
***Aku ingin berteriak pada dunia'Aku mencintaimu'
Bahwa aku mencintaimu dan selamanya akan begitu.
Selalu bersinar terang,
Engkaulah bintang hatiku,
Aku akan selalu melindungimu.
Berapa tahun pun itu,
Aku selalu bisa menunggu mu.
Di akhir hari yang cerah,
Satu satunya insan yang bisa membuatku tertawa...Hanya dirimu.
Di akhir jalan hidupku yang sulit,
Satu satunya insan yang selalu menyambutku...Hanya dirimu.
Dan ketika ku berpikir tentang cara memulai hari yang baru,
Memikirkan senyum mu saja tlah membuat wajahku tersipu malu.
Semua terasa indah jika kau berada di sisiku,
Semua terasa sempurna jika itu bersamamu.
Di bawah langit nan biru aku berjanji,
Ku kan memberikan segalanya untuk mu.
Teruntuk engkau sang pemikat hatiku***
💗💗💗💗
Vivi tengah sibuk menyusun lembaran foto anak anak dari pada sahabatnya. Awalnya Vivi masih membiarkan Lian begitu betah dalam kesendirian paska di tinggal Kaila, namun ini sudah lebih dari 12 bulan dan sikap Lian masih tetap sama, Dingin dan irit bicara.
Nampak seorang gadis cantik berkulit hitam manis dengan mata besar, nampaknya dia turunan Arab. Alisnya hampir bertaut, bibirnya nampak tersenyum manis di dalam foto tersebut membuat Vivi ikut menyunggingkan senyum ketika menatapnya.
"Cantik banget anaknya Jeng Farrah, wajahnya persis kaya Umi nya. Benar saja, gadis itu bernama Jihan, anak pertama dari salah satu sahabat Vivi yang juga salah satu personel dari geng sosialita mereka.
"Hm....Laura juga cantik nih"Tangannya beralih pada Foto seorang gadis berambut hitam panjang dengan poni yang menutupi keningnya. Gadis itu anaknya Jeng Rahimah, juga personel geng sosialitanya.
"Kira kira Lian bakal ngambek nggak ya bakal di jodohin kaya gini, kelamaan sendiri takutnya tu anak melenceng dari kodrat" Gumamnya.
"Melenceng apanya Mah"Panjang umur murah rejeki,Lian nongol ketika sang Mamah sedang sibuk memikirkan pasangannya.
Senyum sumringah mengembang di wajah wanita tua yang masih cantik jelita itu. Hampir 1 bulan Lian absen bertandang ke kediamannya, bahkan dalam 1 bulan itu hanya 2 kali dia bertanya kabar dengan sang Mamah. Itu juga di sempet sempetin, bukan karena sibuknya aktivitas di kantor melainkan Lian sibuk mengejar Kaila hingga hampir melupakan wanita yang tlah berjuang hidup dan mati ketika melahirkannya ke dunia ini.
"Cup cup...Masih ingat jalan pulang Nak??"Tanya Vivi mengemasi foto foto tersebut. Dia belum siap mengungkap niatnya di hadapan Lian.
"Iya nih Mah, kemaren jidat Lian terbentur pintu jadi rada rada lupa ingatan gitu" Sahutnya salim sama Mamah Vivi terus melenggang ke arah dapur untuk mengambil minum.
Ada rasa senang ketika Lian berkelakar terhadapnya, nampaknya Lian sedang dalam mood yang oke hingga sindirian sang Mamah di balas candaan olehnya.
"Glek glek glek!!!" Dalam 3 tenggak air mineral yang Lian tuang di gelas besar sudah meluncur dengan lancarnya membasuh dahaga. Cuaca gerah siang ini cukup menyiksa kerongkongan, memicu rasa haus yang lebih dari biasanya.
"Udah sembuh kamu Li??"Tanya Vivi lagi. Ni emak emak nggak bisa diem aja terima perubahan si anak, dia sangat kepo hingga pertanyaan aneh itu keluar dari mulutnya.
"Lian nggak demam, Lian juga nggak gila"Ujarnya sembari duduk di sofa yang sama dengan Vivi. Ujung matanya tertuju pada beberapa foto yang tengah Vivi genggam.
"Set!!!"Secepat kilat Lian menyabet foto foto tersebut dan semakin bersandar pada tubuh sang Mamah.
"Plak!!!" Kena kan jidatnya. Telapak tangan Vivi lumayan pedas kalo lagi nge geplak jidat, alhasil Lian menjerit kesakitan.
"Awwww!!!, memar kayanya nih Mah, akh...pedas, panas, berdarah pasti nih"
"Sini Mamah tambahin!!"Vivi menarik tangan Lian yang menutupi keningnya coba menepis rasa perih akibat serangan sang Mamah.
"Ini tangan durjana!!, tangan lucknat, tangan nggak berakhlak!!! maen sambar aja. Belajar jadi rampok kamu yaaaa!!" Keluar semua sumpah serapah dari mulut Vivi. Kedua tangannya juga berlarian kesana kemari mencubit setiap bagian tubuh Lian yang mampu dia cubit, sebab Lian dengan gesit menghindari serangan brutal dua jari sang Mamah.
"Awww!!, ampun Mah...Lian cuman pengen liat ini foto siapa!!" Pekiknya lagi ketika cubitan maut berhasil mendarat di perutnya.
Tersungut sungut dia melarikan diri dari Vivi"Ampun Mamah cantik, Lian ngaku salah. Sudut matanya sedikit berair, bahaya tangannya Mamah Vivi. Sekali menyerang Lian hampir nangis bombay.
"Balikin!!"Tangannya terulur meminta barang rampasan Lian kembalikan.
Jauh...sedikit jauh Lian mengulurkan tangan mengantarkan lembaran foto itu pada jemari Vivi.
"Hoel!!!, Takut??"
"Iya!!" Jawab Lian apa ada nya.
"Sret!!"Vivi menyabet foto itu kemudian menepuk nepukkan nya ke telapak tangan"Untung kaga ada yang lecet ni Foto, kalo nggak bakal Mamah jual kamu kepasar Loak!!"
Jleb!!!, nusyuk banget kata kata Mamah Vivi.
"Akh!!! Sakit Mah, di sini sakit banget. Apa Lian nggak di sayang lagi sampe mau di jual??" Tangannya memegangi letak jantung dengan mimik wajah sedih teraniaya.
Melayang lah sebuah bantal ke arah Lian.
"Bruk!!"
"Gorok aja deh Mah, datang baek baek malah di siksa begini!!" Sentaknya begitu sedih.
"Eneg Mamah sama kamu, udah pergi sendiri..pulang juga masih sendiri"
"Oh...jadi Mamah pengen Lian balik bawa temen?? Fatur ama Vino sibuk kerja Mah" Desisnya menahan pedih di perut. Kayaknya lecet deh tu perut gegara cubitan Vivi
__ADS_1
"Ya elahhh!!" Vivi mendesah putus asa. Fix Lian masih jomblo, di lepas di luar sana biar bisa bebas nyari cewek nggak tau nya masih betah ngejomblo.
"Udah lah Li, otak kamu kelewat cetek nih. Mamah sebenarnya belum siap cerita sama kamu, tapi ya sudah lah. Nih..pilih yang mana terasa cocok di hati kamu"
Di serahkanlah foto para gadis cantik itu kepada Lian. Bayangkan wajah Lian ketika mengetahui sang Mamah berniat menjodohkannya.
Melempem,,,kaya kerupuk kelamaan di anggurin. Ya..begitulah kira kira wajah Lian sekarang.
"Apaan nih Mah??"Dia berlagak tak tau. Berharapnya sih si Mamah nggak bener bener mau menjodohkan dirinya.
"Nih.."Foto pertama di letakan di atas meja. Lian sedikit di tarik dan duduk di ruang tamu agar lebih fokus memilih gadis yang sekiranya cocok dengan hatinya.
"Ini namanya Jihan, anaknya tante Farrah. Tau kan??
"Tau..sama tante Farrah sih. Sama anak nya enggak"Jawabnya malas.
"Gimana??, cantik kan"
"Nggak, hidungnya terlalu mancung, hidung Lian udah mancung juga Mah. Ntar cucu Mamah kaya nenek sihir yang naik sapu terbang Lho. Idung nya kelewat mancung kan
"Asem tu mulut, mau Mamah tabok pake sapu terbang??"
Lian menggeleng cepat.
"Makanya kalo ngomong jangan sembarangan!!"Sentak Vivi. Dia meletakan selembar foto lagi di atas meja.
"Ini Laura, kenal kan??kalo bilang nggak kenal Mamah kupas otak kamu biar inget sama Maira!!"
Sontak Lian memegangi kepalanya"Ini kepala mah, buka kelapa. Maen kupas aja"
"Iya Lian tau kok sama Laura, anaknya tante Rahimah kan, si Arab kan...."
"Hehe, gitu dong pinter dikit.
"Ogah!, Lian nggak ada rasa sama Laura"
"Di kasih bumbu kasih sayang lama lama juga bakal berasa Lian"
"Sayur kali di kasih bumbu"
"Terus mau kamu yang kaya gimana??, Sama Niki ya" Tak mengerah Vivi masih punya stok cewek untuk anak semata wayangnya.
"Segala Niki, kaga Mah. Tu anak galaknya ngalahin Kaila"
jeng jeng jeng!!! Nama Kaila terselip di antara berdebatan mereka.
Bibir Vivi mendadak manyun, dia mendengus kesal sampe sampe lubang hidungnya terlihat lebih lebar dari biasanya.
"Hoel!!, kecilin dong lubang idungnya. Nggak cantik tau"Emang kurang ajar si Lian. Boleh jadi dia bersikap dingin dan kaku tapi kalo urusan ngejahilin dan ngata ngatain si Mamah dia tetap super duper bawel dan menyebalkan seperti dulu. Tak jarang Vivi maen tangan memiting, memukul, mencubit bahkan menggigit Lian jika tingkat kesalnya mencapai ubun ubun.
"Mau jadi batu??"Hm...itulah ancaman paling manjur para istri pendiri TRIFAM.
Dan kata kata itu bagaikan mantra yang mampu membuat para anak anak mereka bertekuk lutut dan mengalah ketika berdebat.
Jelas Vivi terkekeh dengan wajah penuh kemenangan.
"Heh!!! jinak kan kamu, di sumpahin baru tau rasa. Sekarang pilih mau yang mana??"Lagi..foto para gadis terpampang di hadapan Lian.
"Gimana mau milih kalo Lian sudah punya pilihan sendiri"
"Whattt!!!"Vivi menarik Lian agar duduk di sofa dan siap menginterogasi anak bujangnya. Hm..masih bujang apa kaga sih? kan udah ngerasain *** *** si Liannya 😆.
❣❣❣❣
Di kamar nan sepi Bryan menggenggam sebuah cincin berinisial L&K. Manik matanya begitu fokus menatap cincin yang seharusnya tlah lama dia serahkan pada empunya.
"Meski berpisah setidaknya kalian sempat bertukar cincin, dan sekarang akhirnya kalian bertemu kembali"Gumamnya memutar mutar cincin tunangan milik Kaila tersebut.
"Ma___"
"Tok tok tok..."Ketukan pintu membuyarkan lamunan Bryan sekaligus memangkas ucapannya.
Bryan meletakan cincin Kaila kembali dalam sebuah kotak."Cih..sekedar hendak menyebut nama kamu aja nggak bisa kan. Apalagi memiliki kamu"Ujarnya pelan sembari menuju pintu dan membukanya.
"Malam Kakak tercakep sejagat raya!!!"Kaila datang mengejutkan Bryan hingga mundur beberapa langkah dari muara pintu.
"Wohoooo...happy banget nih. Ada apaan??tumben bilang kakak cakep, pasti ada mau nya nih"Terkanya. Ya jelas lah, menilik dari raut wajah super bahagia Kaila pasti ni anak ada mau nya.
Kaila menyemat helai rambut ke telinganya"Anu___"
Bryan bertepuk tangan"Sesuatu yang di awali dengan 'ANU'pasti mencurigakan"
"Dih sok tau!!,Kaila cuman pengen bilang..."
"Ngm??"
"Kaila laper, beli makan yok"
"Cih...kirain apaan"Bryan membuang muka.
"Laper banget ya Dek??"
Kaila mengangguk manja. Dia bahagia, ada hikmah di balik kecelakaan yang sempat menghapus ingatannya.
"Beliin makan ya Kak, kek biasa yang super pedassss!!"Sekarang dia memiliki seorang Kakak dan Papah yang sangat menyayangi nya. Buktinya ketika dia kelaparan seperti sekarang Bryan sang Kakak pasti dengan senang hati akan membelikan makan malam untuk nya.
Namun...itu dulu 😆. Di luar dugaan Kaila, Bryan menyentik keningnya "Enak aja, lagian tadi kenapa nggak makan bareng pas jadwal makan malam???"
Dengan kedua mata berkedip bagaikan kunang kunang air wajah Kaila nampak terkejut, bukan kah Bryan Kakak yang baik hati??bukan kah Bryan Kakak yang lemah lembut??
Perlahan jemarinya memegangi kening yang baru saja mendapat sentilan dari sang Kakak"Kak Bryan menyakitku"tepian bibirnya menukik turun. Alisnya pun ikut menukik naik dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Kaila tadi nggak laper soalnya pulang kerja Lian beli roti di kedai Arin"
"Hick hick, Jahir...jahir banget!!"Kedua mata itu berbinar menahan air yang kan jatuh.
Hati Bryan terenyuh, dia sudah kelewatan memperlakukan Kaila. Dia kesal sih, Adek yang di sayanginya lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang tunangan akhir akhir ini. Dia kan jadi kesepian.
"Mewek deh, sorry Dek. Jangan nangis dong. Mau makan apaan??Kakak beliin ya" Tangannya memegang pundak Kaila coba menenangkannya.
"Jahir!!" Serang Kaila.
"Aaaaa"Bryan menggeleng"Kakak baek hati dan tidak sombong. Kok di bilang jahir bin jahat sih!!"
Dengan membuang muka Kaila mendecih"Nggak sombong apaan, tuh barusan maen geplak aja ama jidat Kaila. Di kira lapangan basket maen geplak".
"Ya maaf deh, canda doang. Lagian masa jidat nong nong begini di bilang lapangan basket"
"Hah"Kedua mata Kaila membulat. Udah bisa menghina si Kakak mah.
"Oh...jadi sekarang udah bisa julid mulutnya. Kaila bakal kasih liat Kakak julid yang hakiki tuh kayak gimana"Ujarnya ketus. Pandangan setajam pedang dan dengusan sepanas lahar Kaila terlihat ber api api di pandangan Bryan. Lebay ye 😂, suka suka Author laaaa 😋😋😋.
"Hehe ampun Dek, jangan gitu la. Kalo marah bola mata kamu udah kaya bola api, berkobar dan siap melahap kakak, dari pada Kak Bryan luluh lantah menjadi abu mending kita berdamai"Bujuk Bryan bermanis kata.
"Gimana kalo kita makan di pinggiran taman, Streetfood nya mantul kan di sana"
Tawaran yang menggiurkan. Kaila yang marah kembali menjadi Kaila yang manis dan kalem. Dasar wanita bunglon 🤣🤣🤣 urusan makan aja dia pasti akan berdamai dalam pertikaian. Perut emang nggak bisa boong sih, ups!!! iklannya kan 'Lidah nggak bisa boong ' 😆.
Tanpa membuang waktu dua Kakak beradik itu langsung cus ke TKP.
Bryan memacu mobilnya ke arah taman kota yang memang menjadi tempat favorite mereka jika sedang lapar di malam hari. Streetfood di sana sangat memanjakan lidah, mau makanan manis, asin, pedas bahkan pahit sekali pun tersedia di sana. Pahit??? Hahhaha kang jamu juga buka stan di sana guys, jadi yang pengen ngejamu kuat stamina malem malem boleh lah bertandang ke sana.
Sesampainya di sana jemari Kaila seakan berlarian ke sana kemari"Mau yang itu!!" Tunjuknya pada stan bakso manis pedas.
"Itu jugaaa 😆😆😆"Jari telunjuknya beralih pada stan waffle.
Bryan memutar bola mata jengah, namun cepat cepat dia memasang wajah sumringah ceria ketika Kaila mendadak memelotoinya.
"Ikhlas nggak??" Ucapnya berkacak pinggang.
"Iya dong, sok di pilih sesuka hati Adek. Dompet Kakak masih tebel"Bryan berseloro pasrah. Kaila jejingkrakan riang bukan kepalang. Tingkah lakunya tak sepadan dengan usia, layaknya anak kecil Kaila selalu berseru manja kepada sang Kakak untuk membelikan makanan.
Kali ini mereka berhenti di depan stan Sate kerang. Bukan mereka sih yang berhenti, tepatnya Bryan terpaksa berhenti karena Kaila.
Perempuan itu menggelayut manja di lengan Bryan"Ayolah Kak...ini yang terakhir. Sate kerangnya udah berasa di lidah Kaila lho"
Bryan mengangkat kedua tangan yang tlah sarat akan beban.
"Semua ini siapa yang bakal makan Kaila??"
"Kaila lah...emang siapa lagi??"
"Kamu bisa ngabisin semua ini??"Tanya Bryan lagi meletakan semua makanan yang sedari tadi di pinta Kaila pada meja kosong depan stan sate.
4 porsi makanan tlah teronggok di sana. Masing masing dengan kemasan dan merek yang berbeda,Bakso pedas manis tanpa kuah, Seblak pedes mantul komplit segala toping di masukin jadi satu porsi,Kebab turki juga nangkring di meja itu, Waffle yang es krim nya udah Kaila comot duluan juga udah tergeletak di sana. Dan Perempuan itu kembali memesan sate kerang super pedas kesukaannya.
"Ya tuhan, perut kamu terbuat dari karet Dek??"Bryan geleng geleng kepala kek boneka dari india.
Bibir Kaila mencebik"Bawel banget sih Kak, tinggal bayar aja kok"
"Ugh!!!"
"Heit!!! udah bisa ngomel??"Kaila menghentikan Bryan mencebik.
Tarik nafas dalam dalam, kemudian hembuskan perlahan, Bryan udah kaya instruktur senam nih"Stok sabar masih banyak. Senyum Bryan!!" Ujarnya menyemangati diri sendiri.
Kaila terkekeh dengan ucapan Bryan.
"Ketawa aje terus, awas aja kalo nggak di abisin. Ampe merem juga bakal Kak Bryan suapin terus semua makanan ini"Tukasnya mengekor langkah Kaila ke parkiran.
"Kwkwkwkkw selow Kak, penghuni panti bukan cuman Kaila kali"
"Udah larut malem La, palingan tinggak Riko ama Nazmi yang bangun"
"Rejeki mereka berarti"Sahut Kaila santai.
"Terus sisanya??"
"Kita bedua lah yang makan"Jawaban Kaila membuat Bryan manyun. Gimana enggak, semua menu rasanya pedas. Sedangkan dia nggak suka pedas.
"Hah...nasib punya Adek berubah somplak!" Ujarnya coba mengambil kunci mobil di saku celana. Tangan kirinya terasa sangat berat secara dia menenteng 5 porsi makanan dengan satu tangan kan.
"Bantuin Dek!!" Dia menyerah, dia perlu bantuan Kaila buat megangin tu makanan dulu.
"Ogah!!bukan cuman Kaila kali yang berubah, tuh Kak Bryan sendiri juga berubah. Sekarang bawel, udah bisa ngomel juga" Kaila bersender di samping mobil dengan santainya.
"Ih...ketularan Lian nih, kamu nyebelin Dek!!" Bryan hendak meletakan semua belanjaan ke aspal, namun terhenti ketika seseorang berseru kepadanya
"Perlu bantuan??" Tangan seorang perempuan terjulur di depan wajah Bryan.
Dia mengangkat pandangan dan saat itu dunia tenanh dan damainya seakan berhenti berputar. Tatapan kaku nya menyita perhatian Kaila di pintu sebelah. Lantas dia berputar dan menghampiri Bryan yang kini membatu.
"Kak!!, oi jangan kesambet dong"Kaila melambay lambahkan tangan di depan wajah diam Bryan.
"Kak.."
Gemes Bryan mendadak kaku Kaila menggoyang lengannya dan barulah Bryan merespon.
"Akh!!,Maira..."Ujarnya mengucap nama perempuan selain Kaila yang tengah tersenyum dan begitu dekat dengannya.
To be continued.
Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.
__ADS_1
10 Oktober 2020.
Salam anak Borneo.