Your Officemate

Your Officemate
44. Aku Ijinkan


__ADS_3

Apapun perasaan yang tengah berkecamuk, acara amal tahunan yang sudah direncanakan tak dapat dihindari. Acara amal untuk panti jompo tetap dilaksanakan sesuai waktu yang ditentukan.


Hans, Erika dan anak - anaknya tetap hadir bersama keluarga Johan. Kalau hanya menilai dari penampakan luarnya, tak seorang pun akan menebak ada prahara didalam rumah tangga mereka. Semua nampak benar - benar normal. Istri yang baik dan ramah, serta anak - anak yang penurut.


Mereka berbagi tugas untuk menyerahkan bingkisan, dan sekedar berbincang ringan dengan para penghuni panti karena biasanya para manula sangat senang kalau menemukan teman bicara.


Tak sengaja mata Erika tertuju pada dua orang manula yang sedang duduk di ruang TV. Sepertinya mereka sedang saling mencurahkan isi hati. Diam - diam Erika mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kalau saja suamiku masih hidup, sudah pasti aku bersamanya. Dia tak mungkin membiarkan aku kesepian disini. Semua ini karena tak seorang pun anakku mau menampungku." kata seorang manula yang mengenakan rok terusan berwarna coklat tua.


"Heiii....aku lebih memilih tinggal disini daripada hidup bersama anakku. Jangan membebani anak kita, mereka memiliki masalah sendiri. Kamu tahu? Suami anakku memiliki wanita lain, dan aku tak sampai hati melihatnya terus - terusan disakiti." jawab manula yang kedua, yang sedang duduk.


"Maksudmu? Suami anakmu berselingkuh?" tanya yang wanita yang pertama dengan wajah serius.


"Sudah kukatakan padanya, tinggalkan saja pria itu. Tapi anakku memilih mengalah. Dan alasan anakku adalah demi anak - anak mereka." Nenek yang kedua melanjutkan pembicaraan mereka.


"Jadi kamu lebih suka kalau anakmu berpisah?"


"Suaminya menikah lagi, tanpa sepengetahuan anakku. Dan anakku hanya bisa menangis setiap hari. Tak mungkin aku menambah beban pikirannya. Aku punya cukup uang dan tabungan untuk menghidupiku di panti ini. Berkumpul bersama orang - orang seusiaku, terasa lebih menyenangkan." Nenek yang kedua terus bercerita tanpa menjawab pertanyaan temannya.


"Kalau aku jadi kau, kenapa tak kau ajak saja anakmu tinggal berdua denganmu? Bantulah dia dengan menjaga cucumu, lalu biarkan dia bekerja."


Wanita berambut putih yang ditanya itu terdiam dan mengerutkan keningnya, membuat keriput diwajahnya nampak semakin jelas. Matanya menyipit, dan katanya, "Sudahlah, aku tak tahu rumah tangga macam apa yang sedang dijalani oleh mereka. Biarlah anakku yang memutuskan sendiri. Aku hanya berpesan padanya, kalau kamu masih mempunyai ibu, tempatmu untuk kembali."


Tanpa Erika sadari, Hans ternyata dari tadi sudah berdiri disebelahnya dan juga ikut mendengarkan pembicaraan dua orang nenek tersebut.


Erika menoleh saat merasakan seseorang meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Genggaman yang dulu selalu sanggup menghangatkan hatinya.


"Mommy, aku yakin harapanmu pasti adalah menua bersama suamimu." kata Hans pelan, dan hanya bisa didengar oleh mereka berdua.


Erika tak merespon, karena memang merasa kata - kata Hans itu tak membutuhkan tanggapan apapun.


"Wah, wah, aku senang sekali melihat kalian. Tampak sangat serasi dan harmonis. Aku yakin kalian pasti sangat bahagia." Nenek dengan rok terusan cokelat tadi menyapa, lalu dia berjalan pelan - pelan mendekati mereka. Matanya berbinar melihat Hans dan Erika.


Deg!


Entah ini sindiran atau tamparan atau apapun itu, hati Erika dan Hans sama - sama bergetar.


Erika merasa ditegur seperti ketahuan berbohong. Dia merasa telah melakukan pencitraan, memperlihatkan gambaran keluarga bahagia. Tapi kenyataannya? Tak ada yang tahu.

__ADS_1


Sedangkan Hans, dia merasa disentil oleh perkataan Nenek itu. Hans tahu benar kalau istrinya hanya berpura - pura kalau semua baik - baik saja. Ya. Jauh didalam hati Erika, dia tak sebahagia yang terlihat.


Tak ingin siapapun bisa membaca kegundahannya, Erika langsung melepaskan genggaman Hans dan membantu nenek itu berjalan.


"Ada yang bisa saya bantu Bu? Apa ibu mau makan? Atau ke ruang pertemuan?" Erika tersenyum dan bertanya dengan lembut.


Sementara itu, Hans termenung sambil memandang punggung Erika yang berjalan menjauh sambil menuntun si Nenek tadi.




Malamnya saat Erika sedang melakukan perawatan rutin malam. Hans mendekat pada Erika, dipandangnya wajah istrinya yang terpantul di cermin. Telapak tangannya diletakkan dibahu Erika.


"Mommy, kalau suatu hari kamu sudah tak tahan denganku, maka pergilah ke Johan."


"Apa maksudnya, dia mau mengembalikan aku ke kakakku?"


Tak ada jawaban dari Erika, hatinya terasa pilu. Tangannya masih tetap terus mengaplikasikan serum dan cream wajah, lalu dilanjutkan dengan menepuk - nepuk pipinya dengan lembut. Tapi pikiran dan hatinya sudah melayang entah kemana.


"Aku terpikir kata - kata nenek di panti tadi..." Hans menggantung kalimatnya.


"Menurutmu apa yang harus anak itu lakukan?" Hans melanjutkan kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.


"Anak? Nenek maksudmu?"


"Maksudku anak si nenek, Moms. Apa yang seharusnya dia lakukan kalau tahu suaminya punya wanita lain?"


Ngilu, itulah yang dirasakan Erika saat ini. Bukankah kemarin - kemarin Erika juga mengajukan pertanyaan yang hampir sama kepada Hans? Dan sekarang, pertanyaan itu malah dikembalikan padanya. Padahal Erika sendiri belum tahu jawabannya.


Suasana hening beberapa saat, hingga Erika menguatkan hati untuk balik bertanya.


"Menurutmu apa yang terbaik untuk anak - anak mereka?"


Hans menghembuskan napasnya saat mendengar serangan balik dari Erika. Hans berjalan menuju sofa disudut kamar mereka, lalu menghempaskan tubuhnya disana.


Rasanya begitu konyol, saling bertanya satu sama lain seolah - olah sedang membicarakan orang lain. Padahal mereka tidak sedang membicarakan siapapun, melainkan mengenai hubungan mereka sendiri. Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan, baik Hans maupun Erika tak ada yang mendapatkan jawaban yang tepat.


"Baiklah, baiklah. Pertanyaan terakhir, apa yang kamu lakukan kalau suamimu menikah lagi?"

__ADS_1


"Eh?" Hati Erika mencelos.


Hans sendiri tak kalah terkejut mendengar pertanyaannya sendiri. Hati kecilnya mengutuk dirinya sendiri yang lagi - lagi menyakiti Erika.


"Apa itu keinginanmu Kak?" Erika berbalik dari cermin, matanya menatap nanar kearah Hans.


"Oh...em, bukan itu maksudku." Hans sedikit tergagap.


Pertanyaan Erika benar - benar telak, menghujam ke tepat di jantung Hans.


"Sesuatu yang diucapkan pertama dan dilakukan secara spontan biasanya cetusan isi hati yang sebenarnya, Kak." sahut Erika tenang, kali ini dia sudah berhasil menguasai dirinya.


"Aku hanya ingin tahu pendapatmu, apakah kamu mengijinkan suamimu menikah lagi?"


Kepalang tanggung, Hans memperjelas pertanyaannya. Hari ini dia bertekad akan membereskan semua masalah yang telah dibuatnya.


"Aku mengijinkan."


Jawaban Erika terdengar begitu tenang. Malah terkesan terlalu tenang, tak ada sedikit pun gejolak di nada bicara Erika. Sampai - sampai Hans bergidik ngeri, rasanya ketenangan Erika akan menenggelamkannya.


"Asalkan bersamanya membuatmu lebih baik daripada saat bersamaku. Asalkan kamu bahagia, aku ikhlas. Aku ijinkan kamu menikah lagi." Erika mengulang kata - katanya, disertai dengan senyum.


Haduuuuh...aku tak sanggup. Beneran tak tega nulis soal Erika di part yang ini. 😭😭😭


Dia terlihat kuat diluar, tapi hancur didalam.


Huhuhu....


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.

__ADS_1


__ADS_2