Your Officemate

Your Officemate
27. Ada Apa Dengan Hans?


__ADS_3

Dihari yang sama dimana Hans sedang bertemu dengan Mr. Lee...ehm dan juga Clara.


Seperti biasa, setelah tutup toko Erika membaca laporan harian pembelian di online shopnya, yang sekarang berada di samping rumah.


"Daddy tadi pagi janji kalau hari ini mau latihan band, tapi kok belum datang juga." Abbey tahu - tahu datang sambil mengomel, dengan tangan bersedekap.


Hans dan Abbey memang sama - sama hobby main drum. Abbey, yang sedikit tomboy, benar - benar serius ingin mempelajarinya. Hans yang juga menyukai alat musik ini, mensupport anaknya. Sejak pertama Abbey kursus, Hans sengaja menemani dengan tujuan sekalian belajar. Demi memfasilitasi Abbey, Hans juga menyediakan ruang kedap suara dirumah yang saat ini mereka tinggali.


"Janji jam berapa, Nak?" Erika menoleh sekilas, sambil tangannya menekan beberapa tombol sebelum mematikan laptopnya.


Erika menyelesaikan pekerjaannya saat itu juga karena harus menyiapkan makan malam untuk suaminya. Hari ini Abbey dan Manda sengaja makan duluan karena durasi makan mereka lebih lama dari Hans. Rencananya Abbey akan berlatih drum dan Manda berlatih keyboard di studio yang mereka sewa bersama pelatih.


"Katanya sih janji sama Mr. Andy jam 7 malam, Mom. Setelah Daddy makan malam." Abbey berkata putus asa, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa kecil dekat Erika duduk.


Erika melirik ke ponselnya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 18.20 tapi Hans belum ada tanda - tanda akan pulang. Pantas saja Abbey sudah ribut, karena setidaknya Hans butuh waktu untuk mandi dan makan. Ditambah perjalanan menuju tempat latihan setidaknya membutuhkan waktu 20 menit. Itu pun kalau tidak macet. Sudah pasti hari ini mereka terlambat.


"Telpon dong, tanya sampai mana." saran Erika pada Abbey.


"Ya itulah, Mommy. Kenapa Abbey kesini? Karena Daddy tidak menjawab telpon dari Abbey. Ponselnya tidak aktif. Trus, Abbey kirim pesan. Eeeh...malah centang satu. Kesel kan?" ujar Abbey panjang lebar.


"Trus Mommy harus gimana nih?" tanya Erika.


"Mau bagaimana lagi? Abbey tadi ngomong kalau ponsel Daddy-nya tidak aktif. Lalu, apa mungkin begitu dirinya menghubungi, tahu - tahu ponselnya langsung aktif?" gumam Erika dalam hati.


"iiiiih.... Mommy... kan Daddy selalu telpon Mommy kalau pulang kerja. Jadi Mommy harusnya tahu dong, Daddy sampai mana sekarang." kata Abbey sewot karena nampaknya si Mommy tak berbuat apa - apa untuknya.


Erika sebenarnya ingin tertawa melihat wajah Abbey yang lucu ketika sedang uring - uringan. Namun, hati Erika merasa seperti diingatkan akan sesuatu. Betul kata Abbey tadi. Biasnya Hans selalu menelepon sebelum perjalanan pulang ke rumah. Sayangnya, Hans belum menghubunginya sore ini.

__ADS_1


"Ya....ya....Mommy telpon Daddy sekarang."


Hasilnya? Benar sekali. Sesuai omongan Abbey, ponsel Hans tidak aktif. Erika langsung membereskan barang - barangnya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ditepisnya perasaan "aneh" yang pelan - pelan merayap kedalam hatinya.


"Begini saja, sekarang kita siap - siap. Kalau Daddy tak datang, kita berangkat sendiri dulu. Biar Daddy menyusul." Erika memberikan solusi.


Tak sampai sepuluh menit, mereka semua sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil Erika. Termasuk jagoan kecil sudah tampan digendongan suster Mimi.


TIN... TIN...


Suara klakson mobil Hans. Ternyata yang ditunggu sudah di depan rumah. Erika bergegas menghampiri. Begitu kaca mobil diturunkan, terlihat raut wajah Hans yang tak menyenangkan. Alisnya bahkan berkerut, dan wajahnya kesal. Kenapa Hans terlihat sedang marah?


"Masuk!!" perintah Hans melalui jendela mobil.


"Daddy, kenapa lama?" protes Abbey dan Manda saat sudah berada didepan Daddynya.


"CEPAT MASUK!!" bentak Hans.


Melihat mood Hans yang buruk, Erika memutuskan untuk batal mengajak Aroon. Kuatir Aroon mendadak rewel dijalan. Setelah menitipkan si jagoan ke suster Mimi, Erika cepat - cepat menyusul masuk ke mobil.


Suasana dimobil begitu tegang. Tak ada pembicaraan atau canda seperti biasanya.


"Kak Hans tidak lapar?" Erika bertanya hati - hati, berharap bisa mengurai situasi yang tak enak.


"Tidak." jawab Hans singkat.


"Dia yang terlambat datang, dia pula yang marah. Sungguh aneh" Erika mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Erika menoleh ke arah anak - anaknya yang masih tetap duduk diam di kursi belakang. Tersenyum untuk menenangkan hati mereka. Kasihan Abbey dan Manda.


"Kak Hans mau makan?" Erika bertanya sekali lagi, dengan pertanyaan yang sebenarnya tak jauh berbeda.


"Perutku tak enak. Aku tak makan malam hari ini." Hans berkata sambil memegang perutnya.


Lagi - lagi Erika harus berpikir keras, tak biasanya Hans melewatkan makan malam. Dia selalu menjaga kesehatannya, dan mewajibkan siapapun makan teratur dirumah.


"Apa kamu sakit?" Wajah Hans yang keruh, membuat Erika ragu - ragu untuk bertanya. Tapi, sebagai seorang istri, Erika merasa harus bertanya.


"Diamlah! Kita sudah telat. Tadi ponselku kehabisan batere." Hans asal menjawab pertanyaan Erika, sambil menambah kecepatan mobil.


"Hati - hati, Kak Hans. Tak usah terburu - buru."


Tak ada jawaban. Dan, bukannya mengurangi kecepatan, Hans terus memacu mobilnya makin kencang. Dia menyalip mobil - mobil didepannya seolah ingin melahap apapun dihadapannya. Tak peduli anak - anak yang ketakutan di bangku belakang. Tak juga memikirkan perasaan istri yang kuatir.


Erika hanya bisa memejamkan mata dan berdoa, semoga mereka semua selamat sampai tujuan.


"Kak Hans, kak Hans kenapa emosimu begitu meluap - luap. Ada apa denganmu?"


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment

__ADS_1


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2