Your Officemate

Your Officemate
23. Bebebku


__ADS_3

Setelah Erika melahirkan, Hans memilih untuk work from home selama beberapa saat. Meskipun ada babysitter, Hans tetap membantu disela - sela kesibukannya. Apalagi disaat jam kerja usai, Hans akan mengambil alih segalanya.


Dengan cekatan dia mengganti popok sikecil bila buang air, atau menenangkannya bila menangis. Bahkan di malam hari, Hans meletakkan si kecil di depan dada Erika untuk minum, terutama bila mata Erika sudah terlalu berat untuk dibuka. Atau terkadang langsung memberinya ASI dari stock di kulkas.


Bukan karena Hans tak percaya pada baby sitter, melainkan karena dia memang menikmati saat - saat bersama jagoan kecilnya. Lagipula, baby sitter sudah bekerja keras membantu Erika di siang hari. Hans membiarkannya beristirahat dengan baik di malam hari, supaya besoknya dia bisa bekerja dengan stamina yang bagus.


Hans hanya sesekali ke kantor untuk urusan urgent, itu pun langsung pulang begitu urusan selesai. Selebihnya semua bisa ditangani Jennifer dengan baik. Dan Clara juga tentunya masih berperan baik dalam omset perusahaan.


Ngomong - ngomong soal Clara, dia jarang mengganggu Hans saat Hans Work from Home. Bahkan bisa dibilang tak pernah muncul. Tak ada telpon, atau pun pesan darinya. Kebanyakan Hans langsung berhubungan dengan Jennifer. Erika pun tak ambil pusing, baginya semakin jarang Clara muncul maka emosi dan pikiran Erika makin baik.


*****


Dikecupnya lembut dahi Erika saat dia sedang tertidur lelap di samping sang jagoan. Ada rasa malu terselip dihati Hans sejak sentilan dari Johan. Kakak laki - laki Erika memang tak pernah ikut campur urusan rumah tangga adiknya. Tapi Hans tau, bagaimana Johan diam - diam selalu mengawasi Erika.


Hingga saat ini, Hans yakin dirinya tak salah memilih. Erika mau ikut kemana pun dirinya pergi. Mulai dari kost, rumah kontrakan, rumah kecil hingga rumah mereka saat ini.


Bahkan dengan latar belakang keluarga yang bisa dibilang mampu dan berkecukupan, Erika bukanlah orang yang boros. Uang harian yang diberikan pada Hans selalu dikembalikan, setiap kali ada sisa. Bahkan dia mau belajar memasak. Pengeluaran pun bisa ditekan.


Ingatan tentang apa yang telah dilalui Erika bersamanya, seakan menampar Hans berulang - ulang. Dia akan menjadi sangat tak tahu diri, apabila mengkhianati istrinya.


Tak mau berlama - lama membuat istrinya merasa insecure, dan ingin segera lepas dari godaan Clara. Hans memutuskan untuk segera membereskan urusan mutasi Clara.


Clara akan dipindahkan ke kantor cabang, namun memang masih di kota yang sama. Setidaknya, perusahaan tak kehilangan karyawan berprestasi. Disisi lain, dirinya pun tak perlu merasa was was akan jatuh dalam godaan Clara. Selain itu, sudah tak ada alasan bagi Clara untuk berhubungan lagi dengan dirinya. Dikantor cabang, barang yang dipasarkan pun berbeda. Clara sudah tak perlu lagi meminta persetujuan harga atau diskusi apapun dengannya. Disana sudah ada orang yang menangani segala urusan dengan baik.


Kemungkinan mereka bertemu hanyalah saat acara tahunan dan office gathering. Dan saat itu, dia bisa membawa Erika bersamanya. Yang paling penting, sudah tak ada lagi kesempatan berdua diruangan Hans atau kesempatan visit berdua ke client. Bagi Hans, ini adalah win win solution.


Hal pertama yang dilakukan Hans saat masuk kerja adalah memanggil Jennifer. Dia ingin memastikan segala sesuatu tetap berjalan lancar sepeninggal Clara. Baik dari sisi kesiapan Jennifer untuk mengambil alih tugas Clara, maupun sisi penjualan dan rencana akuisisi para customer.


"Apa kamu bisa berhubungan baik dengan para customer VIP?" tanya Hans pada Jennifer pagi itu.


Hans memang ingin Jennifer mengambil hati semua customer yang ditangani Clara demi kelanjutan hubungan kerja berikutnya. Pada kenyataannya, ada customer tertentu yang kadang pilih - pilih marketing. Atau kadang kala mereka menolak saat digantikan dengan marketing baru.


"Saya sudah mulai mengenal mereka dengan baik. Beberapa orderan dan PO barang sudah mulai langsung order ke saya. Tidak melalui Kak Clara lagi." Jennifer menghentikan sejenak ceritanya.


"Hmmmm... maaf Pak, tapi ada beberapa yang rasanya tidak bisa semudah seperti itu untuk mendekatinya secara profesional." lanjutnya sedikit ragu - ragu untuk menyampaikannya.


Hans menatap Jennifer sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Ada beberapa yang sepertinya dekat dengan Kak Clara secara personal." jawab Jennifer hati - hati.


Jennifer tak mau dianggap mengadu ataupun menjilat atau mempunyai tujuan - tujuan tertentu. Apalagi disebut memfitnah.


Hans menyandarkan punggungnya dikursi sambil mengetuk - ketukkan jarinya. Dia tahu betul apa maksud Jennifer, lebih - lebih dia sendiri merasakan bagaimana agresifnya Clara.


"Berapa persen customer yang seperti itu?"


"Sebenarnya hanya 2 orang Pak. Tapi transaksi mereka lebih besar dibanding yang lain."


...............................................................................


Srettttt...


Suara pintu dibuka dan disusul dengan bunyi ketukan heels bertempo cepat memasuki ruangan.


"Kak Hans, kenapa kamu tak bilang kalau hari ini sudah mulai kerja?


Ada apa dengan ponselmu, kenapa selalu mati dan tak bisa dihubungi?"


"Trus kenapa kamu panggil Jennifer?"


"Bukannya seharusnya kamu mencariku lebih dahulu?"


Tanpa mengucapkan salam atau basa basi apapun, Clara langsung memberondong Hans dengan pertanyaan. Raut wajahnya nampak begitu kesal. Lalu diliriknya Jennifer yang memandangnya heran dengan mulut setengah terbuka.


Hans memijat pelipisnya. Di hari pertama masuk kerja, sepertinya urat syaraf di kepala Hans akan langsung bekerja keras.


"Kenapa kamu tak bilang padaku kalau mau kemari? Bukankah sudah kuberitahu, istri pak Hans itu pencemburu. Jangan sampai mencari masalah dengannya." tegur Clara pada Jennifer.


Jennifer hanya bisa menelan ludah. Sungguh pikirannya mendadak tak sinkron. Kenapa Clara selalu berkata istri atasannya akan marah, ini dan itu. Tapi kenyataan yang dilihatnya, Clara lebih barbar daripada Erika. Bahkan, terkesan tak ada sopan santun. Tapi siapalah dirinya, hanya staff baru. Lebih baik tidak banyak komentar. Saat ini yang perlu dilakukan hanyalah patuh pada perintah Boss. Bukan pada Clara.


"Pertama, aku tak perlu menjelaskan kepada siapapun kapan aku datang dan pergi dari kantor ini. Kedua, aku memang mau fokus kepada istri dan keluargaku. Terakhir, jangan berlebihan dalam bersikap. Aku tak mau membuat orang lain salah paham." kata Hans tegas.


Hans tak suka melihat pandangan Clara ke Jennifer yang begitu mengintimidasi. PR Hans berikutnya adalah melatih Jennifer untuk bisa mengambil sikap saat sedang berhadapan dengan Clara.

__ADS_1


"Maksudmu, aku cemburu pada Jennifer?" Clara semakin menyolot.


"Tak ada yang berkata seperti itu. Aku sedang ada pembicaraan penting dengan Jen. Keluarlah!"


"Jen? That sounds so sweet... " dengus Clara dalam hati.


"Kalau pembicaraannya mengenai proyek, aku mau ikut. Aku yang menanganinya lebih dulu. Kenapa kamu malah diskusi sama orang lain?"


Hans mengepalkan tangannya karena kesal. Kepalanya semakin berdenyut. Darah serasa naik ke kepala melihat tingkah Clara yang tak bisa diatur.


Tak sadar, Jennifer sampai menahan napas. Dia tak menyangka Clara berani bicara begitu dihadapan seorang pimpinan.


"Clara, keluarlah!" perintah Hans.


"Ayo, Jen." Clara langsung menarik tangan Jennifer, dan mengajaknya keluar.


"Tapi Pak Hans belum mengijinkanku..."


"Aku hanya tak mau istrinya marah sama kita." bisik Clara. Kata - katanya sungguh tak logis sama sekali.


Tangannya terus menarik tangan Jennifer dan melangkah menuju pintu.


"STOP! KAMU ITU SIAPA? CLARA ADELIA!" suara Hans menggelegar. Tingkah Clara benar - benar membuatnya frustasi.


"Kamu itu Bebebku!" balas Clara lantang tanpa pikir panjang.


Sampai jumpa di episode selanjutnya...


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.

__ADS_1


"


__ADS_2