Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 23


__ADS_3

***Legenda ubur ubur bulan***


Pada zaman dahulu,,,Bumi memiliki dua satelit. Dialah yang sekarang kita sebut bulan dan bintang. Bintang itu bernama bintang Zeus. Awalnya bulan dan bintang adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun semua kebahagiaan mereka berubah ketika meteorit menghantam bumi hingga sang bulan keluar dari lintasannya. Bintang Zeus mengorbankan diri untuk melindungi bulan, menjadikan dirinya tameng di hadapan bulan hingga dirinya lah yang tertabrak meteorit, akhirnya sang bintang pun sirna. Bulan bersedih dan meneteskan air mata, genangan air matanya jatuh ke lautan luas dan berakhir menjadi ubur ubur bulan.


❣❣❣❣


Gadis bermata bulat dengan rambut hitam panjang nya, berkulit putih bersih dengan wajah manis dan tentunya cantik. Suatu anugerah yang patut dia syukuri, terlahir dengan paras cantik jelita membuatnya di sukai baik pria atau pun wanita.


Tak jarang dia mendapat hadiah dari pengagum terang terangan hingga pengagum rahasia.


Maira Zemira, nama nan cantik itu sangat di kagumi dan di sanjung pada masa nya. Banyaknya lawan jenis yang mengincar untuk menjadikannya kekasih membuat mereka bersaing baik secara sehat juga jahat sekalian. Bersaing dengan cara yang jahat??licik?? hm..hal itu lah yang terjadi pada Bryan. Bukan sebagai pelaku, tapi lebih tepatnya sebagai korban.


"Jauhin Maira dong, aku ngebet banget pengen jadiin dia pacar aku"


"Nggak bisa gitu dong june, di sini bukan kamu doang yang punya hati. Aku juga suka banget sama Maira" Bryan meletakan sendok di pinggir mangkoknya. Berjalan ke meja sebelah dan meraih botol air mineral.


"Ayolah Bro...katanya kita temen baik!!" Selalu begitu. June selalu begitu jika menginginkan sesuatu dari Bryan.


Sembari menenggak air mineral Bryan coba mencari cara agar dapat mengatasi June yang sering bersikap seenaknya.


"Gini deh, kita balapan deh. Kalo aku menang kamu jauhin Maira"Tukas Bryan meletakan botol yang tlah berkurang setengahnya di atas meja kang bakso.


"Kalo aku yang menang kamu bukan cuman harus menyerah dengan Maira, kalian juga nggak boleh temenan lagi. Gimanaaa???"


Arjune singgih, sahabat sedari kecil Bryan kali ini membuatnya harus memilih antara pertemanan atau percintaan. Sebab...


"Kalo kamu ingkar janji maka persahabatan kita berakhir" Begitulah ancaman yang June lontarkan kepada Bryan.


Bryan yang berhati lembut mengiyakan ucapan dan segala aturan yang June ajukan. Berbeda dengan June, dia menggunakan cara licik agar Bryan kalah dari balapan. Dan balapan pun berakhir dengan kemenangan June.


#Flashback off#


"Maira..."Sudah sangat lama nama itu tak keluar dari mulut seorang Bryan Brander.


Gadis bermata bulat dengan senyum menawan itu mengulurkan tangan kepada Bryan yang setengah merunduk hendak meletakan belanjaan si Adek somplaknya.


"Ng...anu, tangan aku penuh"Kilahnya segera menegakkan tubuh kembali. Telah sekian lama dia masih memegang janjinya kepada June.


Ada kias sedih terpancar dari wajah Maira, terbukti dia menggigit ujung bibirnya dan sedikit menarik nafas mensejajarkan kembali tangannya.


"Mau balik ya?"Ujarnya berjalan selangkah mundur. Sebab Bryan coba menepikannya hingga dapat membuka pintu mobil.


"Iya nih"Sahutnya datar.


"Oh..gimana kabar kamu?"


Bryan tak menggubris, dia berjalan ke arah Kaila dan membukakan pintu. Dengan tampang penuh tanya Kaila melirik sang Kakak, dan Bryan terlihat tegang saat itu.


"Maaf ya Ra, aku buru buru. Istri aku lagi ngidam tuh, angin malam nggak baek buat dia"


"Whaaattt!!" Batin Kaila menjerit.


Sorot mata Maira beralih pada Kaila, terus Kaila harus apa?? senyum?? tapi Maira terlihat sedih. Diam aja kah??tapi Kaila nggak mau di cap cewek sombong kan.


"Kak___"


"Buruan masuk sayang"Tukas Bryan dari dalam mobil.


Nampak kaku Kaila melambaikan tangan pada Maira dan segera masuk ke dalam mobil. Gadis itu membalas lambaian tangan Kaila dan sempat melempar senyum kepadanya.


"Duluan ya Ra"Ucap Bryan bersiap minggat.


Tangan Maira menahan jendela mobil"Tukeran nomor yuk"


"Maaf Ra, aku udah berkeluarga. Aky juga bakal jadi seorang Ayah"


Kaila bengong dengan pipi mengembung. Ada apa ini???


"Cuman pengen sedikit berbincang aja sama kamu Bryan" Ucapnya penuh harap.


"Ra___"Bryan memberanikan diri menatap tajam ke dalam mata Maira. Ada rindu di sana, Bryan tau itu. Dia dapat merasakannya, tapi janjinya kepada June nggak bisa dia langgar. Terlebih June sekarang tlah tiada, Bryan nggak ingin membuat June menderita melihat kebersamaannya dengan Maira dari atas langit sana.


"Bryan!!!, apa salahku??tiba tiba kamu bersikap acuh bahkan selalu menghindariku. Bahkan sekarang, sudah bertahun tahun Bryan, dan kamu masih saja bersikap begini tanpa alasan"Begitu panjang kata kata yang terlontar dari mulut seorang Maira. Dapat di pastikan dirinya dan Bryan pernah terlibat masalah hati di masa lalu.


"Kak...Kaila bingung"Kaila berbisik pada Bryan.


"Diem aja!!" Desis pria itu balas berbisik.


Dia berbalik pada Maira yang masih berada di jendela mobil"Kamu nggak salah Ra, aku juga biasa biasa aja kok"


"Biasa tapi ngeselin, nyakitin, kamu berubah total!"Desisnya bergetar. Akh apakah dia akan menangis??


"Tolong hormati istri aku Ra!!, kamu ngomong kaya dia nggak ada di samping aku aja"Protesnya pada sikap cuek Maira terhadap Kaila.


Mendapat tegura, Maira lantas kembali melirik pada Kaila. Wanita yang di bilang Bryan sebagai istrinya"Maaf say, kami udah lama nggak ketemu. Dan pertemuan terakhir kami menyisakan sebuah permasalahan. Aku nggak maksud buat godain suami kamu kok" Ucapnya dengan kedua mata memerah menahan genangan air mata.


"Suami??, oh Kak Bryan!! Gimana kagetnya Lian kalo tau kejadian menyebalkan ini!!!" Pekik batin Kaila.


"Nggak papa kok, lanjutin aja. Anggap aja aku manekin yang kesasar di sini"


Jawaban Kaila membuat Bryan nyaris tergelak tawa. Berlagak ramah tapi kata katanya nusyuuuukkk banget.

__ADS_1


Maira nampak berwajah masam,boleh jadi Kaila tersenyum tapi lidah bak sebilah pedangnya menciutkan nyali Maira.


"Maaf say, hm__"


"Nggak papa!!"Potong Kaila"keluar dulu deh Kak"Ujarnya lagi mendorong Bryan agar keluar dari dalam mobil.


"Nggak!!"Bryan menolak.


Melihat gelagat Bryan, Maira meraih secarik kertas dari dalam tasnya beserta pulpen.


Dia terlihat menuliskan sesuatu"Aku tau pasti ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan padaku, Ini nomor Wa ku. Hubungi aku jika hatimu sudah siap menjelaskannya"


beberapa detik waktu berlalu, kertas itu masih berada di tangan Maira. Hingga Kaila yang begitu greget menariknya dari tangan Maira.


"Nanti bakal di hubungin kok"Lagi..dengan senyuman Kaila berucap pada Maira. Bryan segera menyalakan mobil dan meninggalkan wanita itu tanpa sepatah kata. Jauh...semakin jauh mobil itu dari hadapan Maira hingga perlahan menghilang dari pandangannya.


🌸🌸🌸🌸


Tatap penuh tanya Kaila membuat Bryan serba salah. Dia merasa sangat malas jika harus bercerita tentang Maira kepada Kaila. Hatinya terasa perih jika harus mengingat bagaimana kejamnya dia memperlakukan Maira agar wanita itu membencinya. Sayangnya usaha Bryan sia sia. Maira yang ternyata menyimpan rasa kepadanya tak bergeming sedikit pun ketika kata kata menyakitkan terus dia terima dari Bryan.


"Biasa aja liatinnya, lama lama mata kamu bisa meloncat keluar Dek" Tukasnya meletakan makanan di meja makan dan menyeret langkahnya menaiki tangga.


"Dih galau bener, segala biji mata Kaila di bilang mau loncat. Siapa sih cewek tadi Kak??"


"Udah lah...Kakak capek. Kapan kapan deh ngejelasinnya"Ujarnya tanpa memandang Kaila.


"Ugh...palingan ngejelasinnya pas monyet udah lebaran"Gerutunya kesal.


"Nah...bisa tuh..Ntar aja pas kamu udah lebaran"Ujarnya berbalik dengan seringai tawa.


"Maksudnya??, Kaila___mo"


"Monyet!" Sambung Bryan cepat.


"Yah..jahir nih!!, jangan minta makanan Kaila ya"


"Dah kenyang juga!" Bryan lanjut naik ke atas sementara Kaila menatap punggungnya yang nampak sangat sedih.


"Siapa yang ngabisin makanannya Kakak"


"Para bocil masih pada bangun kok, baru juga jam 9 an" Serunya di anak tangga paling atas.


Kaila melengus bak banteng yang siap bertarung"Nggak asik!!" Sentaknya berkacak pinggang.


Bryan hanya tertawa.


Benar kata Bryan, Riko dan Nazmi masih terjaga ketika Kaila menjenguk kamar mereka.


Alhasil mereka menyantap makanan yang Kaila bawa dengan persediaan air minum yang banyak


"Gile!!!, niat beliin kita makan nggak sih"Keluh Amel berdesis merasa pedas di lidahnya.


"Dih ampe ingusan!" Olok Nazmi melihat Amel menyeka hidung berairnya.


"Mau?? nih ambil"


Nazmi bergidik jijik, begitu juga yang lainnya. Dasar si Amel mah πŸ˜‚.


🌻🌻🌻🌻


Rasa penasaran Vivi akan kekasih baru anak bujangnya berdampak pada ketenangan hidup Lian. Sejak kemarin hingga pagi ini Vivi terus meminta Lian agar bercerita segala hal tentang waita itu. Baik lewat pesan singkat, telpon atau berhadapan langsung seperti saat ini Vivi terus berjuang demi mengungkap siapa calon menantunya.


Muka bantal, yah begitulah tampang Lian saat ini. Sedari subuh si Mamah terus mengirim pesan kepadanya, hingga berujung dengan teriakan bel apartemen yang meminta sang penghuni membukakan pintu.


Sedikit mendongakkan kepala Lian coba memeriksa pukul berapa sekarang. Jam dinding menunjukan pukul setengah 6 pagi, wew...rajin banget si Vivi jam segini udah bertandang ke tempat tinggal putranya.


"Hoaaammm!!, Mamah ke sini bawa makanan nggak??"Lenguh Lian menguap lebar.


"Mamah ke sini udah 1 jam yang lalu, mana ada warung kuliner yang buka jam segitu kan"Sahutnya bersilang tangan di dada.


"Nah...sama tu mah. Jam segini mana ada orang bertamu sambil gedor gedor pintu apartemen orang"Balas Lian rebahan di lengan sofa.


"Buk!!!"Bantal melayang. Kalo ada Vivi segala benda bisa berubah jadi UFO. Serba melayang bahkan loncat indah.


"Akh!!!, Mamah nggak sopan!!"


"Orang???, Mamah di bilang orang??"


"Emang orang kan Mamah cantik, emang Mamah mau di panggil gimana??bidadari??"


Vivi tersenyum"Boleh juga"


Lian terkekeh"Hohoho...itu mah panggilan buat Yayang Lian"


"Oh gitu, iya in aja deh. Makanya cerita siapa cewek itu??kalo cocok biar di kawinin" Vivi mendekat, kini tlah satu sofa dengan Lian.


"Udah cocok kok, tenang aja!" Sahut Lian nyengir. Dia sedikit menarik diri, membuat jarak antara dirinya dan Vivi. Kalo berdekatan begini sedikit saja dia salah berkata kata maka jemari lentik sang Mamah bisa leluasa menari nari di atas kulitnya. Mencubit bahkan menggigit dirinya .Awhhh!!! mengingat cubitannya kemarin saja membuat Lian berdesis kesakitan.


"Cerita!!"Cengkeramnya di lengan Lian.


Lian mengerjap, tanda tanda kekerasan akan di mulai.

__ADS_1


"Oke...Lian panggil aja ja"Tukasnya perlahan melepaskan pegangan Vivi.


"Sekarang!, Mamah nggak mau beli kucing dalam karung Lian. Mamah mau menantu yang nyambung sama Mamah!" Rengeknya menggoyang goyang lengan putra semata wayangnya.


"Nanti Mah, ini masih pagi banget!, jam 7 an dia bakal ke sini kok"


"Janji??"


Lian menautkan jari kelingkingnya ke jari Vivi.


"Nih...Lian janji. Pake cap jempol juga!" Tuturnya melekatkan jempolnya dengan jempol sang Mamah.


"Okeh!!" Perempuan paruh baya itu berdiri.


"Kamu mandi deh. Mamah siapin sarapan"Langkah membawanya ke dapur Lian.


"Nggak ada bahan makanan Mah!"


"Terus kerjaan tu cewek apa??dia pasti sering ke sini, tapi makan kamu aja nggak di urusin"Dengusnya dengan alis bertaut naik.


"Dia pacar Lian, bukan pembantu Lian!!"Sahutnya balas cemberut.


Halah....Vivi coba mengontrol emosi. Maksudnya nggak kaya gitu juga sih, setidaknya tu cewek perduli lah dengan stok makanan di kulkas gede Lian tapi kosong begitu. Isinya cuman ada air mineral doang sama roti tawar.


"Jadi tiap pagi kamu sarapan roti tawar ini??tanpa selai??, kerja kadang sampe lembur tapi kulkas kamu miskin banget Nak"Cibir Vivi memandangi si roti tawar.


Sebenarnya tu kulkas nggak se mengenaskan sekarang kok. Kebetulan kosong aja pas Vivi bertandang ke sini. Jadilah si Mamah berasumi yang tidak tidak di sini.


"Kemaren selainya ada kok Mah"


"Sekarang??mau makan apa kamu!!"


"Akh bawel!!, Lian biasanya sarapan di luar. Makan siang juga di luar, kalo pulang beli makanan jadi. Jangan sadis dong Mah, Lian makan dengan baik kok" Coloteh Lian membela diri.


"Oke!!, Mamah bawel"


"Iya emang bawel!"Gerutu Lian melenggang ke kamar.


"Abis ngatain Mamah maen kabur aja, mau kemana kamu Li!!"Hardiknya.


"Lah katanya di suruh mandi!!"Lenguh Lian berbalik badan.


"Oh iya ya, buruan deh. Sarapannya gimana??"Bukan Vivi namanya kalo nggak cerewet dan bawel.


"Ada kok, ntar ya Mah"


Sikap bawelnya membuat Lian kembali melenguh jengah. Dia masuk ke kamar dan meraih ponsel di nakas.


"Morning Sayang"


Vivi menempelkan daun telinganya di pintu kamar yang Lian tutup.


Terdengar percakapan Lian di dalam sana, nampaknya sarapan pagi ini akan di bawakan si calon menantu. Ujung garis bibir Vivi menukik naik, usahanya subuh subuh datang ke sini nggak sia sia. Nggak lama lagi dia bakal bertemu dengan si calon menantu.Gimana nasib Riley yang di tinggal Vivi di subuh buta??tenang!! koki di rumah mereka akan menyediakan sarapan termantul buat suaminya itu.


Di tempat lain Kaila yang tak tau akan kehadiran Vivi di apartemennya sedang sibuk bersiap berangkat bekerja. Pagi ini dia bakal ngereporin si Kaka tercakepnya.


Dengan pasrah Bryan mengantarkan Kaila sampai ke depan apartemen, dan tak lupa mampir dulu ke kedai Arin untuk membeli sarapan. Kehadirannya di pagi buta membuat Fay bertanya tanya"La..bukannya kamu masuk siang??"


"Iya tau kok. Aku mau beli sarapan doang. Roti krim sama kopinya ya"Pintanya pada Fay.


"Kirain udah mau masuk kerja, btw kamu nggak capek kerja di dua tempat kek begini??"Tangan boleh bergerak, tapi mulut tetap cuap cuap. Itulah si lincah Fay.


"Capek sih, ntar bakal pensiun kok"Sahutnya bersandar di counter minuman.


"Pensiun??emang mau kemana??masih muda udah mau pensiun!!"


"Dih kepo!!, buruan dong pesenannya"Desaknya. Si Fay kalo di layanin ngerumpi bisa satu abad baru kelar bikin pesanan.


"Mo kawin yaaaaaa!!"Terkanya.


"Nikah Fay...kalo kawin mah___"


Astaga!!! Kaila keceplosan. Kebiasaan ngomong absurd sih sama si Fay.


"Hah...gimana kawinnya??"Jelas Fay melotot mendengar kata kata kawin, otak mesumnya mulai berimajinasi yang macem macem tuh.


"Cuci otak kamu pake bayclin, bilang kawin doang ampe mau loncat keluar tu mata"Ujar Kaila menjitak jidat tersembunyi Fay. Cowok yang lebih muda beberapa tahun dari Kaila itu memekik kesakitan ketika jidat aduhainya mendapat jitakan.


"Jemari lucknat!!" Umpatnya merapikan kembali rambut yang menutupi keningnya.


"Kwkwkwkkw makanya otaknya di bersihin"


"Iya iya, ntar aku cuci bersih deh. Sekalian aku giling di mesin cuci biar kinclong ni otak. Puas kamu!!"Gerutunya sangat kesal.


Kaila terkekeh begitu pula dengan Arin yang ternyata sedari tadi memperhatikan mereka di muara pintu dapur.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.


15 Oktober 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2