
"Tidak. Clara bilang Ibu Erika belum sadar dan masih diruang perawatan. Jadi kami ramai ramai dinner dulu sebelum kemari"
"O'ya Clara. Ini makanan pesananmu. Tadi kaubilang sudah lapar sekali." Salah seorang staff menyodorkan sebuah kotak makanan dengan nama restaurant tertentu.
Hati Erika mencelos.
"Kak Hans, semuanya, aku pulang dulu." pamit Clara.
"Baru datang, kok langsung pulang?"
Pembawaan Erika begitu tenang saat bertanya pada Clara, hingga tak seorang pun tau apa yang bergejolak di dalam hatinya. Susah payah Erika menekan semua pertanyaan yang sudah siap meluncur dari mulutnya. Tapi, Hans menyadari ada yang tak biasa dari sorot mata Erika.
"Aku sudah dari tadi disini Kak Rika. Menemani kak Hans yang senewen karena kak Rika tak juga sadar. Kasian kan kak Hans kalau sendiri?"
OH!! Hati Erika seperti diremas mendengar kata - kata Clara.
"O'ya? Terima kasih kalau begitu, pulanglah." usir Erika secara tersirat.
Hans menyadari, Erika berpura - pura semua baik - baik saja.
*****
Dua hari beristirahat dirumah sakit, sekarang tubuh Erika sudah bisa menyesuaikan diri. Aktivitas sehari - hari asalkan tak terlalu berat, sudah bisa dikerjakan sendiri. Tibalah waktunya pulang ke rumah.
"Ini bukan jalan pulang ke rumah, Kak" kata Erika sambil mengamati jalanan yang dilaluinya. Sikecil tertidur nyaman di pangkuan Erika.
"Aku punya kejutan untukmu. Tunggu saja." kata Hans berteka teki.
Perjalanan mereka menuju ke daerah perumahan mewah yang familiar di ingatan Erika. Jalanan menuju rumah Johan dan Merry. Apa yang akan dilakukan oleh Hans disana?
Oh, ternyata mereka tak berhenti di rumah Johan dan Merry.
"Kita mau kemana? Rumah kak Johan ada di depan sana."
Mereka berhenti disebuah rumah model minimalis warna putih, tak jauh dari rumah Johan. Bertingkat dua dengan ukuran dua kali lebih besar dari rumah mereka. Halamannya sangat asri dengan berbagai tanaman dan bunga. Ada sebuah mobil yang sangat dikenal Erika, berhenti didepan rumah itu, mobil Johan.
__ADS_1
"Apakah kak Johan dan istrinya pindah kesini? Kenapa mereka tak memberitahuku?"
Hans berhenti dan memarkir mobil di samping mobil itu. Disamping rumah itu ternyata ada sebuah bangunan kecil dengan warna pastel, nampaknya sebuah toko. Ada papan nama terpasang di atas pintu kaca toko itu "Mai Shop", nama online shop Erika.
"Apa ini kak Hans?" Erika menoleh.
"Rumah kita yang lama sudah tak cukup lagi untuk menampung kita berlima. Mulai hari ini, kita akan tinggal disini." Hans keluar dari mobil, membuka pintu dan mengambil Baby Aroon lalu menggendongnya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya digunakan untuk membantu Erika turun dari mobil.
"Welcome home Mommy and baby" Abbey dan Manda menghambur menyambut Erika datang.
Ah, Erika begitu tercengang memperhatikan rumah yang ada dihadapannya sampai tak memperhatikan kedua anak gadisnya sudah datang menghampiri. Erika memeluk dan mencium mereka dengan hangat.
"Welcome home?" Erika bertanya pada Hans.
"Yup! Surprise!" Hans tersenyum lebar.
Memang benar, rumah ini adalah rumah yang diimpikan Erika. Setiap kali setelah selesai mengunjungi Johan dan Merry di perumahan mewah itu, mereka memang selalu berkeliling melihat - lihat. Kerapkali Erika berkhayal akan memiliki salah satu dari rumah yang ada disana. Erika pun pernah berkata suatu hari ingin tinggal didalam rumah ini. Rumah yang ukurannya tidak terlalu besar dibanding rumah - rumah lain disekitarnya.
Namun cukup besar bagi Erika. Ditambah sebuah taman dihalamannya. Erika sangat menyukainya. Impiannya adalah mempunyai rumah dengan halaman yang asri. Disore hari sambil menunggu Hans pulang, Erika akan duduk sambil minum teh bersama anak - anaknya atau membaca novel sambil menikmati angin sore. Tapi, karena sudah ada sikecil yang baru lahir, dia akan menikmati sorenya bersama Aroon juga.
Aku menyukainya, sangat menyukainya malah. Sebelumnya aku memang sangat menginginkannya. Konyolnya, begitu memasuki rumah ini , aku merasa takut. Aku merasa rumah ini terlalu besar sekarang. Aku kuatir tak bisa menemukan kak Hans dirumah ini. Sepertinya, space dirumah ini justru akan membuat kita berjauhan, kak Hans."
"Selamat pulang ke rumah, Sayang. Apa kamu sudah benar - benar pulih?" suara berat dan dalam menyapanya, suara Johan. Johan menghampiri Erika dan memeluknya sesaat.
Dari mobil Johan yang terparkir di samping rumah tadi, Erika sebenarnya sudah menduganya. Pasti ada andil Johan dibalik rumah baru ini.
Dibelakang Johan dan Merry ada asisten rumah tangga yang selama ini membantu Erika dirumah. Juga ada seorang wanita paruh baya mengenakan baju suster.
"Dia Suster Mimi, yang akan membantumu menjaga Aroon." Merry menjelaskan.
Suster dihadapannya mengangguk sopan dan meminta ijin untuk membawa Aroon ke dalam. Abbey dan Manda yang begitu antusias dengan adik baru mereka langsung mengekor.
"Ini berlebihan kak Merry. Aku bisa menjaganya sendiri, lagipula Abbey dan Manda sudah besar. Mereka bisa membantuku."
"Tiga orang anak, online shop, lalu membantu mengurus gaji dan bonus karyawan perusahaan. Itu sangat merepotkan dan menyita waktu. Suster itu bersertifikat dan aku sudah memastikan track recordnya. Kalian bisa menitipkan padanya tanpa rasa was was. Meski sudah lama menikah, tak ada salahnya sekali waktu pergi kencan berdua. Supaya kalian terus merasa dekat. Dan tak ada yang bisa mencari celah." Merry berhenti sejenak.
__ADS_1
"Take your time untuk perawatan Erika. Pria selalu menyukai wanita yang tampil cantik. Sekarang uang bukan masalah kan?" lanjutnya kemudian.
Nasehat Merry ditujukan kepada Erika, tapi Hans yang mendengarnya merasa tersindir.
Disaat yang sama perasaan Erika mengharu biru. Dia tak pernah bercerita apapun pada Merry, tapi sepertinya Merry bisa membaca kegundahannya. Sekuat tenaga, Erika menahan jangan sampai air mata haru keluar dari matanya. Pandangannya dialihkannya ke interior didalam rumah itu.
Ternyata semua perabot dan hiasan dinding sudah lengkap. Wallpaper soft melapisi dinding ruang keluarga menimbulkan rasa hangat dan nyaman saat memasuki ruangan itu. TV besar, sofa dan karpet yang empuk melapisi lantai ruangan ini, akan membuat siapapun betah menghabiskan waktunya disana.
"Ini terlalu mewah...." gumam Erika.
"Berterima kasihlah sama kak Johan, Moms. Dia yang membantu sehingga semua proses begitu cepat dan tepat waktu." sahut Hans.
"Aku hanya ingin kamu merasa aman dan nyaman. Kamu tau kan rumah kami ada didekat sini, kapanpun kamu membutuhkan, datanglah." Johan menjelaskan karena tak mau Erika merasa dirinya ikut campur. Selama ini, Erika memang tertutup dengan siapapun mengenai rumah tangganya.
"Ayo sambil makan, Moms. Ibu menyusui harus makan banyak." Hans menyodorkan snack dan juice yang dimintanya dari ART.
Perasaan Hans tak enak. Hati kecilnya seperti terus diperingatkan. Bermula dari Abbey, sekarang Merry dan Johan. Batinnya bergejolak. Apakah sikap Clara begitu mencolok? Sampai Johan dan Merry yang jarang dikantor pun ikut merasakan.
"Sejauh ini, kulihat kamu merawat dan menjaga adikku dengan baik. Hanya satu pesanku padamu, Hans. Kalau suatu hari ternyata kamu sudah tak menyukainya, tolong kembalikan dia baik - baik padaku. Jangan sakiti hatinya, dan juga tubuhnya."
Belum hilang rasa tak enak Hans karena perkataan Merry. Sekarang disusul kata - kata Johan yang begitu lugas, dan kali ini jelas sekali ditujukan padanya.
Pelan, tapi menusuk dan langsung menuju jantung Hans.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1