Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 58


__ADS_3

****Kau dan aku di bawah malam berbintang.


Membuatku terasa baru dan memberiku kehangatan.


Apa arti tatapan dan senyumanmu??


Apakah itu berarti aku kan selamanya tersimpan dalam hatimu??


Hatiku yang terpenuhi hanya dengan dirimu,


Aku bahkan menjadi lebih menyukai dirimu.


Sebuah hadiah untukmu...


Lebih indah dari sebuah mimpi***


_____Han seojun___True beauty


❣❣❣❣


Jantung yang dimiliki Maira berdetak abromal di dalam sana. Dia bagai seorang tawanan yang di hujani dengan tatapan tajam dari para karyawan wanita pengagum Bryan. Entah salah langkah apa yang membawanya ke sudut toilet ini sedangkan dirinya tak sedikit pun ingin buang air kecil apa lagi air besar.


Pagi ini dia kebetulan melewati area toilet, dan kebetulan lagi namanya dan nama Bryan terdengar di antara segerombolan pegawai wanita yang sedang bersolek di sana.


" Pake pelet kali, baru juga datang udah bikin Pak Bryan jatuh hati" Ujar salah seorang dari mereka.


Spontan kedua kaki Maira berhenti melangkah. Mereka bergosip dengan bebas seakan akan orang yang sedang mereka gosip kan tak berada dalam kantor yang sama dengan mereka. Hebat betul para wanita ini!


" Aku penasaran dukun mana yang dia datangi, Pak Bryan terlihat begitu mencintainya" Sambung mereka bergibah ria.


" Hei apa maksudmu menanyakan jasa dukun yang dia datangi??"


" Hehehhe aku juga mau" Cengir salah satu dari mereka lagi.


" Wooooo~~~ ternyata kau juga menginginkan posisi wanita murahan itu yaaaa" Mereka saling goda dan tertawa berbahak bahak.


" Wanita murahan??" Batin Maira mulai panas. Sepatu yang dia kenakan menimbulkan suara berderu yang memekakan telinga ketika dia bergerak maju dan melabrak mereka.


" Apa!!," Tatap para wanita itu ketika mendapati Maira hadir di antara mereka.


Nyali Maira tiba tiba menciut. Harusnya dia pergi saja dari sini, bukannya maju tanpa senjata seperti sekarang.


" A__apa maksud kalian____aku bukan wanita murahan!" Ujarnya berbata bata.


" Lantas???"


" Aku hanya___"


" Hanya apa??!" Salah satu dari mereka mulai kehilangan kendali. Dia mendorong tubuh Maira dan membuatnya terpojok di sudut toilet.


" Heh...jadi orang jangan belagu! wajah cantik ini jangan kau gunakan untuk menjilat Bos besar!!" Cecar mereka.


" Byurrrrr!!!" Sebotol air mineral membasahi pucuk kepala Maira hingga merembes ke baju yang dia kenakan. Dia tak kuasa melawan, dia hanya bisa menerima perlakuan mereka terhadapnya.


" Prok prok prok!!" Suara tepuk tangan mengejutkan para pelaku pembullyan Maira.



📱:" Halo bang Odet, aku gak menyangka di hari pertamaku kembali bekerja malah menyaksikan pembullyan di depan mataku"


📲:" Siapa yang melakukannya??" Suara Tuan Odet terdengar di ujung telepon.


📱:" Aku akan kirim buktinya" Tunder pun mematikan panggilan.


Tunder langsung mengabadikan para pelaku dan Maira sebagai korban dengan ponsel pintarnya. Mengirim langsung bukti kejahatan mereka beserta korban.


" Pak Tunder!!!" Jerit para fans Bryan histeris.


Tunder tak menghiraukan teriakan mereka.


" Pak saya mohon, ini hanya kesalah pahaman" Seorang pelaku memohon ampun pada Tunder.


" Pergi! jangan sampai aku membalas pembullyan yang kalian lakukan terhadap Maira!" Tatap mata Tunder menyimpan amarah. Di hadapan para gadis penggila Bryan dia menarik tubuh kecil Maira keluar dari area toilet.


Terseret seret Maira berusaha mengikuti langkah kaki panjang Tunder, dia yang mini jelas terseok seok mengejar langkahnya.


" Pak Tunder!!!, saya bisa jalan sendiri!" Sentak Maira melepaskan genggaman tangan Tunder.


" Mbak bidadari, aku cuman nolongin kamu kok. Eh dia malah jutek kaya gini" Lenguhnya bersandar di dinding dengan dua tangan masuk ke dalam kantongnya.


" Makasih sudah menolong saya Pak" Maira memberi hormat dengan membungkuk begitu dalam kepada Tunder.


Bryan di ujung lorong menyaksikan prilaku mereka.


" Kenapa lagi sih Om?" Ujarnya setengah berlari menghampiri mereka.


" ck, eh anak piyak. Masih ingusan mau pacaran, tapi pacarnya gak di jagain" cibir Tunder.


" Hah?? kamu kenapa Ra?" Bryan menggoncang goncang tubuh Maira.


" Ash!!" Pekik Maira kesal.


" Sudahlah!! saya masih banyak kerjaan. Saya permisi!" Gadis itu pun pergi dari hadapan dua pria itu.


Bryan menatap Tunder penuh tanya.


" Apa??" Tanya Tunder songong.


" Maira kenapa Om??"


" Tanya mbah google!!" Sahut Tunder ikut pergi dari hadapan Bryan.


Wajah Bryan datar menahan rasa kesal. Semesta benar benar ingin menguji kesabarannya, hidup nya sudah nyaman aman dan damai tanpa kehadiran Om somplaknya ini. Sekarang si biang onar tiba tiba nongol di antara dirinya dan Maira. Ingin rasanya dia menjerit, memohon pada sang maha kuasa agar sang Om durjana ini pergi jauh lagi dari hidupnya. Tapi kehadiran Tunder sedikit banyak juga dapat membantu dirinya, sebab jika ada Tunder maka Om nya inilah yang akan menggantikan posisi sang Papah di perusahaan.

__ADS_1


" Nggaakkk!!!" Pekik Tunder yang baru saja menemui Tuan Odet selepas sedikit berargumen dengan Bryan perihal Maira tadi.


" Heh bujang lapuk! aku sudah sangat tua. Ijinkan aku istirahat dari semua pekerjaan ini" Pinta Tuan Odet pada sang adik.


" Anak piyak mu itu apa gunanya??"


" Dari pada Bryan, kamu lebih utama Tunder!, kamu kan pamannya"


" Boleh jadi aku pamannya tapi lihat, wajahku masih tampan rupawan. Dan aku juga sangat awet muda. Banyak yang bilang aku ini hanya seperti abangnya Bryan, jadi tolong jangan memandang aku begitu tua dan menyerahkan perusahaan ini kepadaku!"


" Tetap saja kau lebih tua dari nya!" Cibir Tuan Odet menatap Tunder dengan senyum mencela.


" Tidak!pokoknya aku nggak mau" Tandas Tunder penuh penekanan.


" Tunder...ku mohon" Tuan Odet bahkan menangkup kan kedua tangan di hadapan Tunder, namun adik tak berakhlak nya ini malah tak tersentuh sedikit pun.


" Odet, jangan memasang tampang memelas seperti ini. Aku bisa sakit perut, wajah memelasmu membuatku ingin muntah"


Odet mengumpat" Sialan!!, jadi sekarang buat apa kau hadir di sini jika menolak mengambil alih perusahaan Brander??"


" Aku sudah bosan dengan wanita wanita di negara tetangga. Aku rindu wangi aroma tubuh wanita di kota kita tercinta ini"


" Plak!!" Tuan Odet melempat map kosong ke wajah Tunder. Dia sangat geram dengan jawaban sang adik yang nampak biasa biasa saja menjawab perkataanya.


" Kurang asem!, aku akan segera mencarikan mu istri. Biar kamu sadar!!"


" Aku nggak gila Odet. Lagian aku belum mau mempunyai istri"


" Tunder!!"


" Yaelah~~...kamu bisa jantungan kalo kita lanjut bersenda gurau. Aku pamit yak, mau ke pantai sama janda kembang" Tunder melambaykan tangan pada Odet yang terperangah menatapnya.


Odet duduk di kursinya sembari memegangi dadanya" Hupffhhh!! dia semakin menjadi buaya darat" Gerutunya menghela napas kesal.


.


.


.


Maira berdiri di bawah Ac kantor berharap dapat mengeringkan kemejanya yang sedikit basah karena ulah para wanita gila tadi.


" Ra, ayok ikut aku keluar sebentar"


" Mau kemana Pak??" Maira coba melepaskan cengkeraman tangan Bryan yang berusaha membawanya keluar dari kantor.


" Beli baju, kamu bisa masuk angin kalo nongkrong di bawah Ac kaya gini"


" Nggak usah Pak. Ntar kita semakin di gosipin". Ujarnya berontak dan kembali berdiri di bawah Ac.


Bryan mengkerutkan alis" Di gosipin??"


" Hm"Sahut Maira mengusap usap kemejanya yang basah.


" Kamu kenapa sampe basah begini??"


Maira menarik napas menatap Bryan" Saya mohon, jangan meminta penjelasan sekarang. Nanti pulang kerja saya akan menunggu Bapak di kontrakan" Ujarnya pelan berharap Bryan mengerti posisinya.


Bryan pun mengalah. Rasa ingin tahu nya harus dia pendam untuk saat ini.


" Baiklah, Kamu baik baik ya" Ujarnya hendak mengusap pucuk kepala Maira namun gadis itu dengan gesit mengelak.


" Banyak orang Pak, please pahami saya" Bisiknya.


Dari situ Bryan mengerti ada yang tak beres antara Maira dan karyawan lain. Terlihat beberapa dari mereka berbisik sembari menatap tajam pada Maira.


.


.


.


.


Malam menjelang di perkampungan kecil. Lian dan kaila nampak berbaur bersama para warga lain yang juga mengunjungi pasar malam di sebuah lapangan besar.


Kaila nampak berseri berseri menikmati suasana alakadar nya di desa kecil itu, sepertinya suasana pedesaan sangat cocok dengan dirinya.


" Seneng amat, padahal pameran di sini kecil banget lho Yank" Tegur Lian menatap wajah Kaila nan begitu ceria.


" Huum Yank, aku seneng banget di sini. Jadi inget masa masa kecil gitu. Aku sering pergi ke tempat seperti ini bareng almarhum bang Adam" Kata katanya terdengar sendu. Teringat mendiang abang kandungnya membuat bias sedih terlihat di raut wajahnya.


" Hei!! di larang mewek" Sebuah rangkulan hangat dari lengan Lian mengusir sedih yang hendak menyapa Kaila.


" Hehehe, nggak lah!! sekedar terkenang saja. Wah!! ada gulali!!!" Pekiknya senang ketika menyadari ada kang gulali di dekat mereka.


" Mau??"


Kaila mengangguk bak anak kecil.


Lian pun membelikan Kaila gulali berbentuk hati untuk istri termanisnya.


" Wehehehe si kang gulali bikin gulalinya gak pake perasaan nih" Celetuk Lian menikmati gulali bersama Kaila sembari duduk di sebuah kursi.


" Apaan ??" Kaila menatap Lian ragu.


" Gulalinya gak manis!!"


" Hah? masa sih?? aku pikir manisnya pas kok Yank, lidah kamu bermasalah kali??"


" Beneran Yank, gulalinya gak manis!! aku harus protes sama kang gulali itu" Lian berlagak gusar berdiri dari duduknya.


Kaila menarik lengan Lian, gila aja!! pendatang di kampung ini pengen ngelabrak kang gulali dan bikin onar. Bisa bisa di arak warga satu kampung dong mereka.

__ADS_1


" Jangan Yank!!" Tahan Kaila.


Lian cemberut" Ya sudah deh. Demi kamu, lagian kalo makan gulalinya sama kamu tetap berasa manis kok. Kan kamu lebih manis dari gulali ini" Ternyata Lian lagi mode lebay bin alay.


Kaila menggeram kesal di godain ala cabe cabean seperti itu.


" Please Yank, jangan alay napa sih??"


" Aku serius Yank, kamu tu manis banget tau!"


Kaila tersipu sekaligus malu. Obrolan unfedah mereka terdengar para pengunjung di dekat mereka.


" Cie...roman penganten baru memang beda yak" Ujar warga menegur mereka.


" Maaf Bu, suami saya emang suka gombal" Kaila menutup wajahnya dengan telapak tangan.


" Akh!! itu mah biasa. Selamat menikmati bulan madu nya ya"


Sudah bukan rahasia lagi bahwa Maira dan Lian adalah pasangan yang sedang berbulan madu di kampung itu. Mereka pasangan cantik dan tampan yang cukup menarik perhatian para warga, apalagi mereka bersahabat dengan Wahab dan Wita yang notaben nya adalah anak dan menantu Kyai Ismail yang cukup terkenal di desa itu. Alhasil kemana pun mereka jalan jalan di kampung itu maka mereka akan menjadi pusat perhatian para warga.


Seperti malam ini, Lian yang tahu bahwa Kaila doyan makanan pedas memesan sate ayam dengan sambel nampol untuk istri tercinta. Kang sate memberikan lebihan beberapa tusuk sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka.


Dan ketika Lian menyuapi Kaila sate ayam tersebut sontak beberapa warga meng uwo uwo kan mereka berdua.


Kaila merasakan panas pada wajahnya, dia malu namun apalah daya. Lian begitu terniat memanjakannya malam ini.


Meninggalkan pasangan pengantin baru itu, Kini Bryan tengah mengungkapkan niat nya mempersunting Maira pada Tuan Odet. Pria tua itu senang, akhirnya Bryan berniat menikah. Namun...masalah penerus perusahaan masih berkecamuk dalam pikirannya.


" Papah sih gak keberatan kamu berniat melamar Maira, tapi apa kamu benar benar gak berniat menjadi penerus perusahaan Brander??"


" Kan Om Tunder sudah ada Pah, kalo dia udah jiun baru deh mau gak mau Bryan yang maju"


" Mulut kamu Bry!!" Sentak sang Papah.


" Maaf, habisnya dia ngeselin Pah. Suka gerecokin Bryan sama Maira"


" Hoel!! ada tukang ngadu" Tunder memang panjang umur. Biasalah, orang nyebelin pasti di kasih umur panjang sama tuhan yang maha kuasa, katanya sih gitu 😏.


" Dari mana kamu?? Kok gak balik ke kantor tadi??" Selidik Tuan Odet.


" Kan sudah di bilangin. Aku kencan sama janda kembang" Jawabnya santai.


Tuan Odet naik pitam.


" Ya sudah!! kamu nikahin saja janda kembang itu. Biar acara pernikahan kamu sama Bryan di jadiin satu aja"


" Siapa yang mau nikah!"


" Tunder!!!"


" Nggak!!" Dengan santainya Tunder melenggang menaiki tangga menuju lantai atas.


Tuan Odet kembali memegangi dadanya.


" Pah, jangan panik dong. Nanti Bryan coba ngomong baik baik sama Om Tunder" Bujuk Bryan.


" Janji??"


Bryan mengangguk yakin. Dengan cara apa pun dia akan coba membujuk Tunder untuk segera menikah, dan...memimpin perusahaan. Sekali dayung 2, 3 pulau terlampaui. Bryan tersenyum puas dengan pikirannya.


" Ya sudah, ayok kita temui orang tua Maira"


Bryan terkesigap" Sekarang Pah??"


" Iya, tapi gak langsung nikah. Kamu harus ke perkampungan daerah pesisir dulu"


" Ngapain??"


" Tryfam punya budidaya mutiara di daerah pesisir, kamu harus ikut meninjau mutiara di sana. Kemudian kamu harus terbang ke Jepang dulu sebelum menikah"


" Hah?? Bryan jadi ke Jepang??"


" Kalo mau nikah sama Maira ya kamu harus ke Jepang. Di suruh ambil alih perusahaan pun kamu gak mau kan" Tuan Odet ternyata menyusun rencana untuk Bryan. Dia tak ingin sang anak diam di tempat sebagai salah satu pemimpin di Brander saja. Jika barus mengepakan sayap ke Jepang kenapa tidak?? toh Bryan di nilai cukup mampu menggantikan posisi Lian di sana kan.


" Gak ada pilihan Lain Pah??"


" Nggak!"


" Nikah dulu baru ke Jepang??" Cicit Bryan penuh harap.


" Nggak, ntar abis nikah kamu kabur dari Papah"


" Buseett, gitu amat pikiran Papah"


" Kamu sama Om kamu kan satu pemikiran, sama sama keras kepala" Tuduh Tuan Odet seenaknya. Padahal Bryan yakin dirinya dan Om durjana itu jelas berbeda jauh.


" Kok di samain sama buaya sih Pah??"


" Dahlah!! ayok ke tempat Maira sekarang. Tapi inget syarat yang Papah ajukan"


Bryan berpikir sejenak...


" Kelamaan___"


" Oke!!" Jawab Bryan buru buru.


" Nah!!, setiap pencapaian harus ada pengorbanan. Mau nikahin Maira maka kamu harus ke Jepang. Adil kan??" Lirik Tuan Odet dengan senyum kemenangan.


" Iya deh, Papah yang menang" Bryan pasrah, demi Maira!!


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.

__ADS_1


9 Januari 2020.


Salam anak Borneo.


__ADS_2