Your Officemate

Your Officemate
49. Cerita Johan


__ADS_3

"Tidak adakah maaf untukku?" tanyanya pelan.


"Ada," Meskipun itu tidak mungkin. Air mata sudah berkumpul dipelupuk mata Erika.


"Kalau kamu bisa mengembalikan semua rasa sakitku dan bisa membuatku lupa kalau ada manusia bernama Clara Adelia di muka bumi ini."


Melakukan aktivitas pagi seperti biasa, aku berusaha untuk tidak membuat anak - anak melihat ada yang berbeda padanya dan juga Hans. Ketika Abbey dan Manda berpamitan dengan mengucapkan sayang serta peluk cium, Erika menelan isak yang nyaris keluar.


"Kamu akan pergi?" tanyanya pelan.


Erika mengangguk.


"Benarkah tidak ada yang bisa aku lakukan supaya kamu tetap tinggal disini? Atau, biar aku yang pergi. Mereka lebih membutuhkan kamu."


Erika hanya diam. Anak - anak memanggil Daddy-nya dengan tidak sabar. Hans masih berdiri di dekat Erika, yang sama sekali tak mau melihat kearahnya. Hans mende-sah pelan lalu pergi.


Pintu tertutup dan Erika terduduk lesu di sofa. Saat mengingat ada beberapa hal yang harus dibereskan diluar sana, pelan - pelan Erika menarik koper turun dari lantai atas. Erika berpamitan pada Suster Aaron dan menitipkan jagoan kecilnya. Erika mengatakan ada keperluan diluar kota untuk sementara waktu. Lalu pergi dengan menggunakan taksi.


Tak sampai sepuluh menit, Erika sudah sampai di rumah Johan yang hanya berbeda cluster saja dengan rumah miliknya.


Johan sudah berdiri menunggunya di pintu utama, karena memang Erika tadi menghubunginya dan mengatakan akan mampir.


"Wow! Wow! Mau kemana adikku ini?" Johan mencoba untuk bersikap biasa saat melihat Erika menyeret kopernya. Dia tahu ada yang luar biasa sedang terjadi pada adiknya. Tak mungkin seorang Erika datang kerumahnya sepagi ini, apalagi membawa koper kalau tidak ada sesuatu yang terjadi.


Diambilnya koper dari tangan Erika, lalu tangan satunya menarik bahu Erika mendekat padanya. Wajah Erika sayu karena kurang tidur dan juga banyak yang dipikirkannya.


Tak ada yang diucapkan Merry, Johan maupun Erika di meja makan. Merry menyiapkan segelas su-su dan omelette keju.


"Makanlah meskipun sedikit. Atau adakah sesuatu yang sedang ingin kamu makan?"


Erika hanya menggeleng sambil terus menelan makanan yang terasa hambar dimulut. Selesai sarapan, Merry membiarkan Johan bersama Erika pergi ke dekat kolam renang.


Beberapa menit berlalu, Erika duduk diam di gazebo bersama Johan yang setia menemani.


"Kamu ingin aku melakukan apa untukmu?" tanya Johan karena tak tahan melihat ekspresi Erika yang terlihat menyedihkan. Padahal biasanya Erika paling pintar menyembunyikan perasaan.


"Aku tak tahu, Kak...."


Erika kembali diam, lalu menghembuskan napas berat.


"Katakanlah, aku akan melakukan apapun yang kamu pinta."


Erika memandang Johan dengan tatapan sendu, bibirnya tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih." katanya.


Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mengutak atik sebentar. Tanpa kata, Erika menyodorkan ponsel tersebut pada Johan. Erika tak sanggup menjelaskan apapun, biar Johan melihat sendiri apa yang dilakukan sahabatnya.


"Kakak bilang padaku, kalau Kakak adalah jaminannya." protes Erika masih dengan suara pelan.


Johan mengerjapkan mata berkali - kali, tangannya sibuk menggeser layar ponsel Erika. Entah apa yang ada dipikiran Johan, ekspresinya sungguh tak terbaca.


"Sayang kamu deh." (Clara)


"Miss you, Beb."(Clara)


" Me, too." (Hans)


"Jangan lupa hapus chat-nya nanti ketauan istrimu."(Clara)


Dan masih banyak lagi bukti hasil tangkapan layar chat mesra lainnya. Johan tak melanjutkan membaca yang lain - lainnya. Dia sudah tahu lebih dahulu sebelum ini, hanya saja dia tak menyangka adiknya akan menemukan bukti.


"Oh! Sh**" desis Johan.


Johan duduk bersandar pada dinding gazebo, tangannya bersedekap didada. Dia mencoba memilih kalimat yang tepat untuk adiknya.


"Bagaimana reaksi Hans saat tahu kalau kamu menemukan chat ini?"


"Lalu?" tanya Johan.


"Dia mengakui semuanya, bahkan Hans bilang mereka sempat berciuman." lanjut Erika.


"Dia sudah berjanji padaku akan mengakhiri semuanya sebelum kamu tahu." Johan berkata sehati - hati mungkin.


"Hah?" Erika tercengang, matanya membelalak.


"Jadi kamu juga berkhianat padaku, Kak? Kalian bersekongkol menyembunyikannya?" nada suara Erika terdengar begitu kecewa.


"Oooh...bukan. Bukan begitu, ikut aku ke ruang kerjaku. Nanti aku ceritakan semuanya." Johan menarik tangan Erika untuk mengikutinya.


"Hanya karena kamu adalah kakakku, aku mau mendengarkan penjelasanmu kali ini." suara Erika terdengar gusar.


Sampai diruang kerja, Johan menyuruh Erika duduk disofa. Diambilnya laptop, lalu dia duduk disebelah Erika.


"Percayalah, suamimu masih setia. Dia berusaha melawan godaan itu. Yang aku tak tahu, hanya soal ciuman itu. Setauku, mereka hanya sebatas chat mesra di chat room. Tidak lebih. Dan hari dimana dia menghilang semalaman, dia ada bersamaku. Hans sudah mengakui semuanya, dan menceritakan padaku kalau kamu memilih bercerai. Itu sebabnya, pagi - pagi aku ke rumahmu karena pagi itu Hans harus menyelesaikan masalahnya dengan Clara." Johan menjelaskan apa yang diketahuinya pada Erika.


"Sebenarnya aku ingin menghajarnya, tapi aku tahu kalau berat bagi Hans menghadapi wanita agresif seperti Clara. Aku tak melakukan apapun, karena dia mengakui sebelum aku bertanya. Dia juga memutuskan sendiri untuk menyudahi semuanya. Setidaknya dia tetap memilih bersamamu, meski tergoda." lanjut Johan.

__ADS_1


"Tapi dia bertanya, apakah boleh menikah lagi."


"Itulah bodohnya dia. Dia sebenarnya sudah terang - terangan berkata pada Clara kalau tak bisa melepasmu. Entahlah apa yang dipikirkannya saat itu." tambah Johan.


"Aku rasa aku datang pada orang yang salah. Kalian sesama lelaki, sudah tentu kamu membelanya." sanggah Erika.


"Tidak, Sayang. Bukan begitu, tunggu sebentar." Johan mengutak atik laptopnya dan menunjukkan banyak hal pada Erika.


"Aku menyelidiki Clara, sejak hari dimana aku melihat Clara bergelanyutan pada Hans. Waktu itu kamu sedang pemulihan pasca caesar."


"Jadi waktu itu benar - benar Clara, dan bukan halusinasiku saja."


"Memang Hans menolaknya, tapi aku menangkap gelagat yang tak baik. Dan setelah Clara keluar, aku memutuskan untuk mengikuti Hans juga karena beberapa kali orangku melihat Clara datang ke kantor disaat jam kerja usai."


"Apa untuk menemui kak Hans?" Erika bertanya dengan jantung yang berdegup semakin kencang.


"Aku rasa iya, tapi Hans tak juga muncul dan tak ada yang pernah melihat mereka pergi berdua." kata Johan.


"Mungkinkah anak buahmu lengah saat mengawasi?"


"Tidak. Aku menyuruh orang memasang GPS dimobil Hans. Memang benar dia lembur, tapi hari itu dia langsung pulang kerumah."


"Mereka benar - benar bertemu hanya saat dinner bersama Mr. Lim. Kalau benar mereka berciuman, mungkin saja saat itu."


Erika mencoba mencerna setiap informasi yang didapat dari Johan. Matanya meneliti tempat - tempat yang dikunjungi Johan dari jejak yang ditinggalkannya di GPS. Tak ada tempat - tempat yang patut dicurigai. Hanya saja ada waktu - waktu dimana Hans pulang malam, dan dia hanya berputar - putar dijalanan. Selebihnya, Hans hanya mengunjungi rumah, kantor, rumah makan favorite Erika. Ah, Hans benar - benar aneh!


"Apa dia bercerita kenapa dia berputar - putar sebelum sampai kerumah?" tanya Erika penasaran.


"Oh, itu sungguh memalukan! Aku hanya bisa berkata kalau suamimu itu bodoh sekali. Aku malu punya teman seperti dia." jawab Johan.


"Apa maksudmu? Apa yang mereka lakukan?" tanya Erika panik.


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.

__ADS_1


__ADS_2