
"Aku tak pernah cemburu pada Clara sebelumnya. Dan kalau aku merasa terganggu dengan sikapnya, itu wajar. Tapi, yang lebih menggangguku adalah sikapmu akhir - akhir ini."
Erika berhenti sejenak, ditatapnya mata Hans dalam - dalam seakan ingin menguak sesuatu didalam sana.
"Terutama sikapmu hari ini. Terlebih lagi saat ini. Aku tak menyebut Clara sedikit pun. Kamu sendiri yang mengkaitkan sikapmu dengan Clara." tambah Erika.
Hans tersentak, semua yang dikatakan Erika adalah benar.
"Satu yang perlu kamu ingat, aku tak akan pernah meninggalkanmu, Moms." kata Hans akhirnya setelah diam beberapa saat.
Tangannya meraih tangan Erika, dan mengenggamnya lembut. Mencoba menyampaikan kesungguhan hatinya.
Ah!!! Erika benar - benar tak tahu, bagaimana harus menjelaskan. Semua perasaan bercampur aduk di dadanya. Sejujurnya, dia senang mendengar kata - kata Hans. Tapi, tetap saja sisi hatinya yang lain berkata kalau ada yang berubah pada diri Hans.
Sementara itu, hati kecilnya juga merasa malu, karena mengkaitkan perubahan itu dengan ponsel. Padahal kenyataannya, tak ada aktivitas mencurigakan di ponselnya tadi.
"Aku merasa kamu berbeda." akhirnya Erika berkata jujur, tatapannya sendu.
Hans boleh berpikir apapun tentangnya, yang penting suaminya harus tahu apa yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Hei...hei, ada apa dengan istriku? Apa kamu sedang merajuk?" Hans tak marah, malah tertawa geli.
Kalau sudah begini, Erika jadi merasa bersalah karena mencurigai Hans. Erika menatap Hans, menimbang - nimbang sesaat sebelum akhirnya menceritakan soal cerita Vania.
"Aku tak suka setiap kali dituduh cemburu pada Clara."
Erika berhenti sejenak, menunggu reaksi Hans. Sementara itu, Hans membetulkan posisi duduknya, siap mendengarkan.
"Kemarin Vania datang. Atasan Vania ternyata Mamanya Clara. Dia menggosip kalau aku yang menyebabkan anaknya diberhentikan sepihak. Alasannya karena aku cemburu. Dan si Mama itu menuduhku menekanmu, sehingga kamu tak profesional. Visit keluar kota, outbond, office gathering, karaoke bersama rekan kerja, hang out bersama teman. Tak ada satupun yang kamu ikuti. Semua karena aku yang melarangmu ikut."
"Lalu masalahnya dimana, Moms?" tanya Hans dengan santai.
"Eh?"
Erika tertegun, dia sendiri tak tahu pasti apa yang menyebabkan dirinya insecure. Erika jadi ragu. Semula dia menganggap cerita Vania menandakan sesuatu. Tapi sekarang, Erika merasa dirinya yang terlalu sensitif.
"Clara itu anak orang biasa, menengah keatas. Orang tuanya hanyalah karyawan swasta. Dia anak tunggal, sehingga orang tuanya memanjakannya. Penampilan glamournya itu didapat dari almarhum pacarnya, yang juga memanjakannya."
"Kenapa kak Hans malah bercerita tentang Clara?"
"Semua memanjakannya, mungkin karena itu dia jadi ambisius dan semua yang dia inginkan harus didapat." ujar Hans.
Erika mengerucutkan bibirnya, dia tak mengerti kemana arah cerita suaminya itu. Hans berhenti sejenak. Dia tertawa kecil, melihat wajah istrinya yang menggemaskan. Setelah itu, cerita pun berlanjut.
__ADS_1
"Memang benar aku menolak semua acara yang kamu sebutkan tadi. Clara berkali - kali memaksaku, dan aku memang tak mau. Bukankah kamu harusnya bersyukur suamimu berhasil menolak segala macam ajakan itu?"
Duh! Erika merasa bersalah. Benar kata Hans, bukankah dari cerita Vania jelas - jelas Hans menolak. Lain cerita, kalau Vania bilang Hans pergi bersama Clara. Erika sampai merasa dirinya aneh.
"Sudahlah, Moms. Dia itu hanya anak kecil yang merengek ingin sesuatu ke mamanya."
"Ingin sesuatu?"
Melihat perubahan wajah Erika, Hans langsung memeluknya.
"Aku hanya menganggapnya anak kecil. Setiap kali melihatnya, aku teringat pada Abbey dan Manda."
"Benarkah?" dalam hati Erika masih ada sedikit keraguan.
Hans melirik arloji ditangannya.
"Mommy, ayo pulang."
Melihat Erika yang diam saja, Hans berdiri dan mengulurkan tangannya pada Erika.
"Mommy?" panggil Hans sekali lagi.
"Kak Hans, apa kamu sayang aku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Erika.
"Sudahlah, kalau tak mau menjawab pertanyaanku. Ayo pulang." ajak Erika kemudian.
Melihat Hans yang tak segera menjawab, dan malah balik bertanya, membuat Erika merasa kecewa. Kencan yang diharapkan menyenangkan justru membuat perasaan Erika terombang ambingambing, antara iya dan tidak.
•
•
Setelah pembicaraan di mall, kelakuan Hans nampak normal. Setidaknya, bagi Erika, suaminya sudah tak lagi terlalu fokus pada ponselnya.
Sore itu dihabiskan Hans dengan ngobrol bersama Abbey dan Manda. Saat waktunya Aaron mandi, Hans meminta Suster mempersiapkan perlengkapan mandi Aaron. Lalu, Hans memandikan, dan mendandani Aaron.
Kemudian, Hans juga membantu Erika mempersiapkan potongan buah untuk camilan anak - anaknya. Terakhir, Hans mengajak keluarganya makan malam di rumah makan favorite anak - anak.
Perlakuan Hans yang manis, cukup meredakan swing mood Erika. Hingga malam itu, Erika tertidur nyaman dipelukan suaminya.
•
•
__ADS_1
Rupanya, rasa nyaman itu tak berlangsung lama. Ditengah tirdurnya, Erika merasa ada yang kosong. Lalu, dirabanya tempat tidur. Tak ada siapapun disampingnya. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, lampu tidur juga masih menyala.
Erika menghembuskan napas lega, artinya dia tak kesiangan.
Ups! Tapi mana Hans? Kenapa sepagi ini sudah menghilang dari kamar?
Rasa ngantuk berganti dengan rasa penasaran. Dikenakannya kimono, lalu bergegas keluar kamar. Diedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tak ada Hans. Langkahnya bergerak cepat menuruni tangga, dan berhenti didepan ruang kerja Hans.
Cahaya lampu keluar dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tanpa basa basi, Erika langsung membuka pintu.
"Kak Hans?"
Hans terkejut, menutup laptopnya dan langsung menghampiri Erika.
"Mommy sudah bangun?" tanyanya sambil memeluk Erika.
"Kenapa sepagi ini sudah disini?" Erika langsung melontarkan keheranannya.
"Beberapa hari ini aku bakal sibuk. Ada presentasi, proyek baru dan macam - macam lagi. Mungkin aku juga bakal pulang malam."
"Apa yang kak Hans lakukan disini? Sepagi ini." Erika mengejar Hans dengan pertanyaan lain.
Hans tahu kalau kali ini, Erika tak bisa dialihkan perhatiannya. Mau tak mau, Hans menjawab.
"Aku sedang membuat materi presentasi, Moms. Dan sekarang aku lapar. Bisakah kamu membuatkanku sesuatu?" pinta Hans dengan wajah memelas.
Erika menghela napas, merasa seperti diusir secara halus. Rasanya ingin menolak, dan terang - terangan memprotes.
"Please, Moms. Aku lapar sekali." bujuk Hans.
Serba salah memang, mau tidak meladeni tapi permintaan suami. Mau melayani, tapi rasa janggal itu kembali hadir sepagi ini.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1