Your Officemate

Your Officemate
9. Cemburu?


__ADS_3

"Terima kasih kepada partnerku, Kak Hans Sanjaya, yang selalu ada bersamaku, mensupport aku susah maupun senang. Dan sebagai bentuk apresiasi, saya berharap beliau berkenan maju untuk mewakili saya menerima penghargaan dan berfoto bersama. Karena penghargaan ini bukan milik saya saja. Tapi milik kami karena kita adalah teamwork." Kata Clara.


Hans bergeming sesaat ketika mendengarnya. Sudut matanya menangkap ekspresi wajah Erika yang mendadak berubah menjadi datar. Seketika alarm tanda bahaya langsung berbunyi di otak Hans sepertinya akan ada badai menghantamnya hari ini.


Selanjutnya, pembawa acara bertanya "Bagaimana Pak Hans Sanjaya? Apakah anda bersedia maju ke podium?"


Tanpa sadar Erika menahan napas menunggu reaksi Hans.


Exactly! Hans berdiri.


"Sebentar ya Moms." Hans menunduk dan mengecup lembut punggung tangan Erika sebelum akhirnya dia berjalan menuju ke podium.


Erika tak menjawab. Instingnya sebagai seorang istri terus mengatakan ada yang tidak beres dengan wanita muda itu.


Jantung Erika berdebar tak karuan menahan emosi. Tahan Erika, Tahan. Katanya berulang - ulang dalam hati. Erika berusaha untuk terus menjaga kewarasannya. Ia tak mau sampai membuat keributan dan mempermalukan dirinya sendiri didepan orang banyak.


Biar bagaimanapun, logika harus lebih didahulukan daripada perasaan. Erika menghibur dirinya.


Oke. Logikanya adalah semua orang tahu kalau Erika adalah istri Hans. Clara bukanlah siapa - siapa, hanya salah seorang penerima penghargaan. Lalu, maju ke depan dan menemani Clara untuk menerima penghargaan hanyalah sebuah formalitas. Hans tak mungkin menolak permintaan foto di depan umum. Toh hanya sekedar foto berdua sebagai partner, sebagai atasan dan bawahan.


Ok, hanya berfoto. Foto sebagai teamwork. Erika terus menyakinkan diri meski, hatinya mencibir.


Lagipula, ini bukan pertama kali Hans foto berdua dengan seorang wanita.


Ah, apapun itu Erika sekarang tau, masalahnya bukan pada scene berfotonya. Tapi dengan siapa Hans berfoto. Dan Erika memutuskan tak akan menyukai wanita itu. Blacklist.


Erika tak tahan lagi melihat senyum lebar Clara saat Hans sudah sampai di panggung.


Erika berdiri dan berusaha menguasai dirinya.


"Abbey, Manda, Mommy ke toilet sebentar. Tunggu disini sampai Daddy atau Mommy datang." pesan Erika pada anak - anaknya.


Anak - anaknya seperti biasa mengangguk patuh.


Merry yang semeja dengan mereka tampak melihat Erika dengan raut menyelidik.


Dia sempat melihat perubahan wajah Erika, saat Hans berdiri dan maju ke depan. Bahkan Merry juga melihat bagaimana Erika mengepalkan tangan kuat - kuat seperti menahan sesuatu yang hampir meledak. Tak biasanya Erika yang selalu tenang dan lembut bersikap seperti itu.


Erika melangkah dan langsung disusul oleh Merry.


"Rika, yuk bareng. Aku juga mau ke toilet" Merry meraih tangan Erika dan menggenggamnya lembut. Tangan Erika terasa dingin.

__ADS_1


Ah, Erika sungguh tak ingin siapapun tahu betapa kacaunya perasaanya saat ini. Betapa malunya dia, apabila ada yang mengetahui dia emosi hanya karena seseorang mau berfoto dengan suaminya.


Hanya karena sebuah foto! Dan dirinya bisa emosi seperti ini. Oh, sungguh tak masuk akal.


Seolah mengerti apa yang dirasakan Erika, Merry bertanya lembut dan hati - hati.


"Siapa Clara? Apa pikiranmu tentang dia?"


Sebagai istri Direktur Utama, Merry memang tak mengenal satu per satu karyawan suaminya. Dia hanya muncul di event - event tertentu atau saat ingin berkunjung ke suaminya. Itu pun dia langsung menuju ruangan Johan.


"Ah... bukan siapa - siapa Kak Merry. Dia hanya seorang staff biasa." Erika berusaha menjawab setenang mungkin, sambil merapikan rambutnya didepan cermin. Namun Merry bisa merasakan suara Erika yang sedikit bergetar.


"Percayalah, apa yang kamu lihat tidak seburuk yang kamu pikirkan." Merry mencoba menanamkan pikiran positif pada Erika, meski dia tak tahu pasti apa yang ada dipikiran Erika. Erika terganggu dengan kehadiran Clara.


Erika diam, pandangannya menatap kearah cermin.


Merry menghela napas, dia tahu kalau dari dulu Erika begitu tertutup dengan kehidupan pribadinya.


"Baiklah. Katakan saja kalau kamu membutuhkan sesuatu. Kamu harus tau, kak Johanmu dan aku akan selalu bersamamu."


Selesai dengan urusan mereka di toilet, Erika dan Merry kembali ke ruang utama. Ternyata Hans sudah menunggu Erika didepan pintu utama.


"Oh, kamu disini Hans?" tanya Merry dengan anggun.


"Baiklah. Aku kembali ke suamiku. Jaga Erika baik - baik, suamiku sangat menyayanginya." Ujar Merry lagi, tangannya mengusap punggung Erika dengan penuh sayang.


Hans menangkap adanya sebuah ancaman, meski kata - kata itu dilontarkan dengan suara lembut dan bibir yang tersenyum. Setelah itu, Merry pun langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Hans.


Oh, ternyata drama belum usai bagi Erika. Wanita si*l*n itu datang menghampiri Erika dan Hans. Ingin rasanya Erika melempar sesuatu pada wajah yang tersenyum tanpa dosa dihadapannya.


"Kak Hans, kak Rika... sudah mau pulang?" tanyanya ramah.


"Kita jemput Abbey dan Manda dulu, setelah itu pulang" Kata Hans, entah kalimat itu ditujukan kepada Erika atau Clara.


"Kak Rika, tunggu" Clara memegang tangan Erika saat Erika hendak melangkah mengikuti Hans.


"Ya?" Erika menjawab dengan tenang dan memasang senyum terbaiknya. Dia tak mau Clara merasa menang karena berhasil merusak suasana hatinya. Percayalah, sangat susah bersikap anggun saat perasaan hati sedang kacau.


"Hmmm... Kak Rika cemburu ya? Maaf ya Kak. Aku tidak ada niat apapun." Wajah Clara nampak sendu dan bersalah.


"Perlu Kak Rika tau ya, kak Hans itu bukan tipeku. Aku tak suka cowok tua. Aku sukanya tuh yang muda, keren, gaul dan tidak pelit seperti kak Hans." lanjut Erika.

__ADS_1


"Pelit? Apa yang pernah diminta oleh Clara sehingga berkesimpulan Kak Hans pelit?" (Erika)


"Jadi kak Rika..., kakak tak perlu cemburu cemburu lagi sama aku. Kami ini hanya partner kerja yang sangat cocok. Kak Hans tidak akan bisa maju kalau tak ada aku. Kalau tidak masuk target, kak Rika juga tak bisa belanja. Iya kan?"


"Cih... sangat cocok? Tidak bisa belanja?" Hati Erika begitu ramai mencaci maki meski wajahnya tampak tenang mendengarkan sambil tersenyum manis.


"Iya kan Kak? Jadi bolehkan aku berteman dengan Kak Hans?" Clara kali ini mencoba merangkul bahu Erika.


Erika sudah waspada dan menggeser tubuhnya. Dia tak mau tubuhnya disentuh oleh tangan wanita beracun itu.


Palsu! Itulah yang dikatakan oleh hati nurani Erika kepada Clara.


"Ayolah..., kak Hans dan aku hanya berteman Kak Rika. Kasihan kan kak Hans kalau kak Rika marah - marah?"


"Kenapa aku harus marah?"


Setelah sekian lama hanya mendengarkan, akhirnya Erika menjawab dengan sebuah pertanyaan.


Wajahnya tetap tersenyum, tapi pandangannya begitu dalam.


"Eeem...ya marah - marah karena cemburu melihatku...berteman dengan kak Hans."


Clara sedikit gentar merasakan ketenangan Erika, sampai - sampai dia lupa mau berkata apa.


"Kenapa harus cemburu?" tanya Erika lagi.


"Apa yang kamu lakukan pada suamiku sampai aku harus cemburu?" cecar Erika masih dengan segenap kharisma dan keanggunannya.


"Eh?" Clara nampak tak bisa menjawab.


Ya benar. Apa yang dilakukan Clara sampai merasa dicemburui?


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya tetap semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap kali ada update baru.


__ADS_2