
Erika mengerjapkan mata. Sinar matahari yang memaksa masuk dari sela - sela gorden, tak sengaja membangunkannya. Diliriknya sisi sebelah tempat tidurnya. Kosong, artinya Hans sudah bangun lebih dulu darinya. Erika tersentak saat melihat baby box milik Aaron pun sudah kosong.
Menyadari dirinya terlambat bangun, Erika langsung turun dari tempat tidur. Sepuluh menit untuk sekedar gosok gigi dan membersihkan dirinya. Semua serba kilat.
Setelah selesai semua urusan paginya, Erika bergegas turun menuju dapur.
Ah! Ada pemandangan yang menghangatkan hatinya. Hans sedang berbaring miring santai dengan baby Aaron tengkurap dihadapannya. Sementara Manda tidur - tiduran di dekat kaki Hans, dan Abbey duduk manis di sisi lain karpet. Sisi melankolis Erika tersentuh, dia terharu. Ada bahagia menyelusup, senyum pun terukir di bibir Erika.
"Morning, Mommy!" Hans tersenyum, lalu menghampiri Erika sambil membawa Aaron. Lalu, mengarahkan Aaron untuk mencium pipi Mommy-nya.
Erika langsung mengambil alih Aaron dari tangan Hans.
"Kenapa kamu tak membangunkanku, Kak?" tanya Erika merasa tak enak. Semalam pikirannya terganggu dengan kelakuan Hans yang menurutnya terasa berbeda. Entah jam berapa, Erika baru bisa terlelap.
"Dan kalian, kenapa belum siap - siap ke sekolah?" Erika ganti bertanya pada anak - anak gadisnya.
Yang ditanya malah tersenyum - senyum geli.
"Mommy ngelindur ya? Ini kan tanggal merah" kata Manda sambil terkikik. Hans dan Abbey pun ikut tertawa.
Ya ampun! Erika menepuk jidatnya sendiri, kenapa bisa lupa hari dan tanggal.
"Hari ini kita mau ngedate kemana, Moms?" bisik Hans ditelinga Erika, sambil memeluk pinggang Erika dari belakang dan mencium bahunya.
"Nge-date?" tanya Erika heran dengan rencana dadakan Hans.
"Hu-um. Ayo siap - siap. Sambil pikirkan, nanti kamu mau makan apa dan mau jalan kemana. Jam 10 kita berangkat." kata Hans lembut sambil mencium pipi Erika.
"Yaaa....trus kita dirumah aja dong?" protes Abbey. Dia paham benar, kalau ngedate artinya no kids between Mommy and Daddy.
Kalian dirumah dulu. Sore nanti, baru kita keluar bersama. Terserah kalian mau kemana. Sekarang biarkan Mommy and Daddy pergi berdua dulu. Oke?" Hans mencoba bernegosiasi dengan kedua anaknya, akhirnya Abbey dan Manda setuju.
•
•
Perasaan Erika serasa melambung, segera dia menitipkan Aaron dan kedua gadisnya kepada Suster Mimi.
Bergegas dia ke kamar, dibukanya wardrobe. Ada sebuah perasaan kuat yang mendorongnya untuk berdandan sebaik mungkin hari ini. Dan juga, muncul keinginan untuk tak mau kalah. Erika merasa aneh dengan dirinya sendiri. Entah dengan siapa sebenarnya dirinya sedang bersaing. Yang dia tahu, ada rasa insecure yang kian hari kian menghantuinya.
Pilihan jatuh pada sebuah kulot 7per8 warna navy dan atasan crop berwarna broken white dengan sedikit variasi di pinggang. Tepat pukul sepuluh pagi, Erika sudah siap. Dia turun lengkap dengan slingback kuning dibahu dan sneakers putih. Penampilannya disempurnakan dengan flawless make up diwajahnya. Fresh and chick.
__ADS_1
Ups! Senyum Erika memudar.
Saking asyiknya berdandan, dia sampai lupa kalau Hans dari tadi tak terlihat masuk ke kamar untuk bersiap - siap. Lihatlah, sekarang Hans sedang duduk disofa dan asyik dengan ponselnya.
"Kak Hans, katanya jam sepuluh kita berangkat..." Erika mendekati Hans, dan menepuk pelan bahunya.
"Oh...eh..., ya. Kamu sudah siap?" Hans melirik Erika sekilas, buru - buru berdiri sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.
Diam - diam Erika kecewa, biar bagaimanapun dia ingin Hans melihat penampilannya kali ini. Tapi Hans justru langsung pergi ke kamar mereka. Sudahlah, bukannya tadi dia yang protes kalau sudah pukul sepuluh. Lagipula, dia berdandan bukan cuma untuk Hans. Tapi juga untuk menyenangkan diri sendiri, hibur Erika dalam hati.
Sepuluh menit berlalu, Hans tak kunjung turun. Erika mulai tak sabar menunggu, disusulnya Hans keatas.
"Ya, ya...,sampai ketemu!"
"Baiklah..."
Dari balik pintu terdengar suara Hans seperti sedang berbicara dengan seseorang. Namun, Erika tak begitu jelas mendengarnya. Hanya sepatah dua patah.
"Kak Hans, lama sekali?" Erika langsung masuk ke kamar mereka.
Ternyata, Hans sudah rapi. Celana jeans slimfit biru dongker dan kaos polo yang menempel ketat di tubuhnya, membuat Hans tampak atletis. Tapi bukan itu yang membuat Erika merasa aneh. Tadi saat Erika masuk, dia sempat melihat Hans nampak terkejut, dan langsung memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Masih telpon sama siapa Kak?"
"Ooh...tadi ada client katanya urgent. Ayo kita berangkat." Hans sedikit gugup, langsung merangkul Erika dan mengajaknya turun.
Tak mau merusak suasana, Erika tak banyak bertanya. Diikuti saja kemana Hans membawanya. Pilihan akhirnya jatuh untuk jalan ke sebuah mall di dekat rumah. Ada rumah makan yang baru dibuka disana. Selain itu, juga karena mereka sudah berjanji pada anak - anak akan pulang sebelum sore.
Sepanjang jalan, Hans menggenggam tangan Erika. Tak ada pembicaraan berarti. Hanya sekedar jalan, mengikuti kemana arah mata melihat dan kemana kaki melangkah.
"Moms, kamu mau tas itu?" tunjuk Hans pada sebuah tas di etalase toko brand tertentu.
Erika hanya menggeleng dan tertawa. Dia tahu berapa harga tas yang dipajang itu. Baginya, tak perlu mahal, asalkan cocok modelnya dan fungsinya. Itu saja sudah cukup.
"Ayolaah...pilih satu!" ajak Hans setengah memaksa.
"Simpan saja uangmu untuk kebutuhan anak - anak sekolah nanti, kak Hans." tolak Erika halus.
Pernah merasakan hidup sederhana, membuat Erika tak mau sembarang membelanjakan uangnya untuk barang - barang yang kurang bermanfaat.
Sekalipun saat ini, Hans sudah lebih dari mampu, Erika lebih suka memberikan uangnya ke yayasan amal yang sering dikunjunginya.
__ADS_1
Tak jauh dari toko tadi, Hans langsung mengajak Erika untuk masuk ke salah satu toko parfum merk tertentu yang terkenal mahal.
"Tolong pilihkan satu yang favorite. Untuk pria. Yang baunya segar, tapi tak terlalu tajam." pinta Hans pada salah seorang penjaga toko.
Erika bergeming, sejak kapan Hans memakai parfum. Perasaan selama ini, Hans juga tak pernah memakai parfum. Dia juga tak mempunyai masalah dengan bau badan.
"Satu lagi untuk yang cewek ya Mbak. Untuk istriku." katanya lagi sambil menunjuk Erika.
"Hah??"
Erika semakin merasa heran dengan kelakuan Hans. Tak pernah Hans menghamburkan uang untuk barang - barang seperti ini.
"Tak perlu, Kak. Dirumah masih ada." lagi - lagi Erika menolaknya.
Hans tak menggubrisnya, dan langsung menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Erika mengikuti langkah Hans dengan tak bersemangat. Perasaan "asing" itu muncul lagi. Saat ini Hans ada bersamanya. Mereka sedang berkencan. Bahkan, suaminya itu sedang menggenggam erat tangannya.
Tapi, rasanya dia tak mengenal pria yang ada disampingnya.
"Moms, kamu mau belanja apa?"
"Tak ada, Kak"
Semua antusias Erika sudah lenyap sejak melihat Hans membeli parfum tadi.
Memang, Hans juga membelikannya. Tadi pun, Hans sudah menawarkannya sebuah tas mahal. Anehnya, tak sedikit pun hatinya merasa bahagia.
Apa yang salah dengan hati Erika? Bukankah wanita suka dimanjakan dengan barang - barang yang bagus?
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1