Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 37


__ADS_3

****Tatap matamu terasa hangat sejak pertama bertemu,


Apakah ini kebetulan belaka??


Senyum nan manis dan juga polos,


Sejenak menyihirku,


Menguras habis pikiran normalku hingga bersikap kikuk di depanmu.


Aku sempat berpaling agar tak terus hanyut dalam tatap sendumu.


Aku coba bertahan menolak rasa ingin merengkuh dirimu dalam pelukku.


Namun aku tersadar...


Semua usahaku sia sia saja.


Hadirmu sangat berbekas dalam hatiku,


Karena aku tercipta hanya untukmu***


🍒🍒🍒🍒


#Flashback on#


Seporsi mie instan dengan toping keju dan sosis telah tersedia di hadapan Bryan. Di pandanginya hidangan alakadarnya itu sembari bergantian memandang kepada Maira.


"Jadi____kamu traktir aku makan mie instan???"


"Jadi___Pak Bos nggak mau???"Maira balas bertanya.


"Ku pikir semangkok mie ayam di depan sana lebih nikmat deh"Jari telunjuk Bryan mengarah pada warung mie ayam yang terletak di depan minimarket Kong Mansur.


"Gini ya Pak Bryan, dari jaman dulu sampai jaman sekarang kemiskinan masih betah ngintilin kehidupan saya, jadi kalo Pak Bryan minta traktir sama saya ya harus sesuai sama dompet saya"Jelas Maira menyeruput My.Jussie yang jelas dia pilih berukuran minimalis. Dalam sekali sedot di jamin itu jus udah habis.


"Mie ayam di sana tuh lumayan mahal, belom lagi kerupuknya, tambahan cekernya, tambahan baksonya. Minuman jeruk perasnya aja bisa beli 3 jus instan yang saya minum ini Pak"Ujarnya memamerkan kotak Mr.Jussie yang sudah habis dia sedot.


Lawan bicaranya itu duduk menyamping menghadap Maira"Bukannya kamu sempat kaya raya??"Sambil menyelam minum air, Bryan yang memiliki kesempatan mencari jawaban atas rasa penasarannya langsung bertanya perihal merananya dompet Maira setelah di tinggal June.


"Hupffhh!!!, Pak Bryan nanyain semua aset yang di kasih June dulu??"Ucap Maira menghela nafas. Tatap matanya menerawang jauh lurus ke depan, tak terpikir olehnya mereka kembali bertemu setelah kepergian June.


"Hm"Sahutnya kembali duduk menghadap jalanan.


"Saya akan cerita, tapi ngomong ngomong mie instannya mau nggak??kalo nggak mau buat saya aja. Mumpung masih panas itu"Liriknya pada Mie full keju yang masih di anggurin Bryan sedari tadi. Demi Bryan dia rela nambahin keju yang sangat berharga ke dalam mie instan tersebut, eh setelah di hidangkan makananya malah di aggurin. Bryan nggak tau nih seberapa berharganya makanan itu buat Maira.


"Yah...mau sih, tapi aku lebih tertarik sama mie ayam itu"Bryan ngotot minta mie ayam.


Maira menarik kembali mie instan di hadapan Bryan, memakan hidangan itu tanpa menghiraukan pandangan terkejut Bryan terhadap sikapnya.


"Inget ya!!Pak Bryan yang nggak mau. Saya udah bilang cuman mampu beliin makanan ini, kalo Pak Bryan ngotot mau mie ayam di seberang sana saya bisa beliin kok tapi pake uang Pak Bryan"Ucap Maira di sela kesibukannya menyantap hidangan makan malamnya. Oh Tuhan!!Keju yang meleleh bercampur Mie pedas itu membuat Maira merasa bahagia.


"Ya elah, di mana mana orang di traktir tuh di bayarin. Bukan bayar sendiri!!"


"Pak Bryan!!!Saya harus ngejelasin pake bahasa apa lagi???kan sudah saya bilang uang saya nggak mampu beliin makanan di depan sana, Ini kan ujung bulan. Hutang saya sama Pak Brama aja belom di bayar. Makan mie ini aja deh, kan sama sama mie"


Bryan melirik mie yang kembali di sodorkan Maira kepadanya"Kamu punya hutang apa sih sama Brama?"Bryan basa basi bertanya. Padahal dia sudah tahu dengan jelas perihal hutangnya pada Brama itu.


"Hutang duit lah Pak, dari tadi kan kita ngomongin duit"Jelasnya menelan saliva, akh mie nya di sabet Bryan dah. Padahal dia masih pengen menikmati mie itu.


"Hmmm~~~, enak juga ternyata"Seru Bryan terkejut dengan rasa yang baru di rasakan indra pengecapnya.


"Hoel,di embat juga"Sungut Maira memanyunkan bibir. Itu jatah makan malam Maira, demi menjinakan Bryan yang bawel dia rela memberikan jatah makan malamnya itu padanya.


"Dih mukanya kaga nggak rela banget, ngomongin masalah hutang nih, hutang kamu udah aku bayarin kok"


Maira membulatkan kedua mata, menatap Bryan yang ternyata doyan dengan mie instannya"Hutang yang mana Pak??"


"Emang kamu punya utang sama orang lain lagi selain Brama??"Selidik Bryan.


"Sama Kong Mansur"Jawabnya polos.


"Siapa Kong Mansur???"


"Nih yang punya minimarket, kalo kehabisan duit saya biasa ngutang di sini"


"Nanti saya yang lunasin"


Kedua mata Maira berbinar senang"Wuaahhh Pak Bryan baek bener"


"Kondisikan tatapan matamu itu!, senang sih boleh tapi inget semua itu nggak gratis"Entah terilhami oleh apa, Bryan ternyata membayar hutang Maira tempo hari kepada Brama dan sekarang dia juga berniat membayar hutang gadis itu di minimarket.


"Hah, sudah saya duga. Oke nanti kalo gajihan saya bakal lunasin semua hutang itu sama Pak Bryan"Lenguhnya membuang pandangan dari Bryan.


"Jelas dong, pipis aja bayar. Sekarang tepatin janji kamu! buruan cerita kenapa kamu jadi miskin melarat kaya gini?"Desaknya yang hampir selesai menyantap makanannya.


"Semua milik June saya balikin sama kedua orang tuanya. Jelas kan?nggak usah nanya lagi"Jawabnya singkat.


"Itu masalah warisan June, nah sekarang nih kok bisa sekedar beliin semangkok mie ayam aja kamu nggak sanggup??kalo jaman SMA sih aku makhlum soalnya kamu tinggal sama tante kamu, sekarang kamu udah kerja juga. Lagian seingat ku kedua orang tua kamu cukup berada kan"

__ADS_1


Maira menatap Bryan lekat lekat, ternyata di balik sikap acuhnya itu dia masih mengingat dirinya.


"Jangan jangan kamu di buang orang tua kamu ya??"


"Enak aja!!, saya anak kesayangan mereka tau!!"Maira tak terima kedua orang tuanya di nilai buruk oleh Bryan.


"Oh...jadi kamu yang minggat dari rumah??Apa kamu di paksa kawin sama anak tetangga??"


Hah!!Demi neptunus, Bryan tau masalah Maira kabur dari rumah karena di paksa nikah sama anak tetangga??


Kening Maira mengkerut pertandan bingung"Pak Bryan dukun??cenanyang??paranormal??orang pintar??tabib??dukun beranak??"Semua profesi itu Maira pertanyakan kepada Bryan dalam sekali tarikan nafas.


Tingkah Maira membuat Bryan terpingkal pingkal, untung saja dia sudah selesai makan. Dia bisa keselek mie instan kan gegara pikiran unik yang Maira miliki.


"Dih malah ngakak, aneh"Maira sinis.


"Eh siapa suruh ngobrol sama Ibu kamu pake di speaker, suara kalian melepas rindu tuh bergema sampe kedengaran ke seluruh penjuru kantor"Ledek Bryan.


Wajah Maira memerah, bahkan rona merah di wajahnya menjalar hingga ke kedua daun telinganya. Gadis itu menundukan wajah menahan malu.


"Secakep apa sih si Udin??sampe di idam idamkan banget sama Ibu kamu"


"Entahlah"


"Eiiiiii, jangan bilang kamu nggak kenal dia"


"Udah deh Pak Bryan, katanya mau bayarin hutang saya sama Kong Mansur"Tukas Maira berdiri.


"Kean, berapa semua bon ku"Tanyanya sembari mendekati Keano di meja kasir.


"Wuidih...ketiban duren Ra??bagi dong?"Bukannya membuka buku bon keano malah mengulurkan kedua tangannya meminta jatah pada Maira.


"Duren dari mana, yang ada aku gali lobang tutup lobang"


"Oh masih inget kamu saya cuman nalangin doang"Bryan maju menghadap Keano.


"Buruan di itung hutang cewek minggat ini"


Maira manyun"Tuh liat kan, demi kesejahteraan kamu aku rela masuk ke lubang buaya. Kasihan kamu kan kalo hutangku lama di bayarnya"


"Uluh uluh, Maira baek bener sih"Keano penuh semangat menarikan jari jarinya di atas kalkulator menghitung semua hutang Maira.


Sementara Bryan dan Keano terlibat hitung hitungan hutang, Maira keluar duluan dan menunggu Bryan di kursi luar minimarket.


Di pandanginya langit malam penuh bintang,sejenak dia merasakan lega sebab beban hutangnya tlah terbayar. Yah meskipun nyatanya Bryan yang bayarin.


"Kroookkkk!!"


"Ckckckkckc kasihan banget sih, makanya jangan sombong mau traktir orang. Nyatanya kamu sendiri kelaparan"


"Bukannya Pak Bryan yang maksa minta di traktir??"Liriknya kesal.


"Saya nggak maksa, kamu bisa kok menolak buat ntraktir saya"Sahutnya sok polos.


"Akh suka suka Pak Bryan deh, saya capek mau pulang terus istirahat. Makasih udah berbaik hati nalangin hutang hutang saya"


"Nanti potong gajih saya aja"Lanjutnya bersiap berpisah dengan pria tinggi tegap itu.


"Siapa bilang aku minta ganti pake duit??"


Ucapan Bryan membuat Maira menghentikan langkahnya"Apa maksud Pak Bryan??"


Pria itu mengedarkan pandangannya. Dia berusaha menghindari kejaran pandangan Maira yang kini kembali berada di hadapannya.


"Kamu lapar kan??aku traktir mie ayam di depan yak. Di bungkus aja deh biar kamu cepat pulang dan istirahat"Tanpa menunggu jawab Maira tangan itu tlah menarik lengan Maira mengajaknya menyeberangi jalan.


"Pak Bryan"


"Udah deh diem. Mau makan nggak??"


Maira mengangguk.


"Makanya jangan bawel. Ntar aku anterin ke kontrakan"


"Saya bisa kok jalan kaki, Pak Bryan udah terlalu baik sama saya"Ucap gadis itu memainkan jemarinya.


"Nggak usah ge_er, saya nggak mau aja kamu telat nyampe rumahnya. Jangan bikin keterlambatan kamu pulang ke rumah jadi alasan kamu besok telat ngantor ya"


Maira akhirnya pasrah dengan keputusan Bryan. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk kembali berdebat dengannya. Di otaknya bayangan kasur empuk terus menari nari memanggilnya agar cepat pulang.


#Flashback off#


🍒🍒🍒🍒


Lian berdecak kagum mengetahui sepak terjang Fatur menyelesaikan masalah di cabang Jepang. Nampaknya Fatur bisa hadir saat acara pernikahannya yang tinggal menghitung hari.


Setelah memeriksa kesuksesan Fatur, Lian beralih pada foto yang Kaila kirimkan kepadanya tadi sore. Senyumnya terus mengembang memandangi wanita pujaannya itu berbalut gaun pengantin berwarna putih tulang nan sangat cantik.


"Kamu tercipta dari apa sih sayang kok cantik banget"Gumamnya sembari memindahkan foto tersebut ke laptopnya. Koleksi foto foto dirinya dan Kaila bertambah lagi, saking banyaknya tu foto mungkin perlu waktu berjam jam jika memandanginya satu persatu.

__ADS_1


Berawal dari foto pertama mereka di taman hiburan ketika liburan di masa SMP sampai foto foto liburan mereka di Bangkok dulu. Senyum gadis itu begitu menggigit hati Lian, dia berharap tak ada lagi ujian dalam kebersamaan mereka.


📩:"Bro aku udah di kota C, besok makan siang bareng di Cafe ceria ya"Joe mengirim pesan Via Wa.


Sudut bibir Lian terukir naik, sudah lama dia tak berjumpa dengan sahabatnya itu.


📨:"Oke, aku kabarin yang lain yak"Balasnya.


Setelah berbalas pesan Lian berpindah ke balkon yang menyajikan hamparan langit penuh bintang.


Getaran ponsel membuatnya urung bersandar di kursi santainya.


📱:"Sayang, aku baru aja kepikiran kamu"


📲:"Oh jadi dari sekian jam selepas pertemuan kita tadi siang kamu baru kepikiran aku beberapa detik yang lalu??"


Kaila menyerang Lian, dia paling doyan membuat Lian mati kutu seperti ini. Rasanya kaya minum mineral, ada manis manisnya gitu.


Dan seperti dugaan Kaila, Lian kelabakan.


📱:"Anu___nggak gitu sayang. Kamu mah nggak pernah hilang dari pikiran aku" Tengkuk tak gatalnya mendadak menjadi gatal. Dia juga garuk garuk kepala karena salah ngomong sama calon bini.


📲:"Oh ya???terus aku harus gimana nih??harus salto jumpalitan gitu??"Goda Kaila di ujung telepon.


📱:"Ih kamu kenapa sih???jangan jahil lho sama calon suami ntar___"


📲:"Oh mentang mentang mau jadi suami terus mau nyumpahin calon istri??"


Lian serba salah lagi. Ugh dia benar benar menunggu masa malam pertama mereka, biar bisa bikin wanita idamannya ini kewalahan menghadapi kejantanannya.


📱:"Kaila sayang, aku nggak nyumpahin kamu kok. Kamu sih maen sambar kata kata aku aja, maksud aku jangan jahil sama calon suami ntar aku kurung dalam kamar selama seminggu, kamu mau??"


📲:"Mau ngapain di kurung dalam kamar selama seminggu?"Kaila mode oon aktif kembali.


📱:"Yah...kamu pikir deh, pengantin baru kerjaannya ngapain lama lama di dalam kamar berduaan??"Seringai tawa menghiasi wajah Lian. Lesung pipinya tercetak jelas di sela sela tawanya.


Otak Kaila di paksa mikir, dan seketika otak sok polos itu mendadak traveling.


📲:"Astaga Lian!!!Dih otak mesum nih"Todongnya dengan gelak tawa.


Lian terkekeh di ujung telepon. Dia udah nggak sabar menanti hari yang sakral itu.


Beberapa waktu kedepan dua insan di mabuk cinta itu terus melemparkan rayuan dan gombalan pada satu sama lain. Tak terasa Kaila tlah menguap beberapa kali, pertanda lelah dan kantuk mulai menguasai dirinya.


Keesokan harinya Tuan Odet meminta Kaila dan Bryan agar kembali ke kediaman mereka. Mengingat acara pernikahan nanti akan di gelar di kediaman Brander, Tuan Odet juga meminta Kaila mulai berdiam diri di rumah saja. Bryan dan Kaila manut akan perintah sang Papah, siang itu Kaila tengah menunggu Bryan sembari bersandar di mobil sang Kakak.


"Lama banget sih Kaaaakkkk!!!"Teriak Kaila. Ini bukan kali pertama Kaila memanggil nama sang Kakak. Namun meski terus di teriaki Bryan tak kunjung datang menyusul Kaila.


Kesal terlalu lama menunggu Kaila berinisiatif menyusul Bryan ke kamarnya.


"Brak!!!"Pintu kamar Bryan di buka dengan kasar.


"Bujubuset!!!, Dek kalem dikit dong!"Seru Bryan meletakan ponsel yang sedari tadi menyita perhatiannya.


"Kaila hampir lumutan nungguin Kak Bryan di bawah, suara Kaila juga sampe seret gegara neriakin Kak Bryan terus"Omel Kaila kesal.


"Sabar Dek!Ini udah mau turun kok"


"Buruan!!, lagian apa sih yang bikin Kak Bryan senyum senyum mandangin tu ponsel"Gerutu Kaila menatap ponsel yang kembali berada dalam genggaman Bryan.


"Kepo!"Bryan menyeret kopernya. Membawa Kaila segera turun.


Di dalam mobil Kaila masih menatap curiga pada Bryan.


"Angela??"


"Apa sih Dek?"


"Yang bikin Kakak senyum kek orang gila"


"Dih mulutnya! heran deh kok Lian mau sih nikah sama kamu"


"Minta di sleding Kak??"Tawar Kaila.


"Gak!makanya jangan mancing"Jawabnya tetap fokus mengendarai mobil.


"Kaila di dalam mobil, bukan mancing di pinggir danau"Sahut Kaila lagi.


Bryan tersenyum sinis"Nah kan, otaknya rada miring nih. Orang ngomongin apa dianya nyambung kemana, kita mampir ke bengkel dulu yuk"


"Ngapain??benerin otak Kakak biar nggak senyum senyum sendiri lagi?"Ledeknya menatap tersenyum pada Bryan.


Ingin rasanya Bryan menarik kedua pipi Kaila, mengacak acak rambutnya, kalo perlu ngapusin make up nya kaya tempo hari. Tapi jika teringat bagaimana balasan Kaila, Bryan bergidik ngeri.


To be continued.


Jangan lupa like vote rate dan komen.


27 November 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2