Your Officemate

Your Officemate
64. Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

"Aku janji, ketika Abbey dan Manda sudah mengerti dan Aaron sudah sedikit lebih besar. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu putuskan terbaik untuk kita."


"Dan andaikata pada akhirnya kamu masih tetap tidak bisa memaafkanku. Katakan saja padaku, biar aku yang meninggalkan rumah ini. Bukan kamu." kata Hans lagi.


Erika berpikir mungkin ini adalah kesempatan yang baik untuk bicara. Selama ini dia sabar dan mengalah, hasilnya pun tetap sama. Dia terluka. Hans berhak mengetahui apa yang akhir - akhir ini Erika pikirkan tentang Hans.


"Aku merasa seorang diri, seperti berperang melawan bayangan. Bersaing tanpa tahu dengan jelas siapa rivalku. Satu - satunya orang yang aku harapkan bisa berdiri disisiku, dan menolongku saat jatuh justru malah bersekutu bersama lawanku untuk berbohong. Aku merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Apa menurutmu ini adil bagiku?"


"Moms aku mohon maafkan aku." Hans menundukkan kepalanya.


"Lalu dia memintaku untuk kembali, sedangkan membalas perbuatannya saja aku tak bisa. Aku masih mempunyai sisa umurku untuk berbahagia dengan melupakan rasa kecewaku."


"Aku mengerti. Aku tahu arah pembicaraanmu. Dan aku benar - benar menyesalinya. Maafkan aku." Sekali lagi Hans memohon.


"Bagaimana kalau aku berciuman dengan pria lain? Apakah kamu akan menerimaku kembali?" Erika mengerutkan keningnya.


Hans terkejut, jelas dia tak akan bisa menjawab. Jangankan mengetahui Erika berciuman dengan orang lain, melihat Erika berbincang dengan seorang pria saja Hans sudah tak suka. Pria memang kadang egois. Mereka tak mau miliknya disentuh orang lain, tapi mereka sendiri tak bisa mengendalikan mata dan pikiran mereka.


"Hatiku sakit setiap kali melihatmu, karena hanya akan mengingatkanku pada wanita itu. Kembali padamu, menjadikanku seperti wanita yang tak berdaya dan mudah diremehkan."


Erika dan Hans menangis bersama. Erika bahkan tidak menahan - nahan lagi air matanya. Sering sekali kejujuran itu tidak memberi jalan keluar tetapi hanya menyakiti kedua belah pihak. Hans terluka karena merasa harapannya untuk mendapat maaf sudah pupus. Erika kembali terluka karena mengingat kembali bagaimana melelahkannya hari - hari dimana dia berjuang menguak semua keanehan Hans.


"Kalau kamu sudah memutuskan, beritahu aku. Secepatnya kita akan berpisah dan aku yang akan menjelaskan pada anak - anak. Aku tidak mau kamu tertekan saat bersamaku." kata Hans dengan berat hati.


"Berjanjilah." tuntut Erika. Bibir Hans terlihat bergetar.


"Aku berjanji." ucap Hans dengan suara serak.

__ADS_1


Mereka masih tidur dalam kamar yang sama. Tetapi Hans tidur di atas sofa, tidak di sisi Erika lagi. Erika belum bisa memutuskan dan dia masih tetap tak tahu apa keinginan hatinya. Tapi begini lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya Erika sudah mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Dan juga mendengar Hans akan menyetujui apapun keputusannya. Yang terpenting adalah kapan pun Erika memutuskan, Hans akan mengabulkannya.




Beberapa luka akan sembuh lebih cepat apabila seseorang itu terus bergerak. Tak ada luka yang tak berbekas, tapi ada cinta yang bisa menghapus setiap rasa sakit.


Keesokannya Hans tak membiarkan Erika sendiri, termenung dan terus mengingat hal yang menyakiti hatinya. Hans yang telah membuat luka itu, maka dia pula yang akan mengobatinya. Dan cara terbaik untuk menunjukkan penyesalan adalah dengan perbuatan.


Hans sudah memutuskan mengambil cuti beberapa saat untuk menemani Erika dan mengembalikan hari - hari yang sempat hilang bersama anak - anak. Dan anak - anak juga seolah - olah memahami apa yang terjadi pada kedua orang tua mereka. Mereka benar - benar patuh dan bekerja sama dengan baik, termasuk Aaron yang tak pernah sekali pun rewel.


Erika sudah menyerahkan sepenuhnya pekerjaan online-nya kepada Kirana. Saat ini fokus Hans dan Erika adalah menyenangkan hati anak - anak.


Dirumah, mereka menikmati es krim kesukaan masing - masing sambil menonton film favorit anak - anak. Aaron dibiarkan berguling - guling dikarpet bulu di lantai ruang keluarga.


Saat makan malam, Abbey dan Manda bersorak senang karena Erika memasakkan makanan kesukaan mereka. Hans ikut mengucapkan terima kasih pada Erika. Abbey dan Manda sangat senang sekali saat Erika, sambil memangku Aaron, menemani mereka berbincang sebelum tidur.


Setelahnya Abbey dan Manda membantu Hans mencuci mobil. Meski bisa saja mereka membawa ke car wash, tapi mencuci sendiri adalah pilihan terbaik di family time seperti ini. Lagipula, Abbey dan Manda bukannya mencuci mobil, mereka malah bermain air bersama Hans. Aaron melonjak - lonjak dalam gendongan Erika sambil sesekali memekik girang. Setiap kali air tak sengaja memercik kearahnya, dia juga akan terkikik. Tidak masalah mobil yang dicuci bersih atau tidaknya, tapi bonding yang terbentuk diantara mereka lebih penting.


*Bonding adalah ikatan emosional yang terjalin dengan baik.


"Di rumah ini, jangan sampai ada yang membuat Mommy sedih lagi." celetuk Abbey saat mereka sudah berganti baju dan kembali berkumpul diruang tengah.


"Kalau Mommy pergi, kita pasti tidak akan seperti sekarang ini." tambah Manda sambil bergelanyut manja ke Erika.


Hans meletakkan pantatnya di sofa, dia terdiam sambil memandang anak - anaknya.

__ADS_1


"Sudah... sudah, ayo makan! Apa kalian tidak lapar?" Erika berusaha mengalihkan perhatian anak - anak.


"Tidak mau makan. Mau minum dingin." ucap Abbey sambil mengeluarkan lidahnya. Manda dengan segera meniru dengan menjulurkan lidah sambil tersengal - sengal. Aaron tertawa terkikik karena mengira Kakak - kakak sedang menggoda dirinya.


"Mommy ada es campur. Siapa yang mau?"


Erika.


"Mauuuu...." jawab Abbey, Manda dan Hans serentak. Lima menit kemudian Erika sudah kembali sambil membawa nampan berisi empat mangkuk es campur dan satu gelas jus buah untuk Aaron. Serentak mereka duduk dan menerima mangkuk masing - masing. Bergantian mereka berterima kasih pada Erika.


"Sudah, habiskan esnya. Jangan bicara lagi." ucap Erika sambil menyuapi Aaron.


Melihat kuah es mengalir di dagu Manda, Erika mengambil tissue dan menyekanya.


"Seperti anak kecil saja." ledek Abbey kepada adiknya.


Manda tersenyum malu lalu melihat ke arah Erika, Abbey, Aaron dan Hans. Dia meletakkan mangkuk esnya ke atas meja, mengambil tissue bersih dan mendekati Hans. Dengan tissue itu dia menyeka mulut Hans.


"Pelan - pelan makannya Daddy. Jangan seperti anak kecil." ucapnya bangga.


Spontan Erika tertawa geli melihat tingkah Manda.


"Mommy, apa kamu tak mau mengusap untuk Daddy?" tanya Abbey.


"Eh?"


Hans dan Erika menoleh satu sama lain, dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

__ADS_1


Hadiah terbaik untuk anak - anak adalah melihat kedua orang tuanya saling mencintai.


Sampai jumpa di episode berikutnya...


__ADS_2