
***Ketika cinta sederhanaku berkembang dengan cantiknya,
Ketika rindu ingin bertemu mengajakku bercanda dengan sedikit mengigit hatiku,
Ketika rasa ingin memiliki ini menyihir titik sadarku hingga berakhir di depanmu...
Inilah rasa merah jambu yang di miliki sang dewi cinta,
Dan kini rasa itu semakin merentangkan tangan dan mengajak ku masuk dalam peluknya.
Aku....
Hanya perlu waktu 3 detik untuk mencintaimu.
Aku...
Hanya perlu 1 jam untuk menjelaskan rasa cintaku kepadamu.
Namun aku...
Akan perlu waktu seumur hidup untuk membuktikan cintaku kepada dirimu****
🌻🌻🌻🌻
Langit cerah menyambut langkah seorang Bryan keluar dari ruang pertemuan. Sedikit melonggarkan dasi yang dia kenakan pria muda itu masuk ke dalam mobil setelah Kai sang asisten membukakan pintu dan berbalas senyum kepadanya.
"Kita langsung balik ke kantor Pak??"
"Nggak, mampir ke Cafe. Kita makan siang bersama"Sahutnya mengulum senyuman. Terlihat jelas senyum itu begitu bermakna, lewat kaca yang menggantung di depannya Kai dapat menilai selain bahagia setelah mengalahkan Abraham bersaudara pasti ada hal lain yang membuat atasannya ini terlampau gembira.
"Cafe yang mana Pak??"Tanya nya sopan dan santun.
"Cafe milik teman pacar kamu lah"Lagi...Bryan masih menampilkan jejeran gigi putihnya kepada Kai.
Sudah tak tahan melihat tingkah sang atasan Kai pun akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan.
"Maaf Pak sebelumnya, apa Pak Bryan hari ini dalam mood yang bagus?? saya perhatikan dari tadi pagi senyum anda begitu ceria, dan cara anda menghadapi si kembar bersaudara juga sangat keren Pak"
"Hm...."Bryan menaruh jari telunjuknya di dagu dengan jemari lain yang mengepal.
"Kamu kaya nggak pernah ngerasain manisnya cinta aja Kai"
Kai langsung mengerti setelah mendengar perkataan Bryan.
"Wuidihhhhh, jadi sudah lolos dari ujian cinta ni Pak??"Dia menengok ke belakang, menatap langsung pada Bos nya.
"Hahahahah, sudahlah. Buruan ke Cafe, habis ini aku masih ada tujuan yang lain"
"Cie~~~, gimana rasanya meminum ramuan manis yang di berikan dewi amor Pak??"Goda Kai sembari menyalakan mobil.
"Mabuk dong"Jawab Bryan tertawa sembari menatap ke luar jendela mobil.
"Tapi Kai, sepanjang pertemuan tadi mereka berdua nampak tertarik padamu"
Kai menyahut dengan santai"Mereka bukan hanya kalah dari anda Pak Bryan, jaman kuliah mereka juga pernah kalah dari saya"
"Hah!!, hei apa yang kau menangkan dari mereka??"Bryan begitu tertarik setelah mengetahui sedikit fakta tentang si kembar dan Kai. Ternyata mereka pernah bertemu di masa lalu.
"Hehehe, ini menyangkut cinta Pak"
Wuah, bisa bener asisten Bryan ini. Si kembar yang masuk dalam kategori pria tampan itu kalah bersaing dengannya. Hm....
"Astaga!, setahu aku kamu pacaran sama Nari udah dari jaman kuliah. Jangan bilang ini ada sangkutannya dengan nona muda Charllote itu??"
Pertanyaan Bryan hanya di jawab dengan senyuman oleh Kai.
"Wuiiiiiii, boleh juga kamu Kai. Jadi beneran karena Nari??"
"Yah...apalah daya saya Pak. Nona muda itu lebih memilih saya ketimbang salah satu dari si kembar itu. Saya hanya pasrah pada keadaan sih Pak"Sahutnya bernada sombong.
"hahaha, jadi sekarang dobel win dong kita. Gak kebayang gimana keselnya Aron sama Alex itu"
Kai hanya tertawa menanggapi ucapan Bryan.
"Jadi Pak, si Maira udah dalam genggaman nih??" Dia balik bertanya perihal percintaan sang atasan ketimbang membahas lebih lanjut percintaannya dengan anak gadis pemimpin perusahaan Charllote.
Tawa begitu betah bersarang di wajah mereka hari ini. Bryan kembali memamerkan senyum lebar nya"Bukan cuman Maira, pawangnya juga sudah dalam genggaman aku Kai"
Kai tertawa"Waw! selamat atas kesuksesan anda Pak" Ujarnya pada Bryan dan di sambut gelak tawa mereka yang terdengar begitu bahagia.
Ya! Kai ikut bahagia atas kemajuan tahap cinta yang di raih sang atasan. Tak ayal sebagai pria yang juga memiliki kekasih, Kai tahu betul bagaimana rasa manis dan asam nya dunia percintaan. Begitulah cinta, dia datang tanpa mengenal rupa, waktu dan juga kasta. Asalkan dengan orang yang di cinta, dunia serasa milik berdua bukan 😆😆.
Kontrakan Maira yang biasanya sepi dan lengang hari ini nampak berbeda. Bermula dari Ayah yang menghabiskan aktifitas pagi nya dengan duduk di tepian pagar bangunan sembari menikmati secangkir kopi bikinan anak gadisnya, berlanjut dengan kepergian Joe dan Maira ke tempat bekerja mereka. Dan kini ketika siang menyapa sang istri sedang sibuk menata lauk pauk untuk dirinya dan suami nikmati bersama.
"Jauh jauh dari desa, makan siangnya masih aja sama Ayah"Keluh Ibu menarik kursi di meja makan dan mendudukan dirinya.
__ADS_1
"Katanya cinta mati sama Ayah, belom juga satu hari di kota Ibu sudah bosan sama Ayah. Mau makan siang sama pria lain??"Wajah Ayah terlihat masam. Punya bini selain galak mulutnya juga kalo ngomong suka ceplas ceplos kaya rumah kontrakan kaga ada pintu nya. Keluar dan masuk sesuka hati nya tanpa mikirin perasaan Ayah sebagai suaminya.
"Yah, jangan mentang mentang udah tua terus sekarang sukanya merajuk terus minta di bujuk rayu. Maksud Ibu bukan mau makan siang sama pria lain, Ibu kangen mau makan siang bareng anak gadis Ibu"Hati Ibu mencelos kesal. Si Ayah suka menilai Ibu seenak jidat nya deh. Galak begini Ibu sayang banget tau sama si Maira.
Merasa salah bicara Ayah melancarkan aksi nya pada wanita yang tlah melahirkan anak anak nya ini.
"Maaf dong Bu, Ayah terlalu sayang sama Ibu. Apa lagi tadi malam ada 3 orang pria cakep di halaman sono, Ayah takut haluan Ibu melenceng sedikit Bu"Mulai dah, kata kata lebay bin alay lolos begitu saja dari mulut Ayah.
Hahaha,rayuan Ayah begitu amat. Bukannya bikin Ibu senang malah bikin Ibu sebel, masa Ayah takut dia putar haluan sama bocah bocah kaya Keano, Bryan dan Burhan.
Mendapati wajah cemberut Ibu si Ayah tak kehabisan akal. Dia mengambil nasi beserta lauknya ke dalam piring, mengambil sendokan pertama dan menyuapkan nya pada Ibu yang sedang cemberut.
"Maaf lagi deh Bu, anak gadis kita kan udah punya pacar. Kita masih punya misi selanjutkan kan, kita harus ngebujuk mereka agar segera menikah"
Amarah Ibu mereda, teringat Bryan yang begitu bersungguh sungguh tadi malam membuat bibirnya terukir naik. Sembari menerima suapan Ayah, Ibu tersenyum senang jika mengingat bagaimana sikap Bryan tadi malam.
#Flashback on#
Di bawah langit malam Bryan mendapat sidang dadakan dari kedua orang tua Maira, setelah keberaniannya mengungkapkan perasaanya terhadap anak gadis mereka kini Bryan di tuntut untuk bertanggung jawab terhadap Maira.
"Dia nggak ngapa ngapa-in Maira kok Yah. Kenapa di mintain tanggung jawab??"
"Kamu diem Ra, ini urusan Ayah sama dia.
"Apaan!ini juga urusan Maira dong Yah. Yang pacaran kan Maira sama dia, bukan Ayah sama dia"Sungutnya sedikit berhati hati ketika mengatakan kata pacaran.
Ayah menolak Maira yang ingin bergabung bersama mereka di kursi santai bernaung langit malam itu"Mending kamu cariin kandang buat ayam ayam itu deh Nak" Ujarnya sedikit mendorong tubuh sang anak gadis agar menjauh.
Wajah gadis itu seketika cemberut. Bibirnya mengerucut, dia bersedekap bak anak kecil yang gagal mendapatkan es krim yang dia inginkan.
"Minggat nggak??kalo nggak Ibu lepasin dah tu ayam"Ancam Ibu. Sebagai orang tua dia tau betul makanan kesukaan Maira, ayam goreng krispi. Wuuuu nyam nyam.
Dan demi keselamatan ayam itu Maira akhirnya beranjak dari posisi merajuknya. Bryan nyaris tertawa, Maira mati kutu di hadapan kedua orang tuanya. Dan dengan patuh dia meninggalkan mereka mencari kandang untung mengurung ayam ayam berisik itu.
"Eh, kamu serius sama anak saya??"Ibu menoel Bryan yang mengiringi kepergian Maira ke bawah dengan pandangannya.
"Serius 1000% Bu"Sahut Bryan dengan dua jari tangan terangkat naik.
"Kamu udah tau kalo dia pernah gagal menikah??"
Pertanyaan Ayah membuat Bryan menelan saliva, dia sangat tau hal itu sebab dirinya berperan besar dalam hubungan Maira dan June saat itu.
Dia mengangguk menatap lurus kedepan. Bukan pada Ayah atau pun Ibu, lebih tepat nya dia membuang pandangan dari kedua orang tua gadis pujaannya itu.
Naluri orang tua sangatlah tajam, dia takut Ayah dan Ibu menangkap signal meragukan jika mereka bertatap mata saat dia menjawab pertanyaan Ayah. Bukan maksud hendak menyembunyikan hal itu dari mereka, dia hanya tak ingin ketenangan yang dia dapat saat ini terusik karena masa lalu.
"Yakin??? dia hanya gadis biasa"
"Saya menyukai dia apa adanya Om"Sahutnya lagi.
Ayah dan Ibu berpandangan. Ada rasa lega di hari mereka berdua, semoga kali ini takdir tak lagi mempermainkan Maira.
Di bawah Maira mengadu kepada Keano. Sahabat terbaik sepanjang masa nya itu nampak cuek padanya.
Kembali bekerja setelah melewati insiden menggemparkan di lantai atas membuat suasana hati Keano sedikit muram. Gimana kaga muram, jeweran jemari lentik Ibu pedesnya nampol bener. Sakitnya berasa sampai ke hati.
"Emak nya Maira tuh, sabar sabar~~~"Malaikat kecil di dalam hatinya terus mensugesti Keano agar tak menyimpan dendam pada Ibu.
Di cuekin tuh kaga enak banget, gadis itu sedikit menaikan nada bicaranya"Bambank, cariin kandang ayam dong" Dia menarik jumper yang di kenakan Keano. Membuat Keano sedikit terhuyung karena ulah gadis itu.
Fuh~~ terdengar hela napas sebelum dia menyahut perkataan sahabatnya"Ini market, bukan pasar burung. Kalo mau nyari kandang ayam ke pasar hewan sono"Sahutnya tanpa menatap Maira.
"Lagian malam malam begini nyariin kandang ayam, kamu aneh nya kebangetan dah Ra"Sambungnya sembari menata stok jajan di rak minimarket.
"Ck, terus gimanan dong?? ayam yang di bawa Ayah sama Ibu mau di simpan di mana??" Lengannya menarik pundak Keano agar berbalik dan bertukar pendapat dengannya.
"Aw~~, kesenggol telinga aku bakal ku jitak jidat mu Ra!"
Maira melirik telinga merah Keano"puffhh!!! hasil karya emak ku Kean???"
"Pake nanya!"Dengusnya kesal.
"Hahahha, maafin Ibu aku yak. Di kasih minyak telon aja tu telinga"
"Kamu kira aku dedek bayi!"
"Hihihi, jangan ngambek dong. Marah sama orang tua dosanya besar banget lho"
"Lebih besar dosa minggat dari rumah kali Ra!"Sindir Keano.
"Buk!!!"
"Akh!!!, emang ya buah tuh jatuh nggak jauh dari pohonnya. Kamu sama emak kamu sama sama barbar nih. Maen tabok ajak"Keano mengaduk memegangi perutnya selepas mendapat tinjuan kecil dari Maira.
"Makanya jangan bawel, aku udah minta maaf mewakili Ibu aku kan. Dah akh, itu kandang ayam gimana??"
__ADS_1
"Ya elah baru datang juga tu ayam udah bikin ribet. Sembelih aja Ra, masukin kulkas. Selesai kan??"Jawabnya asal.
"Kamu bisa nyembelih ayam??"Delikan mata Maira penuh tanya.
Keano menarik napas jengah, ni cewek otak nya masih aja cetek. Jelas jelas si Ayah ada di sini, malah bingung nyariin kang sembelih tu ayam.
"Ayam aku nggak bisa, kalo nyembelih kamu aku bisa"Ucapnya menatap horor pada Maira.
Maira melangkah mundur"Asem!, emang aku sebangsa unggas" Gerutu nya balas menatap horor Keano.
"Lagian, ogeb di pelihara. Ayah ada di sini, ngapain bingung ngurusin tu ayam??? kang sembelih kan sudah ada"
Maira mengangguk baru mengerti maksud perkataan Keano.
Dia menoyor jidat Keano dengan tawa"Otak mu emang juara Kean, kalo gitu bantuin cabutin bulu ayam nya ya??"
"Ish!!, ini kepala Ra"
"Iya tau, ngelus doang" Cengirnya.
"Segitu ngelus gimana naboknya"
"Ck, lama lama aku bom juga ni market. Mau nemenin nyabutin bulu ayam kaga???" Desaknya gemas si Keano kaya mau mengalihkan topik gitu.
"Ehem!"Keano berdehem.
"Sebenarnya ada seseorang yang lebih pantas bantuin kamu nyabutin tu bulu ayam"
"Jangan bilang si Bryan??"Todong Maira.
Keano menggeleng "No!" Jari nya menunjuk sudut lain dari rak minimarket. Menuntun pandangan Maira ke sana hingga gadis itu menemukan sosok yang sedari tadi meringkuk bersembunyi dari nya.
Senyum lebar Burhan membuat rasa kesal Maira kembali memuncak.
Gadis itu menatap Burhan sembari berkacak pinggang.
"Hai"Sapa Burhan kikuk.
"Hai kepalamu!, ikut ke atas sekarang!"Sentak Maira.
"Siap boss!!!"Bak seorang tentara Burhan bergegas mengikuti langkah Maira keluar minimarket menuju kontrakan di atas.
Demi kelanjutan hidup dan pertemanan mereka, malam ini Burhan rela ngelakuin aja saja asal Maira mau memaafkan kesalahannya.
"Flashback off#
🌻🌻🌻🌻
Kembar Abraham nampak kesal setelah gagal memenangkan investor mancanegara. Niat hati yang awalnya ingin berdamai dengan tuan muda Brander itu malah berputar haluan menjadi keinginan untuk kembali berbuat jahat terhadap Bryan.
Aron menghenyakan diri di Cafe pinggiran jalan, menghela napas kasar. Garis wajah tampannya terlihat masam dengan tatapan sayu menatap jendela.
Alex memesan makanan dan minuman pada pelayan, dan setelah kembali dari counter depan ada segurat senyuman menghiasi wajahnya.
"Kita terlanjur di anggap musuh oleh Bryan. Kenapa nggak kita ulangi saja kesenangan bermain dan bercanda dengannya seperti dulu" Seringai tawanya menyimpan makna terpendam. Aron paham betul dengan perkataan Alex.
"Kesenangan???jadi kita akan kembali menjadi Abraham bersaudara sang pembully tuan muda itu?? menarik juga"
"Tapi kita harus memulai dari mana??"Lanjut Alex.
"Hem....kita punya rekan baru di sini. Kita bukan lagi dua bersaudara, tapi tiga bersaudara!"
Alex menyerngitkan kening.
"Manis, pesanan kami kamu yang antar ya"Serunya pada seorang gadis cantik berambut pirang.
"Siap pak Bos!!"Balas sang gadis pirang.
Alex terperanjat menatap sang gadis pirang yang tersenyum lebar padanya.
"Angela!!"
.
.
.
.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
25 Desember 2020.
__ADS_1
Salam anak Borneo.