
Kurang lebih 20 tahun yang lalu....
Hans selalu menertawakan sahabatnya setiap kali dia menceritakan tentang barisan perempuan yang rela mengantri untuk menjadi pacarnya atau sekedar mendapatkan perhatiannya.
Bagi Hans, perempuan adalah hal terakhir dalam prioritasnya saat itu.. Apalagi saat itu Hans hanyalah seorang mahasiswa yang beruntung bisa mendapatkan bea siswa. Jangankan berpacaran, untuk makan pun harus berhemat.
Kondisinya yang yatim piatu, mengharuskannya survive bagaimanapun caranya. Kuliah dengan benar, lalu mendapatkan pekerjaan yang baik. Itulah target utama Hans saat itu.
Tapi pandangannya berubah saat bertemu dengan adik sahabatnya. Mungkin Hans merasa dekat dan akrab karena sudah berkali - kali mendengarnya. Johan sering sekali memuji adik kesayangannya itu. Tidak peduli apa yang mereka kerjakan atau bicarakan, topik mengenai adiknya pasti menyisip.
"Sister complex." komentar Hans pada Johan.
"Ah, kamu bilang begitu karena belum mengenalnya. Trust me! Once you meet her, you will fall in her. Eh...Eh...itu busnya sudah datang. Ayo, cepat." Johan mengajak Hans berlari mengejarnya.
Benar saja. Sampai di rumah Johan, mereka disambut seorang gadis. Dia cantik. Sangat cantik. Matanya bersinar menyiratkan keramahan, rambutnya hitam legam, panjang membingkai wajah tirusnya. Ada beberapa jerawat di pipinya tetapi justru membuatnya nampak menggemaskan.
"Hans, wooiii... Hans." Johan menjentikkan jarinya di depan wajah Hans. Hans mengedipkan matanya. Johan dan adikknya tertawa.
"Ini adikku, Erika." Hans langsung menyambut tangan halus itu dengan cepat, jantungnya berdegup tak beraturan.
"Kalian sudah makan?" Erika bertanya sambil menunjuk ke belakang dengan jempolnya.
"Cukup untuk kami berdua?" tanya Johan sambil berjalan ke arah ruang makan. Tak peduli bagaimana malunya Hans karena merasa seperti sedang meminta - minta makanan.
"Cukup untuk kita semua, Kak."
Lauk rendang dan ditemani gadis manis, membuat Hans melupakan rasa malunya. Dari percakapan Johan dan Erika, Hans berkesimpulan mereka hanya tinggal bertiga. Papanya sibuk bekerja dan selalu pulang larut. Sepengetahuan Hans, Mama mereka sudah tiada. Dan nampaknya, Erika yang mengurus Papa dan kakaknya.
"Aku ke kamar. Mau belajar." Erika sudah selesai, dan dia berpamitan.
"Cieeee... yang juara umum." goda Johan.
"Bukan saja wajahnya yang rupawan, tetapi juga cerdas. Wow!!"
Hans menambahkan sebuah catatan lagi di list kekagumannya pada Erika.
"Hans, Hans." Johan kembali menjentikkan jarinya di depan wajah Hans.
"Hentikan itu, Jo." Hans mendorong tangan Johan dari depan wajahnya
__ADS_1
"Kamu tidak bilang adikmu cantik."
"Cantik? Erika? Dilihat dari mana?" ucap Johan mengejek.
"Bisakah kamu serius?" Hans nampak kesal.
"Aku serius." Johan ikut - ikut kesal. Lalu dia memicingkan matanya.
"Kamu suka sama adikku? Tidak boleh! Dia masih SMA kelas 1 dan kamu sudah kuliah. Pasti punya pengalaman mempermainkan hati perempuan. Adikku bukan untuk pria sepertimu." lanjut Johan.
"Satu jarimu menunjukku, tapi empat lainnya menunjuk ke dirimu sendiri. Lebih seringlah berkaca."
"Aku tahu, aku tampan. Tak perlu lagi berkaca untuk memastikannya." ucap Johan menyombongkan diri.
Sejak hari itu, setiap kali Johan mengajak Hans kerumahnya, Hans tak menolak. Tujuan utamanya adalah melihat gadis itu. Hans senang sekali setiap kali ada kesempatan menimbrung saat Johan dan Erika bercanda.
Beberapa bulan kemudian, akhirnya Hans berkesempatan bertemu dengan Papa mereka. Johan benar, dibalik sikap tegas Papanya tersembunyi kebaikan hati.
Pertama kali bertemu dengan beliau, Hans mendapat kejutan.
"Jadi ini yang namanya Hans. Johan sering cerita tentang kamu. Katanya, kamu mencari tambahan penghasilan. Apa kamu mau membantu Om di toko? Jam kerjanya, sesuaikan saja dengan jam kuliahmu."
Hans memang ingin Om Harris merestuinya, tapi bukan begitu caranya.
Suatu siang, siapa menyangka Om Harris akan terkena serangan jantung. Kebetulan saat itu, Hans sudah mulai bekerja setiap hari karena sedang menunggu sidang skripsi. Hans langsung membawanya ke rumah sakit. Lalu tergopoh - gopoh, Hans dan Erika menyusulnya disana.
"Hans, Om titip toko bangunan. Johan masih kurang serius dalam bekerja. Tolong bantulah dia mengelolanya." pesan Harris sambil menahan sakit di dada kirinya.
"Baik, Om. Istirahatlah supaya Om cepat pulih."
Bekerja hampir dua tahun ditempat Om Harris, membuat Hans menjadi orang kepercayaannya. Om Harris menyukai Hans yang rajin, bertanggung jawab, ulet dan jujur. Mungkin tuntutan hidup membuat Hans terkesan lebih mandiri dari Johan.
Yang mengejutkan Hans adalah saat Erika datang bersama Johan. Om Harris berkata lagi.
"Hans tolong jaga Erika saat Om sudah tak ada. Jagalah dia seperti Om dan Johan menjaganya. Om percaya padamu."
Hans tanpa ragu menyanggupinya, meski dirinya belum pernah menyatakan perasaan pada Erika.
Dan, itu adalah pesan terakhir dari Om Harris pada Hans.
__ADS_1
Usai sidang dan kelulusan, Hans memutuskan untuk menikahi Erika. Beruntungnya, Erika langsung mengiyakan tanpa banyak syarat. Yang menjadi masalah adalah Johan.
"Aku tidak akan menghalangimu menikahi adikku, Hans. Aku tahu dari dulu kamu suka padanya. Tetapi aku punya banyak persyaratan."
"Kita bersahabat, Jo. Kamu tahu aku selalu memegang kata - kataku." janji Hans.
"Kamu tahu kata - kata saja tidak punya kekuatan sama sekali. Apa kamu yakin mau mendengar semua persyaratanku?"
"Baik. Apapun itu akan aku penuhi."
"Besok, aku bawakan surat perjanjian pranikah dariku. Siapkan versimu."
Hans menggangguk.
"Ingat, Hans. Erika adalah adikku. Satu kata saja darinya kalau kamu menyakiti dia selama kalian menikah nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu."
Bagi Hans, syarat yang diajukan oleh Johan adalah wajar. Dia hanya meminta Hans untuk memenuhi segala kebutuhan Erika mulai dari makanan, pakaian dan rumah. Lalu apabila Hans diketahui berselingkuh maka Erika berhak memutuskan apa yang baik bagi pernikahan mereka.
Apabila terjadi perceraian, maka separo harta akan diberikan pada Erika. Selain itu, Hans masih harus memberi tunjangan pada anak - anak mereka hingga mereka kuliah.
Hans langsung menyetujui syarat yang dianggapnya sangat ringan.
Sedangkan syarat dari Hans adalah Erika tak boleh meminta bantuan materi dari siapapun, dan dilarang menceritakan masalah rumah tangga kami atau meminta pendapat pada orang lain, kecuali pada Johan. Syarat terakhir adalah Erika boleh menyelesaikan pendidikannya bahkan bekerja, tapi hanya sampai dia hamil. Setelah itu, dia harus berhenti dan fokus pada anak - anak.
Setelah perjanjian pranikah disetujui, Hans dan Erika menikah secara sederhana. Menyesuaikan dengan kemampuan Hans saat itu.
Sesuai permintaan Hans, Erika tak meminta bantuan materi pada Johan. Mereka memutuskan tinggal berdua disebuah kost. Sementara untuk kebutuhan sehari - hari, Hans bekerja sama dengan Johan mengubah toko bangunan Om Harris yang semula konvensional hingga berubah berkembang pesat seperti saat ini.
Bersambung...
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.