
*** Seperti angin datanglah kepadaku...
Biarkan aku bernafas dengan lega.
Aku tak tahu kemana takdir akan membawa kita...
Bagai bintang di langit malam membentuk sebuah cincin...
Kan ku ikat jari manismu menyatu dalam takdirku.
Sebuah cinta dalam hatiku yang sempat membuatku takut...
Dapat tersingkirkan dengan seulas senyum manismu.
Duhai pemilik hatiku...
Bahkan pedihnya perpisahan bukan suatu rintangan untuk ku melepaskanmu.
Aku akan tetap bersamamu...dan hanya tertuju kepadamu.
Ketika kesedihan memeluk dan menenggelamkan ku..
Bunga bunga pun berjatuhan di tanah kering...
Semua kan menjadi mimpi indah ketika kau berpaling sekedar melirik pada diriku.
Di malam yang gelap...
Cahaya rembulan cukup menerangi kabutnya hatiku.
Karena cantikmu...
Sangat membuatku candu dan ingin terus memilikimu***
💗💗💗💗
Sepulangnya Syila ke panti asuhan Lian masih betah berlama lama bersama gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Bryan kesal dan geram, mimpi apa aku semalam, hal mengerikan ini akhirnya terjadi. Apa yang akan ku katakan jika Syila bertanya tentang kebenaran ini?? Bisik hatinya yang kalut.
Meski tampak linglung Syila yang ketika berangkat dalam keadaan ceria masih sempat menyapa Bi Mun yang membukakan pintu untuk mereka.
"Tuan besar, mau saya siapkan makan malam Tuan??" Bi Mun yang tak tahu apa apa ini menyambut kedatangan mereka dengan suka cita apalagi Tuan Odet juga hadir di antara mereka.
Pria paruh baya itu melempar senyum khas nya pada Bi Mun, dengan kedua mata menyipit senyumnya terasa hangat. Tak nampak kegelisahan yang sedang bersarang di hati kecilnya. Tak berbeda dengan Bryan, Tuan Odet juga sangat menyayangi Kaila yang mereka beri nama Syila. Setahun terakhir memanggil gadis itu dengan nama sang putri yang tlah tiada seakan menghadirkan kembali putri kesayangannya itu.
"Secangkir kopi deh Bi, anterin ke kamar Syila ya"Ujarnya.
Kemudian dia bertanya pada Lian mungkin dia hendak menikmati secangkir kopi bersamanya"Kita bisa banyak berbincang di beranda kamar Syila Nak Lian, bukankah masih banyak hal yang harus kita bicarakan"Ujarnya terdengar tenang. Beginilah seorang Odet Brander ketika sedang menghadapi masalah, boleh jadi hatinya resah namun mimik wajah dan sikapnya masih terlihat santai dan tenang.
Lian yang tanggap dengan ucapan Tuan Odet langsung berucap pada Bi Mun"Kalo ada sih Capucino aja Bi"
"Siap Nak Lian...kopi nya segera berangkat Tuan"Celotehnya pada dua pria berbeda generasi itu.
"Bi...saya nggak di tanyain mau minum atau makan apa gitu??" Cemburu sosial, yah...itulah yang sedang menyelimuti diri Bryan.
"Ups....!!!Bibi lupa sama Nak Bryan gegara fokus sama Nak Lian"
"Haisssh!!, Lian doang kok bikin Bibi ambyar"
"Aku ganteng Bro" Sahut Lian cepat.
Dua jempol milik Bi Mun terangkat naik.
"Minta gajih sama Lian aja Bi!!"Bertahun tahun bekerja di keluarga Brander baru kali ini Bi Mun mendapati seorang Bryan merajuk"Ya Allah Nak Bryan, gemesin banget kalo lagi ngambek"
"Biasakan diri Bi, kayanya Bryan bakal sering merajuk sekarang"Ujar Tuan Odet menunjuk Bryan yang duluan sampai ke teras panti.
Lian dan Bi Mun tertawa mendengar ucapan Tuan Odet. Sedangkan Kaila sedari tadi fokus memandangi Lian tanpa pria itu sadari.
"Jadi ini tunangan aku??iya, ini Lian tunangan aku, tapi kok terasa berbeda ya" Gumam hatinya.
Tuan Odet mempersilahkan Lian masuk dan meminta Lian mengajak Syila masuk bersamanya. Tuan Odet memang pengertian, setelah tahu bahwa Lian dan Kaila tlah bertunangan dia seperti langsung menyerahkan Syila pada anak muda itu.
"Nikmatin aja dulu, aku juga bisa licik tau Li!!" Tukas Bryan kesal memandangi mereka dari balkon kamar Syila.
Meski tlah mendapatkan ingatannya Kaila masih merasa sedikit asing bersama Lian, mungkin karena tlah lama melupakan pria itu atau mungkin karena hal lain. Entahlah!! yang jelas bagi Kaila, Lian nggak seperti Lian yang ada dalam pikirannya.
Sesampainya di depan tangga Lian menggendong Syila ala bridal, dia bahkan menggendong gadis itu sampai ke kamarnya.
"Lembut banget, tapi bukan Lian seperti ini yang aku ingat".
"La...kok kamu diem dari tadi. Kepala kamu masih sakit??atau..ingatan kamu hilang lagi??"Lian duduk di pinggiran ranjang Syila sementara gadis itu tlah Lian turunkan tepat di atas ranjang tersebut.
"Woi..woi.., deket amat!!, ada makhluk lain di sini. Bukan cuman kalian bedua" Bryan melempar tubuhnya ke tempat tidur Syila, tanpa sungkan dia menarik kaki Syila dan memeriksa luka di kakinya.
Ingin rasanya Lian melempar jauh tubuh Bryan yang begitu dekat bahkan dengan bebas menyentuh kaki gadisnya"Grhhh!! sabar Lian, kalo udah sah jadi suami Kaila barulah kamu bisa menenggelamkan pria ini ke dasar bumi paling dalam!!"
"Yang luka tuh tumit kamu ya Dek, masih bisa di pake jalan kan, pake gendong gendong segala. Manja ih"Nah...bukan hanya Lian yang terasa berbeda di benak Syila. Bryan yang biasanya lemah lembut kepadanya tiba tiba jadi songong seperti ini.
"Apa Kak Bryan kecewa karena ingatanku kembali??"
Mendapati Kaila bengong memandangi mereka Lian menjadi khawatir. Apalagi Bryan tiba tiba merundung Kailanya dengan omelan, jangan jangan ingatan Kaila benar benar hilang lagi.
Melayanglah sebuah gemplakan yang tertuju pada Bryan
"Plak!!"Kening Bryan mendapat serangan dari telapak tangan Lian.
"Akkhhhhh!!" Jerit Bryan kesakitan.
__ADS_1
"Kira kira dong Bro"Sentaknya
"Kamu yang kira kira, maen geplak aja!! ini jidat Lian!!"Sergah Bryan memegangi keningnya yang nampak merah.
"Kamu ngomel melulu, Kaila nggak ada ngomong dari tadi!!"Ujarnya berwajah geram. Ckckckck udah mendadak songong, nggak bisa baca keadaan pula. Bryan emang nggak peka nih.
"Eh...bener juga"Bryan beralih menatap Syila, barulah dia tersadar dengan kelalaian nya.
"Dek..."Panggilnya pelan.
Syila menatap mereka satu persatu.
Tuan Odet yang sedari tadi menghirup udara di balkon datang menghampiri mereka"Kenapa??"
"Dia bengong dari tadi Tuan"Ujar Lian bangun dari duduknya.
Kini Tuan Odet yang duduk di tempat Lian barusan"La...kamu kenapa??" Jemarinya menggenggam tangan gadis itu. Manik matanya terlihat kosong, nampak jelas Kaila sedang dalam keadaan bingung.
Tangannya yang lain mengelus lembut pucuk kepala gadis itu.
Kaila merespon"La??"Ujarnya dengan nada bertanya.
"Iya..kamu Syila, putri Papah"Senyum itu kembali dia tontonkan.
Namun Kaila berujar di luar dugaan"Kaila om"Ujarnya meracau lagi.
Bryan terhenyak, apa ingatannya sebagai Syila tlah terhapus??"Syila...kamu tau kan ini Kak Bryan!"
"Iya tau"
"Ini Papah"Tukas Bryan menarik pandangan Syila pada Tuan Odet.
Di pandanginya pria itu lekat lekat"Iya...ini Papah, tapi aku bukan Syila Kak. Aku Kaila"
"Meskipun kamu Kaila, Papah tetap menganggap kamu putri Papah" Sedih banget ngedenger ucapan Tuan Odet,Lian merasa bersalah. Apa kehadirannya mengacaukan kebahagiaan Pria paruh baya ini??
"Saya masih di terima di sini??"
Tuan Odet mengangguk pasti"Maaf Papah nggak bermaksud menipumu, kami memberimu nama Syila ketika menemukanmu. Berharap kamu adalah pengganti putri ku yang tlah tenang di surga sana"
Otak Kaila mencoba meresapi segala penjelasan Tuan Odet. Di sini Tuan Odet juga menceritakan kejadian pertama kali Bryan menemukannya bersimbah darah.
"Maaf Dek, Kakak nggak bermaksud menyembunyikan identitas kamu, saat itu kami benar benar nggak tau siapa kamu"
"Karena itu kalian memberiku nama Syila?"
Bryan dan Tuan Odet mengangguk.
"Terimakasih masih bersedia menerimaku, tapi...ingatanku sedang kacau. Aku belum bisa menata ingatanku dengan baik. Ingatan masa lalu dan sekarang bercampur jadi satu. Aku bingung" Raut wajah Kaila terlihat kacau. Dia nampak gelisah.
"Kamu istirahat aja La"Ucap Lian.
Segala ucapannya membungkam Lian. Juga Bryan dan Tuan Odet. Tak di sangka Syila yang ceroboh dan polos ini dulunya suka menindas tunangannya.
"Aku dulu sangat barbar, nggak jarang aku bersikap kasar kepada Lianku. Tapi meski begitu dia adalah pria yang tangguh, dia selalu tersenyum, dia nggak kaku kaya kamu!!" Ujung mata Kaila terlihat basah. Gadis itu merasakan sakit pada hatinya.
"Aku......"
"Aku ingin istirahat sebentar. Sebentar saja, bukankah tadi Om__akh__Papah bilang ingin berbincang dengan pria ini??"Kaila memotong kata kata Lian dan beralih berbicara pada sang Papah.
"Ya....boleh kami meminjam balkon kamarmu sementara kamu beristirahat??"
"Tentu saja Pah, semua ini milik Papah" Ujar Kaila lirih.
Diam diam Bryan mendekati Kaila"Dek...Kak Bryan nggak berubah kan, begini begini aja kan"Bisiknya.
"Kakak sekarang cerewet, udah bisa ngomel. Aku lelah Kak, aku ingin memejamkan mata" Keluhnya begitu lelah.
"Iya deh, Kak Bryan ke kamar Kakak ya, tapi inget ya Dek, dalam kondisi apa pun kita tetap Kakak Adek!!" Jari kelingkingnya menunggu Kaila balas bertaut padanya.
Tatapan aneh Kaila seolah menyerang langsung ke jantung bryan"Kek bocah, dah akh!!" Sikap gadis itu seketika berubah. Dia menarik selimut dan membenamkam diri di dalamnya. Bryan terperangah, begitu pula dengan Tuan Odet. Mereka saling berpandangan penuh tanya. Kalo Lian sih udah biasa, Kailanya emang begitu.
Bryan beranjak dari tempat tidur dan menarik Lian ke balkon.
"Kamu mencuci otak Syila kan!!" Dia menarik kerah baju Lian dan mendorongnya ke tepian balkon.
"Bryan!!"Sentak Tuan Odet.
Para penghuni panti nampak mencuri dengar di balik pintu kamar Syila. Tak terkecuali Bi Mun yang membawa nampan berisi 2 cangkir kopi.
"Bi...jadi Kak Syila itu tunangannya Kak Lian??"Tanya Bella.
"Bibi nggak ngerti juga Non"
"Jadi selama ini yang tinggal sama kita bukan Adeknya Kak Bryan??"Amel ikut bertanya.
Nazmi bersandar di depan pintu kamar Bryan, dia tak tergiur untuk ikut berkomentar. Yang dia tau Syila yang ternyata Kaila itu gadis yang baik dan polos, selama dia nggak nyebelin bagi Nazmi mah fine fine aja.
"Non, duo bocah pen ikutan nguping tuh"Tukas Bi Mun melihat Athala dan Chelsea berjalan beriringan ke arah mereka.
Riko yang gercep mendorong Athala yang berada di garis depan"Bocah!!!beli es krim yok"
"Ikuuuuttt"Otomatis Chelaea berbalik arah tergiur mendengar es krim di sebut.
"Kenapa Kak Syila??Tuan besar juga ada di sana kan??"Meski dengan langkah terseret rasa ingin tahu Athala masih begitu besar.
"Itu urusan orang gede, mau es krim nggak??"Tawar Riko.
__ADS_1
"Mauuu!!" Ujar dua bocah itu mengekor Riko ke warung terdekat, warungnya tante Onah sahabat sejati sekaligus rekan gibah Bi Mun.
"Kelamaan di mari, Bibi nganterin ni kopi dulu dah ya"
"Bagi info ya Bi"Seloro Amel.
"Asiappp"Sahut Bi Mun bergegas masuk ke area pertempuran.
"Lepaskan Bryan!!, kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil"
"Pah!!, terus aja ngebela dia. Aku apa dia sih anaknya Papah??"
Lian berusaha melepaskan cengkeraman Bryan. Dengan susah payah dia berhasil lepas dan kini merapikan kembali pakaiannya.
"Maaf Nak Lian"Ucap Tuan Odet tulus.
"Nggak papa Tuan"Sahutnya duduk pada kursi yang di tarik Tuan Oder. Bryan menghempaskan tubuh di kursi yang berhadapan dengan Lian.
"Tenang Bryan. Jangan bersikap berlebihan. Bawa bawa segala anaknya siapa. Papah sumpahin jadi malin kundang baru tau rasa kamu"
"Set dah...segala malin kundang"
"Maaf"Ucapnya terpaksa. Meski yang dia tau surga terletak di bawah telapak kaki ibu namun karena sekarang yang dia punya hanya seorang Papah pasti saja segala kutukan yang keluar dari ucapan sang Papah bakal jadi kenyataan.
Akhirnya setelah melawan segala rasa ego, Bryan berhasil meredam amarahnya. Kini dia dan Lian juga Tuan Odet tlah duduk bersama di satu meja.
Rencana ngopi Tuan Odet dan Lian yang awalnya hanya berdua kini bertambah dengan kehadiran Bryan. Dia nggak berniat meninggalkan kamar Kaila jika Lian masih berada di sana, dia yakin segala bujuk rayu pasti akan selalu Lian lancarkan pada sang Adik. Dalam hal apapun dia nggak akan lengah lagi kali ini.
"Jus jeruk Bi"Pintanya ketika Bi Mun datang membawa nampan berisi 2 cangkir kopi.
"Iya Nak Lian"Tanpa banyak bertanya setelah menyajikan kopi di atas meja Bi Mun segera pergi dari balkon kamar Kaila dan kembali dengan segelas jus jeruk. Keadaan tegang di sana membuat Bi Mun nggak betah berlama lama.
"Bi...infonya??"Amel menagih janji.
"Syut!!, nanti Non. Bibi harus nganterin ini dulu"Nampak tegang. Sikap Bi Mun mengundang tanda tanya besar di benak mereka. Wanita itu bersikap misterius setelah keluar dari kamar Kaila. Apa yang tengah terjadi di dalam sana??
Setelah meletakan minuman di meja Bi Mun segera angkat kaki dari hadapan mereka.
Seperginya Bi Mun di mulailah obrolan berat ketiga pria itu. Tuan Odet mengajukan bermacam pertanyaan tentang Kaila, dan Lian bercerita panjang lebar tentang Kailanya.
"Sikapnya barusan....ingatan nya kembali dan sikapnya seketika berubah"
"Kaila memang seperti itu Tuan Odet"Sahut Lian santai.
"Sejak kapan kamu mengenalnya??sepertinya kamu sangat mengenal gadis itu dengan baik"
Seringai tawa terselip di wajah Lian"Sedari remaja Tuan, kami sudah saling mengenal sejak SMP"
"Wow...berarti kamu mengetahui segalanya tentang dia"
"Hm..."Angguk Lian.
Bryan tak angkat bicara, dia menekuk wajah dan hanya menjadi pendengar saja.
"Terus aja pamer depan Papah"Gerutu hatinya. Jemarinya memutar gelas jus sambil sesekali meminumnya.
"Asem banget sih"
"Bi Mun lupa ngasih gula kali"Ujar Tuan Odet menimpali"Atau...asem gegara muka kamu yang masam itu. dari tadi cemberut mulu"
"Yah...gimana ya Pah..."
"Terima kenyataan ini Bryan, beruntung Kaila nggak berniat meninggalkan kita"
"Syila Pah..."Dia mengoreksi nama sang Adik.
"Syila sudah tiada!, mulai sekarang kita akan memangilnya dengan nama Kaila"
"Pah..."Ucap Bryan lirih.
"Nama Syila sudah terukir di batu nisan beberapa tahun yang lalu Bryan, buka mata kamu! terima semua ini dengan lapang dada. Kamu nggak bisa memaksa Kaila untuk tetap menjadi Syila"
"Bryan...maaf jika aku bersikap menyebalkan kepadamu. Semua itu karena aku sangat menginginkan Kaila kembali kepadaku" Akhirnya kata maaf terucap dari mulut Lian. Dia tau sikap songongnya lah yang membuat Bryan begitu kesal kepadanya.
Lian mengulurkan tangan kepada Bryan"Maaf Bro..."
Nggak semudah itu dia mendapat maaf dari seorang Bryan. Perlu beberapa detik hingga akhirnya uluran tangannya mendapat sambutan dari Bryan.
"Aku terima maaf mu, tapi nggak semudah ini hubungan kita akan membaik"
"Hahahhha, sikap kamu mengingatkan Papah dengan Almarhum Mamah kamu"
Bryan memutar bola mata"Papah kangen Mamah??"
"Papah merindukannya setiap hari"
"Nah...Tuan tahu kan gimana rasanya rindu??wajar kan kalo saya begitu ngotot ingin mendapatkan Kaila kembali??"Lian merasa sependapat dengan Tuan Odet. Dan benar saja...ucapan Lian mendapat respon bagus dari pria itu
"Kalo urusan cinta jangan tanyain sama Bryan, dia nggak peka terhadap cinta. Hatinya udah mati"Sindir Tuan Odet.
Wajah masam Bryan memberi signal bahwa dirinya pernah kecewa karena cinta. Atau...mungkinkan dia belum pernah merasakan jatuh cinta??
"Cih...udah deh, Bryan gerah pen mandi. Ngomongin masalah cinta bikin pen muntah. Papah cocok deh ngobrol sama ni orang, sama sama budak cinta" Ucapnya bersikap di luar kebiasaannya. Yah jika itu menyangkut cinta maka Bryan akan seketika bersikap masa bodo. Kenapa??
To be continued...
Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.
__ADS_1
6 Oktober 2020.
Salam anak Borneo.