
***Jika itu bukan sebuah takdir...
Kenapa kau menjauh namun kita semakin dekat??
Kita saling pandang namun ada riak yang tak bisa di sirnakan.
Kurasa...
Sejauh apa kita mencipta jarak,
Benang merah akan tetap menyatukan kita.
Jika itu hanya sebuah kesepakatan,
Kenapa kau membisu dan tak bisa menjelaskan,
Ayolah...
Pendekatan ini bahkan tak pernah kita rencanakan,
Namun lagi lagi...
Benang merah di jari manis kita terus saja bertarikan.
Hati mu yang beku perlahan akan kembali hangat,
Kisah kita yang sempat terhenti mari kita rajut kembali.
Bukankah indahnya cinta lebih baik menghiasi masa muda kita?
Sejak kita tersenyum manis menikmati hari hari kita,
Aku menemukan alasan terbesar kebersamaan kita sedari belia.
Aku pun pernah takut bersama,
Aku pun pernah bimbang dan ragu,
Namun...
Sejak pertemanan kita mempermanis ikatan kita,
Aku yakin inilah alasan sang pencipta mempertemukan kita sedari belia,
Kebahagiaan jenis apa pun,
Dalam dua hati yang bertaut hangat,
Kan menjadi kisah cinta nan manis dan abadi.
Semoga itu kisah tentang kau dan aku***
❣❣❣❣
Seperginya June tinggal lah Maira dengan segala aset berharga yang dia berikan pada gadis itu.
Namun Maira bukanlah gadis tamak yang gila harta, jika sang empu tlah tiada dia merasa tak berhak menikmati kekayaan yang June berikan kepadanya dengan sepenuh hati.
Apartemen mewah beratas namakan dirinya Maira serahkan kepada kedua orang tua June, black kard yang hanya di miliki orang orang tertentu juga Maira serahkan kepada Tiara dan Bowo Mama dan Papa June.
Tak lupa cincin pertunangan yang sempat June sematkan di jarinya juga gadis itu serahkan kepada mereka.
"Kami tak menginginkan semua ini kamu kembalikan Nak Maira"Ujar Tiara kala itu.
Maira sudah mantap dengan keputusannya, bukan tanpa alasan dia mengembalikan semua pemberian June, sejatinya selama ini dia memang menyayangi pria itu namun kedudukan Bryan di hatinya tak kan pernah tergantikan bahkan oleh seorang Arjune yang sangat memanjakan dan sangat mencintainya sekali pun.
"Ini bukan milik Maira Tante"Ujarnya bersikeras mengembalikan segalanya meski kedua orang tua June juga bersikeras menolak pengembaliannya.
Sejak saat itu kedua orang tua Maira memaksa gadis itu kembali ke kampung halamannya. Gagal menuju jenjang pernikahan menimbulkan pikiran negatif dari kedua orangnya terhadap Maira, maka tercetuslah niat untuk menikahkan anak gadis mereka dengan Udin. Anak tetangga yang merupakan juragan sawit ternama di kampung mereka.
"Parah, aku bukan siti nurbaya! lagian apa salahnya sih gagal nikah??"Ketusnya setelah mencerna hasil mengupingnya atas obrolan kedua orang tuanya di ruang tamu dengan sang juragan sawit.
Bermacam pikiran mulai menari nari di pikiran Maira.
Mendekati hari lamaran Maira sudah tak sanggup berdiam diri saja. Tanpa pikir panjang dia mengemasi barang barangnya dan pergi dari kediamannya ketika subuh menjelang.
#Flashback off#
💖💖💖💖
Kabar pernikahan anak perempuan dari keluarga Brander mulai tersebar di zona perusahaan Brander. Brama yang jahil mulai menyalakan api demi memanas manasi dan menyindir Bryan yang masih melajang.
"Kok duluan Adek kamu sih yang nikah???nggak takut di langkahin begitu???ntar jomblo seumur hidup lho"
Bryan yang tengah menikmati makan siangnya tiba tiba tak kuasa menelan makanan yang tlah dia suap ke dalam mulut.
"Hahaha, tegang amat mukanya. Kamu takut bakal jomblo seumur hidup yaaaa~~~"Goda Brama menunjuk tepat di depan hidung Bryan.
Ujung jari Brama di genggam erat Brayn"Enak aja!aku nggak suka pamer"
"Wuih...jadi kamu punya pacar???"
"Menurut kamu??"Tukasnya masih menggengam jari telunjuk Brama.
"Aw~~ ya kaga lah!, ei lepasin jari aku Bry. Kalo patah belum di asuransi kan jariku ini!!"Ujarnya mengaduh berusaha melepaskan jarinya dari genggaman Bryan.
"Wu!!dasar dukun abal abal, aku punya cewek kok. Cuman nggak mau pamer aja, kasihan kamu yang masih jomblo ini"Dia melempar tangan Brama ke udara. Akhirnya lolos lah jari Brama dari genggaman Bryan.
"Jan halu, ntar gila!"
__ADS_1
"Situ yang gila!"Bryan meninggalkan Brama dengan segala rasa penasaran dalam benaknya.
Demi mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya Brama bertekad akan mengulik informasi terakurat dari seorang Bryan. Dia mengekor langkah Bryan hendak keluar kantin, dengan mulut yang terus mengajukan pertanyaan yang sama membuat Bryan pun jengah hingga akhirnya menyerah.
"Siapa cewek kamu Bry????jangan jangan kamu cuman berhalu nih"Todongnya dengan tatapan penuh sangsi kepada Bryan.
Lantas Bryan mengeluarkan ponselnya dan memamerkan Foto dirinya dan Angela di Cafe saat pertama kali mereka bertemu kembali. Angela yang cantik dengan rambut berwarna coklat nya tersenyum bahagia dalam pelukan Bryan.
"Hoel!!"Bryan mendapati Brama ternganga di hadapannya.
"Oi Brama nganga, udah sadar???terima kenyataan kalo kamu satu satunya yang jomblo di dunia ini!"Jentikan jemari Bryan menyadarkan Brama.
Cih, sombong"Desisnya mau tak mau harus menerima kenyataan.
Di saat itu Maira datang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Brama.
"Nah...aku yakin makhluk ciptaan tuhan yang satu ini juga jomblo, jadi bukan aku seorang kan yang sendirian di sini"
Dengan santainya Brama merangkul pundak Maira layaknya seorang sahabat. Jelas hal itu menyulut amarah Bryan. Dia melenguh kesal sembari membuang muka.
Maira nampak risih mendapat rangkulan dari Brama"Anu Pak Brama....perihal hutang saya kemaren"Pelan pelan gadis itu membuat jarak antara dirinya dan Brama.
"Hutang apaan??!"Sentak Bryan terkejut. Hidup Maira benar benar menjadi tanda tanya dalam benaknya.
Maira tak ingin menjelaskan pada Bryan"Maaf Pak Bryan, saya ada perlu sama Pak Brama"
Bryan menarik Maira agar duduk bersama di kursi depan kantin.
"Hidup kamu kenapa sih Ra!!bukannya sepeninggalnya June kamu bergelimang harta???bukannya hidup kamu baik baik aja???bukannya kamu tinggal di apartemen mewah?? begitu banyak misteri tentang kamu yang terus berlarian dalam otak aku, dan sekarang kamu punya hutang sama Brama??? kamu apakan semua kekayaan yang di berikan June dulu???!"
Brama menatap penuh tanda tanya kepada mereka berdua. Menurut pemikiran seorang Brama, Bryan telah berbohong kepadanya selama ini. Jelas jelas Bryan bilang tak mengenal si pegawai magang ini namun kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang tengah Brama saksikan sekarang.
Maira berdiri "Pak Bryan, itu masalah pribadi. Bisakah kita tak membahasnya di sini"
"Nggak!!jelasin sekarang!"Tarikan Bryan membuat Maira kembali pada posisi duduk.
"Maaf Pak, saya di gajih di sini untuk bekerja. Bukan untuk menyingkap cerita masa lalu saya yang di tinggal mati calon suami saya, juga di tinggal sahabat kesayangan saya sebelum akhirnya bertunangan dengan mendiang calon suami saya!!"Maira menatapnya nanar. Ada penekanan pada kata kata'sahabat' yang dia ucapkan.
Bryan bagai tertampar dengan kata kata Maira, tapi dia saat itu benar benar tak punya pilihan lain. Dia terlanjur menyetui perjanjian itu.
Pak Brama, nanti malam saya tunggu di mini market"Ujar gadis itu sembari berlalu meningalkan mereka.
"Bryan sialan!!"Gerutu Maira.
Tinggal lah Brama yang tertegun menunggu penjelasan dari Bryan, sementara Bryan masih menatap Maira yang berjalan cepat meninggalkan mereka dengan tangan mengepal. Sempat terlihat Maira menyeka air mata ketika keluar dari area kantin.
"Maaf Jun, aku membuatnya menangis"Ucapnya lirih.
💖💖💖💖
Di ruangan Lian terjadi sebuah berdebatan sengit antara Fatur dan Vino. 2 pewaris TRYFAM company ini saling tunjuk demi menyelesaikan masalah di cabang Jepang.
"Bayangin Vin, di temenin aku aja Mei masih kewalahan mengurusi si kembar. Gimana kalo aku tinggal ke Jepang??bisa bisa aku balik istriku bakal berubah jadi nenek yang tua renta saking kacaunya mengurusi anak anak kami"
"Kamu titipin Jova sama Bunda kamu lah!"
"Kenapa nggak kamu aja yang nitipin Mei sama Tante Mega??"Balas Vino
Fatur terus mengharap pengertian dari Vino"Mereka emang udah nyambung sih sekarang, tapi mengingat mereka sama sama emosian bisa ancur rumah kalo mereka tinggal satu atap sambil ngemong bayi bayi aku Vin"
"Lah mending si Mei udah nyambung sama Emak kamu, kalo Jova...ampe sekarang masih kikuk kan kalo ketemu Bunda aku. Hayok situasi siapa yang lebih genting??"
Fatur menatap Lian.
"Apa!!!?"Sentak Lian.
"Kenapa nggak kamu aja____"
"Eh di sini aku pemeran utamanya!tinggal menghitung hari aku bakal nikah. Tega kalian meminta aku mengatasi masalah ke Jepang sono? wah rahang kalian udah pada keropos nih"
"Lalu gimana dong???"Keluh Fatur menyilangkan tangan di dada sembari menatap bangunan bangunan tinggi di luar sana.
"Berkorban lah demi aku. Kalian kan sahabat terbaik aku"
"Kami???ih aku mah bukan sahabat terbaik kamu. Vino tuh, kalian sepupu juga kan. Nah harusnya Vino tuh yang maju kedepan buat bantuin kamu"
"Dih...kalian kan sahabat dari masih ingusan. Kamu lupa Tur kalo dari bocah aku sama dia kaga akur. Kita nyambungnya pas baru baru remaja kali. Kamu lah yang harus bantuin dia"Vino membuka kulkas mini di pojok ruangan Lian. Mengambil sebotol air mineral dan menenggak nya dalam 3 tegukan. Lama berdebat membuat kerongkongannya kering kerontang.
"Astaga!!!kalian mau main itung itungan???"Lian pasrah dengan sikap Vino yang seenaknya mencomot cemilannya dari dalam kulkas. Udah kaya ruangan dia seorang nih.
"Ya gimana dong Li, aku nggak bisa ninggalin Jova"Ujarnya cuek menikmati cemilan itu.
"Aku pun nggak bisa ninggalin Mei"Fatur mendekati Kulkas pula. Dia melihat ada buah segar di dalam sono, sikat dulu dah.
"Terus aku nih yang harus ninggalin Kaila??"Lian bangun dari posisi rebahan di sofanya.
"Yah..gimana dong??aku bingung"Sahut Fatur sembari mengunyah apel yang dia sikat dari kulkas Lian.
"Rakus, udah nggak mau bantu. Kalian ngerampok pula"
"Nih minum dulu, ntar aja kita pikirin lagi"Vino melempar minuman colla pada Lian.
3 pewaris TRYFAM masing masing mengisi tenaga untuk mengatasi masalah yang sedang bercanda dengan mereka.
💖💖💖💖
Maira kembali merasakan perih di hatinya. Tangis yang pecah ketika makan siang masih menyisakan perih yang mendalam di lubuk hatinya. Terlebih ketika Bryan memamerkan foto dirinya dan Angela pada Brama"Akh...coba aja aku datangnya lebih lambat sedikit. Setidaknya aku nggak akan sempat melihat foto Bryan dan gadis cantik itu"Batinnya berucap lirih.
Sembari mengemasi meja kerjanya gadis itu bersiap meninggalkan kantor menyusul para pekerja lain yang juga akan kembali ke kediaman masing masing.
__ADS_1
Ucapan Keano tempo hari melekat erat dalam ingatan Maira, dan sejak itu demi menghemat ongkos ojek gadis itu memilih berjalan kaki ketika pulang ke kontrakan.
Melewati pinggiran kota dengan bentangan sungai nan panjang, Maira jadi tertarik untuk singgah sebentar di sana sekedar melepas rasa lelah. Semilir angin sore seakan membelai pucuk kepalanya.
"Minuman sodanya 1 Pak"Pintanya pada pedagang di pinggiran sungai.
Setelah mendapat minuman kaleng tersebut Maira melangkah ke bawah jembatan. Duduk bersandar pada salah satu pilar penyangga jembatan yang menghubungkan dua wilayah di daerah itu.
"Huppffhh!!!, Ya Tuhan, bolehkan aku menangis lagi???aku lelah"
"Tapi~~~Akh!air mata akan membuatku semakin lemah. Semangat Maira!!!meskipun populasi pria lebih sedikit dari pada wanita pasti ada seorang pria yang tlah Tuhan siapkan untuk menemanimu menghabiskan masa tua bersama!"Ucapnya begitu yakin.
Di tenggaknya lagi minuman soda itu untuk yang kesekian kalinya.
"Hash!, jodohku...apa sekarang kamu lagi pacaran sama jodoh orang???"Gadis ini mulai berbicara asal. Begitulah Maira, ketika hatinya sedang gundah segala pikiran aneh yang terlintas di otaknya akan dia ucapkan seenaknya.
"Sinting!"
Kedua alis Maira menyerngit. Suara itu tak asing baginya. Dia berbalik dan benar saja, Bryan duduk di belakangnya juga dengan minuman soda yang sama seperti miliknya.
"Plang~~"Maira melempar kaleng minuman yang tlah dia habiskan itu pada Bryan.
Dalam keterkejutan Bryan menghindari serangan Maira.
"Oi!!aku bos kamu ya!"Sentaknya.
"Bodo amat"Ucap Maira pelan. Dia terlalu lelah untuk balas menghardik Bryan.
"Ra!!"
Gadis itu berbalik lagi"Apa sih Pak Bos"
"Kamu nggak ada niat minta maaf??"
"Enggak Bos"Sahutnya bernada santai.
Gelagat Maira membuat Bryan menurunkan nada bicaranya. Maira sedang tak ingin berdebat dan Bryan tahu betul hal itu.
"Kamu ada masalah Ra??"Kali ini dia maju dan duduk bersama Maira.
Gadis itu melepas pandangan lurus ke depan. Dia menghela nafas demi membuang rasa kesal di dadanya.
"Pak Bryan, sekarang anda jago bersilat lidah ya"
"Maksud kamu apa??"
"Ada hal yang ingin Pak Bryan jelaskan sama saya kan?"Serangnya.
Bryan ngeles lagi"Enggak tuh"
"Oh...ya sudahlah. Dari jaman dulu tabiat Pak Bryan kan memang begitu, jelas jelas ada hal yang terjadi di antara kita di masa lalu. Tapi Pak Bryan malah bersikap seolah kita bukanlah orang yang saling kenal"
Bryan diam. Dia harus apa ketika semua ucapan Maira benar adanya. Dia memang masih berhutang penjelasan tentang sikap mendadak cueknya kepada Maira dahulu. Tapi dia tak tahu harus memulai semuanya dari mana.
Maira juga memilih diam. Dia masih enggan untuk pulang ke kontrakan. Suasana sore ini begitu sayang untuk dia lewatkan. Entah itu karena ada Bryan bersamanya sekarang atau memang murni karena hendak melepas penat sembari menatap sungai di pinggiran kota itu.
Perlahan malam mulai menyapa Maira akhirnya beranjak dari tempat itu. Sudah terlalu lama dia memberikan kesempatan pada Bryan untuk menjelaskan kesalah pahaman di antara mereka, namun waktu yang Maira berikan malah di habiskan Bryan dengan berbalas pesan bersama Brama. Ckckckckck emang nggak peka Bryan ini.
"Mau balik Ra?"
"Apa perduli anda??, bukankah pertama kita bertemu kembali sikap anda begitu acuh kepada saya"
"Aku anterin ya"
"Nggak usah. Udah dekat kok"Tolaknya.
"Ra!!"
Langkah Maira terhenti"Ayolah Pak, berhenti bersikap seperti ini. Saya tau kok Pak Bryan pasti sangat ingin tahu kenapa saya sekarang hidup dalam kemiskinan"
"Makanya cerita"Pinta Bryan.
"Saya pikir, kita bukan berada dalam ikatan seorang sahabat yang bisa leluasa berbagi cerita kan Pak?"
"Maira~~~"
"Udah lah Pak. Mendingan Pak Bryan pulang. Istrinya pasti lagi nungguin di rumah kan, terus pacar Pak Bryan juga pasti sedang menunggu kehadiran Pak Bryan di sampingnya mengingat ini adalah malam minggu"
"Aku bukan cowok kaya gitu Maira"
"Lah terus???seingat saya Pak Bryan udah punya istri kan. Dan hari ini saya melihat Pak Bryan mengakui punya kekasih pada Pak Brama"
"Saya bingung, status Pak Bryan ini apa sih, suami orang yang memiliki kekasih di luar rumah kah??"
Bryan mengusap wajahnya"Astaga, ribet banget. Apa Kaila mengutuk ku karena terus menjahilinya"lenguh batinnya.
"Oke aku akan berterus terang. Aku anterin pulang ya??"
"Nggak usah Pak, saya nggak perduli karena itu bukan urusan saya. Saya permisi"
"Tapi aku perduli sama kamu Maira"
Ingin sekali Maira berbalik dan mendengar pejelasan Bryan. Tapi mengingat Bos ini tlah beristri Maira harus mengubur rasa ingin tahunya dalam dalam.
"Sudah lah Pak. Saya nggak menginginkan penjelasan itu lagi. Selamat malam"
To be continued....
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
__ADS_1
17 November 2020.
Salam anak Boreno.