
"Ya Tuhan! Apapun ini, hatiku siap hancur asal semua ini berakhir dengan baik. Baik untukku, kak Hans dan anak - anakku. Terbaik untuk keluargaku." bisik Erika dalam hati.
Sungguh hati Erika merasa gentar, dia sadar penuh kalau pesan inilah yang akan menjadi pembuka dari semua pertanyaan yang menghantuinya. Kali ini Tuhan berpihak pada dirinya, kesempatan untuk membuktikan semua itu sudah datang dengan sendirinya.
Ya ampun! Seharusnya Erika merasa lega karena berhasil menemukan bukti. Tapi apa yang dirasakan Erika saat ini? Erika merasa kakinya tak dapat berpijak ditempatnya berdiri dengan benar. Tangannya bergetar hebat hingga jarinya kesulitan saat akan menyentuh layar ponsel Hans.
"Hei... jangan bodoh. Belum tentu yang kamu pikirkan itu benar." Erika memaki dirinya sendiri.
HAH!!! Apa - apaan ini?
Akhirnya, Erika berhasil menenangkan diriya. Fakta pertama yang didapatnya adalah pesan itu ternyata tidak berada di aplikasi percakapan warna hijau, melainkan di aplikasi percakapan berwarna biru yang jarang dibukanya. Hebat sekali! Erika ingin sekali bertepuk tangan keras - keras.
Fakta kedua adalah foto Clara di profil picture, dengan nama Lia.
"Apakah dari nama Adelia?"
Erika tergugu menatap layar ponsel dihadapannya. Erika ingin tertawa keras menertawakan kebodohannya yang tak pernah membuka aplikasi biru itu. Pantas saja, selama ini dia tak menemukan percakapan apapun.
Aplikasi yang digunakan berbeda, dan nama pun diganti.
Perasaan ingin tertawa, marah dan menangis yang muncul disaat bersamaan membuatnya hampir hilang kewarasan. Matanya nanar menatap percakapan demi percakapan yang ada di ponsel Hans.
Srettt!! Mata Erika melihat ada notifikasi pesan baru masuk lagi.
Astaga!! Sebuah video. Tidak! Bukan satu, tapi tiga video berturut - turut.
Oh! Erika tak sanggup melihat video itu lebih lama. Rasanya begitu menjijikkan. Jantungnya bertalu - talu semakin kencang hingga membuatnya susah bernapas. Tangannya dingin dan gemetar. Seluruh bagian tubuhnya seperti memberontak tak terkendali.
Kalau saja dia bisa menangis sekencang - kencangnya. Tapi, sayangnya Erika tak bisa. Air matanya benar - benar kering, padahal batinnya sudah menangis tiada henti.
__ADS_1
Dengan segenap sisa - sisa tenaga dan kekuatannya, Erika berjalan keluar menuju kamar Abbey dan Manda.
Erika menekan segenap perasaan, hanya untuk berpesan supaya mereka tidur nyenyak dan besok langsung ke sekolah dengan pak sopir karena Mommy dan Daddy sedang ada keperluan. Lalu sebelum Erika kembali ke kamar, dia berpesan pada baby sitter untuk tidur bersama Aaron malam ini.
Semua harus terlihat normal dan baik - baik saja dihadapan anak - anak.
Langkah berikutnya, Erika mencapture semua percakapan mereka meski dengan tangan gemetar. Demikian juga video - video yang dikirimkan Clara pada Hans. Erika langsung mengoper semua bukti itu ke ponselnya sendiri dan menyimpannya dalam satu folder.
Terakhir, Erika menjawab pesan Clara pada Hans.
"Baiklah sampai jumpa besok pulang kerja. I miss you, Sayang."
DONE!!
Bukti sudah tersimpan, dan hati juga sudah hancur, lalu sekarang apa? Erika benar - benar tak tahu. Matanya menatap kosong, otaknya tak mampu untuk diajak berpikir lagi. Hanya duduk termenung di pinggir tempat tidur, sambil menggenggam ponsel milik Hans.
Haruskah dia mendatangi Clara? Pertanyaannya adalah apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan wanita murahan itu? Memukul? Menjambaknya? Atau apa? Lagi - lagi harga diri Erika menghalanginya untuk bersikap barbar.
Ditengah lamunan Erika, Hans terjaga dari tidurnya. Sejenak Hans mengerjap, menatap Erika yang termenung di ujung tempat tidur. Hans merasa ada jarak yang jauh antara dia dan Erika. Ada yang berbeda dengan istrinya.
"Mom..." Hans memanggil Erika pelan.
Tak ada jawaban, sepertinya Erika sedang berada didunia yang berbeda. Hans menumpu tubuhnya dengan siku mencoba memahami situasi yang terjadi saat ini. Ada yang salah dengan situasi ini. Perasaan tak enak mulai menyusup dihati Hans.
DEG!!!
Tak sengaja mata Hans melihat sesuatu di genggaman Erika. Itu adalah ponselnya. Hans sekarang ingat, tadi dia ketiduran sebelum makan malam. Dan pasti Erika naik untuk menyuruhnya turun.
Tiba - tiba Erika menoleh, Hans hampir saja melonjak. Perasaan tak enak langsung menyergap Hans. Erika memandang Hans lekat - lekat, sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sh**"!! Aku ketahuan." Hans mengumpat dalam hati.
Hans menegakkan tubuh, dan duduk bersandar di headboard. Pelan - pelan dihirupnya oksigen supaya dirinya merasa sedikit lega.
"Makanan sudah siap, makanlah setelah itu aku perlu bicara." suara Erika begitu kalem.
Ya ampun! Hans ingin masuk kedalam selimut, memejamkan mata dan tak bangun lagi. Hans terlalu malu untuk menghadapi Erika.
"Ya...kamu benar." akhirnya Hans memilih menyerah.
Tak ada reaksi dari Erika.
"Semua yang kamu pikirkan dan kamu lihat, itu adalah benar. Apa yang kamu temukan di ponsel itu memang aku." lanjut Hans dengan suara berat.
Hans menundukkan kepala, tak berani memandang Erika. Ketenangan Erika menghujam sampai kedasar hati Hans. Menyayat hatinya sedikit demi sedikit.
Erika tak menjawab apapun, hanya menyodorkan percakapan yang ditemukannya di chat room.
"Iya, itu aku dan Clara." Hans tak mengelak lagi.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.