
***Jika kau membutuhkan seseorang untuk memegang tanganmu,
Aku dengan senang hati akan menjadi itu dan tetap bersamamu sampai akhir hayatku.
Ketika segalanya di mulai dengan hal buruk,
Aku akan menukar takdir manisku untuk mu dan mengambil takdir pahit itu untuk ku.
Aku akan meluangkan waktu,
Membiarkanmu tahu bahwa ini memang kesungguhan hatiku karena itu adalah kamu.
Alasan aku hidup adalah kamu,
Tak perduli apa celoteh mereka,
Aku akan mengatakannya lagi kali ini,
Itu kamu...
Aku begitu mencintaimu....
Aku kan memberikan segalanya untukmu...
Tak kan ada yang lain dan selamanya hanya kamu.
Satu satunya dan hanya dirimu,
Aku kan berteriak pada dunia dengan sejuta kata cintaku...
You are the apple of my eye***
💝💝💝💝
"Lian nya di mana??" Raut kepanikan menguasai wajah Bryan. Rasa lelah setelah seharian berkutat dengan urusan di kantor, ketika balik ke rumah dia mendapati sebuah mobil mewar berwarna hitam terparkir di depan kediamannya. Dan betapa terkejutnya ketika mengetahui sang tamu adalah Lian, rival terberat yang mengacaukan ketenangannya bersama Syila. Lian ibarat negeri api yang menghancurkan kedamaian di negeri Aang.
"Nemenin Non Syila di kamar Nak Bryan, tadi Non Syila menangis, seperti biasa Nak Bryan...tapi____"
"Tapi apa Bi??" Sentak Bryan tak biasanya. Bi Mun dapat merasakan aura kemarahan dalam nada bicara Bryan. Wajahnya terlihat merah padam, untung saja ini bukan cerita dalam komik, kalo iya kan author bisa bikin asap yang mengepul keluar dari kedua telinga Bryan. Nah lho...gabut kan akoh.
Sang Bibi mencoba menenangkan diri"Non Syila menangis pilu dan menahan Nak Lian agar tak meninggalkannya"Ucapnya setelah menarik nafas dalam dalam. Di elusnya pelan pelan letak jantung tua nya agar tetap kuat kalo tetiba Bryan lepas kendali dan memarahinya.
Untung saja kemarahan Bryan tak separah dugaan Bibi Mun, tanpa omelan dan embel embel ceramah untuk si Bibi, Bryan bergegas naik ke lantai atas dan memasuki kamar Syila.
Ternyata semesta bercanda berlebihan padanya hari ini, Lian tertidur dalam posisi duduk di samping tempat tidur Syila, gadis itu terlihat memegang erat tangan Lian dan juga dalam keadaan tertidur pulas.
Emosinya memuncak, ingin dia mendaratkan bogem mentah ke wajah Lian. Tapi dia yakin Syila pasti nggak akan tinggal diam menyaksikan sang Kakak menghantam pria yang mulai masuk ke dalam hatinya.
"Tuk__" Bryan menendang ujung kaki Lian yang tertekuk.
Tak ada respon.
Lagi...Bryan menendang ujung kakinya sedikit lebih keras "Tuk!!!"
Lian bereaksi, dia terkejut dan membuka mata.
Lian mengerjap "Agh!!, mimpi buruk apa ini??"
"Nyata woi!!, bertamu ke rumah orang kok sampe ke dalam kamar"
Lian ingin mengusap wajah mengumpulkan kesadarannya, namun tangannya tertahan genggaman Syila.
"Nih, aku nggak berdaya meninggalkannya Bro"Ujarnya memamerkan genggaman tangannya dan Syila.
Bryan melenguh kesal"Cih!!,ni bocah ngimpi doang".
"Bocah??, emang usia kamu berapa??"
Bryan membetulkan letak dasi dan mengangkat wajahnya bangga "Aku lebih tua 4 tahun darinya"
Seringai mengejek terlihat jelas di wajah Lian"Tua amat kamu Bro, berarti usia kamu udah hampir 35 ya".
Tatapan Bryan seketika berubah, dia lupa lelaki di hadapannya ini lebih banyak tau tentang Syila di banding dirinya.
"Hahahha santai dong, aku bisa salah tingkah kamu pelototin kaya gitu"celoteh Lian semakin menyebalkan.
Kepala Bryan rasanya mau meledak, otaknya terasa mendidih menahan amarah. Lian benar benar menyulut emosinya.
Di tengah perdebatan dua pria itu Syila terbangun dari tidurnya.
"Eh..udah pulang Kak??" Ujarnya mengerjap pula, kedua matanya terfokus pada Bryan yang tengah berdiri menghadapnya. Dia tak menyadari kehadiran Lian yang masih duduk di samping tempat tidurnya.
"Kamu nangis lagi Dek??"Sikap Bryan berubah 180derajat. Dia yang kasar pada Lian kini berubah lemah lembut ketika berhadapan dengan Syila.
Lian sempat hendak mengumpat dan mengejek sikap Bryan namun perhatiannya tersita pada Syila yang terpaku pada tangan mereka yang saling menggenggam.
"Haaaaaahhhhhhh!!!" pekik Syila terkejut bukan kepalang. Tangannya kanannya yang luang menutup mulutnya dengan bola mata membulat menatap Lian.
__ADS_1
"Li___"Pekiknya spontan bangun dari posisi tidurannya.
"Tau ni orang!!, seenaknya sampe ke sini. Nggak sopan!!" Bryan melancarkan serangan pada Lian.
Dia membantu Lian berdiri dan berusaha mengusirnya. Karena lama tertekuk ketika tidur Lian merasakan kram pada kakinya hingga dia goyah dan hendak terjatuh.
Gadis itu merasa nggak rela sang Kakak bersikap kurang baik pada Lian"Kak!! jangan gitu,Lian bantuin Syila doang".
"Dia nggak ngapa ngapain Syila kok"tambahnya lagi.
"Bruk!!" Lian menyerah menahan tubuhnya yang goyah. Dia kembali terduduk di lantai kamar Syila.
"Dia masih memanggil Bryan Kakak, apa tadi ingatannya hanya sembuh sesaat??" Lian tertunduk dengan batin yang terus menduga duga.
"Ish!, kamu nggak boleh masukin cowok dalam kamar Syila"Sentak Bryan.
"Lah kamu juga cowok kan!!" Lian balas bersikap kasar pada Bryan. Raut wajahnya berubah penuh kekesalan, selain kakinya yang sakit hatinya juga sakit menyaksikan Kailanya terlihat takut kepada Bryan.
"Lian...maafin Kakak aku, dia cuman takut aku kenapa kenapa"Ujarnya menenangkan Lian. Bak kobaran api yang tersiram air hujan, amarah Lian padam dalam sekejap.
"Iya La...aku ngerti kok, aku balik aja ya. Takut dia makin salah paham". Kali ini Bryan sedikit terkejut menyaksikan sikap lemah lembut Lian kepada Syila.
Dengan susah payah Lian bediri, Syila meminta Bryan membantunya tapi Lian menolak halus bantuan Bryan."Aku bisa kok Bro".
Dia mengenakan jas nya kembali dan bersiap meninggalkan kamar itu"Kalo kamu sedih lagi hubungin aku aja ya, cuman aku yang bisa mengusir kesedihan kamu"Ucapnya setengah berbisik di telinga Syila.
"Plak!!, ayolah Bro, katanya mau balik. Inget yah cewek sama cowok nggak boleh bisik bisikan, aku tersinggung nih"Celetuk Bryan bercanda sembari menyinggung Lian.
Senyum pahit Lian lemparkan pada Bryan, dan dengan terpaksa pula mereka bersalaman dan merangkul seolah bersahabat akrab sebab yang Syila tau sekarang mereka adalah sahabat meskipun baru beberapa hari berkenalan.
"Cih...,maen rangkul aja. Kupret!!" Gerutu Lian di koridor, dengan berat hati dia harus melangkah turun dan meninggalkan kediaman Kailanya.
"Busetttt!!, kirain Kak Bryan!!" Seru Amel.
"Temennya Kak Bryan ya??, tanya Bella tertarik mendekati Lian.
"Ah__anu__iya nih"Jawab Lian kikuk memegangi tengkuknya.
Melihat sosok Lian Bibi Mun bergegas menghampirinya"Nak Lian,mau makan dulu??" meski pertama kali bertemu Bibi Mun merasa kehadiran Lian tak terasa asing baginya. Entah karena Lian yang terlihat dekat dengan Syila atau karena hal lain.
"Enggak Bi, udah kesorean. Saya harus segera pulang".
"Wuuuuuu nggak nyangka Kak Bryan punya temen sekeren ini"Seru Amel dan Bella. Mata mereka menatap penuh cinta kepada Lian. Sikap mereka sontak membuat Lian semakin kikuk.
Riko yang juga berada di ruang tamu diam diam memperhatikan Lian"Cakep sih" Ucapnya menatap punggung Lian yang perlahan menghilang di balik pintu.
💝💝💝💝
Gemericik air terdengar bak alunan lagu pengantar tidur bagi Lian, setelah berbesar hati pamit diri dari kediaman Bryan dan Syila kini pria itu berakhir di tempat tidur dalam kesendirian. Membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut, sesekali dia memeriksa layar ponsel berharap ada pesan atau sekedar Misscall dari Kailanya.
"Trtttt!!"
"Fatur Calling"
Lian mencebik kesal, males banget nerima panggilan dari Fatur sang pengkhianat. Gimana Lian nggak kesal, dia dan Mey bertemu Syila sebelum dirinya dan 2 cecunguk itu diem di pojokan, nggak ada niatan sedikit pun buat ngasih kabar pada dirinya yang dengan jelas mereka tahu masih sangat mengharapkan Kailanya kembali.
"Trttttr!!" Fatur sang pejuang sejati nggak akan menyerah dalam sekali dua kali, dia terus menekan nomor Lian dan menghubunginya kembali.
"Sinting ni orang!!" Umpat Lian meninggalkan ponselnya di atas onggokan selimut. Langkah membawanya ke arah balkon, mengulurkan tangan dan merasakan rintik hujan yang membasahi bumi.
"Hupfffhhh!!, semangat Lian, dia udah di depan mata" Gumamnya menyemangati diri sendiri.
Lagi lagi Fatur tak menyerah untuk menelponnya, saking ngototnya Fatur melakukan panggilan ponsel Lian yang terus bergetar kini berada di ujung ranjang dan...
"BRAK!!!TRTTTTTTT!!" Dengan kerasnya tu ponsel loncat indah ke lantai dan terus bergetar.
"Asem si Fatur, mau apa sih tu mantan duda!!"
Dengan berat Lian meraih kembali ponselnya dan menerima panggilan Fatur.
"Nah akhirnya, masih idup kamu Li!!"Suara Fatur terdengar sedikit meninggi di ujung telepon.
Sembari duduk di tepian ranjang Lian mengeluarkan uneg uneg nya kepada Fatur"Eh mantan duda, masih berani nelponin aku?? kamu punya hati nggak sih??pernah pisah sama Mey kan??tau kan gimana sakitnya menunggu sesuatu yang nggak pasti?? sakitkan menahan rindu tak bertuan?? aku sumpahin belekan menahun kalian berdua biar sekalian nggak bisa liat gadis yang namanya Syila itu"
Fatur mematung, niatnya pen mojokin Lian yang nyuekin telponnya eh malah jadi boomerang buat dirinya dan sang istri.
"Diem kan??lidahnya ketelen Tur??ngomong sekarang tadi aja ngegas kaya kang ojek lagi balapan"
Fatur masih belum memiliki kata kata untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Lian, niatnya baik sih merahasiakan pertemuan mereka sama Syila tempo hari. Biar Lian nggak berharap lebih sebab Bryan dapat meyakinkan bahkan Syila adalah Syila, bukan Kaila seperti dugaan mereka.
Setelah beberapa kali menelan saliva, Fatur menarik nafas dan mulai memberikan penjelasan pada Lian.
"Bukannya nggak mau cerita Li, Syila bukan Kaila. Dia anak gadisnya Tuan Oder Brander, awalnya aku sama Mey bersikeras kalo dia tu Kaila. Sampe Bryan Brander datang dan menjelskan segalanya sama kami"Fatur berhenti sejenak.
"Move on aja deh Li, Kaila nggak akan balik. Ini udah 1 tahun lebih".
"Mey menghilang berapa tahun??"Tanya Lian berbada datar.
__ADS_1
Fatur merasakan serangan Lian, dengan terpaksa dia menjawab pertanyaan Lian.
"3 tahun Li, tapi___"
"Tapi apa??
"Akh udah lah Li, oke aku sama Mey salah. Kapan kapan deh kamu ngehukum kami, sekarang aku ada perlu banget nelponin kamu".
"Tut tut tut!!!" Lian menutup panggilan.
"Li...Li..,wah parah ni orang, dasar tembok glasier, beku aja dah berabad abad abadi dalam dinginnya cinta"Gerutu Fatur merutuki Lian sembari berlagak bicara dengan ponselnya.
"Telponin lagi dong"Pinta Mey.
"Gimana mau nelpon kalo dia nggak punya kuping" Fatur kepalang kesal.
"Wa deh"
Fatur kembali menyahut"Buta dia Yang, buta karena cinta"
"Ya elah, berat amat temenan ma kulkas" Dah lah, besok di kantor aja kamu minta tolong dia.
"Aku calling Vino dulu deh, kami harus bersatu kalo mau ngadepin kulkas 2 pintu itu kalo nggak bisa membatu kami gegara di cuekin".
Mey rada rada geli hati dengan ucapan Fatur yang kepalang kesal, Lian masih saja dingin dan super tega. Padahal Fatur cuman mau minta tolong jemputin Miya di tempat Mamahnya besok, Lian kan doyan keluar kantor tuh sedangkan Fatur sama Vino mereka selalu stay di kantor. Mey juga nggak bisa jemputin Miya, kan dia harus jagain si kembar, Wita sang Mamah Miya juga nggak bisa anterin tu anak, sekarang dia lagi hamil besar. Ih intinya tu anak ngotot mau sama Fatur, dah gitu aja deh.
💖💖💖💖
Tak hanya Lian yang sempat terhanyut dalam alunan gerimis,Bryan sang Kakak ketemu gedenya Syila kini termenung di depan jendela, dia hendak duduk di balkon namun rencananya gagal karena rintis hujan.
"Syila, ternyata aku salah mengira usiamu." gumamnya pelan.
Tapi meski salah menerka usia sang Adik Bryan tak gentar dalam mempertahankan Syila, dia nggak akan menyerahkan Syila kembali pada Lian begitu saja.
"Aku akan pertahanin kamu sampai titik darah penghabisan Syila" Jemarinya tergenggam erat. Sekilas seringai tawa Lian terlintas di ingatannya, Akh!! kehadiran Lian benar benar memuakan baginya. Kenapa sih dia datang lagi??
Perlahan malam semakin larut menyisakan Bryan yang masih merutuki kehadiran Lian dalam kehidupan mereka. Ingin rasanya dia membawa lari Syila sejauh jauhnya dari Lian, tapi itu nggak mungkin. Dia nggak akan berindak seperti pengecut, apa pun hasil akhirnya dia akan tetap melindungi Syilanya.
Di kamar depan Syila yang semula tertidur kembali terjaga. Tubuh gadis itu bergerak menarik kursi dan duduk di depan jendela, kedua matanya menatap rintik hujan yang membasahi kaca jendela.
"Hah~~"Dia menghela nafas. Rasa itu muncul lagi, belakangan rasa sedih tanpa sebab lebih sering kambuh dan mengaduk aduk hatinya.
"Oh hati...ada apa denganmu!"Tangan kirinya memegangi letak jantung. Hal itulah yang selalu dia katakan ketika kegundahan menguasai sang hati.
"Kalo tiba tiba sedih telpon aku aja"Kata kata Lian menari nari di otaknya. Sang tangan pun spontan meraih ponsel di nakas dan segera menelpon Lian.
20:05 Di kediaman Lian.
Selepas memutus sepihak panggilan Fathur, Lian menerbangkan benda persegi panjang itu ke sofa layaknya UFO . Kesal dan malas merajai pikiran Lian"Nggak bilang udah ketemu Syila malah sekarang minta di tulungin. Dasar manusia durjana!!" Gerutu Lian kembali menjulurkan tangan merasakan rintis hujan di balkon.
"TRRRRRRRTTT!" Benda itu kembali berdering dan bergetar. Lian mengacak rambutnya kesal.
"Apa lagi sih si mantan duda!!, ngotot banget minta tolongnya" Gerutunya begitu malas meraih sang ponsel. Namun kedua matanya membulat ketika tau siapa yang menelponnya.
"Ya Ka___Syila??" Nyaris saja dia memanggil gadis itu Kaila. Hah...Lian Lian 😅
Suara lembut terdengar di ujung telpon"Udah tidur ya??maaf ganggu"
"Belom kok La, hm...kamu kenapa belom tidur??istirahat deh, biar cepat pulih".
Ada rasa ngilu di hati Syila, Lian begitu perhatian dan itu seakan menyayat hatinya.
"Li...cerita tentang Kaila kamu dong"Dari sekian banyak hal yang bisa Syila pinta dari Lian entah kenapa malah perihal Kaila yang terucap begitu lancar dari mulutnya.
"Hemmmm,,tiba tiba nelpon kok nanyain Kaila"Sahut Lian berjalan ke kamar dan rebahan di tempat tidur.
"Entahlah...pengen denger tentang dia aja"Sahut Syila apa ada nya.
"Tapi La, dari pada penasaran dengan Kaila, kamu nggak ada yang pengen di sampaikan ke aku nih?" Lian sengaja menyindir Kaila tentang pernyataan cintanya.
Dan benar saja, sindiran itu ngefek banget ke Syila. Gadis itu tetiba tergagap.
"Ngh..anu, apa ya Li"Ujarnya meracau.
"Hehehhe jangan bingung gitu lah La, kalo belum punya jawabannya nanti aja. Aku nggak memaksa kamu buat jawab secepatnya kok.
Sebuah senyuman tersunggih di wajah sendu Syila, berbicara sebentar saja dengan Lian senyumnya tlah merekah. Tanpa dia sadari perasaan nyaman muncul dengan sendirinya ketika berbincang dan bercanda dengan Lian meski hanya lewat telepon.
Tak terasa hampir 30 menit mereka bercanda perihal tunda menunda jawaban pernyataan cinta Lian. Hingga Syila kembali teringat dengan rasa penasarannya tentang Kaila.
"Li...cerita tentang Kailanya kapan??"
Lian menggigit bibir sebelum bercerita pada Syila. pelan pelan dia bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan kaila ketika mereka masih duduk di bangku SMP.
To be contiued...
24 September 2020.
__ADS_1
Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.
Salam anak Borneo.