Your Officemate

Your Officemate
69. Good Bye Clara


__ADS_3

"Apa kamu mengancamku Kak Rika?" tanya Clara dengan nada tak suka.


"Tidak. Ini bukan ancaman, ini adalah negosiasi." jawab Erika dengan ketenangan yang siap menghanyutkan Clara.


"Apa maumu Kak Rika? Aku sudah tidak dekat lagi dengan kak Hans, bahkan untuk menghubunginya pun aku kesulitan. Kenapa kamu egois sekali?"


Cih... Erika berdecih dalam hati, kenapa juga orang tak tahu diri itu malah menyebutnya egois. Sudahlah biarkan saja Clara berkata apa pun yang ingin dia katakan, Erika hanya perlu memastikan tujuan utamanya berhasil.


"Mengenai hubunganmu dengan pria - pria itu, bukan urusanku. Tapi hubunganmu dengan Ayah dari anak - anakku adalah urusanku. Aku hanya ingin memastikan kehidupan anak - anakku tetap bahagia di kemudian hari."


"Aku rasa kamu terlalu berlebihan, Kak. Aku bahkan tak melakukan apa pun saat bersama kak Hans." keluh Clara. Dan Erika tak mau menanggapi, dia hanya mencibir dalam hati.


"Ini tidak adil, Kak. Kami bersama selama dua tahun sebagai rekan kerja, dan tiba - tiba kamu menyuruh kami berpisah begitu saja?"


Hah!!! Erika ingin sekali tertawa terbahak - bahak saat mendengar ucapan konyol Clara. Sepertinya Clara memang tak akan pernah merasa bersalah. Kalimatnya menyiratkan kalau Erika yang bersalah karena telah memisahkan hubungan dua orang kekasih yang saling mencintai. Oh, No! Benar - benar gila.


"Apapun yang diberikan oleh kak Hans untukmu, aku merelakannya. Aku tak meminta kembali satu sen pun. Anggap saja itu kompensasi atas apa yang sudah dilakukan kak Hans padamu. Semua impas sekarang. Aku hanya mau kamu melanjutkan hidupmu bersama pria manapun yang kamu mau." Erika menjelaskan sekaligus menghina Clara.


"Tapi kak, bukankah sudah berkali - kali aku bilang, dan hari ini pun aku akan bilang hal yang sama kalau aku tidak menyukai kak Hans. Kenapa kamu menyalahkanku kalau kak Hans menyukaiku?" Seperti biasa Clara selalu menganggap Erika menyalahkannya.


"Percayalah tak ada orang tua di dunia ini yang senang mendengar anaknya berhubungan dengan pria beristri. Tak ada seorang ibu pun yang bahagia melihat kehidupan rusak anak gadisnya." Erika lagi - lagi berkata dengan halus, menasehati dan mengancam disaat bersamaan.


"Tak peduli bagaimana pun bucin seorang pria padamu, dia tak akan rela wanitanya bersama pria lain." Erika berhenti sejenak.


"Asalkan kamu mengikuti rule-ku, aku akan menjadi penjaga rahasia terbaik. O'ya, jangan lupa, aku juga masih menyimpan video tarian se-xy-mu. Sebenarnya itu saja sudah cukup untuk menuntutmu." tambah Erika lagi.


Tak terdengar suara apapun dari seberang sana. Entah apa yang dipikirkan oleh Clara saat ini, Erika tak peduli. Setidaknya, Erika sudah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.


"Lupakan kalau kamu pernah mengenal kami. Atau kamu tak akan mendapat apapun. Aku tak mau mempermalukanmu. Berbahagialah dengan siapapun yang sanggup membahagiakanmu." Erika menutup pembicaraan mereka.


Kemudian Erika menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menerawang jauh. Entahlah, apa Clara akan menuruti ucapannya atau tidak. Tak tahu apa yang dilakukannya benar atau salah.


Sedikit pun sepanjang hidup Erika, tak pernah terpikir untuk mengancam seseorang. Mungkin sekali waktu kita perlu melakukan hal diluar kebiasaan kita.


Sekarang Erika hanya tinggal berdoa semoga matahari bersinar setelah badai.

__ADS_1




Setahun Kemudian....


Sore itu, saat Erika sedang duduk - duduk sambil menunggu Aaron bermain dan kakak - kakaknya menonton film drama korea kesukaan mereka, seorang ART datang membawa beberapa amplop.


"Bu, ini surat - surat yang datang hari ini." ART menyerahkan tumpukan surat pada Erika.


Erika menarik punggungnya dari sandaran kursi, "Terima kasih."


Erika memilah - milah surat yang datang, ada surat tagihan, brosur - brosur dan majalah langganan. Meski jaman sudah serba digital, beberapa hal ada yang masih bertahan.


Erika mengerutkan kening saat melihat sebuah undangan terselip diantara banyaknya surat yang datang. Sebuah undangan yang didominasi warna putih dan emas, terlihat berkelas dan mahal.


Sebuah nama yang setahun terakhir ini tak pernah mau disebutnya tertulis di undangan tersebut "Clara dan Davian".


Ah, entahlah... perasaan apa yang harus ditunjukkan oleh Erika. Terselip harapan semoga dengan undangan ini, kisah Clara benar - benar selesai dalam hidupnya.


(Mom....)


"I asyuuu Mom.. asyu Mom... "


(I love you Mom... I love you Mom)


Ternyata Hans sudah pulang dan dia sedang menggendong si jagoan kecil yang kini merentangkan tangan meminta digendong oleh Mommy-nya.


Erika menyambut anak bungsunya dengan senyum lembut. Sosok kecil yang selalu mencari dan bergantung padanya, membuat Erika menyadari akan selalu ada cinta untuk dirinya. Binar - binar di dalam mata bening tanpa dosa itu selalu berhasil mengalihkan dunianya. Cinta anak - anak mengobati luka hati seorang ibu.


"Clara dan Davian." Hans membaca undangan yang disodorkan Erika saat dia tadi menyambut Aaron ke dalam gendongannya.


Ups!! Sebuah kertas kecil melorot dari undangan tadi.


"Sebenarnya Kak Hans dan aku sangatlah cocok dan serasi. Tapi kami berpisah hanya demi dirimu. Iya demi kamu, Kak Rika. Tak usah datang di pernikahanku, aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sudah bahagia. From : Clara."

__ADS_1


Hans membelalakkan matanya melihat tulisan di kertas itu, jantungnya berdegup lebih kencag. Dia kuatir kalau - kalau Erika kembali teringat hal menyakitkan setahun yang lalu.


Ternyata yang terjadi sebaliknya. Erika tertawa dan berkata.


"Tak usah terkejut. Bukankah itu typical Clara?"


Hans tertegun.


"Terima kasih Mom." Hans berkata pelan. Setiap kali mengingat Clara, setiap kali dia teringat dosanya.


"Untuk apa?" tanya Erika.


"Terima kasih untuk segalanya, tetap mau bersamaku. Maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya." kata Hans sungguh - sungguh.


"Aku butuh bukti, bukan janji." Senyum Erika mengembang, matanya memancarkan ketulusan hati.


Trust takes years to built, but only a second to break and needs a life time to forget.


(Butuh bertahun - tahun untuk membangun kepercayaan, tapi hanya sedetik untuk menghancurkan dan seumur hidup untuk melupakan)


Sekecil apapun pengkhianatan akan meninggalkan luka. Hans punya PR seumur hidup untuk terus membuktikan janjinya. Hati wanita mudah memaafkan, tapi sulit melupakan.


Memaafkan bukan berarti kamu kalah, tapi membebaskanmu dari beban dan dendam. Erika memilih untuk ikhlas dan hidup bahagia demi anak - anaknya. Daripada meratapi lebih baik merelakan hal buruk terjadi, dan fokus pada hal - hal baik di masa mendatang.


Orang kuat bukanlah orang yang tak pernah menangis tapi dia yang hancur dan menangis tapi masih sanggup berdiri dan tersenyum setelah diterpa badai.


Terima kasih buat pembaca setia yang sudah menemani hingga hari ini.


Tanya : "Lho kok endingnya begini aja?"


Jawab :


Hu-um, karena ini drama perselingkuhan. Banyak atau dikit, Hans sudah bikin kecewa Erika. Nggak ada happy ending yang bener - bener happy buat kasus perselingkuhan. Yang ada cuma salah satu mengalah dan satunya bertobat. 😌🤗


Itu berdasarkan pemikiranku sih.

__ADS_1


Sekali lagi, thank you, everyone.


__ADS_2