Your Officemate

Your Officemate
39. Aku Tergoda


__ADS_3

Setelah pertempuran semalam, Erika yakin Hans tak akan bangun lebih dulu darinya. Begitu bangun, hal yang pertama ditujunya adalah lemari. Betul sekali, Erika berencana mengecek ponsel Hans.


Padahal sedari awal Erika sudah meyakini kalau dia tak mungkin menemukan apapun di ponsel sial itu.


Benar sekali, sesuai dugaannya semula. Tak ada percakapan mencurigakan di ponsel Hans. Semua percakapan kebanyakan tentang pekerjaan. Bahkan ruang percakapan pribadi Hans dan Clara juga bersih.


Bagaimana dengan call history? Tak jauh berbeda. Tak ada satupun panggilan dari orang yang dicurigainya, baik panggilan keluar maupun panggilan masuk. Hanya ada nomer para staff, HRD dan beberapa orang lain yang dikenalnya.


"Hei bodoh, tak mungkin seorang penjahat sengaja meninggalkan jejak." suara iblis dihatinya memaki.


"Seharusnya kamu senang karena tak menemukan apapun disitu" Sisi malaikatnya mengajak Erika berpikir positif.


Arrrggh....Erika benar - benar heran dengan dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang dia harapkan dengan memeriksa ponsel Hans? Sebuah buktikah? Mau menangkap basah? Atau hanya mencari - cari kesalahan suaminya? Aplikasi demi aplikasi di ponsel Hans juga sudah dibuka, termasuk galerry foto dan trash can. Tak ada apapun. Namun, dirinya tetap tak merasa puas, hati kecilnya menyuruhnya untuk terus mencari.


"Morning Moms,..." Erika terkejut mendengar suara Hans begitu dekat, tepat dipunggungnya. Sesaat situasi seperti terbalik, Erika merasa dialah yang tertangkap basah membongkar ponsel suaminya.


"Sudah bangun Kak?" tanya Erika berusaha tak terlihat gugup.


"Apa yang kamu cari?" Hans bertanya pelan, sambil mencium kening Erika. Lalu perlahan, tangannya mengambil alih ponsel dari genggaman Erika.


Erika hanya pasrah, memang tak ada alasan untuk menolak atau menuduh apapun.


"Hmmm...mencari apapun yang bisa dicari." jawab Erika.


Hans tak berkata apapun, hanya mengusap kepala Erika, kemudian beranjak untuk bersiap - siap ke kantor.




Sepeninggal Hans, Erika segera mengurus pekerjaan di toko online-nya. Semua pikiran yang mengganggu segera dikesampingkan. Pagi ini dia harus menyelesaikan semua urusannya lebih cepat, sedangkan sisanya akan diserahkan pada Kirana dan beberapa anak buahnya.


Sepertinya malam nanti, akan ada kesempatan bagi Erika untuk melancarkan misinya. Nanti malam, mereka akan menghadiri pesta pernikahan salah satu staff kantor.


Dan untuk kesekian kalinya, naluri Erika mengatakan supaya tidak boleh kalah dari Clara. Mulai dari dirinya sendiri, baju, sepatu, tas, aksesories, hair style dan make up, semua sudah dipersiapkan dengan baik. Demi tampak serasi, Erika bahkan sudah membeli sepasang pakaian couple untuk Hans dan dirinya sendiri di sebuah designer ternama.

__ADS_1


"Moms" sapa Hans yang ternyata sudah siap terlebih dahulu.


Dalam hati, Erika memuji penampilan suaminya yang tampak muda dan segar. Memang tak bisa dipungkiri, di usianya yang menginjak 40 tahun ini Hans justru nampak semakin tampan dan matang. Sekarang tubuh Hans juga kelihatan lebih berisi dan terawat dibanding saat masih pemuda. Tampak proposional dengan tinggi badannya.


Pria di usia seperti Hans memang sedang dipuncak - puncaknya. Mereka biasanya sedang berada di puncak karir, taraf hidup yang jauh lebih baik, penampilan prima dan mungkin juga pubertas kedua.


Erika menghela napas, bagaimanapun dirinya juga menyadari wanita di usianya justru mengalami penurunan. Tak peduli bagaimana dirinya ingin bersaing dengan yang lebih muda, usia tak bisa bohong.


"Mommy, mikirin apa?" Hans menyapa Erika yang nampak melamun, tangannya digoyang - goyang didepan wajah Erika.


"Eeeh...oh, kamu makin keren Kak." jawab Erika jujur.


"Jadi kamu terpesona?" Hans menggoda istrinha. Kemudian dia menggandeng tangan istrinya dan bersiap berangkat.


"By the way, Moms. Apa yang akan kamu lakukan kalau bertemu Clara disana?" Hans bertanya saat memasangkan seatbelt untuk Erika.


"Eh!?" Erika tak menyangka Hans akan bertanya seperti itu.


"Apa Clara akan datang?" pertanyaan itu yang keluar dari mulut Erika. Padahal sebab utama dirinya begitu totalitas berdandan adalah karena ada feeling kalau Clara juga akan hadir. Ini adalah acara salah satu tim Clara di kantor sebelum pindah.


Hans terdiam sejenak, menjalankan mobil dan nampak sedang memilih kata - kata yang tepat. Hans sungguh tak mau bertengkar dengan Erika, kelakuannya akhir - akhir ini sudah cukup membebani pikiran Erika.


"Aku hanya mencoba menebak kemungkinan yang bisa terjadi kalau kalian bertemu." kata Hans kemudian


"Contohnya?" Erika bisa membaca kekuatiran di wajah Hans.


"Jadi siapa yang kamu kuatirkan, Kak? Aku atau Clara?"


Ya. Hans kuatir terjadi pertengkaran antara kedua wanita itu, terlebih karena akhir - akhir ini Erika menunjukkan taringnya. Tapi apakah mungkin seorang Erika bertindak kasar didepan umum?


"Saling sindir mungkin?" akhirnya Hans berkata.


"Sindir menyindir, bukannya dia yang lebih dulu melakukannya?" Erika membalikkan pertanyaan.


"Suasana disana mungkin jadi tak enak kalau kalian bertemu..." Hans berkata dengan nada menggantung.

__ADS_1


"Karena?" tanya Erika.


"Bertengkar?" jawab Hans dengan nada bertanya.


"Untuk apa?" Erika bertanya lagi.


Kalau boleh jujur, api sudah mulai memercik di hati Erika. Ah, tapi lagi dan lagi. Apa yang dihati Erika, sering kali tak sama dengan apa yang dikeluarkannya. Tak seorang pun bisa menduga, perasaan apa yang disimpannya rapat didalam hati.


"Apa gunanya wanita bertengkar untuk seorang pria, Kak? Tak seharusnya wanita berebut pria mana pun. Apalagi di depan umum. Kalau memang pria itu setia, dia akan bertahan meski tergoda." Erika berbicara seolah - olah sedang membicarakan orang lain.


Dari diamnya Hans, Erika melihat ada galau disana. Sisi keibuan Erika tersentuh. Erika tahu ada perang tersendiri di hati Hans. Oleh karenanya, Erika memutuskan merubah dirinya ke mode seorang ibu. Bertanya baik - baik pada anaknya, dengan harapan ada sebuah kejujuran. Bukankah lebih baik mencari solusi daripada bertengkar?


Dihilangkannya semua nada tuduhan, dibuangnya sorot menyelidik dari matanya. Tatapannya melembut.


"Kak Hans, apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu? Aku akan menolongmu. Bukankan itu gunanya seorang istri?" tanya Erika pelan sambil mengusap lengan Hans yang sedang menyetir.


Hans terus menyetir, diliriknya Erika yang memandangnya lembut. Tak ada kemarahan, tatapan menyelidik atau pun tuduhan. Itulah Erika, tempatnya biasa mencurahkan semua pikiran dan perasaannya. Rasa nyaman itu yang selalu ada saat dia bersama Erika.


"Aku tergoda..." Hans menjawab sambil menghembuskan napas berat.


Sebuah palu besar menghantam jantung Erika, sesak, dan menindih hatinya begitu berat. Oh, Erika sadar sekarang, kenapa dirinya merasa harus bersaing dengan Clara. Alam bawah sadarnya tahu kalau suaminya sudah tergoda. Hanya saja, dia menolak percaya.


Dia yang bertanya, dia sendiri yang patah hati. Ya, rasanya seperti patah hati saat mengetahui cinta pertama kita bertepuk sebelah tangan.


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.

__ADS_1


__ADS_2