
Hans menghembuskan nafasnya, dihempaskannya punggung ke sandaran kursi. Berharap bisa lebih relax. Kepalanya terasa berat.
Seharusnya dia tahu, kalau semua bakal seperti ini. Tak akan semudah itu, Clara membiarkannya bersantai. Yang pasti, hal pertama yang akan dilakukan oleh Clara adalah berusaha mengacaukan penjualan mereka. Lebih tepatnya, mengacaukan pikiran Hans.
Siang ini, terdengar kabar dari salesman yang berangkat keluar kota dan luar pulau bahwa semua customer mereka disana, sudah difollow up oleh Clara. Mereka bahkan berkata sudah memasukkan orderan itu melalui Clara. Dan mungkin, keberangkatan mereka kali ini adalah sia - sia.
Sebenarnya Hans tak takut mengenai hal ini. Toh, dia termasuk salah satu importir terbesar produk yang dipegangnya. Dan saingannya hampir tak ada. Sungguh tak mungkin Clara mengambil orderan itu, lalu melemparnya ke musuhnya. Jelas sekali secara stock maupun harga, Hans sudah menang. Tak mungkin pembeli mereka sebodoh itu. Solusinya pun mudah, mereka hanya perlu menyebarkan ke semua customer bahwa Clara sudah tidak bekerja di perusahaan mereka lagi. And, DONE!!!
Tapi yang menjadi beban pikirannya adalah usaha Clara yang begitu hebat untuk mengacaukan pikirannya. Apa yang membuat Clara sedemikian gila? Hans benar - benar penasaran apa yang ada di kepala wanita muda itu.
"Mr. Lee bahkan berniat membatalkan semua orderan kalau bukan Clara yang menangani transaksi dengannya." Jennifer melanjutkan laporannya pada Hans.
Dan, ini pun solusinya tak sulit. Hans cukup meluangkan waktu untuk menemui Mr. Lee secara pribadi. Sedikit bernegosiasi, dan pastinya semua akan selesai.
Kesalahannya hanyalah tak pernah mempersiapkan second man untuk Clara sejak awal. Dan sekarang para customer VIPnya terlanjur nyaman dengan Clara. Akibatnya, mereka menolak bekerja sama dengan staff lain. Tapi pergantian marketing adalah hal biasa dalam perusahaan manapun.
(Second man dalam pekerjaan bisa diartikan sebagai seseorang yang bisa menggantikan pekerja utama, disaat dia tak ada atau berhalangan).
"Buatkan janji dengan Mr. Lee sore ini, Jen." Hans haris membereskan semua ini secepatnya. Dia tak mau Johan mendengar sedikit pun kelakuan Clara. Bisa - bisa Johan langsung menuduhnya yang tidak - tidak.
*****
Astaga!!!
Hans tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Clara duduk manis diruangan VIP yang sudah dipesan oleh Jennifer untuk pertemuan Hans dan Mr. Lee.
Clara nampak cantik sekali hari ini. Bukan. Bukan itu yang membuat Hans salah fokus. Tapi, kaki kanan Clara disilangkan diatas kaki kirinya. Membuat sobekan di dressnya sedikit terangkat, menampakan paha mulusnya.
__ADS_1
"Apakah Clara sedang ada janji kencan dengan orang lain? Apakah dirinya salah masuk ruangan?" Hans bertanya - tanya dalam hati.
"Mr. Lee sepertinya terlambat datang, Kak Hans. Aku akan menemanimu sebentar selama Mr. Lee belum datang." Clara langsung menyapanya.
"Kamu memang gila." desis Hans tak percaya. Ternyata dirinya masih harus bertemu lagi dengan wanita ini. Nampaknya tak semudah itu menyingkirkan Clara dari hidupnya.
"Mr. Lee butuh sekretaris dan aku butuh pekerjaan. Ini namanya simbiosis mutualisme." Tanpa mempedulikan dengan ekspresi Hans yang kurang suka, Clara sudah berdiri dihadapan Hans.
Didalam balutan dress ketat, tali spaghetti serta belahan dada yang rendah, Clara berdiri dan mendekat ke arah Hans dengan percaya diri. Tak ada lagi raut wajah kuyu dan sedih seperti sehari sebelumnya. Penampilannya benar - benar all out malam ini.
Flashback
"Kak Hans, mulai hari ini pergilah jauh - jauh dari Clara. Bahkan melihat bayangannya pun jangan. Hati - hati, kak Hans. Jangan temui dia dengan alasan apapun. Sama sekali tidak boleh." kata Erika saat mereka dalam perjalanan pulang dari festival makanan.
"Kamu tak percaya padaku?" tanya Hans pada Erika.
"Aku percaya padamu, Kak. Tapi aku tak percaya pada Clara. Dan juga... setan yang mungkin akan hadir diantara kalian." Erika mendekap erat punggung Hans.
•
•
"Bukankah kamu bisa mencari pekerjaan yang lebih baik? Karirmu bisa lebih bagus andaikata kamu memilih bank misalnya..." setelah bersusah payah menjernihkan pikirannya, Hans berusaha berkata sesopan mungkin.
Bagaimanapun, Clara sekarang adalah perwakilan dari partner bisnisnya.
Sialnya, jantung Hans terasa berpacu saat tak sengaja matanya melihat belahan dada Clara. Begitu dekat. Tubuh Hans yang lebih tinggi dari Clara, semakin memudahkan untuk melihat lebih jelas.
__ADS_1
Hans mencoba mengalihkan pandangannya. Ternyata matanya sungguh tak mau diajak bekerja sama. Pandangannya malah mampir di bahu Clara yang terbuka, dan mengajak pikirannya "travelling".
"Gara - gara kamu, Kak Hans."
"Gara - gara aku?" Hans tak mengerti maksud Clara.
"Iya, gara - gara kamu memecatku. Setidaknya, dengan begini kita masih bisa bertemu." jawab Clara enteng.
"Kenapa?" tanya Hans sambil berjalan menuju ke tempat duduk untuk menghindari pemandangan yang "mengganggunya".
Otaknya sudah tak lagi dapat berpikir dengan jernih lagi. Benar kata Erika, tak seharusnya dia bertemu Clara lagi. Apalagi hanya berdua di ruangan tertutup seperti ini.
CUP....
OH!! Sesuatu yang kenyal dan manis menempel dibibir Hans. Semua terjadi begitu saja, dan sangat cepat. Hanya sesaat setelah bokong Hans menempel di kursi. Hingga Hans tak sempat mengelak.
"Apa yang kamu lakukan?" geram Hans.
Clara tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya, bersamaan dengan Mr. Lee masuk kedalam ruangan.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
__ADS_1
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.