
"Oh, itu sungguh memalukan! Aku hanya bisa berkata kalau suamimu itu bodoh sekali. Aku malu punya teman seperti dia." jawab Johan.
"Apa maksudmu? Apa yang mereka lakukan?" tanya Erika panik.
Mendadak badan Erika terasa panas dingin karena memikirkan apa yang dilakukan Clara pada Hans sepanjang perjalanan itu. Didalam mobil berdua dengan Clara yang gill-a? Pikiran Erika travelling kemana - mana, sampai tanpa sadar tangannya mengepal erat menahan emosi.
"Bukan mereka, Sayang. Tapi Hans, hanya Hans. Dimobil itu cuma ada sibodoh itu. Dia berkata kalau sengaja berputar - putar dengan tujuan mengelabui Clara. Dia merasa Clara selalu tahu keberadaan dirinya." Johan tertawa miris mengingat kebodohan Hans.
Bukankah Hans pimpinan yang hebat di kantor? Masalah begini saja tidak bisa mengatasi. Mata dan pikiran memang tak bisa berpikir jernih, kalau sudah tertutup na*su.
"Eh?" Erika mengerutkan keningnya. Dia ingat kalau kemarin Hans juga mengatakan hal yang sama pada dirinya.
"Lalu kamu tak menyelidikinya?"
"Tentu saja, hari dimana aku mengajakmu lari pagi. Saat itulah, Hans mendatangi IT kantor kemudian menyelesaikan semuanya dengan Clara. Itulah sebabnya kubilang suamimu bodoh. Dia tak menyadari kalau Clara mengganti email diponsel Hans menjadi email Clara. Otaknya tak sampai." kata Johan sinis.
"What? Apa maksudmu?"
"Kamu kan tahu. Setiap kali mempunyai ponsel baru, kita akan menuliskan email. Naah, si Clara menulis emailnya diponsel Hans sebagai ganti email Hans. Sehingga setiap aktivitas Hans yang berkaitan dengan ponsel akan masuk ke email Clara. Bahkan Clara bisa melihat linimasa Hans." Hans menjelaskan lagi.
"Benar - benar gi-la. Itu bukan cinta tapi obsesi." desis Erika tak percaya.
"Mereka tak melakukan apapun, hanya sebatas chat dan telpon. Kalau sampai aku tahu hubungan mereka lebih dalam, pasti sudah kuhabisi dari kemarin - kemarin." Johan terlihat geram saat mengucapkan kalimatnya yang terakhir.
"Jangan, Kak. Kalau sampai kamu berbuat jahat, apa bedanya kamu dengan mereka." kata Erika kalem.
Johan begitu tersentuh dengan kebaikan adiknya. Kemudian Johan melanjutkan beberapa temuannya tentang Clara, yang semuanya benar diluar akal sehat Erika.
Drrrt...drrrrt....
Clara is calling
"Clara?" gumam Erika. Biar bagaimanapun, saat ini makhluk yang paling tidak ingin dia temui adalah Clara.
"Terima saja. Mobilnya ada didepan rumahmu, sepertinya semua tak akan selesai kalau kita tak memberinya pelajaran."
"Kak Rika? Aku mau bicara." suara Clara langsung terdengar tanpa menunggu Erika menyapa.
__ADS_1
"Aku tak ada dirumah, temui aku dicluster xxx." jawab Erika singkat.
Mengingat kegilaan Clara, Erika perlu berhati - hati. Kuatir kalau - kalau Clara membuat keributan dirumahnya, masih ada Aaron disana. Lebih aman menemui Clara dirumah Johan daripada rumahnya sendiri. Dan Erika mencatat dalam hati untuk memastikan bahwa ini adalah pertama dan terakhir Clara bisa masuk ke cluster mereka.
Tak lama Clara yang tak tahu malu itu sudah sampai di rumah Johan.
"Biarkan aku menemuinya sendiri, Kak." kata Erika saat Johan hendak menemaninya.
"Aku kuatir karena aku rasa dia wanita gi-la." jawab Johan.
"Tapi dia mendatangi harimau disarangnya sendiri kan Kak?" Erika berkata tenang pada Johan.
Akhirnya Johan memilih menuruti Erika, dengan tetap menjaga jarak aman dengan adiknya. Biar bagaimanapun, Johan tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya.
Clara duduk di sofa ruang tamu milik Johan dengan kepala menunduk. Tak ada kata yang diucapkannya hingga 10 menit lamanya.
"Oke...mari kita lihat. Sekuat apa aktingmu." gumam Erika dalam hati.
"Maaaaaaaf.... " Clara berkata pelan dengan raut wajah sedih tapi terlihat sekali palsunya.
Erika menatap Clara dengan sorot mata yang dingin, menyebut namanya saja sudah muak. Apalagi melihat wajahnya.
"Memang kamu tahu apa yang aku pikirkan?"
"Sejak aku berhenti dari perusahaan, entah kenapa Kak Hans terus mencari - cari aku. Dan aku tak enak kalau terus menerus menolaknya." Clara membela diri.
"Mommy.... " suara Hans tiba - tiba muncul diruangan itu.
Benar sekali. Johan yang memberitahu Hans untuk segera datang karena Clara muncul. Erika tak menoleh sedikitpun kearah Hans.
"Kak Hans, tolong jelaskan pada kak Rika. Dia marah padaku." rengek Clara.
Hans melirik kearah Erika. Tak ada respons, ekspresi Erika dingin. Hans memutuskan duduk disebelah Erika. Dia berdehem untuk membersihkan tenggorokannya dan berkata.
"Disini, saya Hans bermaksud minta maaf pada wanita - wanita yang merasa tersakiti karena kebodohanku. Terutama pada istriku yang luar biasa, aku mohon ampun. Untuk Clara, aku sudah mengatakan kalau semua sudah selesai. Dan sekarang dihadapan istriku, aku berjanji semua selesai. Tak ada hubungan apapun antara aku dan kamu. Baik pertemanan, maupun hubungan kerja. Semua selesai." Hans mengucapkan semua itu seperti saat bicara di acara - acara formal.
Wajah Clara nampak terkejut, hilang sudah ekspresi penyesalan yang tadi dipertontonkan.
__ADS_1
"Tapi aku tak bisa kalau tak ada kak Hans." rengek Clara.
"Tadi kamu bilang Kak Hans yang mencarimu, sekarang kamu yang merengek." dalam hati Erika mencibir, meski ekspresi wajahnya tak berubah sedikitpun dari tadi.
"Maaf Clara, aku tak bisa. Dari awal kamu sudah tahu kalau aku tak bisa tanpa istriku." jawab Hans.
"Kenapa kamu egois kak Rika? Kenapa kamu tak mau mengalah saja pada kak Hans? Dari awal, kamu selalu mengatur kak Hans." sembur Clara.
Sungguh lucu, biasanya istri yang akan melabrak pel-ak*r. Mungkin dunia sudah terbalik, sehingga pel-ak*r yang merasa terganggu oleh istri sah.
"Kamu jahat, kami sudah bekerja sama selama hampir 4 tahun. Dan sekarang kamu mau memisahkan kami? Kamu tak punya perasaan kak Rika." Clara melanjutkan mencecar Erika.
"Aku tak pernah berniat memisahkan kalian. Aku malah sudah mengikhlaskannya untukmu sebelum kamu meminta. Entahlah apa yang salah, kak Hans yang tak mau." akhirnya suara tenang khas Erika terdengar juga.
"Aku benar - benar tak mau bersamanya, Moms. Aku sekedar bermain - main sama dia, dan dia juga sudah tahu itu."
"Dasar pengecut kamu, kak Hans! Kamu tak berani melawan istrimu" maki Clara.
"Tapi kak Rika, kami harus terus berhubungan karena aku yang perwakilan proyek x dan kak Hans yang menanganinya." Clara memohon sekali lagi. Cepat sekali Clara berubah - ubah, seperti orang yang memiliki dua kepribadian.
"Maafkan aku kak Rika. Aku benar - benar tak bisa kalau tak ada kak Hans."
"Kamu hamil?" tanya Erika tenang.
Wajah - wajah shock dihadapannya memberi kepuasan tersendiri dihati Erika. Hans dan Clara sama - sama terlihat shock mendengar pertanyaan Erika.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1
****