Lian lebih dekat kepadanya.
"Mau apa dia???"Bisik hati Lian.
"😊"Kaila tersenyum manis plus plus, ibarat pijat yang di tambah tambahin belaian dan pijatannya Kaila senyum begitu menggoda dengan mata memandang sayu kepada Lian. Seolah berkata"Cium aku dongggg!!!"
"La..."
"Ng??"Sahut Kaila masih tersenyum menggoda.
Lian berpindah ke telinga Kaila dan berbisik"Kaca mobil aku tembus pandang lho, ntar umat manusia di luar sana berprasangka yang enggak enggak melihat kita begitu dekat seperti sekarang ini"
Sontak Kaila melepas kedua tangannya dan membuat jarak di antara mereka.
"Ayok buruan pesan makannya, ingat ya Li..kita makan siangnya di apartemen kamu"Ucapnya seraya keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Lian tersenyum lebar dan segera keluar dari dalam mobil menyusul Kaila yang tlah melenggang ke dalam Cafe.
Mereka mendapat sambutan hangat di dalam Cafe, mereka para pelayan yang sempat bekerja di bawah perintah Kaila nampak terkejut dengan kehadiran Kaila. Mereka berbincang sesaat, menanyakan kabar masing masing dan sedikit bercengkerama.
"Udah ni La, balik yok"Lian yang memilih menu makan siang mereka kini tlah menenteng 2 porsi makanan.
"Balik dulu ya Ti"Ujar Kaila pamit diri.
"Semuanya balik dulu ya"Ujarnya pada pelayan yang lain.
"Hati hati di jalan, sering sering mampir ya"Ucap Siti dengan lambaian tangan. Bukan hanya lambaian tangan dari Siti, pelayan yang lain juga melambaikan tangan mengiringi Kaila dan Lian yang segera pergi dari tempat itu.
❣❣❣❣
Di Brander Company Bryan terlihat uring uringan duduk sendirian di sudut Kantin. Dia lapar, tapi selera makannya tlah sirna setelah menerima pesan singkat dari Kaila.
📩:"Kaila makan siang sama Lian dong Kak, makanya buruan cari pacar biar makan siangnya lebih berwarna"
"His!!! dia pikir makan siang tuh sambil ngegambar???pake berwarna segala"Gerutunya menopang dagu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya fokus menatap layar ponsel yang nampak tenang. Hahahha selain Kaila nggak ada orang lain yang mengirimkan peringatan makan siang kepadanya. Jomblo di pelihara sih!!
Di sela kegundahan hati seorang Bryan datanglah Brama si rekan kerja menyebalkan.
"Pak Bryan...udah tau belom kalo perusahaan kita kedatangan pemagang baru"
Melihat Brama menarik kursi dan duduk di hadapannya membuat Bryan berdecih tak suka.
"Oi..kursi lain masih banyak yang kosong kan"
"Di temenin makan siang malah nggak mau"Ujar Brama cuek bertahan duduk di kursi itu.
"Aku pikir kita___"
"Aku pikir kita nggak sedekat ini deh"Brama menirukan kata kata yang sering Bryan lontarkan kepadanya dengan bibir mereng sana mereng ke sini.
"Asem!!!, itu kursi asisten aku!"Bryan berkilah"Minggat deh Bram!!selera makan aku udah berkurang nih, jangan bikin aku makin nggak selera makan"
"Asisten kamu??si Yuta model sampo clean itu??yang rambutnya melambay lamay kek cewek??yang doyan gonta ganti warna rambut juga??"
"Diem Bram!!, kamu tuh cerewet yah, mulut kamu kek emak emak nawar sayuran tau nggak" Umpatnya melenguh kesal.
"Hahaha, jadi nih ya...kantin di perusahaan kita kan gede nih, nah di pojokan sono si Yuta lagi makan siang ama Melly"Ungkap si Bram yang banyak bicara.
Bryan memanjangkan leher bak seorang jerapah"Kang fitnah nih kamu Bram, kaga ada kok. Yuta bakal makan siang bareng aku"
"Vc deh, biar lebih jelas" Tantang Brama.
"Melly sekertarisnya Pak Don itu ya"Tanya Bryan sembari menekan nomor Yuta di ponselnya.
"Hu-um"Sahut Brama singkat.
Dan benar saja, Yuta menerima Vc darinya tanpa berpindah dari samping Melly. Nampak jelas mereka duduk berdekatan kek perangko.
"Kamu kencan Yut??"Tanya Bryan sedikit kesal.
"Di perusahaan kita nggak ada larangan buat pacaran dengan sesama karyawan kan Pak"Sahutnya santuy.
"Selamat siang Pak Bryan"Sapa Melly tanpa malu malu.
"Hai"Sahut Bryan kaku. Set dah, Yuta aja udah ada gandengan lah dirinya???ckckckckck
"Yut...aku nungguin kamu dari tadi lho, biasanya kan kita makan siang bareng"
"Maaf Pak Bos...mulai hari ini kita bakal makan siang secara terpisah, kasihan Yayang Melly nggak ada yang nemenin makan siang Pak".
"Hupfhhh!!" Brama menahan tawan. Dia pengen ngakak so hard di depan Bryan yang merana ini. Namun jiwa sosialnya masih bertahan, kasihan banget rekan kerjanya ini.
"Yuta..."Panggil Bryan pelan seolah mengharap belas kasihan sang asisten.
"Maaf Pak, saya pria normal. Lebih menarik makan siang dengan lawan jenis ketimbang sesama jenis. Rasanya ada manis manisnya gitu 😆"Asisten tak berakhlak ini begitu santai menanggapi kesedihan atasannya.
Bryan membuang nafas"Huh😥,Ya sudah lah. Aku nggak berhak melarang kamu jatuh cinta dan menghabiskan waktu di tempat kerja dengan pacar kamu"
"Nah gitu dong Bos kuuuuuuu, Pak Bryan emang Bos yang paling the best deh"
"Makasih pengertiannya Pak Bryan"Melly dan Yuta mengacungkan jempol ke arah Bryan.
"Tapi!!!"
"Tapi apa Pak??"Sambar Yuta.
"Jangan pacaran di jam kerja ya!!"
"Oh...tau kok Pak. Santuy aja!!" Yuta mengedipkan mata pada Bryan.
"Ugh...ganjen! dah akh. Kerja yang bener ya"Ujar Bryan lagi.
"Yoi Pak!!" Sahut Yuta begitu santai.
Akhirnya Bryan makan siang bersama Brama si manusia menyebalkan. Nampaknya hari hari mereka akan lebih banyak di habiskan bersama di perusahaan ini. Di sela sela makan siang itu Brama berkali kali membahas perihal pemagang baru. Dan berkali kali pula Bryan tak menggubris perkataan Brama tentang itu.
"Kamu beneran homo Bro??" Kesal di cuekin akhirnya Brama melancarkan senjata andalannya kepada Bryan.
"Mulut nggak berakhlak, ngomong seenak jidatnya. Nih mau aku suapin sambel??"
"Hahahha, santai"Kedua tangan Brama terangkat di depan dadanya.
"Jangan ngomongin cewek sama aku, apalagi masalah cinta. Males banget tau!!"
"Iya deh, ampun Pak Bos" Celoteh Brama lanjut menyantap makan siang nya.
To be continued....
Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.
7 Oktober 2020
Salam anak Borneo.
__ADS_1