
"Apa yang kamu lakukan pada suamiku sampai aku harus cemburu?" tanya Erika.
Clara tercengang, dia merasa sedikit terintimidasi. Mulut Erika tersenyum tapi matanya menatap tajam. Ditambab dengan kata - katanya menusuk tepat sasaran. Dalam bayangan Clara, Erika nampak seperti seorang psikopat yang siap membunuhnya sambil tersenyum bahagia.
"Pantas saja kak Hans takut padanya. Wanita ini ternyata mengerikan." Clara diam - diam bergidik.
Tak jauh dari situ Hans bisa merasakan suasana tak bersahabat diantara Clara dan Erika. Buru - buru dia mengajak kedua anaknya menghampiri kedua wanita yang diam - diam sedang berseteru.
Hans percaya Erika tak akan membuat keributan apalagi mempermalukannya di depan umum. Tapi Clara? Hhhh.... tak seorang pun bisa menduga bagaimana kelakuan wanita labil itu nanti. Dia tak pernah peduli pandangan orang lain, asalkan dirinya senang.
Motto Clara adalah "You can't please everyone"
*****
"Clara, apa yang kamu katakan pada istriku?" pertanyaan Hans terlontar begitu saja demi melihat Erika sedang menatap lekat pada Clara dengan senyuman yang mematikan.
Hans tahu betul kalau istrinya adalah wanita yang dengan attitude yang baik. Dia tak akan memulai, apabila tak diusik.
"iiish... kak Hans, kenapa nanyanya seperti itu?"
Erika mengalihkan pandangannya ke Abbey dan Manda. Dia tak tahan melihat gerak gerik Clara kegenitan saat berbicara dengan Hans.
"Moms, kamu sudah selesai? Yuk pulang." ajak Hans dengan lembut mencoba meredam bara yang sudah terlanjur menyala di hati istrinya.
Akhir - akhir ini, Hans merasakan Erika sudah mulai tak menyukai Clara. Dan ditambah session foto si*lan tadi. Pastilah Erika semakin tak menyukainya.
Erika menanggapinya hanya dengan anggukan dan segera berlalu bersama anak - anaknya karena Erika tak ingin mereka mendengar percakapan tak bermutu selanjutnya.
"Tapi kak Hans, aku tadi sudah minta maaf ke kak Rika. Malahan aku sudah klarifikasi kalau kita hanya berteman baik, jadi kak Rika tak perlu cemburu lagi pada kita."
Kepala Hans rasanya berdenyut mendengar kata demi kata dari Clara. Apa - apaan Clara ini, ingin rasanya Hans mendengus keras - keras.
Hans langsung mengerti, bahkan lebih dari mengerti bagaimana kesalnya Erika pada bocah konyol itu.
"Tapi kak Hans, besok kita mau makan bersama khusus sales dan marketing. Aku yang traktir karena aku dapat hadiah today."
__ADS_1
Hans mengangkat alisnya, semakin tak mengerti jalan pikiran Clara. Tapi Hans lebih tak mengerti lagi dengan dirinya sendiri yang tak bisa mengatasi kelakuan Clara yang seenaknya.
Hans speechless dan tak bisa berpikir jernih.
"Kita bicara besok." akhirnya Hans hanya bisa mengucapkan tiga kata itu.
Biarlah Clara diurus besok, yang terpenting malam ini dia harus memenangkan hati Erika supaya tak menjadi masalah yang berkepanjangan.
****
Malam yang sudah larut membuat suasana hening di mobil kian terasa. Anak - anak langsung tertidur begitu sampai di mobil, sedangkan Erika diam dan memandang keluar jendela dengan wajah tanpa emosi apapun.
Hans pun tak berniat membicarakan masalah Clara di depan anak - anak, meskipun saat ini mereka sedang tidur.
Hans dilema. Disatu sisi dia ingin menyenangkan hati istrinya. Tapi disisi lain, Hans juga tidak rela jika harus melepas karyawan cerdas dan cekatan seperti Clara.
Haruskah Hans memecat Clara? Dan apakah tindakannya tidak berlebihan? Andaikata Hans melakukannya, tentu dia akan kerepotan mencari pengganti sehebat Clara. Belum lagi target perusahaan yang harus dicapainya dalam tahun ini, membuat Hans membutuhkan Clara.
Lagipula, yang dikatakan Clara pada Erika adalah benar. Mereka tak ada hubungan apapun selain hubungan kerja. Memang Clara seringkali mengajaknya hang out, tapi selama ini pula dia selalu menolak. Dan tak ada masalah dengan Clara setiap kali dia menolaknya.
Semua akan baik - baik saja, asalkan dirinya tak ikut hanyut dalam permainan Clara.
Akhirnya mobil sampai dirumah, Erika langsung masuk kedalam rumah dan membersihkan diri. Dibiarkannya Hans mengurus anak - anak, dibantu oleh ART. Erika butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Dia tak mau terprovokasi oleh Clara, dan ujung - ujungnya justru bertengkar dengan Hans.
Tidak. Erika tidak mau memberi Clara sebuah kemenangan, dengan pertengkaran mereka.
Selesai mandi, Hans sudah menunggunya dipinggiran tempat tidur. Didekatinya Erika yang langsung duduk didepan cermin meja rias, lalu direngkuhnya istrinya kedalam pelukannya.
Semula Hans pikir Erika akan menolaknya. Tak disangka Erika membalas pelukannya. Seketika Hans merasa lega, hatinya menghangat dan rasa sayangnya pada Erika membuncah.
"Mommy, maafkan aku. Kamu tau kan posisiku sungguh tak enak?" mata Hans tampak sendu.
Tangannya meraih dagu Erika supaya menatap dan melihat kesungguhan hatinya.
Hati Erika tersentuh mendengar permintaan maaf Hans. Nampaknya Hans sungguh - sungguh menyesali situasi ini. Biar bagaimanapun, semua bukan mutlak kesalahan Hans seorang.
__ADS_1
"Beri aku waktu untuk mencari pengganti Clara, setelah itu aku akan memindahkan Clara ke bagian lain. Terlalu semena - mena kalau aku memecatnya tanpa alasan, mengingat kinerjanya selama ini" kata Hans lagi.
Erika mengangguk, matanya terus menatap Hans dan kali ini sambil tersenyum tipis. Hans tahu kalau perang telah usai, dan saatnya gencatan senjata.
"Jadi, apakah Mommy masih mau terus mengabaikan suamimu ini?" bujuk Hans lembut sambil menciumi pucuk - pucuk rambut Erika.
Dihirupnya dalam - dalam aroma shampoo Erika yang begitu membuainya. Harumnya shampoo merasuk hinggak ke otaknya dan akhirnya malah membuat sesuatu dibawah sana mulai mengeras.
Melihat Erika yang tak menolaknya, Hans melanjutkan agresinya. Tangannya mulai berkelana menyentuh bagian - bagian yang ingin disentuhnya. Diciumnya bibir Erika dengan penuh perasaan sembari terus meremas dada Erika dengan gemas.
Meski usianya diatas 30 tahun, dan sudah beranak dua. Erika masih kencang. Dan semua ini pasti berkat usaha Erika yang rajin berlatih yoga dengan rutin.
Hans sungguh tak sabar ingin melanjutkan ke permainan inti. Diangkatnya tubuh Erika ke atas tempat tidur dengan bibir masih terus bertautan. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi lebih intense. Saling menyambut dan saling membalas. Saling memberi dan menerima.
Entah mulai kapan tubuh mereka sudah polos dan terjadilah hal - hal yang mereka inginkan.
Ya. Mereka saling menyatakan bahwa mereka masih saling mencintai dan membutuhkan.
Bercinta setelah ketegangan diantara suami istri memang dapat melupakan persoalan yang ada diantara mereka.
Biarlah kesusahan besok, dipikirkan besok.
Apakah yang akan terjadj besok saat Hans bertemu Clara dikantor?
Bersambung....
Nantikan episode berikutnya
Huaaaaaa.... maapkeun part ini, author ga pintar bikin adegan 21+
Baru segini aja, badan udah panas dingin dan otak rasanya panas. Cukup sekian dan mari lanjutkan dengan imajinasi masing - masing. 😂😂
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
__ADS_1
Comment
Favorite