Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 12


__ADS_3

***Aku tak bisa berkata apa apa,


Aku yang terus terpaku menatapmu.


Tak perduli berapa kali aku memanggilmu,


Namun suaramu tak pernah terdengar di telingaku.


Cinta yang tak terbendung,


Seseorang yang membuatku hidup,


Yang lebih berharga dari diriku sendiri,


Maaf aku tak bisa berpindah dan menjauhimu.


Meski terluka aku tak mengapa,


Karena inilah cinta...


Meski saat ku coba melupakan,


Hati kecilku masih terus mencarimu...


Meski aku menangis aku tak mengapa,


Karena aku mencintaimu...


Meski terluka aku akan tetap menunggumu kembali,


Karena kaulah cinta terakhirku.***


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


"Jadilah kekasihku"


Kata itu terus menari nari dalam pikiran Syila. Dari segi penampilan Lian memang menawan, tampangnya juga rupawan, gadis mana yang tak bertekuk lutut ketika dirinya berkata Cinta dan memintanya menjadi kekasihnya. Tapi...bukankah dia sudah punya kekasih, mereka bahkan sudah bertunangan.


Syila berayun pada hammock di balkon kamarnya, pandangannya lurus menatap langit malam namun pikirannya berkenala entah kemana.


"Apa karena wajah pasaran ini lantas dia berniat memacariku???"Ucapnya dengan nada bertanya. Namun hanya ada dirinya di balkon itu, Syila nampaknya bertanya pada diri sendiri yang jelas tak tau apa jawaban dari pertanyaannya itu.


"Aku seperti kucing yang di paksa puasa, sedangkan daging sapi panggang berdesis memancing selera makanku, agrrhhhh!!!" Geramnya pada diri sendir.


"Oke Lian, aku bersedia jadi kekasihmu!!"Ujarnya sembari bangkit dari ayunan. Tapi...


"Akh...murahan banget kali yah, itu calon laki orang Syila!!!" Dia menoyor kepalanya sendiri.


Sementara Syila tengah bingung karena sebaris kata dari Lian, Nazmi yang kebetulan berada di bawah balkon Syila ternyata diam diam melebarkan daun telinganya.


"Kak Syila ada yang naksir??" Ujar batinnya.


"Musti lapor Kak Bryan nih". Nazmi pun ngacir menemui Bryan di halaman depan.


Pria yang sedang menikmati secangkir kopi di halaman depan terusik dengan kedatangan Nazmi yang heboh sendirian.


"Kak, Kak...Kak Syila di taksir orang tuh".


"Uhuk uhuk!!!" di taksir orang?? kata kata itu seakan mencekik kerongkongan Bryan, kopi yang dia tenggak seakan berat untuk dia telan.


"Asem kamu Mi!!, bawa kabar tuh jangan heboh begini, jadi keselek kan Kak Bryan". Ujarnya menelan kopi itu dengan perlahan.


Nazmi nyengir kuda namun ngotot dengan kabar yang dia bawa "Maaf Kak, Nazmi kelewat bahagia aja ada yang naksir Kak Syila, brrti yang perhatian sama Kak Syila bakal bertambah dong"


"Sok care!!". Tukas Bryan beranjak dari duduknya.


"Lho!! mau kemana Kak??"


"Nggak liat baju Kak ketumpahan kopi??, gegara siapa nih??" tanya Bryan memperlihatkan sedikit noda di kemejanya.


Anak baru gede itu bersuer ria dengan kedua jarinya ke arah Bryan "Sorry babang keceh, terlalu bersemangat Nazmi nya Kak". matanya nampak menyipit ketika tertawa, kelak ketika dewasa dia bakal menyihir para cewek dengan senyumnya itu. Author yakin πŸ˜† mungkin lain waktu akan terealisasikan sebuah novel dengan Nazmi sebagai pemeran utamanya πŸ˜‚.


Sembari membawa secangkir kopinya ke dapur, meletakannya di bak cuci piring, Brya mencuci tangannya dan segera naik ke atas untuk menemui Syila, Ternyata di balik sikap santai itu dia kepo banget ingin segera memastikannya.


"Dek!!!, Kakak masuk ya!" Serunya dari depan pintu kamar Syila.


Syila yang terkejut dengan kedatangan Bryan segera membenahi diri, mengatur emosi agar terlihat santai di depan Kakak semata wayangnya itu.


"Ehem"Ucapnya pelan menarik nafas "Silahkan masuk Kak!!" Serunya akhirnya.


Bryan pun memasuki kamar Syila, nuansa biru muda mendominasi hampir pada seluruh jengkal baik dinding atau pun perabot kamar itu, pernak pernik seperti dream catcher dengan bulu bulu berwarna biru, hiasan bantalan berbentuk awan yang sudah pasti berwarna biru muda tergantung dengan imutnya di depan cermin full body Syila, lampu berbentuk menara Namsan yang merupakan ikon dari kota seoul korea yang di letakan di nakas samping tempat tidur gadis itu memancarkan warna biru muda yang selalu memberikan cahaya temaram dan mengantarkan Syila pada tidur lelapnya.


Langkah Kaki Bryan berhenti di balkon kamar gadis itu, Syila terlihat berayun santai sembari melempar senyum kepadanya "Ada apa Kakak terganteng ku".


Bryan tertawa kecil dengan ucapan Syila, ni anak pasti sedang dalam mood oke.


"Nyengir aja kaya kuda" Bryan berseloro sembari duduk lesehan di samping Syila yang masih berayun dalam Hammock"


"Hm.....Kakak pernah merasakan jatuh cinta??"


Beh...alamat benar nih kabar berita yang di bawa Nazmi, tumben tumbennya ni anak ngebahas masalah cinta.


"Pernah" Jawab Bryan singkat.

__ADS_1


Kedua mata Syila membulat "Wuidih!!,kok Syila nggak tau??jatuh cinta sama siapa Kak??" tanyanya penuh rasa penasaran.


"Ya sama cewek lah Deh!!, masa sama cowok!!" Jawab Bryan sedikit bernada tinggi. Lah kok tetiba rada emosi sih dia sekarang, apa dia cemburu?? hello!!Syila Adek nya, inget!! Syila adalah Adeknya, titik!!. Tapi masa sama Adek nggak boleh cemburu??


Bryan mendadak pusing sendiri dengan pikiran nano nano nya.


"Kenapa??kamu lagi jatuh cinta??" Ujarnya balik bertanya.


Wajah gadis itu nampak bersemu


"Nggak usah di jawab,muka kamu udah ngejawab pertanyaan Kakak!" Cetus Bryan.


Syila menangkap roman tak senang di wajah Bryan"Ngh!!, Syila nggak boleh pacaran ya Kak??" bak seekor anak kucing kedua mata Syila berbinar binar seakan meredam ketidak setujuan sang Kakak.


"Boleh kok, kita sekarang udah di jaman penuh kebebasan Dek. Kakak nggak berhak melarang kamu pacaran". Jelasnya sok berkata bijak, nyatanya dia membuang muka ketika mengucapkan kata kata itu.


"Tapi Kak, bukan Syila sih yang duluan jatuh cinta".


"Terus??" Byan berlagak tak tahu menahu. Demi mengusir rasa canggung dia menyambar semangkok popcorn milik Syila yang teronggok di sampingnya.


"Lah!!, tumben doyan popcorn" Celetuk Syila, dia tau betul sang Kakak nggak doyan jagung lah sekarang malah memakan tu popcorn dengan lahapnya.


"Suka suka Kakak lah, eh emang siapa yang jatuh cinta sama kamu??laku juga si pesek ini!!" Jemari bekas popcorn Bryan cubitkan pada hidung Syila yang jelas jelas mancung itu.


Syila hampir bersin gegara bumbu popcorn begitu dekat dengan lubang hidungnya"Jahat ih, sekarang Kak Bryan doyan ngatain Syila ya!!" Dia berucap sembari menepis tangan Bryan.


"Siapa??"Ulang Bryan tak mengindahkan ucapan Syila.


"Yang wangi itu Kak" Wajahnya kembali bersemu. Entah mengapa langit malam terasa begitu penuh warna bagi Syila malam ini, padahal jelas jelas gelap gulita begitu, apa besok akan turun hujan??


Bryan bangkit dan mengembalikan Popcorn pada pangkuan Syila"Idih!!, kaya nggak ada cowok lain aja!!, dah akh Kakak ngantuk.


"Baru jam berapa nih kok udah ngantuk aja!!" Seru Syila mencoba menyusul langkah Bryan namun karena dia berayun dalam Hammock dan....


"Brakkk!!!" Syila tersungkur, semangkok popcorn berserakan di lantai balkon.


"Kyaaaaaaa!!!" Pekiknya. Lagi...lututnya yang baru sembuh dari luka kemarin kini memar kembali.


"Ya Tuhan!!!, kamu kok doyan banget sih jatuh jatuhan".


Bryan memapak Syila dan mendudukannya di lantai.


"Ckckckck kamu memang perlu orang yang selalu jagain kamu 1x24 jam".


"Ngelarang Syila pacaran lah sekalinya doa in Syila nikah??" Gadis yang sudah terbiasa terluka itu melempar senyum manisnya.


"Ugh!!, dasar kamu Dek. Siapa yang doa'in kamu nikah" Bryan mengusap wajah tersenyum itu dengan gemas.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Kembali pada Lian si pria dengan sepasang lesung pipit. Jemarinya memegangi dada sebelah kiri, merasakan detak jantungnya yang selalu berdetak abnormal meski hanya memandangi potret Kaila seperti saat ini.


"Hai...,betah banget sih ngelupain aku" Sepasang mata tajamnya memandang sayu pada potret Kaila di dinding kamarnya, kamar yang dulu menjadi kamar gadis tercintanya.


Terlintas Flashback bagaimana galaknya Kaila mendorong dirinya dari kamar itu lantaran cemburu kepada gadis lain yang mencoba memasuki hati Lian.


"Akh...aku kangen kamu omelin La". Ucapnya lirih.


⚘⚘⚘⚘


"Sayanggggggg >,< "Aku girang bukan kepalang. Lenganku bergelayut manja pada lengan berotot milik pria itu. Akh..lagi lagi wajahnya begitu buram di pandanganku.


"Hehehe..senang banget yah, balik liburan aku langsung bangkrut lho La"Guraunya sembari membawakan koperku.


"Kwkwkkw tenang deh, aku bisa menampung kamu di apartemen ku kok". Aku tertawa begitu gembira, siapa pria ini?? dia mampu memberikan rasa sebahagia ini kepadaku..


Ingin rasanya aku menanyakan siapa dia, namun aku terlalu terkesima dengan bandara suvarnabhumi, eh!! ini bukan di indonesia?ini di mana??


.....


"Hosh hosh!!!" Syila terbangun dari mimpi nya, mimpi itu seolah nyata. Bandara itu...dia meraih ponsel di nakas dan mengetik "Suvarnabhumi" kata yang tergolong sulit dia ucapkan maka dari itu cepat cepat dia mengetik kata itu sebelum menghilang dari ingatannya.


"Bandara Suvarnabhumi juga dikenal sebagai Bandara Internasional Bangkok, adalah bandara internasional yang melayani wilayah Bangkok, Thailand" Mbah google yang serba tahu menampilkan informasi mengenai bandara yang Syila kunjungi di dalam mimpinya


"Buset!!jauh amat aku mainnya, ampe ke Bangkok segala". Syila terpekik di tengah malam. Dia tak habis pikir, sampe ke bangkok?? ngapain dia sampe ke sana??.


"Dua malam ini kok mimpi aneh terus" Gumamnya turun dari tempat tidur dengan membawa teko air minum yang tlah kosong.


"Gegara mimpi aneh nih, jadi haus kan". Langkah kakinya menyusuri koridor dan berujung pada anak tangga paling atas.


"Eit!!!"Dia berbicara sendiri"Pelan pelan Syila, kalo kamu loncat indah di sini tengah malam begini bisa rame seisi panti. Kaki kecilnya menuruti tangga dengan berjinjit,meletakan teko yang kosong itu di atas meja dapur dan membuka kulkas.


"Glek glek glek!!" 3 tegukan dalam sekali tenggak, kerongkongan Syila kini terasa sejuk. Gadis itu meletakan kembali botol air mineral yang tlah berkurang setengah itu ke dalam kulkas.


"Blak!" Pintu kulkas di tutup. Dia berbalik meraih teko kaca di atas meja untuk segera mengisinya dan....


"PRANGGG!!!" teko terlepas dari tangannya di susul teriakan histeris.


"KYAAAAAAAAAA!!!!"


"HANTUUUUUUUUU!!!" Bukan lagi terpekik, Syila berteriak sekuat hati sembari jongkok.


Seisi panti sontak terkejut dan berlarian mencari arah teriakan Syila.

__ADS_1


"Non!! ini Bi Mun" Koki itu mendekati Syila dan mengguncang tubuhnya yang teronggok di depan kulkas.


"Wuaaaaaa!!, ampun pocong!! ampuuun...Allahumma laka shumtu wabika amantu wa β€˜ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin" Mulut Syila komat kamit membacakan ayat yang di yakininya dapat mengusir setan.


Bryan menghidupkan lampu dapur, dan terlihatlah dengan jelas bahwa hantu yang Syila maksud adalah Bibi Mumun yang sedang mengenakan mukena.


"Allahumma laka shumtu wabika amantu wa β€˜ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin" Syila kembali melafalkan doa berbuka puasa itu.


"HAHAHHAHAHH!!" Selain Syila seluruh penghuni panti yang kini berkumpul di dapur tertawa terpingkal pingkal.


"Hah! hah!" Syila ngos ngosan setelah membaca doa itu secara maraton.


"Neng!!, buka matanya!!" Sekali lagi Bi Mun mengguncang tubuh Syila.


"Eh..suara Bi Mun" Batin Syila.


Dia membuka perlahan kedua matanya, terlihatlah dengan jelas wajah wajah yang mentertawakan kebahlulan nya.


"Jadi..doa buka puasa bisa buat ngusir hantu ya??" Tanya Riko terkekeh geli.


"Bisa sih kalo Kak Syila yang bacain" Sahut Amel ikut menggoda Syila.


Bryan mengulum senyum, yah!emang bahlul sih. Dia meraih tangan Syila hingga gadis itu kembali berdiri.


"Hehe...maaf jadi ngebangunin kalian". Wajah cengengesan itu kembali Syila pamerkan. Sudah biasa sih Syila membuat keributan di panti, selain loncat indahnya dia juga jago bertingkah bahlul seperti saat ini.


"Bibi sih, ngapain tengah malem begini nongol di dapur. Gelap gelapan, pake mukena lagi!" Seloro Syila masih memegangi letak jantungnya. Di dengar dari jeritannya sudah jelas bahwa gadis itu sangat ketakutan, di kirain hantu beneran.


"Ya sholat tahajud lah Neng, lagian kamar Bibi kan di sono" Tunjuknya pada sudut dapur.


"Neng juga sih, jalannya pake mengendap ngendap. Bibi kira maling jajan neng, lah nggak taunya Neng Syila"Ujung mata Bibi Mun melirik Athala ketika mengatakan maling makanan.


"To the poin aja dong Bi, nggak usah pake nyindir!!"Athala merasa tersinggung dengan ucapan Bi Mun.


"Nah itu nyadar sendiri" Balas Bi Mun.


"Ugh...makanya kamu gendut, sering ngemil malam sih" Ujar Chelsea mengomentari body gembul Athala.


"Ih..Bibi Mun sih, mulai besok Athala diet deh" Bocah SD itu kembali ke kamarnya setelah nampak merajuk dengan komentar Chelsea.


"Hahahh sudah sudah, kamu tadi mau ngapain La" Bryan coba menghentikan perdebatan mereka.


Syila melangkah mundur"Syila hau___akh!!" ckckckckck Kaki Syila terkena pecahan teko yang terjatuh.


"Ya Allah Neng Syilaaaaaa!!" Bibi Mun terpekik. Lantas Bryan langsung menggendong Syila ke ruang tengah dan mendudukannya disofa. Para penghuni yang masih di sana jadi khawatir akan keadaan Syila. Bryan melirik jam dinding "01:22".


"Kak Syila biar Kak Bryan sama Bi Mun yang urusin, kalian lanjut tidur ya. Besok sekolah". Ucap Bryan.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Pagi menjelang dikediaman Lian, pria itu nampak bersemangat memulai hari ini. Pikirnya, Kaila pasti sudah memiliki jawaban atas pernyataan cintanya kemarin.


"Pagi Lian" Ucapnya pada diri sendiri ketika mematut diri di depan cermin.


"Jika di terima, langsung nikah deh. Tapi kalo di tolak???" Lian memutar otak mencari jawaban atas pertanyaan dirinya sendiri itu.


"Tik!!" dia menjentikan jemari dan kembali tersenyum"Maju terus pantang mundur" Ucapnya penuh rasa percaya diri. Pagi ini Lian yang ceria seperti setahun silam nampak kembali, dia nampak ceria juga pecicilan ketika senyum senyum sendiri di depan cermin.


Menyemprotkan parfume ke udara dan berputar di bawahnya, begitulah cara Lian memakai parfume, tentu setelah menyemprotkan langsung pada tubuhnya ya. Gimana nggak wangi binggo, benar kata Fay si pelayan di kedai Arin. Lian bukan menyemprot parfume, tapi bermandikan parfume.


Setelah yakin dengan penampilannya dia berdehem sejenak di depan pintu sebelum akhirnya benar benar keluar dari pintu itu. Kini aura dingin dan pendiamnya terpancar lekat pada dirinya. Berjalan ke arah basement dan segera memacu mobilnya.


Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat, waktu makan siang tlah tiba. Meskipun memiliki nomor Syila, Lian tak terpikir untuk menghubungi gadis itu terlebih dahulu sebelum menyambangi toko bunga Charllote.


"Syila nggak masuk kerja Pak Lian" Hanya ada Ghina di toko itu, sang mertua entah kemana. Mungkin sedang berkumpul bersama teman sosialitanya kali.


"Apa dia sakit??" Tanya Lian mulai khawatir.


"Katanya sih kakinya terkena pecahan kaca".


Raut wajah Lian seketika panik"Hah, jadi..duh..gimana keadaanya sekarang??"


Ghina merasa tingkah Lian begitu lucu, ketika panik wajahnya terlihat menggemaskan.


"Samperin ke panti aja Pak Lian"


Lian yang bingung mencoba mengumpulkan kesadarannya, dia diam sejenak sembari memegangi kening berkerutnya.


"Hmmmm....boleh aku menelponnya??" Hahahh karena panik dia malah meminta ijin pada Ghina untuk menelpon Kaila.


"Lho,saya hanya sekedar temannya Pak Lian. Silahkan anda telpon dia, saya nggak berhak melarang anda menghubunginya" Lagi...Ghina kembali tertawa dengan kelinglungan Lian.


Merasa geli dengan tingkahnya sendiri Lian pun ikut tertawa"Akh..kok jadi panik begini ya saya"Ujarnya memegangi tengkuk.


Tak berapa lama dia pamit diri dari hadapan Ghina dan sesampainya di dalam mobil dia langsung menghubungi nomor Kaila.


Ghina masih memandangi Lian sebelum pria itu masuk ke dalam mobil. Dia jadi teringat tingkah canggung Joen ketika mendekatinya dahulu. Yang pengen tau cerita percintaan Ghina dan Joen Charllote silahkan baca novel "Muda mudi keluarga Charllote" masih dengan Author Liss, novelnya masih on going ya. JiaahhπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† promosi lagi deh saya πŸ˜….


To be continued...


18 September 2020.


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen 😘😘.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2